kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 27 April 2003 tarukan valas
 

Apresiasi


Memperingati Kekalahan atau Kemenangan?

Catatan Menjelang 100 Tahun Puputan Klungkung

KABUPATEN Klungkung, bahkan juga Bali, mungkin telah keliru bernostalgia, kangen-kangenan dengan masa lampau, ketika hingga kini cuma memperingati riuh perang puputan Klungkung, saban tanggal 28 April. Istilah ''puputan'' yang dilekatkan pada peristiwa 95 tahun lampau itu (jadi, 28 April 2008 nanti akan genap 100 tahun, seabad) memang telah menyihir banyak kalangan sebagai tindakan heroik, sekaligus penuh tragik.

Citra keheroikan ''puputan'' itu sedemikian mempesona, sehingga apresiasi menjadi sedemikian tinggi bagi langkah dan pilihan sulit di saat krisis nan krisis untuk berani mati, menyongsong maut dengan senyum lepas --mungkin juga getir, karena tiada pilihan lain, kecuali menyerah kalah lalu tunduk pada koloni Belanda, atau ya mati sekalian biar tidak merasakan derita dikoloni. Namun di sisi lain, puputan Klungkung itu terasa kental menyisakan tragik, manakala titik pemicunya justru adalah perihal jatah perdagangan opium alias candu yang ingin dimonopoli Belanda sejak 1 April 1908. Lewat monopoli itu, Belanda hendak menentukan lokasi, jumlah pedagang, dan waktu penjualan candu di seantero Bali, tak terkecuali di Klungkung --satu-satunya kerajaan yang saat itu belum ditaklukkan secara fisik oleh Belanda. Kebijakan itu terang ditentang para penguasa pribumi Bali saat itu, tak terkecuali elite Gelgel, yang menjadi wewengkon Klungkung. Ini memang soal rezeki negara dengan para elitenya yang dipecundangi oleh kolonial, sedangkan bagi rakyat yang sudah diracuni dengan madat langkah Belanda itu jelas mempersulit mereka untuk bisa membeli candu bebas dan mudah di sembarang tempat dan waktu dengan harga terjangkau.

Tentangan itu di Klungkung berbuah huru-hara di Gelgel pada 16 April 1908. Kantor penjualan candu Belanda di Gelgel diserang dan menewaskan satu petugas Belanda. Petugas-petugas penjual candu di Klungkung juga diusir paksa pulang. Ini memicu kemurkaan Belanda. Pasukan militer yang sedang patroli di Klungkung pun balik menyerbu Gelgel saat itu juga hingga esok harinya. Rakyat Klungkung tewas hingga 100 orang, Gelgel poranda, sedangkan di pihak Belanda satu letnan tewas, ada pula prajurit luka-luka. Puri Gelgel dikuasai Belanda hari itu juga, dan elite setempat minta perlindungan kepada Raja Klungkung, Dewa Agung Putera.

Sumber-sumber tertulis Belanda kalah gairah melukiskan puputan Klungkung 28 April 1908 tinimbang puputan Badung 20 September 1906, yang jelas melewati proses negosiasi berbelit, panjang, dan rumit. Belanda mengesankan puputan Klungkung jauh lebih mudah, karena pasukan tambahan Belanda dari Padangbai, menembus Goa Lawah, Kusamba, sampai di jantung kedatuan Klungkung relatif tanpa perlawanan berarti. Klungkung bahkan terkesan tidak siap berpuputan. Pada 28 April 1908 pagi, pasukan altileri Belanda telah berada tepat di depan puri.

Dari hasil wawancara rekonstruksi HH van Kol (1914), orang Belanda yang datang ke Klungkung tiga tahun setelah puputan usai, sebagaimana dikutip Ide Anak Agung Gde Agung dalam Bali Pada Abad XIX (1989), saat 28 April 1908 pagi itu, tiba-tiba muncullah Dewa Agung dengan sebuah tombak di tangan kanan, diiringi pembesar-pembesar kerajaan dan keluarga, termasuk wanita dan anak-anak. Berjumlah sekitar 200 orang, rombongan Raja Klugkung langsung bergerak menuju pasukan Belanda. Tembakan senapan dan meriam menyambut sang raja dan pengiring dari jarak 200-100 meter. Atas nasihat sang paman, Cokorda Gelgel, sang raja sempat menancapkan keris pusaka kerajaan di tanah. Harapannya, agar segera timbul lubang besar yang akan menelan semua musuh.

