Menunggu
Keajaiban dari Irak
Menlu Kuwait Sheikh
Sabah al-Ahmad al-Sabah menyatakan hanya keajaiban saja
yang bisa mencegah rencana AS menyerang Irak. Kepada
stasiun Televisi Kuwait al Shabah Minggu (16/2) kemarin
menyatakan keajaiban itu hanya akan muncul dari Irak saja
yakni dengan memberikan kerjasama penuh kepada tim
pemeriksa senjata PBB.
Pemerintah Kuwait
secara resmi telah membebaskan dua per tiga wilayahnya
untuk dipakai pangkalan militer AS dan Inggris. Negara
yang berbatasan langsung dengan Irak itu, akan menjadi
titik tolak invasi ke Irak lewat darat dengan pengerahan
tak kurang dari 100 ribu pasukan AS dan Inggris. Pasukan
Kuwait tidak akan ambil bagian dalam invasi itu.
Pemerintah menempatkan tentaranya untuk menjaga keamanan
dalam negeri.
Mengutip ucapan
pejabat Kemnetrian Pertahanan AS, koran New York Times,
edisi Sabtu (15/2) lalu menulis tentang rencana presiden
Irak Saddam Hussein menyiapkan strategi untuk menghadang
pasukan AS. Startegi itu diantaranya dengan menjebol
waduk, menghancurkan jembatan dan membakar sumur-sumur
minyak. Untuk meningkatkan ketegangan, warga sipil di Iark
selatan, tidak disuplai makanan sebagai dalih perang
menyengsarakan warga sipil. Sejumlah pasukan Irak yang
ditengarai tidak loyal disebar ke berbagai wilayah.
Sementara Pasukan elit Garda Republik akan memainkan
Perang Kota melawan pasukan AS dijalanan kota Baghdad.
Irak telah
menempatkan rudal darat ke darat di berbagai tempat
diwilayah padat penduduk. Di utara kota Baghdad
ditempatkan rudal Ababil-50, Ababil-100 dan Frog buatan
Rusia. Sistem rudal Ababil-100 juga diarahkan ke Kuwait
dan pasukan Amerika.
Pengiriman pasukan
dan peralatan militer ke wilayah Teluk tidak berhenti.
Kendati posisi di Dewan Keamanan PBB tidak memungkinkan,
pemerintah AS tidak menghentikan pengiriman pasukan ke
wilayah Teluk. Kini tak kurang 150 ribu pasukan telah
menempati pos-posnya di kawasan Teluk. Peralatan berat
termasuk kendaraan militer dan amunisi pun mulai
berdatangan di fasilitas-fasilitas militer AS. Mereka
telah siap untuk begerak namun presiden George W. Bush
belum memberikan komando perang.
Pentagon juga
memanggil 40 ribu Pasukan Penjaga Keamanan Nasional dan
Cadangan. Mereka kini ditempatkan pada posisi aktif dan
siap diberangkatkan bila keadaan membutuhkan.
Inggris yang
merupakan sekutu AS dalam krisis Irak ini, telah
menempatkan seribu pasukan dan 25 pesawat tempurnya di
dekat Irak untuk menjaga zona larangan terbang. Angka itu
akan meningkat drastis dalam beberapa pekan ke depan
dengan kedatangan 100 pesawat tempur (belum termasuk 27
helikopter Puma dan Chinook) dan 8.100 pasukan. Pengiriman
itu akan mencapai puncak yakni 40 ribu pasukan. Australia
yang konsisten mendukung sikap AS akan memberangkatkan 2
ribu pasukan pendukung.(yud/afp)
Penempatan
Pasukan :
Kuwait
Sekitar 70 ribu tentara yang kebanyakan personil Angkatan
Darat AS telah mengambil posisi di Kuwait, dekat
perbatasan Irak. Dalam sepekan terakhir mereka menggelar
latihan dengan menggunakan peluru tajam dalam pergelaran
Perang Kota di padang pasir, di dekat garis perbatasan
dengan Irak. Korp V AD itu didukung Pasukan Ekspedisi
Marinir I.
Di Camp Doha yang
berlokasi di Ad-Dawhah, Barat Kuwait City, Divisi Infantri
III telah menyiapkan sekitar 9 ribu pasukan. Camp Doha
menjadi komponen Komando Pusat AS dan Gugus Tugas Pasukan
Koalisi/Gabungan di Kuwait. Di tempat ini Divisi Infantri
II didukung Batalion Intelejen 201, Batalion Sinyal 54 dan
Batalion Transportasi 831, laporan kelompok riset Global
Security.
