''Kalau Memang Berniat,
Banyak Guru yang Bagus''
GURU
ibarat tukang kebun, ia tidak boleh menginginkan seluruh tanaman
yang dipeliharanya harus tumbuh menjadi mawar atau gladiol.
Tetapi ia harus memeliharanya dengan baik, sehingga jika jadi
mawar, maka jadilah mawar yang baik. Dan jika jadi gladiol,
jadilah gladiol yang baik.
Begitu kalimat bijak yang
dipaparkan seniman dan dosen, AD Pirous. Harapan atas anak didik
menjadi ini atau itu juga diharapkan oleh Kepala SMU Saraswati
Amplapura, Nyoman Tusthi Eddy. Namun kenyataannya, idealisme
atau pun gagasan mulia tidaklah selalu disambut dengan tangan
terbuka. "Sudah lima tahun terakhir sekolah membuka
ekstrakulikuler jurnalistik, namun tidak satu pun siswa berminat,"
keluh Tusthi Eddy. Padahal, tambahnya, mengarang selain
membangkitkan idealisme juga menjadi sumber nafkah bagi mereka
yang mampu memanfaatkannya karena media cetak tengah booming
sekarang.
Tusthi Eddy mulai
mempublikasikan tulisan sejak tahun 1972 berupa puisi di Bali
Post. Lalu di Suara Karya ia menulis artikel mengenai
kontradiksi kebudayaan Timur dan Barat. "Pada waktu itu
saya menerima honorarium dari Suara Karya sama dengan gaji saya
satu bulan. Ini membuktikan bahwa sesungguhnya jika kita
berbakat tulis-menulis dan terjun sebagai penulis, maka ini
peluang yang bagus. Hanya, orang kurang melihatnya,"
tandasnya. Ia menyadari banyak orang yang memilih bekerja di
bank, misalnya walaupun ia hanya tukang kebun di bank tersebut.
Menuangkan tulisan
tidaklah mudah, mengapa begitu?
Tusthi melihat sumbernya
dari sekolah. Misalnya jika ada sepuluh orang dididik untuk
menulis, bagaimana supaya minimal tujuh orang jadi. Kalau ingin
anak-anak bisa mengarang, metode pengajaran bahasa Indonesia
jangan ditekankan pada pengetahuan bahasa, metode apa yang kita
lakukan agar dari pertama pengajaran bahasa Indonesia terus
mengarah pada kemampuan menggunakan bahasa.
Menurut Tusthi, mengarang
itu pada hakikatnya adalah mampu menggunakan bahasa, yaitu bisa
mengungkapkan pikirannya dalam bahasa baik lisan maupun tulis.
"Walaupun pengajaran bahasa Indonesia sudah dikatakan
mengarah pada apresiasi, saya lihat lebih banyak pengetahuan
bahasa yang diberikan. Buktinya, Ebtanas, mengapa mengarang
tidak diadakan sejak tiga tahun lalu, walaupun sekarang baru
diangkat kembali," katanya.
Lantas apakah ini karena
kesalahan kurikulum? Penulis "Mengenal Sastra Bali
Modern" (1991) ini tidak setuju jika kurikulum sekolah
dikambinghitamkan. "Saya lihat dari dulu kurilukum 68, 75,
84 dan 94 memiliki tujuan yang sama," ungkapnya. Dalam
poin-poin pengajaran bahasa, sudah ke arah penguasaan bahasa
yaitu mampu menulis dan berbicara dengan bahasa yang baik.
Artinya, penafsiran
kurikulum dari para guru yang masih lemah? Penulis lebih dari 16
buku sastra ini membenarkan analisis itu. "Guru kurang
memberikan pengertian ke arah itu. Banyak yang dimanipulasi,
misalnya yang ini jangan diajarkan," ungkapnya.
Namun, di balik itu juga
ada sumbernya, kata pendidik yang lebih suka bertahan di tanah
kelahirannya, Karangasem, ini. Menurut pengamatannya, guru dalam
sepuluh tahun terakhir ini adalah orang yang tidak ingin menjadi
guru. Karena tidak ada lowongan kerja, maka terpaksalah lowongan
guru itu dimasuki. "Karenanya, ketika menjadi guru, ia
serba gugup. Kalau ia memang betul-betul berniat menjadi guru,
tentulah banyak guru-guru yang bagus. Walaupun begitu, ada pula
guru-guru yang profesional di bidangnya. Buktinya, beberapa
pahlawan tanpa tanda jasa itu mampu menunjukkan prestasi,
misalnya memenangi lomba mengarang tingkat nasional atau
pengajarannya mendapat pujian dari anak didiknya," papar
Tusthi. (mus)
|