kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 27 April 2003 tarukan valas
 

Nusantara


Koes Plus, Kapan-kapan Kita Nyanyi Bersama ...

Kelompok musik legendaris Koes Plus Jumat (25/4) lalu menggelar konser di Mal Galeria Bali, Kuta. Seperti sudah diduga sebelumnya, konser ini disesaki ratusan penggemar Koes Plus yang secara spontan-bebas-lepas ikut bernyanyi bersama. Nyaris semua penggemar fanatik itu hafal sekitar 20-an lagu yang dibawakan Koes Plus malam itu. Inilah ''pelepasan'' sebuah kerinduan yang seolah tak tertahan dari para penggemar pada ''magnet'' bernama Koes Plus itu.

INI sebuah seloroh yang boleh diiyakan atau tidak. Bahwa, di dunia ini hanya ada tiga grup musik pop yang pantas dicatat. Satu lahir di Inggris bernama The Beatles, dua lahir di Indonesia yakni Koes Plus dan Sheila On 7. Ah, masa iya?

Jika orang bicara tentang perkembangan musik pop, terutama perihal kelahiran grup-grup yang mampu memberi pengaruh pada fenomena atau kecenderungan perkembangan musik pop itu sendiri pada babakan kurun waktu kemudian, ketiga grup tadi ''sah'' saja dicatat. Mereka punya karakter yang jelas, punya inovasi serta materi galian-galian yang baru -- yang secara langsung atau tidak -- dicontoh dan dipanut grup-grup lain yang lahir kemudian.

Maka, taruhlah Koes Plus. Grup yang pada mulanya berinduk Koes Bersaudara, lahir menjelang tahun 1970-an ini, terlalu banyak meletakkan dasar-dasar kecenderungan pop dan pengaruh di Indonesia. Sebagai sosok grup, Koes Plus memiliki karakter dan warna yang jelas. Ajaibnya lagi, grup yang pada awalnya beranggotakan Tony Koeswoyo (almarhum), Yok Koeswoyo, Yon Koeswoyo, serta Murry ini tidak saja memainkan warna pop yang mentok, tetapi merambah ke wilayah-wilayah lain.

Percaya atau tidak, pada tahun 1970-an pula Koes Plus sudah memainkan warna thrash-metal di lagu "Kelelawar", heavy-rock di lagu "Jemu", pop-rock di lagu "Mobil Tua", atau warna-warna keras lain yang dalam bahasa Koes Plus disebutnya hard beat. Terus, Koes Plus juga bisa berdangdut lewat lagu "Cubit-cubitan", bisa berkeroncong lewat lagu "Penyanyi Tua" hingga "Keroncong Pertemuan", ber-folk song lewat lagu "Liku-liku Laki-laki", sampai pop anak-anak. Meski hadir di sejumlah warna, toh ciri Koes Plus -- dengan warna vokal khas Yon serta formula harmonisasi duet yang diterapkan -- tetap tampak.

Kini, Koes Plus tetap ada meski sudah beberapa kali ganti formasi. Tampil pada Jumat (25/4) lalu di Mal Galeria Bali, Kuta, grup yang kini hanya menyisakan dua personel awalnya -- Yon dan Murry -- yang rata-rata berusia di atas 50-an tahun ini benar-benar masih mampu mengguncang jagat pop. Di tengah haru-biru tampilnya seabrek grup musik pop muda kini, Koes Plus bolehlah dikata masih eksis.

Ratusan penonton yang -- tentu saja -- sebagian besar lahir pada kurun 1950 hingga 1970-an yang hadir pada konser A Mild Live bertajuk "The Legend Koes Plus" malam itu, seakan menumpahkan kerinduannya habis-habisan pada grup legendaris itu. Nyaris semua lagu Koes Plus "dilahap" penonton. Sehingga yang terjadi kemudian, nyaris di sepanjang pertunjukan, kor terus berlangsung. Koes Plus rata-rata hanya menyanyikan sebagian atau sepotong-sepotong lagunya, sisanya dinyanyikan penonton. Spektakuler memang.

Penonton benar-benar larut, diombang-ambingkan pada semua lagu. Penonton berjingkrak ketika muncul lagu "Kelelawar", bergetar-mendayu ketika menyanyikan "Why Do You Love Me" atau "Hidup yang Sepi", bergoyang ketika melagukan "Diana", berteriak ria ketika menyanyikan "Muda-mudi", berloncat-loncat saat menyanyikan medley lagu-lagu serial "Nusantara", dan seterusnya. Dan Yon Koeswoyo, di usianya yang lebih dari setengah abad itu, sungguh masih energik sebagaimama ia tampil puluhan tahun silam. Pun Murry, dengan gebukan drumnya yang amat fenomenal pada zamannya itu, tak kalah energik menimpali tingkah Yon serta dua personel tambahan lain -- Andolin (keybord/gitar) dan Jack Kasby (bass) -- itu.

Menggemalah Koes Plus kembali. Gema ini terasa tak habis ketika Koes Plus harus mengakhiri pergelarannya dengan menyanyikan lagu "Kapan-kapan". "Kapan-kapan, kita nyanyi bersama, kapan-kapan kita berjumpa lagi, mungkin lusa, atau di lain hari..." Ya, bernyanyi bersama Koes Plus bukan semata "kapan-kapan", tetapi kapan saja bisa. Ia amat abadi.
* Gus Martin

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com