kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Wage, 17 Pebruari 2003

 Bali


Dari Warung Global ''Interaktif'' Bali Post

Respon Demo Pedagang, Dewan Harus Proaktif

Sekitar 200 pedagang didominasi kaum ibu berunjuk rasa ke kantor Bupati Gianyar, Jumat (14/2) lalu. Mereka menyampaikan unek-uneknya seperti sepinya pembeli di Pasar Gianyar. Ketika wacana ini diangkat menjadi topik pada acara Warung Global Interkatif Bali Post yang disiarkan Radio Global FM 99,15 Kini Jani, Sabtu (15/2), masyarakt mendesak agar dewan segera menyikapinya. Dewan diminta proaktif merespon keluhan warga. Pada acara warung Global yang juga radio Genta Swara Sakti Bali FM 106,15, serta Radio Singaraja FM 107,2., masyarakat juga menilai telah terjadi pengalihfungsian terminal jadi pasar akibat ditoleransinya pedagang bermobil berjualan. Berikut rangkumannya.

Menurut Ida Bagus Rai salah seorang warga Gianyar yang tinggal di Denpasar, jika muncul demo berarti ada keluhan, dan secepatnya harus ditangani. Wakil rakyat dituntut proaktif turun ke bawah guna memantau perkembangan peristiwa di lapangan. ''Sebaliknya, masyarakat juga jangan macam-macam terhadap pemerintah,'' sarannya. Ia meminta agar pedagang yang di luar dan di dalam pasar agar menjual dagangan yang berbeda.

Gung Oka di Gianyar mengusulkan supaya aspirasi itu ditampung di lingkungan pasar dulu. ''Aturan main harus ditaati. Pedagang janur, bawang, cabai hendaknya mulai buka pukul 03.00 hingga 08.00. Ini harus ditaati,'' tegasnya. Ia menilai kalau terminal dihuni pedagang, itu artinya fungsi terminal sudah beralih fungsi menjadi pasar. Ia memaklumi mengingat kepala pasar sekarang baru menjabat dua bulan. Sejak dijabat kepala pasar baru, setidaknya pedagang sudah tiga kali demo ke DPRD, bupati, maupun asisten III. ''Mungkin kebijakannya semau gue,'' terkanya.

Wawan warga Gianyar bahkan mengaku pernah punya pengalaman membeli pisang pada pedagang bermobil Rp 20.000. Kemungkinan jika sampai di tangan pedagang di dalam pasar bisa mencapai Rp 25.000. ''Saya setuju dengan pedagang bermobil, kemungkinan hanya soal kepala pasar baru ditambah terminal baru,'' sebut Wawan. Menurutnya, bisa saja operasi pedagang bermobil dibatasi.

Jero Wijaya di Bangli menilai pedagang demo sebagai hal yang biasa dan tak ada yang istimewa. Apalgi kali ini merupakan s lanjutan dari aksi demo sebelumnya. ''Demo marak dan hebat kan lima tahun silam, sekarang biasa,'' ujar pria yang mengaku tukang demo ini.

Kadek Sri Gianyar memandang pasar yang dipindah ke terminal baru berdasarkan kebijakan Pemkab akhir Januari lalu. Waktunya ditoleransi dari pukul 03.00 - 06.00 Wita. ''Lewat dari pukul 06.00 harus bersih dan rapi lagi,'' tutur Kadek yang rumahnya dekat pasar. Menurutnya, jika pedagang eceran mau ke pasar tak ada kendaraan umum dan hanya mengandalkan ojek.

Tut De warga Gianyar yang tinggal di Renon mengaku sering mengantarkan istrinya ke dalam pasar Gianyar. ''Kebijakan itu harus ditinjau kembali, karena hanya menyuburkan tukang ojek,'' sarannya. Selain itu, pembeli di dalam pasar harga barangnya makin tinggi. Dikemukakan, lokasi di dalam pasar kini bisa diperjualbelikan meskipun sebatas hak guna pakai. ''Untuk ukuran Gianyar pasar itu cukup besar, cuma konsep tata ruangnya tak jelas,'' nilai Tut De. Timbulnya demo dari pedagang tak bisa dianggap remeh.

Segera Ditangani

Ngurah Kapah juga menekankan agar demo pedagang jangan ditanggapi biasa-biasa saja. Dijelaskannya pedagang bisa menyalurkan aspirasinya ke wakil rakyat, namun apakah sekarang masih di Jakarta. Demo sebagai wujud berani berdemokrasi. Kalau dulu demonya mencekam. Ia menyarankan supaya DPRD punya intel yang mampu menyadap masukan dari pedagang. ''Jangan menunggu pedagang demo. Segera ditangani mengingat mereka bagian dari warga kita,'' ucapnya.

Wak Ada menggarisbawahi, keluhan pedagang di dalam pasar bisa dimaklumi. ''Kalau terminal kan bukan tempat berjualan,'' terangnya. Ia juga tak setuju adanya pedagang bermobil yang memakan lahan parkir.

Nyoman Tirta di Ubud menerangkan keluhannya pedagang pagi di terminal Gianyar dan listrik tak ada kaitannya dengan pembeli. Sinda menilai fungsi terminal untuk menaikkan dan menurunkan barang justru bergeser menjadi pasar. ''Berarti ada terminal didomplengi pasar,'' ungkapnya. Gejolak pedagang bukan demo, menutrut Jujur akibat adanya suara yang tersumbat dan tak tersalurkan. Akibatnya timbul protes. ''Kalau dikatakan demo terlalu sadis,'' akunya. Sebaiknya, hukum atau aturan main yang ditegakkan misalnya mulai pukul berapa hingga pukul berapa harus ditepati.

Selebihnya, Panca di Tabanan menyitir pendapat Nyoman Glebet, ibarat celana dalam dipakai udeng begini jadinya. Jero Gede Bukit Sanggulan menduga demo ini tersulut akibat adanya kecemburuan. Pasalnya pedagang bermobil hanya kena parkir, sedangkan pedagang di dalam pasar dikenakan retribusi macam-macam. Maria malah menyarankan semua pihak harus tertib hukum. Kalau merasa kesulitan ekonomi, hampir melanda seluruh lapisan masyarakat, misalnya tamu sepi. ''Kalau pedagang bermobil artinya bukan dari pedagang ekonomi lemah,'' nilai dia.

Mang Gagik menegaskan, pedagang di dalam pasar merasa dirugikan. Sementara mata rantai perdagangan dari petani, kemudian tengkulak, dan diecer kepada pedagang. Sedangkan Ngurah Ardi di Ubud mempertanyakan mengapa pedagang baru berdemo sekarang, padahal pedagang bermobil kan sudah lama beroperasi? (nel)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)