Memperingati Kekalahan atau Kemenangan?
Catatan
Menjelang 100 Tahun Puputan Klungkung
KABUPATEN Klungkung,
bahkan juga Bali, mungkin telah keliru bernostalgia,
kangen-kangenan dengan masa lampau, ketika hingga kini cuma
memperingati riuh perang puputan Klungkung, saban tanggal 28
April. Istilah ''puputan'' yang dilekatkan pada peristiwa 95
tahun lampau itu (jadi, 28 April 2008 nanti akan genap 100 tahun,
seabad) memang telah menyihir banyak kalangan sebagai tindakan
heroik, sekaligus penuh tragik.
Citra keheroikan ''puputan''
itu sedemikian mempesona, sehingga apresiasi menjadi sedemikian
tinggi bagi langkah dan pilihan sulit di saat krisis nan krisis
untuk berani mati, menyongsong maut dengan senyum lepas --mungkin
juga getir, karena tiada pilihan lain, kecuali menyerah kalah
lalu tunduk pada koloni Belanda, atau ya mati sekalian biar
tidak merasakan derita dikoloni. Namun di sisi lain, puputan
Klungkung itu terasa kental menyisakan tragik, manakala titik
pemicunya justru adalah perihal jatah perdagangan opium alias
candu yang ingin dimonopoli Belanda sejak 1 April 1908. Lewat
monopoli itu, Belanda hendak menentukan lokasi, jumlah pedagang,
dan waktu penjualan candu di seantero Bali, tak terkecuali di
Klungkung --satu-satunya kerajaan yang saat itu belum
ditaklukkan secara fisik oleh Belanda. Kebijakan itu terang
ditentang para penguasa pribumi Bali saat itu, tak terkecuali
elite Gelgel, yang menjadi wewengkon Klungkung. Ini memang soal
rezeki negara dengan para elitenya yang dipecundangi oleh
kolonial, sedangkan bagi rakyat yang sudah diracuni dengan madat
langkah Belanda itu jelas mempersulit mereka untuk bisa membeli
candu bebas dan mudah di sembarang tempat dan waktu dengan harga
terjangkau.
Tentangan itu di Klungkung
berbuah huru-hara di Gelgel pada 16 April 1908. Kantor penjualan
candu Belanda di Gelgel diserang dan menewaskan satu petugas
Belanda. Petugas-petugas penjual candu di Klungkung juga diusir
paksa pulang. Ini memicu kemurkaan Belanda. Pasukan militer yang
sedang patroli di Klungkung pun balik menyerbu Gelgel saat itu
juga hingga esok harinya. Rakyat Klungkung tewas hingga 100
orang, Gelgel poranda, sedangkan di pihak Belanda satu letnan
tewas, ada pula prajurit luka-luka. Puri Gelgel dikuasai Belanda
hari itu juga, dan elite setempat minta perlindungan kepada Raja
Klungkung, Dewa Agung Putera.
Sumber-sumber tertulis
Belanda kalah gairah melukiskan puputan Klungkung 28 April 1908
tinimbang puputan Badung 20 September 1906, yang jelas melewati
proses negosiasi berbelit, panjang, dan rumit. Belanda
mengesankan puputan Klungkung jauh lebih mudah, karena pasukan
tambahan Belanda dari Padangbai, menembus Goa Lawah, Kusamba,
sampai di jantung kedatuan Klungkung relatif tanpa perlawanan
berarti. Klungkung bahkan terkesan tidak siap berpuputan. Pada
28 April 1908 pagi, pasukan altileri Belanda telah berada tepat
di depan puri.
Dari hasil wawancara
rekonstruksi HH van Kol (1914), orang Belanda yang datang ke
Klungkung tiga tahun setelah puputan usai, sebagaimana dikutip
Ide Anak Agung Gde Agung dalam Bali Pada Abad XIX (1989), saat
28 April 1908 pagi itu, tiba-tiba muncullah Dewa Agung dengan
sebuah tombak di tangan kanan, diiringi pembesar-pembesar
kerajaan dan keluarga, termasuk wanita dan anak-anak. Berjumlah
sekitar 200 orang, rombongan Raja Klugkung langsung bergerak
menuju pasukan Belanda. Tembakan senapan dan meriam menyambut
sang raja dan pengiring dari jarak 200-100 meter. Atas nasihat
sang paman, Cokorda Gelgel, sang raja sempat menancapkan keris
pusaka kerajaan di tanah. Harapannya, agar segera timbul lubang
besar yang akan menelan semua musuh.
Tuah keris pusaka tak
mempan. Tanah tak berlubang menganga, menelan serdadu musuh.
