Pura Pabean,
Arsitektur Khas dan Kisah Nostalgia
Rangkaian hari raya suci
Hindu menghias sebagian hari-hari pada bulan April 2003 ini --
dari Hari Raya Nyepi, Saraswati, sampai Pagerwesi. Adanya hari
raya ini terkait pula dengan kegiatan ritual yang dilakukan
berbagai pihak dengan melakukan sembah bakti ke tempat-tempat
suci, baik peribadatan tempat tinggal masing-masing, maupun di
luar tempat kediaman, seperti pantai, atau ke pura-pura yang
banyak terdapat di Bali. Salah satu di antaranya adalah Pura
Pabean di kawasan Pulaki, Buleleng Barat.
SELAIN
sebagai sebuah pura suci Hindu, Pura Pabean di kawasan Pulaki,
Buleleng Barat ini juga menyimpan kisah, nostalgia persinggahan
atau sebagai pelabuhan bagi pelaut-pelaut dari etnis luar Bali
beberapa abad lalu. Dalam perwujudan visualnya, pura ini
memasukkan pula unsur-unsur religioitas agama Hindu Bali, Cina (Ciwa,
Buddha, Tao, Kong Hu Tju) dan Islam. Adanya palinggih-palinggih
yang bernafaskan beberapa keyakinan atau kepercayaan ini
membuktikan adanya perkawinan kultur wujud arsitektur Pura
Pabean ini.
Maka, tak ayal lagi kalau
pura ini disebut Pura Pabean Linggih Ida Batari Dewi Ayu Manik
Mas Subandar, atau dengan sebutan lain, Gerya Konco Dewi. Kata
pabean sendiri diperkirakan berasal dari suku kata bea, diimbuhi
awal pa dan akhiran an. Sehingga pabean bisa diartikan sebagai
tempat aktivitas yang berhubungan dengan pengenaan bea-cukai
bagi para pelayar yang membawa barang dagangannya ke Bali.
Intinya, tentu ada kaitannya dengan tempat berlabuh kapal-kapal
asing pada zaman dulu.
Pura ini terletak di
seberang jalan Pura Pulaki, yakni di Pantai Pulaki, agak
menjorok ke arah laut. Pura ini merupakan salah satu dari lima
buah pura yang ada di kawasan Pulaki, yang seluruhnya merupakan
stana "Pesanakan Ida Batara Sami" yaitu pesanakan Ida
Batara Pulaki, Ida Batara Melanting, Ida Batara Kertaning Jagat
(di Desa Banyu Poh), Ida Batara Mutering Jagat (di Dusun Yeh
Panes - Pemuteran), dan Ida Batara Pabean.
Pemugaran
Arsitektur Pura Pabean ini merupakan hasil rancangan arsitek Ida
Bagus Tugur. Setelah dipugar sekitar tahun 1995, pada 1996
dilakukan upacara memindahkan (magingsir) Ida Batara Pabean
sementara waktu (dalam wujud mapurus lumbung) di sebelah selatan
lokasi selama pemugaran dan pembangunan pura berlangsung.
Kemudian dilakukan upacara malaspas alit tahun 1999, serta
ngenteg linggih-nya diselenggarakan tepat pada purnama kelima
bersamaan dengan hari Penampahan Galungan, 19 November 2002.
Secara keseluruhan fisik arsitekturnya menggunakan bahan baku
tabas berwarna hitam.
Dikisahkan oleh Jero
Mangku Teken, selaku mangku pengayah di Pura Pabean/Pulaki,
bahwa Ida Batara yang malinggih di sini -- konon -- dulunya
berasal dari dalem Solo, kemudian hijrah ke Madura, sampai
akhirnya tiba Bali, di tempat ini. Dikatakan lebih lanjut,
sekitar tahun 1991 pada titik lokasi di Pura Pabean, ditemukan
piring Cina oleh seorang profesor dari Jepang. Kemudian tahun
1994 dijumpai lagi empat kerangka manusia -- keempatnya masih
memakai gelang -- oleh salah seorang ahli dari Bali. Menurut
para ahli atau peneliti, kedua jenis peninggalan itu dikatakan
berasal dari dinasti Yim, dan diperkirakan berumur 2500 tahun
SM.
Memang, cukup banyak
riwayat dan kisah unik tercatat mengisi lembar zaman di persada
pesisir Buleleng. Mulai dari penjajahan kolonial Belanda,
perjalanan Dang Hyang Dwijendra, era pemerintahan raja Ki Barak
Panji Sakti, sampai pada kedatangan perahu-perahu dari Tiongkok,
Bugis, Mandar, dan Melayu, yang merapat di beberapa pelabuhan
pesisir Buleleng membawa barang-barang dagangannya. Dalam
persinggahannya, tentu juga mengusung kultur dan agama yang
dianut dari negeri asalnya.
