Polda
NTB Lacak Keluarga Husaid di Bima
*
Dikenal Bernama Zainul Arifin
Mataram
(Bali Post) -
Tim Penyidik Kasus Peledakan Bom Mataram pada malam Natal
2000, akhirnya berhasil melacak keberadaan keluarga istri
Husaid di Desa Palibelo, Bima. Namun orangtua Ir. Astuti
(istri Husaid) mengenal menantunya bukan bernama Husaid,
tetapi Zainul Arifin.
Demikian
Kapolda NTB Brigjen Pol. Drs. Sutomo Tjokro Atmojo
didampingi Ketua Tim Penyidik Peledakan Bom Mataram, AKBP
Drs. Beny dalam keterangan persnya di Mapolda NTB, Kamis
(6/2) kemarin. Dijelaskan Kapolda, pada awalnya keluarga
istri Husaid, tidak mengenal siapa itu Husaid. "Namun
setelah ditunjukkan sketsa wajah tersangka, baru mereka
mengenal dan membenarkan bahwa sketsa wajah itu mirip
dengan menantunya," jelas Kapolda sambil
memperlihatkan sketsa wajah Husaid.
Dikatakan, banyak
informasi yang berhasil dihimpun tim penyidik dari
keluarga istri Husaid di Bima. Selain informasi, juga
berhasil diamankan sejumlah surat dari Husaid untuk
istrinya, kemudian surat yang dikirim seseorang yang
menyebutkan bahwa Husaid telah meninggal di Ambon serta
beberapa surat lainnya yang berguna untuk pengembangan
penyidikan. Tentang siapa pengirim surat itu, Kapolda
tidak bersedia menyebutkannya karena alasan untuk
kepentingan penyidikan.
Keterangan yang
diperoleh dari mertua Husaid, disebutkan bahwa tersangka
yang menurut keterangan Amrozy (pelaku peledakan bom Bali)
sebagai pembawa lima bom dari Jakarta ke Mataram tahun
2000 lalu, menikah dengan Ir. Astuti tahun 1994 yang lalu
di Bima. "Husaid dalam catatan buku nikahnya bernama
Zainul Arifin," katanya. Setelah melangsungkan
pernikahan, dua bulan kemudian Husaid bersama istrinya
meninggalkan Desa Palibelo, Bima ke Solo (daerah asal
Husaid). Dari perkawinan dengan Ir. Astuti, Husaid
memperoleh dua orang putra. Namun salah seorang di
antaranya meninggal beberapa waktu lalu.
Setelah meninggalkan
Bima tahun 1994 lalu, Husaid jarang kembali ke daerah
tersebut. Sampai akhirnya datang surat dari Solo yang
menyebutkan bahwa Husaid alias Zainul Arifin meninggal di
Ambon. "Apakah Husaid benar meninggal, Itu belum
jelas. Kebenaran informasi itu yang masih kita
telusuri," jelasnya.
Sementara dari hasil
pelacakan di Solo menurut Kapolda, banyak informasi juga
diperoleh. Ternyata di Solo, nama tersangka bukan Husaid,
tetapi Zulkifli. Husaid, alias Zainul Arifin alias
Zulkifli dari penyidikan yang dilakukan, merupakan salah
satu tersangka dari kelompok Lamongan.
"Tersangka satu
grup dengan Amrozy, Dulmatim (buron) dan beberapa
tersangka lainnya," jelas Kapolda. Husaid juga selalu
terlibat dalam pertemuan-pertemuan yang dilakukan kelompok
ini baik di Solo maupun di rumah Abdul Jabar di Jakarta.
(049)
|