AS menumpuk
persenjataan beratnya di tempat itu meliputi 100 tank M1A1
Abrams, 30 kendaraan tempur Bradley, 30 kendaraan
pengangkut pasukan (APC), 12 meriam howitzer 155 mm
Paladin, 9 sistem peluncur roket ganda, 48 kendaraan
komando, 30 buldozer, 150 truk dan Humvees serta jembatan
ponton.
Pangkalan yang
didirikan setelah pembebasan Kuawait 1991, juga dipakai
sebagai tempat menyimpan pesawat pembom dan AC-130 yang
dipindahkan dari pangkalan lain di Arab Saudi. AS dan
Inggris menggunakan pangkalan udara Al-Jaber dan Ali Salem
untuk mendaratkan pesawat-pesawat tempurnya yang bertugas
menjaga zona larangan terbang Irak selatan.
Arab Saudi
Sekitar 5.000
pasukan sebagian besar anggota pasukan tempur Sayap
Ekspedisi Udara 363, AS bermarkas di pangkalan udara
Prince Sultan di padang pasir Al Kharj, selatan kota
Riyadh. Pangkalan ini dipakai sebagai basis armada udara
AS yang meliputi Skuadron Tempur, Matamata, Pengisian
Bahan Bakar di Udara dan Transportasi Udara.
Di pangkalan ini 72
pesawat termasuk pesawat tempur F-15C, F-15E dan F-16,
pesawat radar E-3 AWACS, pesawat mata-mata U2, pesawat
anti radar dan pesawat siluman dan pesawat pembawa bahan
bakar KC-135 dan KC-10, pesawat transport C-21 dan pesawat
SAR HC-130. Dua baterai peluncur rudal Patriot juga
ditempatkan di pangkalan ini.
Qatar
Sekitar 6 ribu
pasukan menempati pangkalan Udara Al Udeid di barat daya
Doha dan As Sayliyah. AS mendirikan kantor Komando Pusat
di As Saylihay. Dari tempat ini Jendral Angkatan Darat
Tommy Franks mengarahkan pasukannya untuk menyerbu Irak.
Bahrain
Bahrain menjadi
markas Armada V AS yang berpusat di Manama. 5 ribu pasukan
AL berada di darat dan 15 ribu berada di laut. Di lepas
pantai Bahrain beredar 20 kapal perang AS. Armada V ini
memimpin kapal-kapal perang AS yang berada di Laut Merah,
Laut Arab dan Teluk.
Uni Emirat
Arab
Pangkalan militer Al
Dhafra dihuni 1.200 militer dan menjadi persinggahan
armada Laut AS baik dari Teluk maupun Laut Arab.
Turki
AS dan Inggris
menggunakan pangkalan udara Incirlik untuk landasan
pesawat tempur yang menjalankan pengawasan di zona larang
terbang Irak Utara. Sekitar 50 pesawat tempur berada di
pangkalan itu. Kini AS meningkatkan peran Turki menjadi
pintu masuk Irak dari utara. Nantinya bila perang meletus
20 ribu pasukan akan melewati wilayah ini. Pasukan Khusus
AS yang dikabarkan telah memasuki Irak pekan ini, juga
menggunakan perbatasan Turki itu seagai pintu masuk.
Jordania
Pemerintah Jordania
resmi menolak perang terhadap Irak. Namun AS akan
menempatkan 3 baterai peluncur rudal Patriot untuk
melindungi Amman dari serangan rudal Irak.
Djibouti
1.300 personil AS
ditempatkan di Tanduk Afrika, di negara kecil Djibouti.
Gugus tugas tempur itu diperkuat 400 personil yang
bermarkas di kapal USS Mount Whitney.
Oman
Pangkalan 2.700
personil AS. Pelabuhan Omani dan pangkalan udara di Oman
merupakan persinggahan armada AS sebelum menuju Teluk atau
ke Afghanistan.
Afghanistan
Sekitar 10 ribu
pasukan AS berada di Afghanistan. Diantaranya adalah
Divisi Lintas Udara 82 yang menggantikan Divisi Pegunungan
10.
Laut
Sekitar 35 ribu
pasukan AL dan Marinir berada di atas kapal perang AS.
Mereka diantaranya berada di atas kapal induk USS Kitty
Hawks yang telah meninggalkan markasnya di Jepang. 3 kapal
induk lainnya USS Abraham Lincoln berada di Teluk Oman dan
USS Constellation di Teluk, USS Harry S Truman di
Mediterania. USS Theodore Roosevelt akan menempati posisi
di Mediterania setelah menyelasaikan latihan di Puerto
Rico.
Inggris mengirim
kapal induk HMS Royak Ark dengan dukungan belasan kapal
perusak dan penjelajah. Kini armada laut itu telah
melewati Terusan Suez dan Laut Merah dan mengambil posisi
untuk menyerang Irak.(yud/afp)
|