Istri Kanya: Rasa Sastra dan Perang...
Putra-putri
Tradisi Utama Bali (15)
BILA ada
tokoh Bali yang paling tidak disukai tetapi sekaligus dikagumi
pihak kolonial Belanda karena kecerdasan dan kegagahberaniannya,
nama Anak Agung Istri Kanya pasti masuk satu di antaranya,
setelah Gusti Ketut Jelantik. Kedua tokoh Bali paruh pertama
abad ke-19 ini memang telah mempermalukan kolonial Belanda
sekaligus membanggakan bagi Bali, manakala berhadapan dengan
Barat yang dicitrakan serba modern-- tetapi juga berkerakusan
kuasa dan berakal culas.
Adipati Kerajaan Buleleng,
Gusti Ketut Jelantik, dengan strategi perangnya tercatat memukul
mundur pasukan Belanda lewat benteng pertahanan Jagaraga, 9 Juli
1848. Sedangkan Istri Kanya, sebagai Raja Klungkung, dalam
sumber-sumber tertulis Belanda, dinilai sebagai perempuan
berjiwa lelaki, berperangai keras kepala, berhati baja. Dia
dikenal sebagai perempuan paling berperanan mengatur pertahanan
hebat di Sunda Lawas, kini Goa Lawah.
Intelijen Belanda juga
meyakini Istri Kanya-lah tokoh utama pengatur rencana dan
strategi penyerangan laskar Klungkung ke Kusamba, dini hari, 25
Mei 1849, yang menewaskan Jenderal Michiels. Dia juga
memerintahkan pembangunan terus-menerus benteng-benteng
pertahanan di sepanjang Goa Lawah -- Kusamba buat menghadapi
gempuran Belanda, selain berperan utama mengirimkan pasukan
Klungkung ke Buleleng guna memperkuat laskar Gusti Ketut
Jelantik menghadapi Belanda dalam perang Jagaraga. Karena
bersama Karangasem membantu Jelantik itulah maka setelah
Buleleng ditaklukkan, Belanda lantas menggempur Karangasem dan
Klungkung, dengan bermarkas di Padang Cove, kini Padangbai.
Pukul 3 dini hari, tanggal
25 Mei 1849, ketika itu, Laskar pamating (pasukan berani mati)
dan telik tanem (pengintai) Klungkung tiba-tiba menyerang
pasukan Belanda yang telah menguasai Puri Kusamba, sehari
sebelumnya. Di bawah komando Mayor Jenderal AV Micheils, setelah
menaklukkan Kerajaan Buleleng dan Karangasem yang bersekutu,
pasukan Belanda lantas menggempur Klungkung dari Goa Lawah, lalu
menguasai Kusamba, 24 Mei 1849. Karena belum memiliki data pasti
perihal Klungkung, sang jenderal memutuskan bermalam dulu di
Kusamba. Dini hari esoknya itulah Istri Kanya memerintahkan
Laskar Pamating Klungkung merebut kembali Kusamba dalam suatu
aksi ''serangan fajar''. Berperang dalam suasana gulita, pihak
Belanda kelabakan, apalagi Puri Kusamba yang dijadikan markas
saat itu belum dikenali lekuk-likunya. Beda dengan Laskar
Pamating yang sudah fasih dengan seluk-beluk puri. Kondisi
demikian memaksa pasukan Belanda menggunakan peluru cahaya (lichtkogel).
Justru itu menjadi titik lemah, karena Laskar Pamating malah
dapat mengenali musuh dengan cermat. Saat itulah senapan besar
pusaka Klungkung bernama I Seliksik, yang dimitoskan bisa
mencari sendiri sasarannya, layaknya peluru kendali, menembus
paha kanan Jenderal Michiels, ketika ia sedang berdiri di depan
istana untuk mengatur perang.
Sang Jenderal terjungkal.
Perwira kesehatan menganjurkan agar kakinya dipotong, tetapi dia
menolak. Ia minta dirawat di kapal komando di Padang Cove.
Keadaannya kian memburuk. Pukul 11 malam, 25 Mei 1849, sang
Jenderal meninggal. Dua hari berselang jasadnya dilayarkan ke
Batavia dengan kapal perang Etna. Moral pasukan Belanda lantak.
Mereka menelan kegetiran: tujuh tewas, termasuk Jenderal
Michiels dan Kapten H Everste, selain 28 luka-luka.
Belanda tentu saja amat
geram kehilangan Michiels, karena bekas Gubernur Militer dan
Sipil di Sumatra Barat berbintang tujuh itu tercatat telah
meraup kemenangan di tujuh daerah. Dia menggantikan posisi Mayor
Jenderal Jonkheer C. van der Wijck, Panglima Tertinggi Tentara
Kerajaan Belanda di Hindi Belanda, yang sempat memimpin
ekspedisi kedua militer Belanda ke Bali, dan dikalahkan dalam
perang Jagaraga, 9 Juni 1848. Van der Wijck menolak dikirim lagi
ke Bali, minta dibebastugaskan, lalu kembali ke Belanda. Di
Kusamba sang Jenderal bukan merengkuh untung, justru menuai maut.
Kusamba akhirnya memang direbut kembali 3.000 pasukan Belanda,
10 Juni 1849, pukul 10 pagi. Namun Istri Kanya tetap saja
mendenyarkan simbolik pelajaran lain bagi Bali, lebih-lebih lagi
bagi perempuan Bali. Bukan sebatas perihal makna kepahlawanan,
apalagi sekadar emansipasi, tetapi lebih daripada itu adalah
perihal kekukuhan sikap, kemandirian-kemerdekaan, dan juga
kedaulatan tanah dan manusia Bali. Itulah gagasan moral ideal
yang dicita-citakan para tetua Bali sebagaimana diguratkan dalam
susastra-susastra agama. Dan, Istri Kanya, adalah sosok yang
melakonkan utuh guratan-guratan aksara dalam susastra-agama itu.
