|
Dari Warung Global ''Interaktif'' Bali Post
Respon Demo
Pedagang, Dewan Harus Proaktif
Sekitar
200 pedagang didominasi kaum ibu berunjuk rasa ke kantor
Bupati Gianyar, Jumat (14/2) lalu. Mereka menyampaikan
unek-uneknya seperti sepinya pembeli di Pasar Gianyar.
Ketika wacana ini diangkat menjadi topik pada acara Warung
Global Interkatif Bali Post yang disiarkan Radio Global FM
99,15 Kini Jani, Sabtu (15/2), masyarakt mendesak agar
dewan segera menyikapinya. Dewan diminta proaktif merespon
keluhan warga. Pada acara warung Global yang juga radio
Genta Swara Sakti Bali FM 106,15, serta Radio Singaraja FM
107,2., masyarakat juga menilai telah terjadi
pengalihfungsian terminal jadi pasar akibat ditoleransinya
pedagang bermobil berjualan. Berikut rangkumannya.
Menurut
Ida Bagus Rai salah seorang warga Gianyar yang tinggal di
Denpasar, jika muncul demo berarti ada keluhan, dan
secepatnya harus ditangani. Wakil rakyat dituntut proaktif
turun ke bawah guna memantau perkembangan peristiwa di
lapangan. ''Sebaliknya, masyarakat juga jangan macam-macam
terhadap pemerintah,'' sarannya. Ia meminta agar pedagang
yang di luar dan di dalam pasar agar menjual dagangan yang
berbeda.
Gung
Oka di Gianyar mengusulkan supaya aspirasi itu ditampung
di lingkungan pasar dulu. ''Aturan main harus ditaati.
Pedagang janur, bawang, cabai hendaknya mulai buka pukul
03.00 hingga 08.00. Ini harus ditaati,'' tegasnya. Ia
menilai kalau terminal dihuni pedagang, itu artinya fungsi
terminal sudah beralih fungsi menjadi pasar. Ia memaklumi
mengingat kepala pasar sekarang baru menjabat dua bulan.
Sejak dijabat kepala pasar baru, setidaknya pedagang sudah
tiga kali demo ke DPRD, bupati, maupun asisten III.
''Mungkin kebijakannya semau gue,'' terkanya.
Wawan
warga Gianyar bahkan mengaku pernah punya pengalaman
membeli pisang pada pedagang bermobil Rp 20.000.
Kemungkinan jika sampai di tangan pedagang di dalam pasar
bisa mencapai Rp 25.000. ''Saya setuju dengan pedagang
bermobil, kemungkinan hanya soal kepala pasar baru
ditambah terminal baru,'' sebut Wawan. Menurutnya, bisa
saja operasi pedagang bermobil dibatasi.
Jero
Wijaya di Bangli menilai pedagang demo sebagai hal yang
biasa dan tak ada yang istimewa. Apalgi kali ini merupakan
s lanjutan dari aksi demo sebelumnya. ''Demo marak dan
hebat kan lima tahun silam, sekarang biasa,'' ujar pria
yang mengaku tukang demo ini.
Kadek
Sri Gianyar memandang pasar yang dipindah ke terminal baru
berdasarkan kebijakan Pemkab akhir Januari lalu. Waktunya
ditoleransi dari pukul 03.00 - 06.00 Wita. ''Lewat dari
pukul 06.00 harus bersih dan rapi lagi,'' tutur Kadek yang
rumahnya dekat pasar. Menurutnya, jika pedagang eceran mau
ke pasar tak ada kendaraan umum dan hanya mengandalkan
ojek.
Tut De
warga Gianyar yang tinggal di Renon mengaku sering
mengantarkan istrinya ke dalam pasar Gianyar. ''Kebijakan
itu harus ditinjau kembali, karena hanya menyuburkan
tukang ojek,'' sarannya. Selain itu, pembeli di dalam
pasar harga barangnya makin tinggi. Dikemukakan, lokasi di
dalam pasar kini bisa diperjualbelikan meskipun sebatas
hak guna pakai. ''Untuk ukuran Gianyar pasar itu cukup
besar, cuma konsep tata ruangnya tak jelas,'' nilai Tut
De. Timbulnya demo dari pedagang tak bisa dianggap remeh.
Segera
Ditangani
Ngurah
Kapah juga menekankan agar demo pedagang jangan ditanggapi
biasa-biasa saja. Dijelaskannya pedagang bisa menyalurkan
aspirasinya ke wakil rakyat, namun apakah sekarang masih
di Jakarta. Demo sebagai wujud berani berdemokrasi. Kalau
dulu demonya mencekam. Ia menyarankan supaya DPRD punya
intel yang mampu menyadap masukan dari pedagang. ''Jangan
menunggu pedagang demo. Segera ditangani mengingat mereka
bagian dari warga kita,'' ucapnya.
Wak Ada
menggarisbawahi, keluhan pedagang di dalam pasar bisa
dimaklumi. ''Kalau terminal kan bukan tempat berjualan,''
terangnya. Ia juga tak setuju adanya pedagang bermobil
yang memakan lahan parkir.
Nyoman
Tirta di Ubud menerangkan keluhannya pedagang pagi di
terminal Gianyar dan listrik tak ada kaitannya dengan
pembeli. Sinda menilai fungsi terminal untuk menaikkan dan
menurunkan barang justru bergeser menjadi pasar. ''Berarti
ada terminal didomplengi pasar,'' ungkapnya. Gejolak
pedagang bukan demo, menutrut Jujur akibat adanya suara
yang tersumbat dan tak tersalurkan. Akibatnya timbul
protes. ''Kalau dikatakan demo terlalu sadis,'' akunya.
Sebaiknya, hukum atau aturan main yang ditegakkan misalnya
mulai pukul berapa hingga pukul berapa harus ditepati.
Selebihnya,
Panca di Tabanan menyitir pendapat Nyoman Glebet, ibarat
celana dalam dipakai udeng begini jadinya. Jero Gede Bukit
Sanggulan menduga demo ini tersulut akibat adanya
kecemburuan. Pasalnya pedagang bermobil hanya kena parkir,
sedangkan pedagang di dalam pasar dikenakan retribusi
macam-macam. Maria malah menyarankan semua pihak harus
tertib hukum. Kalau merasa kesulitan ekonomi, hampir
melanda seluruh lapisan masyarakat, misalnya tamu sepi.
''Kalau pedagang bermobil artinya bukan dari pedagang
ekonomi lemah,'' nilai dia.
Mang
Gagik menegaskan, pedagang di dalam pasar merasa
dirugikan. Sementara mata rantai perdagangan dari petani,
kemudian tengkulak, dan diecer kepada pedagang. Sedangkan
Ngurah Ardi di Ubud mempertanyakan mengapa pedagang baru
berdemo sekarang, padahal pedagang bermobil kan sudah lama
beroperasi? (nel)
|