kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 27 April 2003 tarukan valas
 

Gebyar


Pameran Patung I Nyoman Sentana Yasa

Menikmati Patung Abstrak-Figuratif

PERGURUAN tinggi seni rupa dan desain (PSSRD) yang bernaung di bawah Universitas Udayana, kembali meluluskan sarjana baru. Yang lolos menjadi sarjana patung itu adalah I Nyoman Sentana Yasa. Bersamaan dengan itu, digelar pula pameran sehari "Tugas Akhir Minar Utama Patung, Jurusan Seni Murni PSSRD Unud" pada Selasa (22/4) lalu di Kampus PSSRD Unud. Pameran ini mengetengahkan karya I Nyoman Sentana Yasa berupa belasan karya patung berbahan kayu, beton mill, batu, dan lainnya. Secara menyeluruh, penampilan karya patung Sentana Yasa ini memperlihatkan bentuk abstrak-figuratif.

Berbicara tentang seni patung yang merupakan karya senirupa, hal ini terwujud lewat cipta, rasa dan karsa dalam bentuk tiga dimensional. Dimensi ketiga itulah yang senantiasa menjadi garapan pematung, yaitu "kedamaian" bentuk yang disebabkan adanya volume, padat atau hampa dan dapat dilihat dari segala sudut pandang. Atau dengan kata lain, seni patung disebut pula sebagai "serba muka" (multi surface) yakni muka belakang-samping-atas-bawah. Hal ini yang membedakannya dengan seni pahat yang terbatas oleh teknik membuat patung, dengan cara memahat, menghilangkan bagian-bagian tertentu dari bentuk yang sudah ada.

Sehingga, seni patung memiliki pengertian yang lebih luas mencakup semua teknik dan bahan baik yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal serta bersifat kompleks, daripada seni pahat dan seni arca yang terbatas pengertiannya. Herbert Read mengatakan bahwa seni patung adalah kesatuan yang utuh dari semua elemen estetis, garis, ruang, warna, bahan dan tekstur yang terjalin dalam kesatuan yang disebut bentuk. Rupa dari bentuk itu tentunya dapat diraba, disentuh, baik oleh orang normal penglihatannya maupun orang yang buta sekaligus dapat merasakan apa yang digetarkan dari bentuk tersebut dengan cara diraba ada halus-kasar, hampa-padat, berat-ringan, besar-kecil, bulat-persegi, cekung-datar dan sebagainya.

Oleh karena bentuk terjadi oleh ruang yang ada di dalam dan di luar, maka kesadaran ini menjuruskan seseorang pematung untuk mencari kekuatan dari misteri pembentukan tersebut. Apabila bentuk itu telah dapat menyentuh perasaan, membawa reaksi fisik maupun mental-spiritual atau memenuhi kepuasan atau kesenangan, bahkan bikin gemas atau prihatin, maka pada saat itulah orang telah masuk pada wilayah irrasional. Menjadi misteri estetis, dimana seni yang mengungkap kehidupan -- sama misteriusnya dengan kehidupan manusia itu sendiri, seperti yang dilakukan I Nyoman Sentana Yasa, mengekspresikan kehidupan dan aktivitas manusia.

Menyimak karya Sentana Yasa, rupanya ia tertarik mengungkapkan keindahan gerak tubuh atau figur dari manusia dengan segala aktivitasnya. Sentana merancang dan mewujudkan bentuk-bentuk dari figur manusia dengan penghayatan dan pengamatan dalam kehidupan perilaku manusia di lingkungannya. Ada figur penari (gerak tari), figur wanita peragawati, gerakan pesenam, orang bersemadi, orang tiduran, orang dalam keadaan santai, orang melamun, orang sedang pasrah dll.

Semua bentuk patung disederhanakan dan mengalami penggayaan, sehingga terlihat patung-patung Sentana ini menjadi bentuk yang abstrak-figuratif, ada yang masih meninggalkan kesan gerak tubuh wanita bergaya di panggung seperti patung yang berjudul "Peragawati" berbahan kayu. Ada pula yang sudah meninggalkan sama sekali kesan figur manusia pada karya yang berjudul "Pasrah" dan "Gerak Senam III". Disamping itu, juga ada yang setengah abstrak, setengah figuratif, seperti pada karya yang berjudul "Sikap Yoga".

* Agus Mulyadi Utomo

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com