Karena selain sebagai raja dan pecinta susastra-agama, dia
adalah juga sastrawan Bali klasik. Padanya nilai kebenaran,
kemuliaan, dan keindahan menyatu-padu. Dengan menjadi raja
sekaligus sastrawan sejatinya dia telah menjaga denyut rasa
kewirasaan (wira rasa) dan rasa keindahan (lango rasa) terus
mengalir dalam integritas diri-pribadi dan zamannya.
Sebelum dinobatkan menjadi
Raja Klungkung (1822-1860) dia bernama Dewa Agung Istri Muter.
Dia putri sulung Dewa Agung Putra Kusamba (Raja Klungkung V)
dengan Ida Anake Agung Istri Ayu Made Karang (ada pula menyebut
I Gusti Ayu Pelung), putri dari Kerajaan Karangasem. Putra
Kusamba menjadi Raja Muda di Kusanegara yang kemudian dikenal
dengan nama Kusamba. Ketika menggantikan sang ayah, Dewa Agung
Sakti, sebagai Raja Klungkung, Putra Kusamba tetap berkedatuan
di daerah pelabuhan utama bagi Klungkung itu.
Untuk menjalankan urusan
pemerintahan, Putra Kusamba menunjuk sang putri, Istri Kanya,
yang tetap tinggal di Puri Smarapura, Klungkung. Dalam urusan
tertentu Istri Kanya diwakili sang adik, Dewa Agung Putra di
Balemas. Sang ayah hanya aktif menangani wilayah Kusamba -kemudian
wafat ketika hendak melerai perang di Belah Pane, antara Gianyar
melawan Taman Bali, Bangli.
Bocah Muter diasuh sang
kakek, Dewa Agung Sakti, Raja Klungkung, di Balemas. Balemas ini
adalah tempat utama dalam kedatuan, terletak di belakang
bangunan yang ditempati sang raja (pasaren gede). Lokasi ini
penting, setingkat lebih rendah daripada pasaren gede, kamar
tidur sang raja. Itu sebab, Muter juga dikenal dengan nama Dewa
Agung Istri Balemas.
Ketika Muter resmi menjadi
Raja Klungkung VI, pusat kedatuan dipindahkan lagi ke Smarapura,
Klungkung. Namanya berganti menjadi Dewa Agung Istri Kanya.
Julukannya yang lain Sri Raja Kanya. Nama Kanya diberikan
padanya karena saat naik tahta dia masih lajang, dalam bahasa
Bali diistilahkan kanya. Raja Putri ini didampingi sang adik,
Dewa Agung Putra Balemas sebagai wakil raja. Sedangkan sebagai
adipati dipercayakan kepada sang paman, Dewa Agung Ketut Agung,
adik bungsu Putra Kusamba. Istri Kanya tetap mengendalikan
pemerintahan secara langsung.
Sibuk mengurus negara toh
tak menyurutkan minat Istri Kanya menekuni ajaran kerohanian,
susastra-agama. Dalam olah rasa-sastra ini dia diibaratkan Dewi
Saraswati (Sanghyang Saraswati Waluyapadanira). Dalam tulisan ''Kesusastraan
Bali pada Zaman Klungkung'' (1983), seniman Made Kanta
mencatatkan, semasa pemerintahan Istri Kanya, wirama dan kidung
senantiasa dinyanyikan, para sastrawan mendapat hadiah dan
tugas-tugas dalam menyusun karya sastra. Pusat pengakaran dan
pemekaran sastra itu dilakukan di Pura Taman Sari, Klungkung. Di
pura inilah digelar barata-samadi saban malam. Mereka yang hadir
disuguhi gula batu dengan minuman utama air teh dan daun delima
atau air rebusan kayu cang. Kayu cang ini diperoleh dari Nusa
Penida, bila direbus akan menjadikan air berwarna merah,
layaknya teh.
Karya Istri Kanya yang
dapat dikenali adalah kakawin Basawewatekan. Isinya perihal
catatan peristiwa-peristiwa yang dianggap penting oleh Istri
Kanya berkaitan dengan Bali secara umum, maupun Puri Klungkung
secara khusus. Bagian belakang karya ini tersurat pula karya
pengarang lain dengan metrum Demung, berisi pujian dan rasa
kagum mendalam penyair kepada sang Adinda. Adakah yang dimaksud
adinda itu adalah Istri Kanya?
Dari sumber-sumber Belanda
dapat diketahui, Istri Kanya memang kerap disebut-sebut dalam
karya susastra pada zamannya, dengan nama berbeda. Penggubah
Astikayana, misalkan, menyebutnya Naranatha Kanya. Historiografi
Babad Dalem mencantumkan nama Wirya Kanya; kakawin Parthadharma
menuliskan nama Nrpakanya, Nrapatiwadhu, dan Rajadayita. Dalam
Sakraprajaya dinamai Sri Ratneswara; kakawin Prtuwijaya
menuliskan Narendra Dayita. Dari sini dapat disimak betapa
sebagai raja perempuan. Istri Kanya memang dicintai. Dia memang
''narendra dayita'', raja perempuan yang amat dicintai, dikasihi.
I Made Prabaswara
|