kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 27 April 2003 tarukan valas
 

Mancanegara


Gudang Senjata Irak Meledak, 14 Tewas

Baghdad -
Sebuah gudang senjata di wilayah tenggara kota Baghdad, Sabtu (26/4) kemarin meledak. Ledakan dahsyat itu menewaskan 14 orang. Gudang senjata tersebut berada di sebuah bekas pangkalan militer Irak. Kantor berita CNN gagal mengambil gambar setelah ledakan akibat situasi yang belum memungkinkan.

Belum diketahui secara pasti penyebab ledakan. Namun, diperkirakan ada warga yang menembakkan rudal ke arah bangunan tersebut. Pasukan elite AS dari Divisi 101 Airbone menangkap seorang warga Irak yang dituduh menembakkan rudal. Pasukan AS menarik diri dari lokasi sekitar ledakan setelah warga setempat melempari mereka dengan batu. Warga sipil khawatir kendaraan tempur AS terlalu dekat dengan rumah-rumah mereka jika menerima serangan.

Aziz Ditolak Inggris
Sementara itu, pemerintah Kerajaan Inggris menolak keinginan Wakil Perdana Menteri Irak Tareq Aziz untuk mencari suaka di negara tersebut. Penolakan tersebut disampaikan juru bicara Kementerian Dalam Negeri Inggris, Sabtu kemarin, menyusul pemberitaan permohonan suaka Aziz di koran terbesar Inggris, The Sun.

The Sun menulis Aziz mau memberikan informasi mengenai keberadaan Saddam Hussein. Namun, dia juga mengajukan persyaratan. Salah satunya untuk memperoleh identitas baru dan diperkenankan menetap di Inggris. Tujuannya untuk menghindari kemarahan masyarakat Irak serta Aziz tidak ingin menjadi tahanan AS.

Terhadap keinginan Aziz, juru bicara itu menganggapnya sebagai permintaan yang lucu. "Sangat menggelikan untuk memberikan suaka kepada orang yang terlibat pada aktivitas melanggar hak asasi manusia," jelasnya menanggapi permintaan Aziz.

Inggris secara umum memiliki hak untuk menerima seluruh permohonan mengenai suaka. Namun, berdasarkan Konvensi Pengungsi 1951 terdapat pengecualian untuk para penjahat perang. Menteri Luar Negeri Inggris Jack Straw menyatakan, penangkapan Aziz merupakan permulaan penting untuk melacak Saddam.

Aziz ditangkap Jumat (25/4) malam waktu setempat. Penangkapannya diharapkan memberi petunjuk keberadaan Saddam. Aziz menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Irak semasa perang Teluk 1991. Dia menjadi orang nomor 43 dari 55 daftar orang paling dicari AS dan koalisi.

Spekulasi yang sebelumnya beredar mengatakan, Aziz sempat terbang ke Syria dibantah anaknya, Saddam Aziz. Kepada koran The Guardian, Saddam mengungkapkan ayahnya masih berada di Baghdad ketika AS menguasai ibu kota Irak. Mereka sekeluarga hanya berpindah tempat ketika dilakukan pemboman. "Kami khawatir terkena bom. Sehingga berulang kali pindah. Ayah hanya sesekali bersama kami. Setelah itu pergi ke suatu tempat yang kami tidak tahu," ungkap Saddam.

Menjelang penangkapannya, Saddam menjelaskan mereka kehilangan kontak dengan Aziz. Baginya hal itu dilakukan sebagai upaya untuk melindungi keluarganya. "Saya berharap AS memperlakukannya dengan baik. Dia bukan penjahat. Dia hanya politikus dan diplomat," pintanya.

Pekan depan, Presiden AS George W. Bush akan mengumumkan secara resmi pertempuran di Irak sudah selesai. Pengumumannya itu akan disampaikan saat kunjungan ke kapal induk USS Abraham Lincoln. Pernyataan pertempuran usai akan disampaikan kepada pimpinan pasukan koalisi, Jendral Tommy Franks.

Meskipun perang dinyatakan usai, pasukan AS dan koalisi akan tetap melanjutkan misi mereka. Misi utama yakni mencari data mengenai senjata pemusnah masal. Sedangkan proses rehabilitasi pascaperang seperti pelayanan publik serta administrasi akan segera digulirkan.

Menurut Ari Fleischer, juru bicara Gedung Putih, Bush tetap meminta pasukannya waspada. Pasalnya, sejumlah perlawanan kecil masih terjadi di Baghdad dan sekitarnya. Selain itu, Bush mengungkapkan mengenai keberadaan senjata pemusnah masal Irak. Menurutnya, Saddam mungkin saja telah memusnahkan senjatanya dan bisa menyembunyikannya. "Ini akan perlu waktu untuk membuktikannya," ungkap Bush seperti dikutip Fleischer. (rah/afp)

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com