kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Wage, 17 Pebruari 2003

 Bali


Dari Diskusi Panel Panti Marhaenis Bali--

Salah Pilih Gubernur, Bali bisa Hancur

PEMILIHAN Gubernur yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini memiliki nilai yang sangat strategis bagi masa depan Bali. Pasalnya, kesalahan memilih figur Gubernur akan mengakibatkan kehancuran Bali. Seorang Gubernur yang akan menjadi pemimpin Bali haruslah orang yang paham dalam budaya Bali, memiliki jiwa nasionalisme dan mamiliki wawasan internasional. Yang paling pokok figur tersebut jujur, bermoral mau dan mampu mengangkat harkat martabat penduduk Bali.

Demikian terlontar dalam disukusi panel yang digelar dalam rangka peresmian Panti Marhaenis Daerah Propinsi Bali di Jalan Banteng No. 1 Denpasar, Minggu (16/2) kemarin.

Diskusi yang mengambil tema Hubungan Pancasila dengan Marhenisme dan Profil Pemimpin Bali yang Ideal ini dihadiri sejumlah tokoh sepuh yang menjadi bagian dari Yayasan Panti Marhaenis. ''Kesalahan dalam memilih pemimpin Bali dalam suksesi kali ini akan mengakibatkan kehancuran Bali,'' tegas Prof. Dr. I Wayan Bawa, Ketua I Yayasan Panti Marhaenis. Pemilihan melalui praktik money politics misalnya akan melahirkan pemimpin yang hanya mengejar materi. Untuk itu, elite politik yang kini sering terjebak dalam sikap pragmatis materialistis harus tetap diwaspadai karena rentan terkena money politics. ''Jangan sampai Bali yang sudah mengalami beberapa kehancurannya malah menjadi semakin hancur,'' katanya lagi.

Seorang Panelis, Wana Pariartha mantan aktivis GMNI yang kini menjadi tenaga pengajar di Universitas Udayana memaparkan secara khusus bagiamana gambaran ideal pemimpin Bali. Mengingat arah pembangunan di Bali ke budaya, maka pemimpin Bali menurut Pariartha patut berakar pada budaya Bali.

Pemimpin Bali juga hendaknya sadar betul kalau Bali adalah bagian dari Indonesia. Karena itu figur pemimpin Bali adalah seorang nasionalis yang memiliki cita-cita kuat untuk memerdekakan bangsanya dalam segala aspek. Pemimpin Bali patutlah memahami, menghayati dan bisa mengamalkan ajaran Bung Karno.

Tidak hanya nasionalis Soekarnois, figur pemimpin Bali yang ideal juga go international, sehingga mampu membawa manusia-manusia Bali yang memiliki kemampuan menginternasional. Kamampuan di atas masih perlu ditambah dengan sifat-sifat seorang guru wisesa, yaitu jujur, religius, bermoral tinggi mau dan mampu bekerja keras, tangguh dan gandrung akan kemajuan Bali sebagai bagian dari kemajuan Indonesia.

Dikontrakkan

Terkait tentang keberadaan Panti Marhaenis yang diplaspas kemarin, merupakan sebuah langkah untuk menyelamatkan aset-aset yang dimiliki Yayasan Panti Marhaenis. Yayasan ini sendiri menurut John Sara selaku Ketua Umum yayasan didirikan tokoh Partai Nasionalis Indonesia (PNI) Bali masa lalu sebelum berfusi menjadi PDI. I Ketut Robin tokoh PNI yang hadir pada pertemuan kemarin, menyebut langkah ini sebagai penyelamatan, karena sekretariat milik PNI di daerah luar Bali sudah banyak yang berpindah tangan atau dijual.

Panti Marhaenis-semacam sekretariat-ini nantinya akan digunakan sebagai tempat pengembangan dan kebangkitan kembali ajaran-ajaran Bung Karno. Panti yang kini dikontrakkan kepada DPD PDI-P Bali dengan nilai kontrak Rp 160 juta ini sampai 1 Juni 2005 nanti masih menjadi sekretariat DPD PDI-P Bali. (win)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)