kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 27 April 2003 tarukan valas
 

Apresiasi


Istri Kanya: Rasa Sastra dan Perang...

Putra-putri Tradisi Utama Bali (15)

BILA ada tokoh Bali yang paling tidak disukai tetapi sekaligus dikagumi pihak kolonial Belanda karena kecerdasan dan kegagahberaniannya, nama Anak Agung Istri Kanya pasti masuk satu di antaranya, setelah Gusti Ketut Jelantik. Kedua tokoh Bali paruh pertama abad ke-19 ini memang telah mempermalukan kolonial Belanda sekaligus membanggakan bagi Bali, manakala berhadapan dengan Barat yang dicitrakan serba modern-- tetapi juga berkerakusan kuasa dan berakal culas.

Adipati Kerajaan Buleleng, Gusti Ketut Jelantik, dengan strategi perangnya tercatat memukul mundur pasukan Belanda lewat benteng pertahanan Jagaraga, 9 Juli 1848. Sedangkan Istri Kanya, sebagai Raja Klungkung, dalam sumber-sumber tertulis Belanda, dinilai sebagai perempuan berjiwa lelaki, berperangai keras kepala, berhati baja. Dia dikenal sebagai perempuan paling berperanan mengatur pertahanan hebat di Sunda Lawas, kini Goa Lawah.

Intelijen Belanda juga meyakini Istri Kanya-lah tokoh utama pengatur rencana dan strategi penyerangan laskar Klungkung ke Kusamba, dini hari, 25 Mei 1849, yang menewaskan Jenderal Michiels. Dia juga memerintahkan pembangunan terus-menerus benteng-benteng pertahanan di sepanjang Goa Lawah -- Kusamba buat menghadapi gempuran Belanda, selain berperan utama mengirimkan pasukan Klungkung ke Buleleng guna memperkuat laskar Gusti Ketut Jelantik menghadapi Belanda dalam perang Jagaraga. Karena bersama Karangasem membantu Jelantik itulah maka setelah Buleleng ditaklukkan, Belanda lantas menggempur Karangasem dan Klungkung, dengan bermarkas di Padang Cove, kini Padangbai.

Pukul 3 dini hari, tanggal 25 Mei 1849, ketika itu, Laskar pamating (pasukan berani mati) dan telik tanem (pengintai) Klungkung tiba-tiba menyerang pasukan Belanda yang telah menguasai Puri Kusamba, sehari sebelumnya. Di bawah komando Mayor Jenderal AV Micheils, setelah menaklukkan Kerajaan Buleleng dan Karangasem yang bersekutu, pasukan Belanda lantas menggempur Klungkung dari Goa Lawah, lalu menguasai Kusamba, 24 Mei 1849. Karena belum memiliki data pasti perihal Klungkung, sang jenderal memutuskan bermalam dulu di Kusamba. Dini hari esoknya itulah Istri Kanya memerintahkan Laskar Pamating Klungkung merebut kembali Kusamba dalam suatu aksi ''serangan fajar''. Berperang dalam suasana gulita, pihak Belanda kelabakan, apalagi Puri Kusamba yang dijadikan markas saat itu belum dikenali lekuk-likunya. Beda dengan Laskar Pamating yang sudah fasih dengan seluk-beluk puri. Kondisi demikian memaksa pasukan Belanda menggunakan peluru cahaya (lichtkogel). Justru itu menjadi titik lemah, karena Laskar Pamating malah dapat mengenali musuh dengan cermat. Saat itulah senapan besar pusaka Klungkung bernama I Seliksik, yang dimitoskan bisa mencari sendiri sasarannya, layaknya peluru kendali, menembus paha kanan Jenderal Michiels, ketika ia sedang berdiri di depan istana untuk mengatur perang.

Sang Jenderal terjungkal. Perwira kesehatan menganjurkan agar kakinya dipotong, tetapi dia menolak. Ia minta dirawat di kapal komando di Padang Cove. Keadaannya kian memburuk. Pukul 11 malam, 25 Mei 1849, sang Jenderal meninggal. Dua hari berselang jasadnya dilayarkan ke Batavia dengan kapal perang Etna. Moral pasukan Belanda lantak. Mereka menelan kegetiran: tujuh tewas, termasuk Jenderal Michiels dan Kapten H Everste, selain 28 luka-luka.

Belanda tentu saja amat geram kehilangan Michiels, karena bekas Gubernur Militer dan Sipil di Sumatra Barat berbintang tujuh itu tercatat telah meraup kemenangan di tujuh daerah. Dia menggantikan posisi Mayor Jenderal Jonkheer C. van der Wijck, Panglima Tertinggi Tentara Kerajaan Belanda di Hindi Belanda, yang sempat memimpin ekspedisi kedua militer Belanda ke Bali, dan dikalahkan dalam perang Jagaraga, 9 Juni 1848. Van der Wijck menolak dikirim lagi ke Bali, minta dibebastugaskan, lalu kembali ke Belanda. Di Kusamba sang Jenderal bukan merengkuh untung, justru menuai maut. Kusamba akhirnya memang direbut kembali 3.000 pasukan Belanda, 10 Juni 1849, pukul 10 pagi. Namun Istri Kanya tetap saja mendenyarkan simbolik pelajaran lain bagi Bali, lebih-lebih lagi bagi perempuan Bali. Bukan sebatas perihal makna kepahlawanan, apalagi sekadar emansipasi, tetapi lebih daripada itu adalah perihal kekukuhan sikap, kemandirian-kemerdekaan, dan juga kedaulatan tanah dan manusia Bali. Itulah gagasan moral ideal yang dicita-citakan para tetua Bali sebagaimana diguratkan dalam susastra-susastra agama. Dan, Istri Kanya, adalah sosok yang melakonkan utuh guratan-guratan aksara dalam susastra-agama itu. Karena selain sebagai raja dan pecinta susastra-agama, dia adalah juga sastrawan Bali klasik. Padanya nilai kebenaran, kemuliaan, dan keindahan menyatu-padu. Dengan menjadi raja sekaligus sastrawan sejatinya dia telah menjaga denyut rasa kewirasaan (wira rasa) dan rasa keindahan (lango rasa) terus mengalir dalam integritas diri-pribadi dan zamannya.