Seperti dituturkan Jero
Mangku Teken asal Desa Kalisada, Kecamatan Seririt itu, ada
sepotong kisah yang bersumber dari palingsir-nya -- neneknya
yang bernama Ninik Made Merik yang telah di-aben pada tahun
1988, ada versi yang sedikit berbeda dengan apa yang diungkap
dalam Dwijendra Tatwa. Perbedaan tersebut menyangkut pada kisah
kedatangan Pedanda Sakti Wawu Rauh dari Jawa.
Dalam versi ini
diceritakan, saat kedatangan pertama Dang Hyang Dwijendra ke
Bali, sudah malinggih Ida Batara Pulaki di lokasi Pura Pulaki
sekarang. Wujud visualnya ketika itu berupa batu lempeh. Ketika
Dang Hyang Dwijendra tiba -- yang konon berlayar dengan
menggunakan tongkat -- di Pantai Pulaki, Ida Batara Pulaki
sempat menguji kesaktian Dang Hyang Dwijendra dengan cara
menampakkan diri berwujud manusia tak berkaki dan tak berlengan
(hanya memiliki badan dan kepala). Nah, sejauh mana kebenaran
atau otentisitasnya, tentu para ahli yang berkompeten punya
kewajiban untuk meneliti segi historisnya.
Tiga Zona
Secara menyeluruh, tapak (site) Pura Pabean ini terbagi atas
tiga zona pokok, sebagaimana pembagian tata ruang arsitektur
pura atau tata nilai tradisional yang berlaku di Bali pada
umumnya. Yaitu terbagi atas zona jaba sisi -- mulai dari jalan
setapak yang dibuat mengelilingi pura, sampai dengan pelataran
depan Gelung Kori. Kemudian zona jaba tengah yang terdiri atas
bangunan Wantilan dua buah yang masing-masing terletak secara
simetris di sisi kiri dan kanan, serta adanya Bale Peninjauan
dan Bale Kulkul.
Bale Peninjauan untuk
sementara difungsikan sebagai Bale Kulkul (karena Bale Kulkul
yang sesungguhnya belum selesai dibangun, yakni terletak di
sebelah gelung kori bagian kanan. Penataan massa bangunan secara
keseluruhan berpola simetri. Dengan garis sumbu orientasi menuju
ke arah hulu atau kaja (ke arah gunung) dan teben atau kelod (ke
arah laut).
Pola penataan yang simetri
bermakna keseimbangan, kestabilan dan ketenangan menuju titik
keheningan yang dituju. Sumbu simetri bermakna mengarahkan dan
mengumpulkan konsentrasi ke pusat yang tertinggi. Maka ujung
titik dari perpanjangan garis sumbu berakhir pada titik tempat
yang sangat disucikan, tempat ber-stana Tuhan Sang Maha Pencipta.
Pada titik inilah berdiri Padmasana sebagai tempat malinggih
Hyang Maha Tunggal, berada pada areal tertinggi, yang merupakan
zona jeroan.
Adapun sumbu simetrinya
dapat dimulai dari massa palinggih yang paling depan, yaitu Jero
Nyoman Pamungkah Karang (Jero Patih Agung) yang diapit oleh dua
ekor "naga suci" di kiri kanannya. Kemudian disusul
dengan Bale Pegat. Selanjutnya palinggih Pengaruman Agung --
tempat peraneman Ida Batara Sami, yang bangunannya berbentuk
segi delapan (hexagonal) dipadukan dengan bentuk bunga teratai.
Bentuk segi delapan itu juga disebut patkua bagi etnis Tiongkok,
bentuk dasar yang memiliki nilai magis-spiritual.
Hal ini mengandung makna
kebaikan yang datang dari segala sisi, pun bermula dari konsep
asta dala (delapan penjuru mata angin dengan satu titik di
tengah), secara fisik dikelilingi kolam berbentuk lingkaran.
Jika menukik lebih dalam lagi mungkin terkait dengan sebuah
kalimat bijak dalam Reg Weda yang berbunyi "Aum a no
bhadrah kratawo wiswatah", yang artinya "semoga semua
pikiran yang baik datang dari semua arah".
Di belakang Pengaruman
Agung berderet beberapa palinggih, paling tengah adalah
Padmasana yang merupakan bangunan paling tinggi dimensi/ukurannya
di antara keseluruhan bangunan dalam pura ini. Pada puncak dari
Padmasana berdiri teguh bentuk aksara ongkara (Ang - Ung - Mang).
Sedangkan pada bagian depan atas Padmasana menempel relief
acintya yang dibuat dari bahan emas.
Lebih jauh jika diamati,
hampir seluruh gugus massa arsitektur pura ini, setiap puncaknya
mengusung aksara tersebut. Kemudian, lebih hakiki lagi bila
ditelusuri, bahwa setiap wujud arsitektur sebenarnya merupakan
sebagai suatu aksara (teks) pula. Untuk memahaminya perlu
"dialog batin" dan menafsirkannya melalui proses
"mendengarkan" makna sebuah wujud arsitektur.
