kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 27 April 2003 tarukan valas
 

OPINI


IQ + EQ + SQ = Kesadaran

''Gnothi teauton!'' seru Socrates pada murid-muridnya. Tentu saja kalimat singkat yang bermakna, ''Kenalilah dirimu!'' itu, menyebabkan anak-anak muda yang hidup jauh sebelum Abad Pencerahan, merasa bingung. Malah kebingungan tetap berlangsung meski Rene Descartes (1596-1650) berhasil menemukan terpisahnya zat material dan akal budi yang ada dalam tubuh manusia, sehingga menelorkan sesanti, ''Cogito ergo sum'' atau ''Karena berpikir maka saya ada''. Dia menyebutkan jiwa manusia bersembunyi di kelenjar pineal yang terletak persis di tengah otak dan manusia akan mati bila jiwa hijrah dari kelenjar tersebut.

RUBAG tidak begitu tertarik tentang kematian, karena dipikirkan atau tidak, disetujui atau ditolak, manusia pasti akan mati. Justru karena mengabaikan teriakan Socrates, "Gnothi teauton"-lah kematian mendominasi panggung kehidupan manusia saat ini. Bukan hanya manusia, mahluk yang konon paling sempurna, bahkan seluruh ciptaan Tuhan pun akan ludes, bila dunia ini semakin banyak dihuni manusia yang tidak mengenal dirinya sendiri. Jagat beserta seluruh isinya lenyap justru akibat ulah segelintir manusia yang menganggap diri mereka pengganti Tuhan di dunia. Mereka adalah penjunjung rasionalisme yang merasa berhak mengelola seluruh isi dunia ini secara mekanistik, karena menganggap planet biru ini mesin raksasa. Benda atau mahluk yang dianggap rusak atau tidak berguna dipunahkan, tanpa pertimbangan akal budi. Padahal mereka tidak bisa mendaur ulang atau menghidupkan kembali yang mereka bunuh.

Sangat disesalkan, bangsa yang mengaku sebagai pewaris kebudayaan Yunani dan Romawi, justru melainkan seruan Socrates. Padahal sebelum mencapai evolusi ke tingkat homo sapiens, primata yang kemudian berkembang menjadi manusia ini, senantiasa menggunakan kecerdasan emosional intuitifnya atau Emotional Quotient (EQ) saat menjalin hubungan dengan sesamanya dan mahluk lain. Malah ketika agama muncul sebagai benteng yang membatasi keliaran insting hewani manusia, sekaligus menghindarkannya untuk saling bunuh, maka terhindarlah manusia dari hukum seleksi alamnya Charles Darwin, ''The Survival of The Fittest'' atau ''Kelestarian bagi Terulung''. Kecerdasan spiritual atau Spritual Quotient (SQ) ini cukup berfungsi dalam meningkatkan populasi manusia, meskipun perang, penyakit dan bencana alam sering berkecamuk mengiringi peradabannya. Ironisnya, di tengah-tengah kemajuan sains dan teknologi akibat pengembangan kecerdasan inteligensinya (Inteligence Outient) dalam menghadapi kebuasan alam dan binatang, manusia seperti tidak sadar mengabaikan EQ dan SQ. Kemenangan demi kemenangan menyebabkan mereka mabuk. ''Mereka ingin menundukkan dunia karena mabuk kemenangan. Bahkan, setelah tidak ada lawan lagi, mungkin mereka ingin menundukkan Tuhan, seperti Niwatakwaca dalam kisah pewayangan yang menyerbu Indraloka. Sebab, bukan tidak mungkin, di antara golongan materialistis ini ada yang berpikiran seperti Nietzsche, lalu mengatakan Tuhan sudah mati dibunuhnya. Sekarang saja banyak tindakan manusia yang kualat dan bertentangan dengan ajaran agama. Padahal pelaku kebiadaban bukan atheis, justru mengaku penganut agama yang soleh,'' renung Rubag sambil mengingat kebiadaban yang disaksikannya di televisi maupun dibacanya di koran.

Orang-orang boleh saja tidak percaya dengan hukum Karmapala dan Punarbawa atau reinkarnasi, karena kedua jenis kepercayaan tersebut milik khas agama Hindu, minimal membunuh atau mencabut jiwa manusia, secara universal dilarang hukum maupun agama lain. Bahkan dalam sains khususnya genetika dikatakan gen manusia DNA tersusun dari empat substansi, yang disebut sitosin, timin, guanin dan adenin. Variasi-variasi ikatan empat substansi itulah yang kini membentuk milyaran manusia dan tersebar di seluruh dunia, mirip dengan tujuh tangga nada menyusun jutaan lagu. Sama dengan manusia, lagu pun ada yang mirip, meski dikomposisi dalam waktu dan tempat serta lingkungan yang berbeda. Berdasarkan pikiran itu, yang dikaitkan dengan paparan ilmiah John Stewart Bell, bahwa sekali dua atom mengikatkan diri ikut membentuk sel, maka hubungan tersebut akan berlanjut meski dipisahkan waktu dan wadah atau tubuh yang berbeda. Bisa jadi atom yang mengisi sel saraf Napoleon dan Kaisar Nero, masuk ke sel saraf George W Bush dan Saddam Hussein di abad ke-21 ini. Sebab Alexis Carrel berpendapat bahwa sel-sel tubuh dapat hidup terus sejauh diberikan lingkunga hidup yang sesuai.

