Koes Plus, Kapan-kapan
Kita Nyanyi Bersama ...
Kelompok
musik legendaris Koes Plus Jumat (25/4) lalu menggelar konser di
Mal Galeria Bali, Kuta. Seperti sudah diduga sebelumnya, konser
ini disesaki ratusan penggemar Koes Plus yang secara
spontan-bebas-lepas ikut bernyanyi bersama. Nyaris semua
penggemar fanatik itu hafal sekitar 20-an lagu yang dibawakan
Koes Plus malam itu. Inilah ''pelepasan'' sebuah kerinduan yang
seolah tak tertahan dari para penggemar pada ''magnet'' bernama
Koes Plus itu.
INI
sebuah seloroh yang boleh diiyakan atau tidak. Bahwa, di dunia
ini hanya ada tiga grup musik pop yang pantas dicatat. Satu
lahir di Inggris bernama The Beatles, dua lahir di Indonesia
yakni Koes Plus dan Sheila On 7. Ah, masa iya?
Jika orang bicara tentang
perkembangan musik pop, terutama perihal kelahiran grup-grup
yang mampu memberi pengaruh pada fenomena atau kecenderungan
perkembangan musik pop itu sendiri pada babakan kurun waktu
kemudian, ketiga grup tadi ''sah'' saja dicatat. Mereka punya
karakter yang jelas, punya inovasi serta materi galian-galian
yang baru -- yang secara langsung atau tidak -- dicontoh dan
dipanut grup-grup lain yang lahir kemudian.
Maka, taruhlah Koes Plus.
Grup yang pada mulanya berinduk Koes Bersaudara, lahir menjelang
tahun 1970-an ini, terlalu banyak meletakkan dasar-dasar
kecenderungan pop dan pengaruh di Indonesia. Sebagai sosok grup,
Koes Plus memiliki karakter dan warna yang jelas. Ajaibnya lagi,
grup yang pada awalnya beranggotakan Tony Koeswoyo (almarhum),
Yok Koeswoyo, Yon Koeswoyo, serta Murry ini tidak saja memainkan
warna pop yang mentok, tetapi merambah ke wilayah-wilayah lain.
Percaya atau tidak, pada
tahun 1970-an pula Koes Plus sudah memainkan warna thrash-metal
di lagu "Kelelawar", heavy-rock di lagu "Jemu",
pop-rock di lagu "Mobil Tua", atau warna-warna keras
lain yang dalam bahasa Koes Plus disebutnya hard beat. Terus,
Koes Plus juga bisa berdangdut lewat lagu "Cubit-cubitan",
bisa berkeroncong lewat lagu "Penyanyi Tua" hingga
"Keroncong Pertemuan", ber-folk song lewat lagu "Liku-liku
Laki-laki", sampai pop anak-anak. Meski hadir di sejumlah
warna, toh ciri Koes Plus -- dengan warna vokal khas Yon serta
formula harmonisasi duet yang diterapkan -- tetap tampak.
Kini, Koes Plus tetap ada
meski sudah beberapa kali ganti formasi. Tampil pada Jumat
(25/4) lalu di Mal Galeria Bali, Kuta, grup yang kini hanya
menyisakan dua personel awalnya -- Yon dan Murry -- yang
rata-rata berusia di atas 50-an tahun ini benar-benar masih
mampu mengguncang jagat pop. Di tengah haru-biru tampilnya
seabrek grup musik pop muda kini, Koes Plus bolehlah dikata
masih eksis.
Ratusan penonton yang --
tentu saja -- sebagian besar lahir pada kurun 1950 hingga
1970-an yang hadir pada konser A Mild Live bertajuk "The
Legend Koes Plus" malam itu, seakan menumpahkan
kerinduannya habis-habisan pada grup legendaris itu. Nyaris
semua lagu Koes Plus "dilahap" penonton. Sehingga yang
terjadi kemudian, nyaris di sepanjang pertunjukan, kor terus
berlangsung. Koes Plus rata-rata hanya menyanyikan sebagian atau
sepotong-sepotong lagunya, sisanya dinyanyikan penonton.
Spektakuler memang.
Penonton benar-benar larut,
diombang-ambingkan pada semua lagu. Penonton berjingkrak ketika
muncul lagu "Kelelawar", bergetar-mendayu ketika
menyanyikan "Why Do You Love Me" atau "Hidup yang
Sepi", bergoyang ketika melagukan "Diana",
berteriak ria ketika menyanyikan "Muda-mudi",
berloncat-loncat saat menyanyikan medley lagu-lagu serial "Nusantara",
dan seterusnya. Dan Yon Koeswoyo, di usianya yang lebih dari
setengah abad itu, sungguh masih energik sebagaimama ia tampil
puluhan tahun silam. Pun Murry, dengan gebukan drumnya yang amat
fenomenal pada zamannya itu, tak kalah energik menimpali tingkah
Yon serta dua personel tambahan lain -- Andolin (keybord/gitar)
dan Jack Kasby (bass) -- itu.
Menggemalah Koes Plus
kembali. Gema ini terasa tak habis ketika Koes Plus harus
mengakhiri pergelarannya dengan menyanyikan lagu "Kapan-kapan".
"Kapan-kapan, kita nyanyi bersama, kapan-kapan kita
berjumpa lagi, mungkin lusa, atau di lain hari..." Ya,
bernyanyi bersama Koes Plus bukan semata "kapan-kapan",
tetapi kapan saja bisa. Ia amat abadi.
* Gus Martin
|