kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Wage, 17 Pebruari 2003

 Pariwisata


Masyarakat Perlu Kenyataan, Bukan Janji

Janji-janji dan pernyataan pemerintah beberapa saat setelah tragedi bom di legian Kuta sungguh manis. Saat itu berbagai komponen pariwisata dikumpulkan di Hotel Putri Bali, Nusa Dua. Tak kurang Menko Ekuin Dorodjatun Kuntjoro-Jakti pun hadir untuk mengomandani pertemuan. Begitu pula dengan menteri-menteri lain, termasuk Menbudpar I Gde Ardika.

==================================================

Seperti banyak diberitakan media massa waktu itu, hasil pertemuan cukup mengembirakan. Banyak poin-poin program untuk penyelamatan Bali berhasil disepakati bersama. Bahkan, kata Ketua Bali Tourism Board (BTB) I Putu Agus Antara, pemerintah waktu itu berjanji mengucurkan dana recovery sebesar Rp 300 miliar.

Janji-janji inilah yang membuat rakyat Bali waktu itu banyak berharap. Namun setelah ditunggu beberapa bulan ternyata kabar itu tak terdengar lagi. Tak salah bila kemudian sebagian masyarakat mencurigai adanya penyalahgunaan dana Rp 300 miliar itu oleh oknum tertentu.

Tetapi Putu Agus Antara sebagai Ketua BTB membantah tegas kecurigaan semacam itu. Dia sendiri mengaku tidak tahu-menahu soal kucuran dana tersebut. "Sampai sekarang saya tidak tahu apakah dana tersebut sudah mengucur atau belum," tandasnya di sela-sela diskusi interaktif dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) di rumah makan Sari Warta Boga, beberapa waktu lalu.

Kalau memang sudah dikucurkan, menurut Antara, dana tersebut tidak pernah melalui dirinya. Dan kalau memang belum disalurkan, Antara mendesak agar pemerintah segera memenuhi janjinya. "Rakyat tidak butuh janji-janji," tegasnya. Ternyata masih banyak janji-janji pemerintah yang sejauh ini hanya berupa kata-kata manis kepada Bali. Diantaranya adalah janji bantuan dari Bappenas. Kebetulan waktu itu Drs Putu Suasta MA yang masih menduduki kursi Ketua Forum Merah Putih bersama jajaran tokoh LSM dan pejabat Bappeda Bali bersama-sama berangkat ke Jakarta untuk melakukan presentasi program di Bappenas. Hasilnya pun cukup mengembirakan. Menurut Putu, waktu itu Bappenas berjanji untuk membantu sejumlah dana dalam mendukung program recovery Bali. Namun sampai sekarang, jelas Suasta, sampai sekarang dana itu tidak juga ketahuan keberadaannya.

Masih ada satu lagi seperti yang disampaikan Ketua BPD HIPMI Bali I Gde Sumarjaya Linggih SE, yakni soal dana PUKK. Dana ini, menurut Sumarjaya Linggih, merupakan hak para pengusaha kecil yang diambil dari 1 persen keuntungan BUMN. "Untuk jatah tahun 2002 saja sampai sekarang baru tersalurkan 50 persen dan sisanya yang 50 persen sampai sekarang belum juga diberikan. Lalu bagaimana mungkin seorang seperti Laksamana Sukardi mengatakan bahwa akan membantu recovery Bali?" tutur Demer, panggilan akrab Sumarjaya Lingih.

Menurut Demer, kalau memang pemerintah tidak mau membantu lebih banyak kepada Bali sebaiknya memberikan hak-hak Bali yang memang seharusnya dinikmati. "Tidak usah janji-janji, berikan saja hak kami," tegasnya.

Dari berbagai fakta di atas menunjukkan secara nyata bahwa pemerintah, baik pusat maupun daerah Bali sendiri tidak memiliki sense of crisis. Mereka berperilaku dan bertindak seolah-olah Bali tidak menghadapi masalah besar. Padahal bahaya besar sudah berada di depan mata masyarakat Bali bila tak segera dicarikan penyelesaian secara signifikan. "Jadi tak salah kalau sekarang banyak yang mengatakan bahwa para pejabat itu sepertinya hanya berpura-pura simpati dan peduli terhadap krisis yang melanda Bali, karena kenyataannya memang belum terlihat tindakannya yang signifikan dalam membantu pemulihan Bali," ujar Putu Suasta.