''Jadi untuk mengenal diri sendiri, tidak selalu harus lewat ajaran agama tertentu, bisa juga dengan cara ilmiah. Namun tidak hanya lewat positivisme yang melulu mengutamakan IQ dan mengabaikan EQ dan SQ, sehingga hanya melahirkan orang-orang pintar yang tidak berakal sehat. Jangankan berupaya berpikir tentang hal-hal yang jauh ke belakang, anak atau saudara kandung pun dibunuh kalau kepentingannya terhalang,'' gumam Rubag.

***

Rubag pun masih teringat paparan almarhum Dr. E.F. Schumacher, yang meninggal 4 September 1977 di Swiss sepulang dari menghadiri seminar tentang teknologi madya di Bali. Meskipun pakar ekonomi, dia juga piawai berfilsafat, khususnya mengenai eksistensi manusia sebagai mahluk yang mempunyai kelebihan dari mahluk-mahluk lain ciptaan Tuhan. Kelebihan itu adalah upaya untuk menyadarkan diri. Binatang, menurut penulis buku ''Small is Beautiful'' dan ''A Guide of the Perpleced'' tersebut, memang punya kesadaran, khususnya kesadaran untuk menghindar dari bahaya, namun manusia memiliki upaya untuk menyadarkan diri. Akibat upaya inilah manusia menjadi mahluk tersempurna di planet bumi ini. Dengan kesadaran yang senantiasa ditingkatkanlah manusia bisa bergaul dengan sesama manusia, sehingga tidak merasa terasing dan kosong. Juga merasa terhibur melihat binatang dan tumbuh-tumbuhan sehingga hidup jadi penuh makna.

Kesadaran tingkat tinggi atau kesadaran mengenai eksistensi diri manusia, menurut Ramachandran, terletak pada bagian pelipis otak yang disebut God Spot. Rubag jadi teringat, bila seseorang disuruh menggunakan otak atau diejek tidak punya otak, penyuruhnya selalu menunjuk bagian pelipisnya sembari ngomel. Atau kadang-kadang seseorang yang lagi berpikir keras, secara tidak sadar meraba pelipisnya sembari tepekur. Meski warna kelabu sering dipakai kiasan untuk menggambarkan kondisi yang tidak menyenangkan, namun kesadaran manusia, kata Ramachandran, dibangun oleh sel-sel kelabu kulit otak manusia.

''Bila Tuhan memberimu kekuasaan dan menyerahkan Bali ini padamu, apa yang akan kau lakukan, Bag?'' tiba-tiba suara halus namun jelas menyelusup ke telinga Rubag, sedangkan malam kian larut dan dia tahu tidak ada seorang pun di sampingnya.

''Ah, itu tidak mungkin! Banyak orang pintar dan berduit rebutan mengincar kedudukan itu, baik lewat kasak-kusuk maupun lewat agen-agennya di televisi. Kalau saya, cukup tahu diri, di samping tidak punya kemampuan juga sama sekali tidak bermodal,'' Rubag celingak-clinguk mencari sumber suara, namun tidak berhasil melihat seorang pun. ''Kalau sudah kehendak Tuhan, kau akan bisa mengatasi segala kendala. Apa yang akan kau lakukan, agar Bali ini tetap ajeg dan tidak seperti sekarang masyarakatnya nyaris terpecah belah, di samping pantai, sawah, ladang bahkan gunung hampir separo bukan milik orang Bali lagi? Jangan plintat-plintut, jawab sesuai hati nuranimu!''

''Begini, secara jujur, saya mengaku tidak mampu jadi penguasa. Saya juga tidak mau mengibahkan hadiah Tuhan ini pada orang lain, khawatir dituduh menerima imbalan. Saya langsung akan menyerahkan kembali berkah ini kepada Tuhan dengan ucapan terima kasih! Rasanya lebih gampang jadi Presiden Amerika Serikat dibanding mengurus Bali. Lihat itu apa yang terjadi di Buleleng, orang-orang saling gebuk dan sabet. Di samping itu, saya juga takut pada diri sendiri. Setelah berkuasa, saya bisa jadi otoriter. Sekalem-kalemnya orang, kalau diberi kekuasaan, akan kehilangan kesadaran, berubah jadi arogan,'' ujar Rubag.

''Tidurlah! Lebih baik bermimpi jadi penguasa dibanding jadi penguasa sungguhan. Andaikata kau bermimpi punya nasib sama seperti Alzier di Lampung, paling-paling kau bangun sembari menjerit, hihihihi...,'' suara itu cekikian menjauh.

* Aridus

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com