Bayangkan saja kalau Bali yang sekarang ini benar-benar
membutuhkan pemimpin yang jujur, bermoral dan melihat ke
depan, lalu pada akhirnya hal itu tidak bisa dicapai
karena permainan uang. Tidak bisa dibayangkan kalau Bali
yang begini beragama dan berbudaya, lalu para wakil
rakyatnya yang punya wewenang untuk memilih seorang
gubernur atau bupati lalu lebih memilih uang daripada masa
depan Bali. Alangkah kontroversial dan malunya kita semua
ini, apalagi kalau kita baca atau dengar justru sekarang
ini banyak orang Bali yang menduduki posisi penting di
Indonesia karena dianggap paling sedikit cacatnya.
---------------------------------------------
Permainan
Uang bisa Hancurkan Bali
Oleh Prof. Adnyana Manuaba
BALI
akan hancur sebelum tahun 2008? Dalam satu seminar
pariwisata yang diselenggarakan oleh mahasiswa
Pascasarjana Kajian Pariwisata Unud dengan tema ''Arah
Pembangunan Pariwisata Bali Tahun 2008'' di Kuta beberapa
waktu lalu, Peter Simone, Vice President PATA, telah
menyampaikan satu pernyataan yang perlu mendapat tanggapan
kita semua. Di dalam kritik dan saran untuk kelestarian
Bali, dia menyatakan Bali akan hancur dan berhenti menjadi
salah satu daerah tujuan wisata terkenal kalau tidak ada
perubahan-perubahan mendasar dari apa yang sedang
berlangsung sekarang ini. Malahan dia menyatakan tidak
usah menunggu sampai tahun 2008, sebab kehancuran itu
mungkin saja sudah akan terjadi lebih cepat lagi dengan
adanya tragedi bom di Kuta, perang Amerika-Irak dan
mewabahnya virus SARS.
Lingkungan yang
rusak, pemandangan indah yang terpolusi, orang Bali yang
sudah mulai lupa apa yang sebenarnya dicari wisatawan ke
Bali, banyaknya ruko dan sebagainya, adalah sebab-sebab
dari kehancuran Bali. Pernyataannya yang juga menggelitik
ialah justru perlunya seminar dan latihan bagi para
birokrat penentu kebijakan pariwisata di Bali, karena
merekalah yang antara lain bertanggung jawab atas apa yang
terjadi sekarang ini di Bali.
Masih banyak lagi
kritik dan saran yang disampaikannya secara blak-blakan,
yang kalau saja tidak dilatarbelakangi pengetahuan khusus
mungkin ada yang marah besar dengan pernyataan-pernyataan
yang menggelitik tersebut. Ternyata Peter Simone sudah
sangat fasih berbahasa Indonesia dan memilih gadis Bali
sebagai istrinya. Jadi tidak bisa diragukan lagi cintanya
terhadap Bali, apalagi hadiah perkawinannya adalah ledakan
bom di Kuta pada Oktober 2002. Dia tahu betul apa yang
terjadi dan merasa ikut memiliki dan bertanggung jawab
untuk memperbaikinya. Karena itu, dia mengharapkan sekali
peristiwa tragedi bom itu benar-benar bisa menjadi titik
tolak buat orang Bali untuk memperbaiki
kesalahan-kesalahan yang telah dibuat di dalam membangun
pariwisata selama ini.
Walaupun kritikan
itu cukup pedas dan disampaikan di depan banyak pejabat
yang hadir, antara lain wakil Menteri Pariwisata dan
Kebudayaan, Wakil Gubernur Bali dan lain-lain, semuanya
dengan penuh gairah tanpa marah mendengar dengan asyik apa
yang dia sampaikan. Rupanya yang disampaikan itu memang
penuh kebenaran dan harus diakui sebagai sesuatu yang
betul. Kita berharap hal itu akan disertai dengan
langkah-langkah kongkret untuk mengantisipasi apa yang
Peter Simone sampaikan.
Antisipasi
Di dalam merenungkan
apa yang disampaikan Peter Simone tersebut, kita menjadi
gelisah dengan apa yang sedang terjadi di tengah-tengah
kita. Bukannya sibuk mencari cara pemecahan, dan mencari
pimpinan yang betul-betul bisa memecahkan masalah yang
dihadapi Bali, tetapi justru kita ikut-ikutan sibuk dengan
kesibukan yang memuakkan. Di mana-mana di Indonesia, kita
baca adanya kesibukan luar biasa di dalam menghadapi
pemilihan gubernur, bupati dan pemilu. Di beberapa daerah
telah terjadi segala macam cara untuk memenangkan satu
jabatan strategis, khususnya yang berkaitan dengan jabatan
bupati, gubernur, dan sebagainya. Yang membuat kita
prihatin ialah semuanya menggantungkan diri kepada uang
suap atau pelicin yang digunakan untuk memenangkan satu
jabatan. Walaupun sulit untuk dibuktikan karena lihainya
sibpelaku, bukan rahasia lagi bahwa karena uanglah banyak
pejabat bisa menduduki kursinya. Alangkah sedihnya bangsa
ini yang sudah terpuruk dan sangat mengharapakn adanya
pemilihan yang tepat bagi pemimpinnya ternyata semuanya
itu dikalahkan oleh uang. Sekali lagi uang.
