Beragama Banyak Tema
Miskin Pemaknaan
AGAMA
yang kaya ajaran moral lebih banyak digemakan dengan
banyak tema namun masih miskin dalam pemaknaannya.
Kehidupan beragama masih lebih banyak mengutamakan
persaingan eksistensi mengejar gengsi untuk mendapatkan
posisi. Dengan banyak tema tanpa makna, beragama seprti
itu akan menjadi mubazir alias sia-sia. Beragama
semestinya bersaing menunjukkan prestasi menegakan
kebenaran, keadilan, kesetaraan dan kemerdekaan
berprestasi sesuai dengan profesi masing-masing.
Kegiatan beragama
demikian semaraknya, namun belum banyak menghasilkan
perilaku umat yang makin baik dan bijak terutama dari
kalangan elite bangsa. Terbukti krisis ekonomi, kekerasan,
arogansi kekuasan dan kemunafikan masih marak melilit
bangsa ini. Dalam kitab suci sangat banyak kita jumpai
mutiara-mutiara penuntun kehidupan di dunia ini. Mutiara
penuntun kehidupan itu untuk membangun kehidupan yang
makin berubah menuju kehidupan yang makin berkualitas.
Kalau kehidupan beragama berhenti pada perlombaan
menampilkan tema-tema yang hebat-hebat dengan wacana yang
tinggi-tinggi, maka kehidupan beragama akan menjadi sumber
munculnya berbagai persoalan hidup baik individual maupun
sosial.
Kalau tema itu
berhenti pada wacana dan kebanggaan akan agama yang dianut
maka persoalan hidup, baik individual maupun sosial tetap
saja terbengkalai. Apalagi tema itu digemakan lewat
kegiatan ritual dan seremonial, hal itu akan lebih banyak
menjejali masyarakat dengan wacana-wacana kosong saja.
Pada zaman Kali ini masyarakat umumnya akan menutup
telinga rapat-rapat terhadap berbagai nasihat yang
muluk-muluk. Tetapi akan membuka mata lebar-lebar pada
contoh dan teladan yang nyata mereka saksikan maknanya
dalam kehidupan. Apalagi contoh dan teladan itu berasal
dari para pemimpinnya. Karena itu tema-tema beragama yang
agung itu tidak perlu terlalu digembargemborkan dalam
ritual dan seremonial yang bersifat formal. Akan lebih
baik kalau tema itu dilihat secara nyata pemaknaannya
dalam kehidupan sehari-ahri.
Agama mengajarkan
selalu berjuang memenangkan dharma melawan adharma,
menyucikan bhuwana agung-bhuwana alit. Beryadnya kepada
Tuhan dan semua ciptaan-Nya. Hidup bersama tanpa kekerasan,
dan banyak lagi ajaran agama yang dapat dijadikan acuan
untuk membuat tema-tema yang muluk-muluk. Tema itu ditulis
dalam spanduk-spanduk lebar dengan tulisan indah. Setelah
selesai ritual atau seremonial itu berlangsung tema-tema
itu pun menghilang tanpa kesan. Demikian juga
ceramah-ceramah yang mengutamakan tema lebih banyak
mendapatkan pendengar dari pada pelaksana. Lebih-lebih
ceramah itu lebih banyak untuk menghibur daripada mengetuk
hati nurani guna menumbuhkan keterpanggilan jiwa bagi umat
pendengar untuk melakukan kegiatan beragama yang membawa
perubahan perilaku ke arah yang makin baik. Demikian juga
tema tanpa kekerasan tidaklah mungkin terjadi kalau
sekadar diproklamirkan melalui adanya ''Tahun tanpa
Kekerasan''. Kalau kebijakan pemerintah tetap tidak
membawa keadilan sangatlah mustahil kekerasan itu dapat
diredam. Kebijakan yang memanjakan satu kelompok dan
menekan serta meminggirkan kelompok yang lain, tentunya
hal itu akan menjadi kondisi yang dapat memicu timbulnya
kekerasan. Apalagi kalau kebijakan untuk menggunakan
kekuasaan dan anggaran pemerintah, hal itu akan menjadi
sumber keresahan sosial.
Keresahan itu akan
dapat memunculkan kekerasan. Karena anggaran tersebut pada
hahikatnya milik rakyat yang disalah gunakan oleh penguasa.
Demikian juga kekuasaan itu berasal dari seluruh rakyat
dan semestinya digunakan untuk melayani rakyat secara adil
dan beradab. Tema tanpa kekerasan atau Ahimsa tidak serta
merta akan terwujud kalau tidak diimplementasikan dengan
perencanaan yang matang. Demikian juga pelestarian alam
seperti menjaga kelestarian hutan. Tema tersebut tidak
dapat diselesaikan dengan upacara keagamaan yang besar
dengan menghabiskan dana ratusan juta bahkan milyaran
rupiah. Upacara keagamaan itu penting sebagai media
mengakumulasikan doa membangun kekuatan spiritual. Namun
tidak perlu dengan berhura-hura.
Kekuatan spiritual
yang diharapkan dapat muncul dalam upacara keagamaan itu
hendaknya diaplikasikan dalam kegiatan sosial yang nyata
dapat membangun pelestarian hutan tersebut. Dalam kegiatan
beragama sebaiknya jangan terlalu banyak mengumbar tema
yang tidak mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih baik dipilih tema yang sederhana namun benar-benar
dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Dengan
demikian tema-tema itu tahap demi tahap akan nyata dapat
memperbaiki kehidupan individual dan sosial.
|