Optimalkan Sumber Daya
Kelautan
Rakyat Bali kini punya
gurauan baru. Dulu ketika pariwisata masih bersinar kita selalu
berucap, apa yang sebaiknya kita makan esok hari? Kini setelah
keadaan berbalik 180 derajat, ucapan itu berubah bunyi menjadi:
apa esok hari kita masih bisa makan? Siapa yang bisa menjawab
dan siapa yang sebaiknya menjawab?
Bali memiliki sumber daya
kelautan yang luar biasa. Seorang volunter Jepang pernah berkata
pada sebuah seminar : ''Kalau saja Jepang memiliki laut seperti
Bali, betapa kaya dan majunya Jepang''. Ketika ditanyakan
mengapa bangsa Jepang bisa semaju sekarang, jawabannya adalah :
''kami hanya tidur 3 jam sehari''.
Soal tidur tiga jam sehari,
kiranya kita sepakat bahwa hal tersebut sangat mudah. Namun
mengelola sumber daya kelautan masih merupakan hal yang sangat
sulit. Diperlukan uluran tangan dari Pemerintah Daerah dan
idealisme dari para investor kita. Beberapa tenaga muda terdidik
yang enerjik, khususnya yang berasal dari Nusa Penida sudah
menekuni bidang kelautan ini di beberapa universitas besar di
Jawa dan dalam beberapa tahun mendatang akan menjadi sumber daya
potensial yang dapat dimanfaatkan untuk memajukan Bali. Laut
kita menurut beberapa informasi, sangat kaya dan merupakan
tambang uang yang tak ada habis-habisnya.
Gubernur Bali periode
mendatang harus memberikan perhatian lebih pada sektor perikanan
laut ini. Kalau pelaut asing berlomba-lomba mencuri ikan di
perairan kita, tidak disangsikan, pastilah karena wilayah kita
yang sangat kaya dan strategis. Saya mengajak semua generasi
muda Bali melupakan mimpi indah bidang pariwisata. Bidang ini
ternyata sangat rentan terhadap semua bentuk gangguan yang
berasal dari luar. Kita tahu, di masa-masa mendatang gangguan
itu akan makin banyak dan makin ganas. Saya juga mengimbau
Universitas-universitas besar yang ada di Bali untuk
berlomba-lomba membuka jurusan Kelautan.
Ada banyak sumber dana
hibah dari Bank Dunia yang dapat dimanfaatkan untuk merintis
usaha-usaha pembukaan jurusan ini, seperti Semi-Que, Due-like
atau TPSDP. Saya juga mengharapkan agar Dinas Diknas Bali
proaktif merintis usaha-usaha pembukaan jurusan kelautan di
tingkat SMU. Ingat, bidang pertanian sudah tidak menarik lagi
bagi anak-anak kita. Dalam sepuluh tahun mendatang ledakan
pengangguran akan mengancam seluruh sendi-sendi kehidupan di
Bali.
I Ketut Widana,
M.M.
Br.Muncan, Desa Muncan, Kapal Mengwi, Badung
|