Langkah Irasional

Sementara itu Sjahrir menilai bahwa langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah saat ini sudah irasional. Ia mencontohkan program pesta seribu bintang yang digelar di Bali dengan harapan bisa mengundang kehadiran. "Secara logika sederhana saja mana mungkin para wisatawan asing mau datang hanya karena Suara Mahardika manggung?" kritik Sjahrir.

Sekjen Partai PIB Drs Amir Karamoy MSc menambahkan bahwa acara semacam Bali for The World itu kurang masuk akal kalau dianggap sebagai program pemulihan pariwisata Bali. "Pada ujung-ujungnya uang miliaran rupiah yang dikeluarkan juga akan kembali lagi ke Jakarta, karena sebagian besar pihak yang dilibatkan adalah orang-orang Jakarta. Mulai dari artis, band, sampai panitianya juga. Jadi tidak ada yang menetes ke masyarakat lokal Bali. Kalaupun ada sangat kecil jumlahnya," tambahnya.

Menghadapi ketidakjelasan sikap pemerintah seperti ini, sambung Putu Suasta, diperlukan adanya desakan yang kuat dari rakyat terhadap peran dan tanggung jawab pemerintah, khususnya pemerintah daerah Bali. "Rakyat harus mendesak pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis dan kongkrit dalam waktu dekat ini," ujarnya.

Dalam pandangan alumnus FISIPOL UGM ini, yang diperlukan bagi seorang pemimpin Bali saat ini adalah keberanian. Dan untuk ini sangat banyak hal yang seharusnya dilakukan. "Selain langkah-langkah pemulihan yang harus terus dilakukan, pemerintah juga harus melakukan tindakan kongkrit dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya dampak sosial yang muncul akibat kegagalan program recovery. Ini sangat mendesak dilakukan," jelasnya.

Nah, disinilah, membutuhkan keberanian dari seorang gubernur. "Ggubernur harus berani memanggil dan mengumpulkan para pemilik atau pengusaha hotel berbintang. Mintalah dan kalau perlu haruskan mereka untuk tidak merumahkan atau mem-PHK karyawannya selama proses pemulihan ekonomi tengah berjalan. Bukankah mereka sebelumnya sudah banyak menikmati hasil dari pariwisata Bali. Kini giliran mereka yang harus berkorban. Ini merupakan cara yang paling efektif," tuturnya.

Bila aksi PHK dibiarkan terus, Suasta khawatir justru mempersulit proses recovery Bali. Karena dengan meningkatnya jumlah pengangguran, ancaman konflik sosial juga meningkat, dan pada gilirannya sangat mengganggu jalannya program pemulihan.

Seiring dengan langkah tersebut, pemerintah daerah juga harus bersikap tegas terhadap pemerintahan pusat yang tidak memenuhi janji-jajinya. "Harus diingat bahwa bantuan yang dibutuhkan masyarakat Bali adalah untuk sekarang ini di saat semua rakyat menjerit. Kalau pengucurannya menunggu waktu yang lama karena alasan birokratis atau lainnya, maka rakyat sudah keburu terkapar," ujarnya.

Ia mengatakan, dalam hukum apapaun dan di negara manapun, situasi darurat bisa menghalalkan berbagai cara, termasuk soal birokrasi seharusnya bisa dikesampingkan. Bahkan untuk menambah sumber dana pun kalau perlu diambilkan dari pos lain. "Tapi ini tak dilakukan. Dan ini sebagai bukti bahwa memang tak ada sense of crisis dari para pemimpin kita. Ini merupakan pelajaran bagi kita semua bahwa untuk ke depannya jangan sampai salah memilih pemimpin," ujar Ketua Pimpinan Daerah Partai PIB Bali ini. (sut)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)