IQ + EQ + SQ =
Kesadaran
''Gnothi teauton!'' seru
Socrates pada murid-muridnya. Tentu saja kalimat singkat yang
bermakna, ''Kenalilah dirimu!'' itu, menyebabkan anak-anak muda
yang hidup jauh sebelum Abad Pencerahan, merasa bingung. Malah
kebingungan tetap berlangsung meski Rene Descartes (1596-1650)
berhasil menemukan terpisahnya zat material dan akal budi yang
ada dalam tubuh manusia, sehingga menelorkan sesanti, ''Cogito
ergo sum'' atau ''Karena berpikir maka saya ada''. Dia
menyebutkan jiwa manusia bersembunyi di kelenjar pineal yang
terletak persis di tengah otak dan manusia akan mati bila jiwa
hijrah dari kelenjar tersebut.
RUBAG
tidak begitu tertarik tentang kematian, karena dipikirkan atau
tidak, disetujui atau ditolak, manusia pasti akan mati. Justru
karena mengabaikan teriakan Socrates, "Gnothi
teauton"-lah kematian mendominasi panggung kehidupan
manusia saat ini. Bukan hanya manusia, mahluk yang konon paling
sempurna, bahkan seluruh ciptaan Tuhan pun akan ludes, bila
dunia ini semakin banyak dihuni manusia yang tidak mengenal
dirinya sendiri. Jagat beserta seluruh isinya lenyap justru
akibat ulah segelintir manusia yang menganggap diri mereka
pengganti Tuhan di dunia. Mereka adalah penjunjung rasionalisme
yang merasa berhak mengelola seluruh isi dunia ini secara
mekanistik, karena menganggap planet biru ini mesin raksasa.
Benda atau mahluk yang dianggap rusak atau tidak berguna
dipunahkan, tanpa pertimbangan akal budi. Padahal mereka tidak
bisa mendaur ulang atau menghidupkan kembali yang mereka bunuh.
Sangat disesalkan, bangsa
yang mengaku sebagai pewaris kebudayaan Yunani dan Romawi,
justru melainkan seruan Socrates. Padahal sebelum mencapai
evolusi ke tingkat homo sapiens, primata yang kemudian
berkembang menjadi manusia ini, senantiasa menggunakan
kecerdasan emosional intuitifnya atau Emotional Quotient (EQ)
saat menjalin hubungan dengan sesamanya dan mahluk lain. Malah
ketika agama muncul sebagai benteng yang membatasi keliaran
insting hewani manusia, sekaligus menghindarkannya untuk saling
bunuh, maka terhindarlah manusia dari hukum seleksi alamnya
Charles Darwin, ''The Survival of The Fittest'' atau ''Kelestarian
bagi Terulung''. Kecerdasan spiritual atau Spritual Quotient
(SQ) ini cukup berfungsi dalam meningkatkan populasi manusia,
meskipun perang, penyakit dan bencana alam sering berkecamuk
mengiringi peradabannya. Ironisnya, di tengah-tengah kemajuan
sains dan teknologi akibat pengembangan kecerdasan
inteligensinya (Inteligence Outient) dalam menghadapi kebuasan
alam dan binatang, manusia seperti tidak sadar mengabaikan EQ
dan SQ. Kemenangan demi kemenangan menyebabkan mereka mabuk. ''Mereka
ingin menundukkan dunia karena mabuk kemenangan. Bahkan, setelah
tidak ada lawan lagi, mungkin mereka ingin menundukkan Tuhan,
seperti Niwatakwaca dalam kisah pewayangan yang menyerbu
Indraloka. Sebab, bukan tidak mungkin, di antara golongan
materialistis ini ada yang berpikiran seperti Nietzsche, lalu
mengatakan Tuhan sudah mati dibunuhnya. Sekarang saja banyak
tindakan manusia yang kualat dan bertentangan dengan ajaran
agama. Padahal pelaku kebiadaban bukan atheis, justru mengaku
penganut agama yang soleh,'' renung Rubag sambil mengingat
kebiadaban yang disaksikannya di televisi maupun dibacanya di
koran.
Orang-orang boleh saja
tidak percaya dengan hukum Karmapala dan Punarbawa atau
reinkarnasi, karena kedua jenis kepercayaan tersebut milik khas
agama Hindu, minimal membunuh atau mencabut jiwa manusia, secara
universal dilarang hukum maupun agama lain. Bahkan dalam sains
khususnya genetika dikatakan gen manusia DNA tersusun dari empat
substansi, yang disebut sitosin, timin, guanin dan adenin.
Variasi-variasi ikatan empat substansi itulah yang kini
membentuk milyaran manusia dan tersebar di seluruh dunia, mirip
dengan tujuh tangga nada menyusun jutaan lagu. Sama dengan
manusia, lagu pun ada yang mirip, meski dikomposisi dalam waktu
dan tempat serta lingkungan yang berbeda. Berdasarkan pikiran
itu, yang dikaitkan dengan paparan ilmiah John Stewart Bell,
bahwa sekali dua atom mengikatkan diri ikut membentuk sel, maka
hubungan tersebut akan berlanjut meski dipisahkan waktu dan
wadah atau tubuh yang berbeda. Bisa jadi atom yang mengisi sel
saraf Napoleon dan Kaisar Nero, masuk ke sel saraf George W Bush
dan Saddam Hussein di abad ke-21 ini. Sebab Alexis Carrel
berpendapat bahwa sel-sel tubuh dapat hidup terus sejauh
diberikan lingkunga hidup yang sesuai.
