Pameran Patung I Nyoman Sentana Yasa
Menikmati
Patung Abstrak-Figuratif
PERGURUAN tinggi
seni rupa dan desain (PSSRD) yang bernaung di bawah Universitas
Udayana, kembali meluluskan sarjana baru. Yang lolos menjadi
sarjana patung itu adalah I Nyoman Sentana Yasa. Bersamaan
dengan itu, digelar pula pameran sehari "Tugas Akhir Minar
Utama Patung, Jurusan Seni Murni PSSRD Unud" pada Selasa
(22/4) lalu di Kampus PSSRD Unud. Pameran ini mengetengahkan
karya I Nyoman Sentana Yasa berupa belasan karya patung berbahan
kayu, beton mill, batu, dan lainnya. Secara menyeluruh,
penampilan karya patung Sentana Yasa ini memperlihatkan bentuk
abstrak-figuratif.
Berbicara tentang seni
patung yang merupakan karya senirupa, hal ini terwujud lewat
cipta, rasa dan karsa dalam bentuk tiga dimensional. Dimensi
ketiga itulah yang senantiasa menjadi garapan pematung, yaitu
"kedamaian" bentuk yang disebabkan adanya volume,
padat atau hampa dan dapat dilihat dari segala sudut pandang.
Atau dengan kata lain, seni patung disebut pula sebagai "serba
muka" (multi surface) yakni muka
belakang-samping-atas-bawah. Hal ini yang membedakannya dengan
seni pahat yang terbatas oleh teknik membuat patung, dengan cara
memahat, menghilangkan bagian-bagian tertentu dari bentuk yang
sudah ada.
Sehingga, seni patung
memiliki pengertian yang lebih luas mencakup semua teknik dan
bahan baik yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal serta
bersifat kompleks, daripada seni pahat dan seni arca yang
terbatas pengertiannya. Herbert Read mengatakan bahwa seni
patung adalah kesatuan yang utuh dari semua elemen estetis,
garis, ruang, warna, bahan dan tekstur yang terjalin dalam
kesatuan yang disebut bentuk. Rupa dari bentuk itu tentunya
dapat diraba, disentuh, baik oleh orang normal penglihatannya
maupun orang yang buta sekaligus dapat merasakan apa yang
digetarkan dari bentuk tersebut dengan cara diraba ada
halus-kasar, hampa-padat, berat-ringan, besar-kecil,
bulat-persegi, cekung-datar dan sebagainya.
Oleh karena bentuk terjadi
oleh ruang yang ada di dalam dan di luar, maka kesadaran ini
menjuruskan seseorang pematung untuk mencari kekuatan dari
misteri pembentukan tersebut. Apabila bentuk itu telah dapat
menyentuh perasaan, membawa reaksi fisik maupun mental-spiritual
atau memenuhi kepuasan atau kesenangan, bahkan bikin gemas atau
prihatin, maka pada saat itulah orang telah masuk pada wilayah
irrasional. Menjadi misteri estetis, dimana seni yang mengungkap
kehidupan -- sama misteriusnya dengan kehidupan manusia itu
sendiri, seperti yang dilakukan I Nyoman Sentana Yasa,
mengekspresikan kehidupan dan aktivitas manusia.
Menyimak karya Sentana
Yasa, rupanya ia tertarik mengungkapkan keindahan gerak tubuh
atau figur dari manusia dengan segala aktivitasnya. Sentana
merancang dan mewujudkan bentuk-bentuk dari figur manusia dengan
penghayatan dan pengamatan dalam kehidupan perilaku manusia di
lingkungannya. Ada figur penari (gerak tari), figur wanita
peragawati, gerakan pesenam, orang bersemadi, orang tiduran,
orang dalam keadaan santai, orang melamun, orang sedang pasrah
dll.
Semua bentuk patung
disederhanakan dan mengalami penggayaan, sehingga terlihat
patung-patung Sentana ini menjadi bentuk yang abstrak-figuratif,
ada yang masih meninggalkan kesan gerak tubuh wanita bergaya di
panggung seperti patung yang berjudul "Peragawati"
berbahan kayu. Ada pula yang sudah meninggalkan sama sekali
kesan figur manusia pada karya yang berjudul "Pasrah"
dan "Gerak Senam III". Disamping itu, juga ada yang
setengah abstrak, setengah figuratif, seperti pada karya yang
berjudul "Sikap Yoga".
* Agus Mulyadi
Utomo
|