Sebelum dinobatkan menjadi Raja Klungkung (1822-1860) dia bernama Dewa Agung Istri Muter. Dia putri sulung Dewa Agung Putra Kusamba (Raja Klungkung V) dengan Ida Anake Agung Istri Ayu Made Karang (ada pula menyebut I Gusti Ayu Pelung), putri dari Kerajaan Karangasem. Putra Kusamba menjadi Raja Muda di Kusanegara yang kemudian dikenal dengan nama Kusamba. Ketika menggantikan sang ayah, Dewa Agung Sakti, sebagai Raja Klungkung, Putra Kusamba tetap berkedatuan di daerah pelabuhan utama bagi Klungkung itu.

Untuk menjalankan urusan pemerintahan, Putra Kusamba menunjuk sang putri, Istri Kanya, yang tetap tinggal di Puri Smarapura, Klungkung. Dalam urusan tertentu Istri Kanya diwakili sang adik, Dewa Agung Putra di Balemas. Sang ayah hanya aktif menangani wilayah Kusamba -kemudian wafat ketika hendak melerai perang di Belah Pane, antara Gianyar melawan Taman Bali, Bangli.

Bocah Muter diasuh sang kakek, Dewa Agung Sakti, Raja Klungkung, di Balemas. Balemas ini adalah tempat utama dalam kedatuan, terletak di belakang bangunan yang ditempati sang raja (pasaren gede). Lokasi ini penting, setingkat lebih rendah daripada pasaren gede, kamar tidur sang raja. Itu sebab, Muter juga dikenal dengan nama Dewa Agung Istri Balemas.

Ketika Muter resmi menjadi Raja Klungkung VI, pusat kedatuan dipindahkan lagi ke Smarapura, Klungkung. Namanya berganti menjadi Dewa Agung Istri Kanya. Julukannya yang lain Sri Raja Kanya. Nama Kanya diberikan padanya karena saat naik tahta dia masih lajang, dalam bahasa Bali diistilahkan kanya. Raja Putri ini didampingi sang adik, Dewa Agung Putra Balemas sebagai wakil raja. Sedangkan sebagai adipati dipercayakan kepada sang paman, Dewa Agung Ketut Agung, adik bungsu Putra Kusamba. Istri Kanya tetap mengendalikan pemerintahan secara langsung.

Sibuk mengurus negara toh tak menyurutkan minat Istri Kanya menekuni ajaran kerohanian, susastra-agama. Dalam olah rasa-sastra ini dia diibaratkan Dewi Saraswati (Sanghyang Saraswati Waluyapadanira). Dalam tulisan ''Kesusastraan Bali pada Zaman Klungkung'' (1983), seniman Made Kanta mencatatkan, semasa pemerintahan Istri Kanya, wirama dan kidung senantiasa dinyanyikan, para sastrawan mendapat hadiah dan tugas-tugas dalam menyusun karya sastra. Pusat pengakaran dan pemekaran sastra itu dilakukan di Pura Taman Sari, Klungkung. Di pura inilah digelar barata-samadi saban malam. Mereka yang hadir disuguhi gula batu dengan minuman utama air teh dan daun delima atau air rebusan kayu cang. Kayu cang ini diperoleh dari Nusa Penida, bila direbus akan menjadikan air berwarna merah, layaknya teh.

Karya Istri Kanya yang dapat dikenali adalah kakawin Basawewatekan. Isinya perihal catatan peristiwa-peristiwa yang dianggap penting oleh Istri Kanya berkaitan dengan Bali secara umum, maupun Puri Klungkung secara khusus. Bagian belakang karya ini tersurat pula karya pengarang lain dengan metrum Demung, berisi pujian dan rasa kagum mendalam penyair kepada sang Adinda. Adakah yang dimaksud adinda itu adalah Istri Kanya?

Dari sumber-sumber Belanda dapat diketahui, Istri Kanya memang kerap disebut-sebut dalam karya susastra pada zamannya, dengan nama berbeda. Penggubah Astikayana, misalkan, menyebutnya Naranatha Kanya. Historiografi Babad Dalem mencantumkan nama Wirya Kanya; kakawin Parthadharma menuliskan nama Nrpakanya, Nrapatiwadhu, dan Rajadayita. Dalam Sakraprajaya dinamai Sri Ratneswara; kakawin Prtuwijaya menuliskan Narendra Dayita. Dari sini dapat disimak betapa sebagai raja perempuan. Istri Kanya memang dicintai. Dia memang ''narendra dayita'', raja perempuan yang amat dicintai, dikasihi.
I Made Prabaswara

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com