''Jadi untuk mengenal diri
sendiri, tidak selalu harus lewat ajaran agama tertentu, bisa
juga dengan cara ilmiah. Namun tidak hanya lewat positivisme
yang melulu mengutamakan IQ dan mengabaikan EQ dan SQ, sehingga
hanya melahirkan orang-orang pintar yang tidak berakal sehat.
Jangankan berupaya berpikir tentang hal-hal yang jauh ke
belakang, anak atau saudara kandung pun dibunuh kalau
kepentingannya terhalang,'' gumam Rubag.
***
Rubag pun masih teringat
paparan almarhum Dr. E.F. Schumacher, yang meninggal 4 September
1977 di Swiss sepulang dari menghadiri seminar tentang teknologi
madya di Bali. Meskipun pakar ekonomi, dia juga piawai
berfilsafat, khususnya mengenai eksistensi manusia sebagai
mahluk yang mempunyai kelebihan dari mahluk-mahluk lain ciptaan
Tuhan. Kelebihan itu adalah upaya untuk menyadarkan diri.
Binatang, menurut penulis buku ''Small is Beautiful'' dan ''A
Guide of the Perpleced'' tersebut, memang punya kesadaran,
khususnya kesadaran untuk menghindar dari bahaya, namun manusia
memiliki upaya untuk menyadarkan diri. Akibat upaya inilah
manusia menjadi mahluk tersempurna di planet bumi ini. Dengan
kesadaran yang senantiasa ditingkatkanlah manusia bisa bergaul
dengan sesama manusia, sehingga tidak merasa terasing dan kosong.
Juga merasa terhibur melihat binatang dan tumbuh-tumbuhan
sehingga hidup jadi penuh makna.
Kesadaran tingkat tinggi
atau kesadaran mengenai eksistensi diri manusia, menurut
Ramachandran, terletak pada bagian pelipis otak yang disebut God
Spot. Rubag jadi teringat, bila seseorang disuruh menggunakan
otak atau diejek tidak punya otak, penyuruhnya selalu menunjuk
bagian pelipisnya sembari ngomel. Atau kadang-kadang seseorang
yang lagi berpikir keras, secara tidak sadar meraba pelipisnya
sembari tepekur. Meski warna kelabu sering dipakai kiasan untuk
menggambarkan kondisi yang tidak menyenangkan, namun kesadaran
manusia, kata Ramachandran, dibangun oleh sel-sel kelabu kulit
otak manusia.
''Bila Tuhan memberimu
kekuasaan dan menyerahkan Bali ini padamu, apa yang akan kau
lakukan, Bag?'' tiba-tiba suara halus namun jelas menyelusup ke
telinga Rubag, sedangkan malam kian larut dan dia tahu tidak ada
seorang pun di sampingnya.
''Ah, itu tidak mungkin!
Banyak orang pintar dan berduit rebutan mengincar kedudukan itu,
baik lewat kasak-kusuk maupun lewat agen-agennya di televisi.
Kalau saya, cukup tahu diri, di samping tidak punya kemampuan
juga sama sekali tidak bermodal,'' Rubag celingak-clinguk
mencari sumber suara, namun tidak berhasil melihat seorang pun.
''Kalau sudah kehendak Tuhan, kau akan bisa mengatasi segala
kendala. Apa yang akan kau lakukan, agar Bali ini tetap ajeg dan
tidak seperti sekarang masyarakatnya nyaris terpecah belah, di
samping pantai, sawah, ladang bahkan gunung hampir separo bukan
milik orang Bali lagi? Jangan plintat-plintut, jawab sesuai hati
nuranimu!''
''Begini, secara jujur,
saya mengaku tidak mampu jadi penguasa. Saya juga tidak mau
mengibahkan hadiah Tuhan ini pada orang lain, khawatir dituduh
menerima imbalan. Saya langsung akan menyerahkan kembali berkah
ini kepada Tuhan dengan ucapan terima kasih! Rasanya lebih
gampang jadi Presiden Amerika Serikat dibanding mengurus Bali.
Lihat itu apa yang terjadi di Buleleng, orang-orang saling gebuk
dan sabet. Di samping itu, saya juga takut pada diri sendiri.
Setelah berkuasa, saya bisa jadi otoriter. Sekalem-kalemnya
orang, kalau diberi kekuasaan, akan kehilangan kesadaran,
berubah jadi arogan,'' ujar Rubag.
''Tidurlah! Lebih baik
bermimpi jadi penguasa dibanding jadi penguasa sungguhan.
Andaikata kau bermimpi punya nasib sama seperti Alzier di
Lampung, paling-paling kau bangun sembari menjerit, hihihihi...,''
suara itu cekikian menjauh.
* Aridus
|