Tuah keris pusaka tak mempan. Tanah tak berlubang menganga, menelan serdadu musuh. Sebaliknya, peluru meriam menembus lutut sang raja. Dengan perkasa raja bangkit lagi, lalu ditembaki, rubuh dan tewas. ''Seorang yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri peristiwa tersebut mengisahkan tentang telantarnya Dewa Agung dengan kepala hancur dan otak berceceran. Di hadapan raja terdapat wanita-wanita yang tertembak mati. Di belakangnya terdapat sekumpulan manusia yang masih hidup akan tetapi tersiram dengan darah. Di sana-sini kelihatan tungkai dan lengan robek serta setumpukan daging. Seorang lelaki, dengan pundak hancur, dan tangan bergantungan dengan kulitnya, berputar-putar karena kesakitan, seorang ibu dengan anaknya di dadanya mati oleh peluru,'' tulis van Kol. Buntut kekalahan Klungkung itu, 19 petinggi kerajaan diasingkan ke Lombok. Puri Smarapura dihancurkan. Hanya satu pin pintu gerbang (kori agung), tertinggal, hingga kini. Van Kol menyuratkan kesan terakhirnya, ''Serangan pembesar-pembesar Bali yang mencari kematian dan sangat menyedihkan itu menimbulkan kekaguman terhadap keberanian dan kepahlawanan mereka yang membanggakan.''

Van Kol boleh jadi netral-netral saja merekonstruksi peristiwa itu berdasarkan kesaksian mata yang dia peroleh dari para saksi di lapangan. Toh tak bisa dielakkan selera para orientalis-romantik Barat dalam melukiskan peristiwa ''tragedi kemanusiaan'' itu terasa amat kental. Dan, romantika itulah kiranya yang begitu kuat tercitrakan di benak anak-anak Bali generasi kemudian di Klungkung manakala saban tahun memperingati puputan Klungkung. Tetapi, di tengah kegelisahan para orangtua akan gejala ancaman penyalahgunaan narkoba di kalangan anak-anak muda kini, bagaimana hendak dijelaskan bila pemicu peristiwa kematian itu adalah rebutan rezeki dari perdagangan candu, bukan rasa tindih dan melanin gumi, semisal diisyaratkan kental lewat puputan Badung, 19 bulan sebelumnya?

Bilapun hendak bernostalgia, berkangen-kangenan terhadap peristiwa masa lampau, ada baiknya Klungkung kini merenungkan kembali untuk tidak cuma riuh larut dengan puputan yang berdimensi ''kekalahan'', tetapi juga mengimbangi dengan dimensi ''kemenangan'' lewat Perang Kusamba, 25 Mei 1849 (baca juga: Istri Kanya: Rasa Sastra dan Perang, di sebelah tulisan ini). Betapapun kota pelabuhan Kusamba tidak bisa dipertahankan Klungkung dalam peristiwa 154 tahun lalu itu, toh di sana tetap ada dimensi berbeda yang lebih patut dicatat: di sana terisyaratkan pada kecerdasan taktik dan strategi, juga kesiapan bertanding, rasa percaya diri nan utuh-bulat, dan kesungguhan untuk tindih mempertahankan gumi.

Pada peristiwa Kusamba itu tidak terkesan ada rasa wirang karena rezeki dari jual-beli candu dirampas, tetapi jauh murni karena tanah negeri dirampok. Di sana kedaulatan diambil paksa dengan kekerasan militer oleh Belanda, karenanya mesti direbut kembali oleh laskar pamating dan telik tanem. Dan bilapun hendak ''berbangga-bangga'', belajar dari sejarah, di Kusamba itu ada juga kebanggaan moral, mungkin pula politis, karena menewaskan panglima perang, Jenderal Michiels. Tak banyak dan tak sering Belanda kehilangan panglima perangnya saat bertempur di Nusantara, juga tak sering pasukan Belanda yang berbedil dan meriam otomatis mundur kalah dalam pertempuran dengan pasukan berkeris dan bertombak.

Dari sisi itu, kemunduran pasukan Belanda di Jagaraga pada 9 Juni 1849 dan perenggutan nyawa Jenderal Michiels dalam Perang Kusamba, 25 Mei 1849, menyajikan banyak simbolik bagi Bali, bahkan juga masa kini. Hanya di dua peristiwa itu Belanda membayar kepada Bali dengan sangat berharga. Sayangnya, justru kedua peristiwa itulah yang diluputkan masing-masing oleh Klungkung dan Buleleng. Bahkan juga oleh Bali. Padahal peristiwa Jagaraga 9 Juni 1948 dan Kusamba 25 Mei 1949, sepatutnya dimaknai oleh Bali, bukan cuma masing-masing oleh Buleleng dan Klungkung. Namun, entah karena rasa rendah diri kompleks psikologis bangsa terjajah, karena alasan tidak tahu, atau karena keliru membaca sejarah, Bali nyatanya lebih suka memperingati kekalahan tinimbang kemenangan. Sesungguhnya, adakah yang patut diperingati, apalagi dibanggakan, dari kekalahan --kecuali rasa haru, simpati, dan empati pada kesiapsediaan untuk mati?

* I Made Prabaswara

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com