Beberapa palinggih yang
berada di sebelah kanan Padmasana adalah Anglurah Manca, Lingga
Ida Batara Mpu Kuturan, dan Lingga Ida Batara Baruna. Sedangkan
yang berdiri di sisi kiri Padmasana adalah palinggih Ida Ratu
Syahbandar dan Dewi Ayu Manik Mas Subandar (dua rong dalam satu
palinggih, sebagai stana dua bersaudara -- raka-rai), palinggih
Dewi Kwan Im (Dewi Pengasih), dan Anglurah polos.
Pada palinggih Dewi Kwan
Im ini sebagian besar diadopsi ornamen dan ragam hias gaya Cina.
Seperti adanya motif naga pada bubungan, patra-patra Cina,
pepalihan berbentuk uang kepeng, dll. Pada satu sisi kiri di
dalam area pura juga terdapat sebuah bangunan kecil berbentuk
dasar segi delapan, sebagai tungku/tempat pembakaran
kertas-kertas Cina.
Keunikan
Bila diamati lebih seksama, penataan palinggih di pura ini
memiliki keunikan tersendiri, baik dari pola penempatan, bentuk,
serta makna yang dikandungnya. Lokasi pura ini berada di atas
bukit kecil, berseberangan dengan pura Pulaki. Memasukinya
diawali dari jalan setapak yang melingkar mengelilingi bukit
tersebut, masing-masing sebagai area sirkulasi untuk arah masuk
dan arah keluar, sehingga tapak (site) dari pura tersebut
mendekati bentuk lingkaran.
Bentuk ini memiliki makna
sebagai kura-kura (akupe) yang diapit dua ekor naga -- naga
Anthaboga yang melambangkan lapisan bumi dan naga Basuki sebagai
sumber mata air. Posisi kedua naga ini juga memiliki makna
magis-filosofis, dimana ekor naga menghadap ke gunung, sedangkan
kepalanya menghadap ke laut. Gerbang utama masuk pura berbentuk
gelung kori yang memiliki ciri khas tersendiri, pada bagian
atasnya berbentuk setengah lingkaran yang digestilir dalam
bentuk ornamen yang menunjang nilai otentik pura. Sedangkan pada
bagian temboknya memiliki motif-motif kuda laut, kera, dll.
Perihal lain dapat
ditemukan adanya dua buah palinggih yang unik -- juga kreasi
dari arsitek Ida Bagus Tugur, terletak di bawah areal pura (di
tepi pantai) dibuat agak abstrak dalam bentuk sculpture dengan
bahan asli dari bebatuan berukuran besar yang diambil dari
pantai tersebut, kemudian disusun sedemikian rupa menjadi sebuah
komposisi yang unik dan menarik.
Kedua palinggih tersebut
disebut linggih Dewa Ayu dan linggih Patih Agung.
Palinggih-palinggih ini bermakna sebagai tempat peristirahatan
kedua beliau tersebut, sehingga bentuk dan ekspresi yang
ditampilkan dibuat agar berkesan selaras dan harmonis dengan
lingkungannya (terhadap hamparan air laut dan batu-batu), serta
memberikan rasa santai, rileks, tentram dan damai. Di depannya
terhampar bebatuan pantai yang ditata, sekaligus berfungsi
sebagai jalan setapak menuju ke area peristirahatan atau linggih
Desa Ayu dan Patih Agung.
Kebhinekaan
Rancangan arsitektur Ida
Bagus Tugur ini merupakan arsitektur yang mendulang dinamika dan
pembaruan. Sebuah hasil rancangan yang tidak hanya bertitik
tolak dari nilai estetis semata-mata, namun menyerap nilai-nilai
historis, filosofis, tradisi, serta mengangkat karakter dan
potensi alamnya.
Tepat sekali ungkapan
"Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa" yang
merupakan penuangan konsep "kesatuan" yang dapat
menjiwai berbagai perilaku kehidupan maupun penataan fisik
arsitektural, hakikatnya mengandung makna satu tujuan, yakni
tiada dharma yang dua. Hal ini dapat dilihat pada wujud
arsitektur di sini, yakni dibangunnya palinggih-palinggih
sebagai tempat ber-stana para dewa-dewi, Ida Batara, roh-roh
suci para leluhur dari berbagai etnis dan kepercayaan, seperti
nama-nama palinggih yang telah disebutkan.
Rancangan ini juga tak
meninggalkan konsep-konsep pemikiran manusia yang berhubungan
dengan pemahaman makna kehidupan masa lalu. Keadaan ini
tercermin dari penataannya yang tetap memegang teguh nilai-nilai
filosofis dan kaidah-kaidah tradisional, seperti filsafat
arsitektur, aspek orientasi, hirarki tata ruang, level tinggi
rendah suatu tempat, serta menyelaraskan dengan keadaan
lingkungan setempat.
* I Nyoman Gde
Suardana
|