Dari Diskusi Panel Panti Marhaenis Bali--
Salah
Pilih Gubernur, Bali bisa Hancur
PEMILIHAN
Gubernur yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini
memiliki nilai yang sangat strategis bagi masa depan Bali.
Pasalnya, kesalahan memilih figur Gubernur akan
mengakibatkan kehancuran Bali. Seorang Gubernur yang akan
menjadi pemimpin Bali haruslah orang yang paham dalam
budaya Bali, memiliki jiwa nasionalisme dan mamiliki
wawasan internasional. Yang paling pokok figur tersebut
jujur, bermoral mau dan mampu mengangkat harkat martabat
penduduk Bali.
Demikian terlontar
dalam disukusi panel yang digelar dalam rangka peresmian
Panti Marhaenis Daerah Propinsi Bali di Jalan Banteng No.
1 Denpasar, Minggu (16/2) kemarin.
Diskusi yang
mengambil tema Hubungan Pancasila dengan Marhenisme dan
Profil Pemimpin Bali yang Ideal ini dihadiri sejumlah
tokoh sepuh yang menjadi bagian dari Yayasan Panti
Marhaenis. ''Kesalahan dalam memilih pemimpin Bali dalam
suksesi kali ini akan mengakibatkan kehancuran Bali,''
tegas Prof. Dr. I Wayan Bawa, Ketua I Yayasan Panti
Marhaenis. Pemilihan melalui praktik money politics
misalnya akan melahirkan pemimpin yang hanya mengejar
materi. Untuk itu, elite politik yang kini sering terjebak
dalam sikap pragmatis materialistis harus tetap diwaspadai
karena rentan terkena money politics. ''Jangan sampai Bali
yang sudah mengalami beberapa kehancurannya malah menjadi
semakin hancur,'' katanya lagi.
Seorang Panelis,
Wana Pariartha mantan aktivis GMNI yang kini menjadi
tenaga pengajar di Universitas Udayana memaparkan secara
khusus bagiamana gambaran ideal pemimpin Bali. Mengingat
arah pembangunan di Bali ke budaya, maka pemimpin Bali
menurut Pariartha patut berakar pada budaya Bali.
Pemimpin Bali juga
hendaknya sadar betul kalau Bali adalah bagian dari
Indonesia. Karena itu figur pemimpin Bali adalah seorang
nasionalis yang memiliki cita-cita kuat untuk memerdekakan
bangsanya dalam segala aspek. Pemimpin Bali patutlah
memahami, menghayati dan bisa mengamalkan ajaran Bung
Karno.
Tidak hanya
nasionalis Soekarnois, figur pemimpin Bali yang ideal juga
go international, sehingga mampu membawa manusia-manusia
Bali yang memiliki kemampuan menginternasional. Kamampuan
di atas masih perlu ditambah dengan sifat-sifat seorang
guru wisesa, yaitu jujur, religius, bermoral tinggi mau
dan mampu bekerja keras, tangguh dan gandrung akan
kemajuan Bali sebagai bagian dari kemajuan Indonesia.
Dikontrakkan
Terkait tentang
keberadaan Panti Marhaenis yang diplaspas kemarin,
merupakan sebuah langkah untuk menyelamatkan aset-aset
yang dimiliki Yayasan Panti Marhaenis. Yayasan ini sendiri
menurut John Sara selaku Ketua Umum yayasan didirikan
tokoh Partai Nasionalis Indonesia (PNI) Bali masa lalu
sebelum berfusi menjadi PDI. I Ketut Robin tokoh PNI yang
hadir pada pertemuan kemarin, menyebut langkah ini sebagai
penyelamatan, karena sekretariat milik PNI di daerah luar
Bali sudah banyak yang berpindah tangan atau dijual.
Panti
Marhaenis-semacam sekretariat-ini nantinya akan digunakan
sebagai tempat pengembangan dan kebangkitan kembali
ajaran-ajaran Bung Karno. Panti yang kini dikontrakkan
kepada DPD PDI-P Bali dengan nilai kontrak Rp 160 juta ini
sampai 1 Juni 2005 nanti masih menjadi sekretariat DPD
PDI-P Bali. (win)
|