kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Wage, 17 Pebruari 2003

 Politik


Mega sebaiknya Netral

Jakarta (Bali Post) -
Semangat non-blok sebaiknya ditegaskan dalam pidato Presiden Megawati Soekarnoputri, di depan sidang Konferensi Tingkat Tinggi Negara Non-Blok. KTT berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, 23-25 Februari nanti. Sikap netral, tidak memihak Irak dan tidak mendukung Amerika Serikat, itu dipandang menguntungkan posisi Indonesia di mata internasional.

Demikian pendapat pengamat politik Arbi Sanit di Jakarta, Minggu (16/2) kemarin. Desakan antiperang di seluruh dunia memang meningkat. Juga desakan ormas-ormas Islam agar Indonesia menyatakan sikap tegasnya seperti yang dilakukan PM Malaysia Mahathir Muhammad. Indonesia harus menolak perang dan rencana invasi AS. Namun, bagi Arbi, Megawati bisa mengadopsi dua-duanya dengan cara tetap mendukung langkah-langkah yang ditempuh PBB. ''Megawati harus mendukung dua hal. Pertama, mendukung semua langkah PBB dalam menangani masalah Irak. Terutama mengenai senjata pemusnah masal yang dianggap melebihi kapasitas atau aturan internasional. Sikap itu artinya tidak mendukung Irak dan tidak menolak AS secara terbuka. Kedua, Mega tidak perlu menghalang-halangi kekuatan politik dalam negeri dan ormas Islam yang menolak serangan AS ke Irak,'' terang Arbi.

Ada dampak kurang menguntungkan jika Mega mendukung rencana AS menyerang Irak, seperti ajakan PM Australia John Howard. Jika itu dilakukan, politik nasional akan mengalami instabilitas. Ormas-ormas Islam tentu tidak bisa menerimanya. ''Mega cukup menjelaskan alasan-alasan mengapa perang dan mengapa tidak perang. Semua ini dilakukan demi menjaga posisi Indonesia di mata internasional. Cara itu pula bisa mengerem kekuatan dalam negeri yang mencoba menentangnya,'' tegas Arbi.

Dalam KTT, tentu saja tak hanya masalah Irak yang harus disampaikan Mega. ''Terorisme juga menjadi skala prioritas. Mega harus menyatakan ketegasannya mendukung upaya dan langkah dunia internasional memerangi terorisme. Sikap ini akan mendapat simpati internasional,'' ujarnya.

Terorisme harus mendapat penjelasan yang lebih. Khususnya mengenai kegiatan dan upaya Indonesia memberantas tindakan keji itu. Hal lain yang harus mendapat tempat dalam pidato Mega, perihal pasar global yang diberlakukan tahun ini. Menurut Arbi, Megawati harus superhati-hati. ''Mega harus bisa memproteksi industri-industri yang dipandang belum mampu bersaing di pasar internasional. Di sisi lain, sebagai persetujuan perjanjian pasar global sebelumnya, Mega harus meloloskan sejumlah komoditi yang bisa dijual di pasar global dan membuka seluas-luasnya,'' katanya.

Bidang pertanian harus betul-betul diproteksi Mega. Jangan sampai pasar global memakan bidang pertanian Indonesia. Sebab, jutaan petani Indonesia bisa gulung tikar diserbu produk pertanian luar negeri. Dalam bidang ini, hemat Arbi, mungkin kelapa sawit, kopi, dan mungkin sejumlah hasil pertanian yang bisa masuk pasar bebas. Selebihnya, pemerintah harus bisa melindunginya. ''Proteksi ini penting bagi kemajuan Indonesia,'' katanya menegaskan.

Pendapat yang sama juga dikatakan pengamat LIPI Indria Samego. Meski jauh, tetapi masalah Irak mempunyai dampak yang kompleks bagi Indonesia. Terutama bagi usaha perbaikan kondisi ekonomi serta pembangunan kembali negara ini, setelah diterpa krisis multidimensi yang berkepanjangan. Sikap pemerintah terhadap semua itu harus jelas dan berpihak kepada rakyatnya. ''Perdagangan untuk sektor industri serta pertanian, juga harus menjadi perhatian Presiden Mega dalam pidatonya di KTT nanti. Proteksi terhadap produk lokal perlu pula menjadi perhatiannya dari ekspansi produk asing,'' jelas Indria. (kmb7/kmb3)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)