Bayangkan saja kalau
Bali yang sekarang ini benar-benar membutuhkan pemimpin
yang jujur, bermoral dan melihat ke depan, lalu pada
akhirnya hal itu tidak bisa dicapai karena permainan uang.
Tidak bisa dibayangkan kalau Bali yang begini beragama dan
berbudaya, lalu para wakil rakyatnya yang punya wewenang
untuk memilih seorang gubernur atau bupati lalu lebih
memilih uang daripada masa depan Bali. Alangkah
kontroversial dan malunya kita semua ini, apalagi kalau
kita baca atau dengar justru sekarang ini banyak orang
Bali yang menduduki posisi penting di Indonesia karena
dianggap paling sedikit cacatnya. Mudah-mudahan saja
sinyalemen anggota DPRD kita yang terhormat telah siap
untuk tidak disuap/dibeli. Bahkan suap-menyuap itu tidak
pernah terjadi dan tidak akan terjadi. Karena orang Bali
sangat punya budaya malu, takut karma pala, dan ajaran
agamanya juga tidak pernah berorientasi kepada uang. Uang
bukan segala-galanya.
Menumpuk
Harta
Ada seorang kenalan
yang kaya raya tetapi ternyata hanya perlu Rp 200 sehari
untuk hidupnya, karena dia tidak perlu apa-apa lagi,
sebagai akibat kompleksnya penyakit yang dideritanya.
Sakit jantung, gula, tekanan darah tinggi, hati tidak
berfungsi dan sebagainya. Sehingga dia, walaupun kaya dan
mampu, toh harus hidup sebagai orang melarat. Walaupun
bergelimang uang, yang bersangkutan tidak bisa
memanfaatkan uangnya untuk sembuh dari sakit yang
dideritanya. Memang tidak semua bisa dibeli dengan uang.
Obat bisa dibeli tetapi kesehatan tidak. Rumah bisa dibeli,
tetapi home tidak. Seks bisa dibeli, tetapi cinta tidak.
Makanan bisa dibeli, tetapi rasa lapar tidak. Tempat tidur
bisa dibeli tetapi bisa tidur, tidak. Kenalan bisa dibeli
tetapi teman tidak. Komputer bisa dibeli tetapi otak tidak.
Yang bagus bisa dibeli tetapi keindahan tidak. Barang luks
bisa dibeli tetapi budaya tidak.
Lalu kalau banyak
orang sekarang ini berusaha menumpuk harta
sebanyak-banyaknya, apalagi dengan tidak halal, timbul
pertanyaan apakah yang dicari?
Baru-baru ini di
satu daerah ada seorang kawan yang mencalonkan diri untuk
menjadi gubernur. Dia dengan sadar mengatakan bahwa sesuai
dengan situasi dan kondisi sekarang ini, dia akan menjadi
''setan'' dulu dengan menyuap sana-sini demi mendapat
kursi gubenrur itu. Dia terpaksa harus berbuat begitu
walaupun itu disampaikan dengan malu-malu. Malahan dia
berpesan, kalau nanti dia benar-benar terpilih, minta
diperingatkan untuk tidak menjadi ''setan'' lagi. Sekali
jadi setan tentunya akan jadi setan terus. Ada teman lain
lagi yang mengatakan, kalau nantinya tidak berhasil,
ciptakan saja konflik.
Bagaimana jadinya
Bali kita ini, yang diasumsikan akan hancur sebelum tahun
2008 dan memerlukan seorang pemimpin yang betul-betul
mampu memecahkan masalah yang sedang dihadapi Bali saat
ini, apabila ternyata akan dipimpin oleh orang-orang yang
siap menyuap dan bikin konflik?
Mari kita semua ikut
menjadi pengamat, penjaga, dan pengaman dengan tugas mulia
menjaga dan mengamankan jangan sampai Bali ternoda oleh
adanya perbuatan tercela dari mereka-mereka yang
seharusnya tidak berbuat seperti itu. Sebab, kalau hal ini
sampai terjadi maka semua kita ini akan ikut bersalah dan
harus mempertanggungjawabkannya, tidak saja kepada Tuhan
Yang Maha Kuasa tetapi juga kepada anak cucu. Semoga saja
semuanya yang cinta Bali dengan penuh keprihatinan ikut
berdoa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
demi kelestarian Bali tercinta.
Penulis,
Guru Besar dan dosen Universitas Udayana, tinggal di
Denpasar
|