Mega sebaiknya
Netral
Jakarta
(Bali Post) -
Semangat non-blok sebaiknya ditegaskan dalam pidato
Presiden Megawati Soekarnoputri, di depan sidang
Konferensi Tingkat Tinggi Negara Non-Blok. KTT berlangsung
di Kuala Lumpur, Malaysia, 23-25 Februari nanti. Sikap
netral, tidak memihak Irak dan tidak mendukung Amerika
Serikat, itu dipandang menguntungkan posisi Indonesia di
mata internasional.
Demikian pendapat
pengamat politik Arbi Sanit di Jakarta, Minggu (16/2)
kemarin. Desakan antiperang di seluruh dunia memang
meningkat. Juga desakan ormas-ormas Islam agar Indonesia
menyatakan sikap tegasnya seperti yang dilakukan PM
Malaysia Mahathir Muhammad. Indonesia harus menolak perang
dan rencana invasi AS. Namun, bagi Arbi, Megawati bisa
mengadopsi dua-duanya dengan cara tetap mendukung
langkah-langkah yang ditempuh PBB. ''Megawati harus
mendukung dua hal. Pertama, mendukung semua langkah PBB
dalam menangani masalah Irak. Terutama mengenai senjata
pemusnah masal yang dianggap melebihi kapasitas atau
aturan internasional. Sikap itu artinya tidak mendukung
Irak dan tidak menolak AS secara terbuka. Kedua, Mega
tidak perlu menghalang-halangi kekuatan politik dalam
negeri dan ormas Islam yang menolak serangan AS ke Irak,''
terang Arbi.
Ada dampak kurang
menguntungkan jika Mega mendukung rencana AS menyerang
Irak, seperti ajakan PM Australia John Howard. Jika itu
dilakukan, politik nasional akan mengalami instabilitas.
Ormas-ormas Islam tentu tidak bisa menerimanya. ''Mega
cukup menjelaskan alasan-alasan mengapa perang dan mengapa
tidak perang. Semua ini dilakukan demi menjaga posisi
Indonesia di mata internasional. Cara itu pula bisa
mengerem kekuatan dalam negeri yang mencoba
menentangnya,'' tegas Arbi.
Dalam KTT, tentu
saja tak hanya masalah Irak yang harus disampaikan Mega.
''Terorisme juga menjadi skala prioritas. Mega harus
menyatakan ketegasannya mendukung upaya dan langkah dunia
internasional memerangi terorisme. Sikap ini akan mendapat
simpati internasional,'' ujarnya.
Terorisme harus
mendapat penjelasan yang lebih. Khususnya mengenai
kegiatan dan upaya Indonesia memberantas tindakan keji
itu. Hal lain yang harus mendapat tempat dalam pidato
Mega, perihal pasar global yang diberlakukan tahun ini.
Menurut Arbi, Megawati harus superhati-hati. ''Mega harus
bisa memproteksi industri-industri yang dipandang belum
mampu bersaing di pasar internasional. Di sisi lain,
sebagai persetujuan perjanjian pasar global sebelumnya,
Mega harus meloloskan sejumlah komoditi yang bisa dijual
di pasar global dan membuka seluas-luasnya,'' katanya.
Bidang pertanian
harus betul-betul diproteksi Mega. Jangan sampai pasar
global memakan bidang pertanian Indonesia. Sebab, jutaan
petani Indonesia bisa gulung tikar diserbu produk
pertanian luar negeri. Dalam bidang ini, hemat Arbi,
mungkin kelapa sawit, kopi, dan mungkin sejumlah hasil
pertanian yang bisa masuk pasar bebas. Selebihnya,
pemerintah harus bisa melindunginya. ''Proteksi ini
penting bagi kemajuan Indonesia,'' katanya menegaskan.
Pendapat yang sama
juga dikatakan pengamat LIPI Indria Samego. Meski jauh,
tetapi masalah Irak mempunyai dampak yang kompleks bagi
Indonesia. Terutama bagi usaha perbaikan kondisi ekonomi
serta pembangunan kembali negara ini, setelah diterpa
krisis multidimensi yang berkepanjangan. Sikap pemerintah
terhadap semua itu harus jelas dan berpihak kepada
rakyatnya. ''Perdagangan untuk sektor industri serta
pertanian, juga harus menjadi perhatian Presiden Mega
dalam pidatonya di KTT nanti. Proteksi terhadap produk
lokal perlu pula menjadi perhatiannya dari ekspansi produk
asing,'' jelas Indria. (kmb7/kmb3)
|