Gudang Senjata Irak
Meledak, 14 Tewas
Baghdad -
Sebuah gudang senjata di wilayah tenggara kota Baghdad, Sabtu
(26/4) kemarin meledak. Ledakan dahsyat itu menewaskan 14 orang.
Gudang senjata tersebut berada di sebuah bekas pangkalan militer
Irak. Kantor berita CNN gagal mengambil gambar setelah ledakan
akibat situasi yang belum memungkinkan.
Belum diketahui secara
pasti penyebab ledakan. Namun, diperkirakan ada warga yang
menembakkan rudal ke arah bangunan tersebut. Pasukan elite AS
dari Divisi 101 Airbone menangkap seorang warga Irak yang
dituduh menembakkan rudal. Pasukan AS menarik diri dari lokasi
sekitar ledakan setelah warga setempat melempari mereka dengan
batu. Warga sipil khawatir kendaraan tempur AS terlalu dekat
dengan rumah-rumah mereka jika menerima serangan.
Aziz Ditolak
Inggris
Sementara itu, pemerintah Kerajaan Inggris menolak keinginan
Wakil Perdana Menteri Irak Tareq Aziz untuk mencari suaka di
negara tersebut. Penolakan tersebut disampaikan juru bicara
Kementerian Dalam Negeri Inggris, Sabtu kemarin, menyusul
pemberitaan permohonan suaka Aziz di koran terbesar Inggris, The
Sun.
The Sun menulis Aziz mau
memberikan informasi mengenai keberadaan Saddam Hussein. Namun,
dia juga mengajukan persyaratan. Salah satunya untuk memperoleh
identitas baru dan diperkenankan menetap di Inggris. Tujuannya
untuk menghindari kemarahan masyarakat Irak serta Aziz tidak
ingin menjadi tahanan AS.
Terhadap keinginan Aziz,
juru bicara itu menganggapnya sebagai permintaan yang lucu.
"Sangat menggelikan untuk memberikan suaka kepada orang
yang terlibat pada aktivitas melanggar hak asasi manusia,"
jelasnya menanggapi permintaan Aziz.
Inggris secara umum
memiliki hak untuk menerima seluruh permohonan mengenai suaka.
Namun, berdasarkan Konvensi Pengungsi 1951 terdapat pengecualian
untuk para penjahat perang. Menteri Luar Negeri Inggris Jack
Straw menyatakan, penangkapan Aziz merupakan permulaan penting
untuk melacak Saddam.
Aziz ditangkap Jumat
(25/4) malam waktu setempat. Penangkapannya diharapkan memberi
petunjuk keberadaan Saddam. Aziz menjabat sebagai Menteri Luar
Negeri Irak semasa perang Teluk 1991. Dia menjadi orang nomor 43
dari 55 daftar orang paling dicari AS dan koalisi.
Spekulasi yang sebelumnya
beredar mengatakan, Aziz sempat terbang ke Syria dibantah
anaknya, Saddam Aziz. Kepada koran The Guardian, Saddam
mengungkapkan ayahnya masih berada di Baghdad ketika AS
menguasai ibu kota Irak. Mereka sekeluarga hanya berpindah
tempat ketika dilakukan pemboman. "Kami khawatir terkena
bom. Sehingga berulang kali pindah. Ayah hanya sesekali bersama
kami. Setelah itu pergi ke suatu tempat yang kami tidak tahu,"
ungkap Saddam.
Menjelang penangkapannya,
Saddam menjelaskan mereka kehilangan kontak dengan Aziz. Baginya
hal itu dilakukan sebagai upaya untuk melindungi keluarganya.
"Saya berharap AS memperlakukannya dengan baik. Dia bukan
penjahat. Dia hanya politikus dan diplomat," pintanya.
Pekan depan, Presiden AS
George W. Bush akan mengumumkan secara resmi pertempuran di Irak
sudah selesai. Pengumumannya itu akan disampaikan saat kunjungan
ke kapal induk USS Abraham Lincoln. Pernyataan pertempuran usai
akan disampaikan kepada pimpinan pasukan koalisi, Jendral Tommy
Franks.
Meskipun perang dinyatakan
usai, pasukan AS dan koalisi akan tetap melanjutkan misi mereka.
Misi utama yakni mencari data mengenai senjata pemusnah masal.
Sedangkan proses rehabilitasi pascaperang seperti pelayanan
publik serta administrasi akan segera digulirkan.
Menurut Ari Fleischer,
juru bicara Gedung Putih, Bush tetap meminta pasukannya waspada.
Pasalnya, sejumlah perlawanan kecil masih terjadi di Baghdad dan
sekitarnya. Selain itu, Bush mengungkapkan mengenai keberadaan
senjata pemusnah masal Irak. Menurutnya, Saddam mungkin saja
telah memusnahkan senjatanya dan bisa menyembunyikannya. "Ini
akan perlu waktu untuk membuktikannya," ungkap Bush seperti
dikutip Fleischer. (rah/afp)
|