kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Kliwon, 29 April 2003

 Artikel


Bayangkan saja kalau Bali yang sekarang ini benar-benar membutuhkan pemimpin yang jujur, bermoral dan melihat ke depan, lalu pada akhirnya hal itu tidak bisa dicapai karena permainan uang. Tidak bisa dibayangkan kalau Bali yang begini beragama dan berbudaya, lalu para wakil rakyatnya yang punya wewenang untuk memilih seorang gubernur atau bupati lalu lebih memilih uang daripada masa depan Bali. Alangkah kontroversial dan malunya kita semua ini, apalagi kalau kita baca atau dengar justru sekarang ini banyak orang Bali yang menduduki posisi penting di Indonesia karena dianggap paling sedikit cacatnya.

---------------------------------------------

Permainan Uang bisa Hancurkan Bali
Oleh Prof. Adnyana Manuaba

BALI akan hancur sebelum tahun 2008? Dalam satu seminar pariwisata yang diselenggarakan oleh mahasiswa Pascasarjana Kajian Pariwisata Unud dengan tema ''Arah Pembangunan Pariwisata Bali Tahun 2008'' di Kuta beberapa waktu lalu, Peter Simone, Vice President PATA, telah menyampaikan satu pernyataan yang perlu mendapat tanggapan kita semua. Di dalam kritik dan saran untuk kelestarian Bali, dia menyatakan Bali akan hancur dan berhenti menjadi salah satu daerah tujuan wisata terkenal kalau tidak ada perubahan-perubahan mendasar dari apa yang sedang berlangsung sekarang ini. Malahan dia menyatakan tidak usah menunggu sampai tahun 2008, sebab kehancuran itu mungkin saja sudah akan terjadi lebih cepat lagi dengan adanya tragedi bom di Kuta, perang Amerika-Irak dan mewabahnya virus SARS.

Lingkungan yang rusak, pemandangan indah yang terpolusi, orang Bali yang sudah mulai lupa apa yang sebenarnya dicari wisatawan ke Bali, banyaknya ruko dan sebagainya, adalah sebab-sebab dari kehancuran Bali. Pernyataannya yang juga menggelitik ialah justru perlunya seminar dan latihan bagi para birokrat penentu kebijakan pariwisata di Bali, karena merekalah yang antara lain bertanggung jawab atas apa yang terjadi sekarang ini di Bali.

Masih banyak lagi kritik dan saran yang disampaikannya secara blak-blakan, yang kalau saja tidak dilatarbelakangi pengetahuan khusus mungkin ada yang marah besar dengan pernyataan-pernyataan yang menggelitik tersebut. Ternyata Peter Simone sudah sangat fasih berbahasa Indonesia dan memilih gadis Bali sebagai istrinya. Jadi tidak bisa diragukan lagi cintanya terhadap Bali, apalagi hadiah perkawinannya adalah ledakan bom di Kuta pada Oktober 2002. Dia tahu betul apa yang terjadi dan merasa ikut memiliki dan bertanggung jawab untuk memperbaikinya. Karena itu, dia mengharapkan sekali peristiwa tragedi bom itu benar-benar bisa menjadi titik tolak buat orang Bali untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dibuat di dalam membangun pariwisata selama ini.

Walaupun kritikan itu cukup pedas dan disampaikan di depan banyak pejabat yang hadir, antara lain wakil Menteri Pariwisata dan Kebudayaan, Wakil Gubernur Bali dan lain-lain, semuanya dengan penuh gairah tanpa marah mendengar dengan asyik apa yang dia sampaikan. Rupanya yang disampaikan itu memang penuh kebenaran dan harus diakui sebagai sesuatu yang betul. Kita berharap hal itu akan disertai dengan langkah-langkah kongkret untuk mengantisipasi apa yang Peter Simone sampaikan.

Antisipasi

Di dalam merenungkan apa yang disampaikan Peter Simone tersebut, kita menjadi gelisah dengan apa yang sedang terjadi di tengah-tengah kita. Bukannya sibuk mencari cara pemecahan, dan mencari pimpinan yang betul-betul bisa memecahkan masalah yang dihadapi Bali, tetapi justru kita ikut-ikutan sibuk dengan kesibukan yang memuakkan. Di mana-mana di Indonesia, kita baca adanya kesibukan luar biasa di dalam menghadapi pemilihan gubernur, bupati dan pemilu. Di beberapa daerah telah terjadi segala macam cara untuk memenangkan satu jabatan strategis, khususnya yang berkaitan dengan jabatan bupati, gubernur, dan sebagainya. Yang membuat kita prihatin ialah semuanya menggantungkan diri kepada uang suap atau pelicin yang digunakan untuk memenangkan satu jabatan. Walaupun sulit untuk dibuktikan karena lihainya sibpelaku, bukan rahasia lagi bahwa karena uanglah banyak pejabat bisa menduduki kursinya. Alangkah sedihnya bangsa ini yang sudah terpuruk dan sangat mengharapakn adanya pemilihan yang tepat bagi pemimpinnya ternyata semuanya itu dikalahkan oleh uang. Sekali lagi uang.

