kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Wage, 7 Pebruari 2003

 Nusatenggara


Polda NTB Lacak Keluarga Husaid di Bima
* Dikenal Bernama Zainul Arifin

Mataram (Bali Post) -
Tim Penyidik Kasus Peledakan Bom Mataram pada malam Natal 2000, akhirnya berhasil melacak keberadaan keluarga istri Husaid di Desa Palibelo, Bima. Namun orangtua Ir. Astuti (istri Husaid) mengenal menantunya bukan bernama Husaid, tetapi Zainul Arifin.

Demikian Kapolda NTB Brigjen Pol. Drs. Sutomo Tjokro Atmojo didampingi Ketua Tim Penyidik Peledakan Bom Mataram, AKBP Drs. Beny dalam keterangan persnya di Mapolda NTB, Kamis (6/2) kemarin. Dijelaskan Kapolda, pada awalnya keluarga istri Husaid, tidak mengenal siapa itu Husaid. "Namun setelah ditunjukkan sketsa wajah tersangka, baru mereka mengenal dan membenarkan bahwa sketsa wajah itu mirip dengan menantunya," jelas Kapolda sambil memperlihatkan sketsa wajah Husaid.

Dikatakan, banyak informasi yang berhasil dihimpun tim penyidik dari keluarga istri Husaid di Bima. Selain informasi, juga berhasil diamankan sejumlah surat dari Husaid untuk istrinya, kemudian surat yang dikirim seseorang yang menyebutkan bahwa Husaid telah meninggal di Ambon serta beberapa surat lainnya yang berguna untuk pengembangan penyidikan. Tentang siapa pengirim surat itu, Kapolda tidak bersedia menyebutkannya karena alasan untuk kepentingan penyidikan.

Keterangan yang diperoleh dari mertua Husaid, disebutkan bahwa tersangka yang menurut keterangan Amrozy (pelaku peledakan bom Bali) sebagai pembawa lima bom dari Jakarta ke Mataram tahun 2000 lalu, menikah dengan Ir. Astuti tahun 1994 yang lalu di Bima. "Husaid dalam catatan buku nikahnya bernama Zainul Arifin," katanya. Setelah melangsungkan pernikahan, dua bulan kemudian Husaid bersama istrinya meninggalkan Desa Palibelo, Bima ke Solo (daerah asal Husaid). Dari perkawinan dengan Ir. Astuti, Husaid memperoleh dua orang putra. Namun salah seorang di antaranya meninggal beberapa waktu lalu.

Setelah meninggalkan Bima tahun 1994 lalu, Husaid jarang kembali ke daerah tersebut. Sampai akhirnya datang surat dari Solo yang menyebutkan bahwa Husaid alias Zainul Arifin meninggal di Ambon. "Apakah Husaid benar meninggal, Itu belum jelas. Kebenaran informasi itu yang masih kita telusuri," jelasnya.

Sementara dari hasil pelacakan di Solo menurut Kapolda, banyak informasi juga diperoleh. Ternyata di Solo, nama tersangka bukan Husaid, tetapi Zulkifli. Husaid, alias Zainul Arifin alias Zulkifli dari penyidikan yang dilakukan, merupakan salah satu tersangka dari kelompok Lamongan.

"Tersangka satu grup dengan Amrozy, Dulmatim (buron) dan beberapa tersangka lainnya," jelas Kapolda. Husaid juga selalu terlibat dalam pertemuan-pertemuan yang dilakukan kelompok ini baik di Solo maupun di rumah Abdul Jabar di Jakarta. (049)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)