kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 27 April 2003 tarukan valas
 

Potret


''Kalau Memang Berniat, Banyak Guru yang Bagus''

GURU ibarat tukang kebun, ia tidak boleh menginginkan seluruh tanaman yang dipeliharanya harus tumbuh menjadi mawar atau gladiol. Tetapi ia harus memeliharanya dengan baik, sehingga jika jadi mawar, maka jadilah mawar yang baik. Dan jika jadi gladiol, jadilah gladiol yang baik.

Begitu kalimat bijak yang dipaparkan seniman dan dosen, AD Pirous. Harapan atas anak didik menjadi ini atau itu juga diharapkan oleh Kepala SMU Saraswati Amplapura, Nyoman Tusthi Eddy. Namun kenyataannya, idealisme atau pun gagasan mulia tidaklah selalu disambut dengan tangan terbuka. "Sudah lima tahun terakhir sekolah membuka ekstrakulikuler jurnalistik, namun tidak satu pun siswa berminat," keluh Tusthi Eddy. Padahal, tambahnya, mengarang selain membangkitkan idealisme juga menjadi sumber nafkah bagi mereka yang mampu memanfaatkannya karena media cetak tengah booming sekarang.

Tusthi Eddy mulai mempublikasikan tulisan sejak tahun 1972 berupa puisi di Bali Post. Lalu di Suara Karya ia menulis artikel mengenai kontradiksi kebudayaan Timur dan Barat. "Pada waktu itu saya menerima honorarium dari Suara Karya sama dengan gaji saya satu bulan. Ini membuktikan bahwa sesungguhnya jika kita berbakat tulis-menulis dan terjun sebagai penulis, maka ini peluang yang bagus. Hanya, orang kurang melihatnya," tandasnya. Ia menyadari banyak orang yang memilih bekerja di bank, misalnya walaupun ia hanya tukang kebun di bank tersebut.

Menuangkan tulisan tidaklah mudah, mengapa begitu?

Tusthi melihat sumbernya dari sekolah. Misalnya jika ada sepuluh orang dididik untuk menulis, bagaimana supaya minimal tujuh orang jadi. Kalau ingin anak-anak bisa mengarang, metode pengajaran bahasa Indonesia jangan ditekankan pada pengetahuan bahasa, metode apa yang kita lakukan agar dari pertama pengajaran bahasa Indonesia terus mengarah pada kemampuan menggunakan bahasa.

Menurut Tusthi, mengarang itu pada hakikatnya adalah mampu menggunakan bahasa, yaitu bisa mengungkapkan pikirannya dalam bahasa baik lisan maupun tulis. "Walaupun pengajaran bahasa Indonesia sudah dikatakan mengarah pada apresiasi, saya lihat lebih banyak pengetahuan bahasa yang diberikan. Buktinya, Ebtanas, mengapa mengarang tidak diadakan sejak tiga tahun lalu, walaupun sekarang baru diangkat kembali," katanya.

Lantas apakah ini karena kesalahan kurikulum? Penulis "Mengenal Sastra Bali Modern" (1991) ini tidak setuju jika kurikulum sekolah dikambinghitamkan. "Saya lihat dari dulu kurilukum 68, 75, 84 dan 94 memiliki tujuan yang sama," ungkapnya. Dalam poin-poin pengajaran bahasa, sudah ke arah penguasaan bahasa yaitu mampu menulis dan berbicara dengan bahasa yang baik.

Artinya, penafsiran kurikulum dari para guru yang masih lemah? Penulis lebih dari 16 buku sastra ini membenarkan analisis itu. "Guru kurang memberikan pengertian ke arah itu. Banyak yang dimanipulasi, misalnya yang ini jangan diajarkan," ungkapnya.

Namun, di balik itu juga ada sumbernya, kata pendidik yang lebih suka bertahan di tanah kelahirannya, Karangasem, ini. Menurut pengamatannya, guru dalam sepuluh tahun terakhir ini adalah orang yang tidak ingin menjadi guru. Karena tidak ada lowongan kerja, maka terpaksalah lowongan guru itu dimasuki. "Karenanya, ketika menjadi guru, ia serba gugup. Kalau ia memang betul-betul berniat menjadi guru, tentulah banyak guru-guru yang bagus. Walaupun begitu, ada pula guru-guru yang profesional di bidangnya. Buktinya, beberapa pahlawan tanpa tanda jasa itu mampu menunjukkan prestasi, misalnya memenangi lomba mengarang tingkat nasional atau pengajarannya mendapat pujian dari anak didiknya," papar Tusthi. (mus)

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com