Sebaliknya, peluru meriam menembus lutut sang raja. Dengan
perkasa raja bangkit lagi, lalu ditembaki, rubuh dan tewas. ''Seorang
yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri peristiwa
tersebut mengisahkan tentang telantarnya Dewa Agung dengan
kepala hancur dan otak berceceran. Di hadapan raja terdapat
wanita-wanita yang tertembak mati. Di belakangnya terdapat
sekumpulan manusia yang masih hidup akan tetapi tersiram dengan
darah. Di sana-sini kelihatan tungkai dan lengan robek serta
setumpukan daging. Seorang lelaki, dengan pundak hancur, dan
tangan bergantungan dengan kulitnya, berputar-putar karena
kesakitan, seorang ibu dengan anaknya di dadanya mati oleh
peluru,'' tulis van Kol. Buntut kekalahan Klungkung itu, 19
petinggi kerajaan diasingkan ke Lombok. Puri Smarapura
dihancurkan. Hanya satu pin pintu gerbang (kori agung),
tertinggal, hingga kini. Van Kol menyuratkan kesan terakhirnya,
''Serangan pembesar-pembesar Bali yang mencari kematian dan
sangat menyedihkan itu menimbulkan kekaguman terhadap keberanian
dan kepahlawanan mereka yang membanggakan.''
Van Kol boleh jadi
netral-netral saja merekonstruksi peristiwa itu berdasarkan
kesaksian mata yang dia peroleh dari para saksi di lapangan. Toh
tak bisa dielakkan selera para orientalis-romantik Barat dalam
melukiskan peristiwa ''tragedi kemanusiaan'' itu terasa amat
kental. Dan, romantika itulah kiranya yang begitu kuat
tercitrakan di benak anak-anak Bali generasi kemudian di
Klungkung manakala saban tahun memperingati puputan Klungkung.
Tetapi, di tengah kegelisahan para orangtua akan gejala ancaman
penyalahgunaan narkoba di kalangan anak-anak muda kini,
bagaimana hendak dijelaskan bila pemicu peristiwa kematian itu
adalah rebutan rezeki dari perdagangan candu, bukan rasa tindih
dan melanin gumi, semisal diisyaratkan kental lewat puputan
Badung, 19 bulan sebelumnya?
Bilapun hendak
bernostalgia, berkangen-kangenan terhadap peristiwa masa lampau,
ada baiknya Klungkung kini merenungkan kembali untuk tidak cuma
riuh larut dengan puputan yang berdimensi ''kekalahan'', tetapi
juga mengimbangi dengan dimensi ''kemenangan'' lewat Perang
Kusamba, 25 Mei 1849 (baca juga: Istri Kanya: Rasa Sastra dan
Perang, di sebelah tulisan ini). Betapapun kota pelabuhan
Kusamba tidak bisa dipertahankan Klungkung dalam peristiwa 154
tahun lalu itu, toh di sana tetap ada dimensi berbeda yang lebih
patut dicatat: di sana terisyaratkan pada kecerdasan taktik dan
strategi, juga kesiapan bertanding, rasa percaya diri nan
utuh-bulat, dan kesungguhan untuk tindih mempertahankan gumi.
Pada peristiwa Kusamba itu
tidak terkesan ada rasa wirang karena rezeki dari jual-beli
candu dirampas, tetapi jauh murni karena tanah negeri dirampok.
Di sana kedaulatan diambil paksa dengan kekerasan militer oleh
Belanda, karenanya mesti direbut kembali oleh laskar pamating
dan telik tanem. Dan bilapun hendak ''berbangga-bangga'',
belajar dari sejarah, di Kusamba itu ada juga kebanggaan moral,
mungkin pula politis, karena menewaskan panglima perang,
Jenderal Michiels. Tak banyak dan tak sering Belanda kehilangan
panglima perangnya saat bertempur di Nusantara, juga tak sering
pasukan Belanda yang berbedil dan meriam otomatis mundur kalah
dalam pertempuran dengan pasukan berkeris dan bertombak.
Dari sisi itu, kemunduran
pasukan Belanda di Jagaraga pada 9 Juni 1849 dan perenggutan
nyawa Jenderal Michiels dalam Perang Kusamba, 25 Mei 1849,
menyajikan banyak simbolik bagi Bali, bahkan juga masa kini.
Hanya di dua peristiwa itu Belanda membayar kepada Bali dengan
sangat berharga. Sayangnya, justru kedua peristiwa itulah yang
diluputkan masing-masing oleh Klungkung dan Buleleng. Bahkan
juga oleh Bali. Padahal peristiwa Jagaraga 9 Juni 1948 dan
Kusamba 25 Mei 1949, sepatutnya dimaknai oleh Bali, bukan cuma
masing-masing oleh Buleleng dan Klungkung. Namun, entah karena
rasa rendah diri kompleks psikologis bangsa terjajah, karena
alasan tidak tahu, atau karena keliru membaca sejarah, Bali
nyatanya lebih suka memperingati kekalahan tinimbang kemenangan.
Sesungguhnya, adakah yang patut diperingati, apalagi dibanggakan,
dari kekalahan --kecuali rasa haru, simpati, dan empati pada
kesiapsediaan untuk mati?
* I Made
Prabaswara
|