Bayangkan saja kalau Bali yang sekarang ini benar-benar membutuhkan pemimpin yang jujur, bermoral dan melihat ke depan, lalu pada akhirnya hal itu tidak bisa dicapai karena permainan uang. Tidak bisa dibayangkan kalau Bali yang begini beragama dan berbudaya, lalu para wakil rakyatnya yang punya wewenang untuk memilih seorang gubernur atau bupati lalu lebih memilih uang daripada masa depan Bali. Alangkah kontroversial dan malunya kita semua ini, apalagi kalau kita baca atau dengar justru sekarang ini banyak orang Bali yang menduduki posisi penting di Indonesia karena dianggap paling sedikit cacatnya. Mudah-mudahan saja sinyalemen anggota DPRD kita yang terhormat telah siap untuk tidak disuap/dibeli. Bahkan suap-menyuap itu tidak pernah terjadi dan tidak akan terjadi. Karena orang Bali sangat punya budaya malu, takut karma pala, dan ajaran agamanya juga tidak pernah berorientasi kepada uang. Uang bukan segala-galanya.

Menumpuk Harta

Ada seorang kenalan yang kaya raya tetapi ternyata hanya perlu Rp 200 sehari untuk hidupnya, karena dia tidak perlu apa-apa lagi, sebagai akibat kompleksnya penyakit yang dideritanya. Sakit jantung, gula, tekanan darah tinggi, hati tidak berfungsi dan sebagainya. Sehingga dia, walaupun kaya dan mampu, toh harus hidup sebagai orang melarat. Walaupun bergelimang uang, yang bersangkutan tidak bisa memanfaatkan uangnya untuk sembuh dari sakit yang dideritanya. Memang tidak semua bisa dibeli dengan uang. Obat bisa dibeli tetapi kesehatan tidak. Rumah bisa dibeli, tetapi home tidak. Seks bisa dibeli, tetapi cinta tidak. Makanan bisa dibeli, tetapi rasa lapar tidak. Tempat tidur bisa dibeli tetapi bisa tidur, tidak. Kenalan bisa dibeli tetapi teman tidak. Komputer bisa dibeli tetapi otak tidak. Yang bagus bisa dibeli tetapi keindahan tidak. Barang luks bisa dibeli tetapi budaya tidak.

Lalu kalau banyak orang sekarang ini berusaha menumpuk harta sebanyak-banyaknya, apalagi dengan tidak halal, timbul pertanyaan apakah yang dicari?

Baru-baru ini di satu daerah ada seorang kawan yang mencalonkan diri untuk menjadi gubernur. Dia dengan sadar mengatakan bahwa sesuai dengan situasi dan kondisi sekarang ini, dia akan menjadi ''setan'' dulu dengan menyuap sana-sini demi mendapat kursi gubenrur itu. Dia terpaksa harus berbuat begitu walaupun itu disampaikan dengan malu-malu. Malahan dia berpesan, kalau nanti dia benar-benar terpilih, minta diperingatkan untuk tidak menjadi ''setan'' lagi. Sekali jadi setan tentunya akan jadi setan terus. Ada teman lain lagi yang mengatakan, kalau nantinya tidak berhasil, ciptakan saja konflik.

Bagaimana jadinya Bali kita ini, yang diasumsikan akan hancur sebelum tahun 2008 dan memerlukan seorang pemimpin yang betul-betul mampu memecahkan masalah yang sedang dihadapi Bali saat ini, apabila ternyata akan dipimpin oleh orang-orang yang siap menyuap dan bikin konflik?

Mari kita semua ikut menjadi pengamat, penjaga, dan pengaman dengan tugas mulia menjaga dan mengamankan jangan sampai Bali ternoda oleh adanya perbuatan tercela dari mereka-mereka yang seharusnya tidak berbuat seperti itu. Sebab, kalau hal ini sampai terjadi maka semua kita ini akan ikut bersalah dan harus mempertanggungjawabkannya, tidak saja kepada Tuhan Yang Maha Kuasa tetapi juga kepada anak cucu. Semoga saja semuanya yang cinta Bali dengan penuh keprihatinan ikut berdoa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan demi kelestarian Bali tercinta.

Penulis, Guru Besar dan dosen Universitas Udayana, tinggal di Denpasar

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)