Anak Pantai
yang Pelopor
PENERIMA
anugerah "Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Tahun 2003"
untuk bidang budaya dan pariwisata asal Bali, I Made Sujana,
adalah mantan anak pantai. Maklum saja, orangtuanya nelayan
sekaligus petani. Dengan berkembangnya objek wisata Tanah Lot,
sulung dari dua bersaudara ini kemudian menjadi pedagang acung.
Jika turis datang, ia berikan bunga pucuk, lalu ia diberikan
uang secara sukarela.
Dengan berkembangnya waktu,
barang dagangannya pun menjadi lebih meningkat. Ia kemudian
menjajakan suvenir atau pun postcard. Namun ketika duduk di
kelas VI SD, ia menjadi tukang foto langsung jadi secara
amatiran. Pekerjaan ini dilakukan bersama anak-anak lain setelah
pulang dari sekolah. "Di daerah lingkungan saya, pekerjaan
menjajakan suvenir sudah biasa dilakukan dan seolah menjadi
tradisi. Yakni bermain sambil mencari uang," katanya.
Selanjutnya, Sujana
melanjutkan pada sekolah SMTK Denpasar, mengambil jurusan
tataboga. Menurutnya ini dilakukan karena ia berpikir bahwa
Tanah Lot pasti menjadi daerah pariwisata, apalagi sudah ada
pembebasan tanah untuk mendirikan Bali Nirwana Resort (BNR).
Nah, dengan adanya kawasan wisata itu, keinginannya untuk
menekuni dunia pariwisata semakin jelas. "Saya berpikiran
sederhana saja, di laut harus belajar bikin jukung atau pancing,
jangan coba-coba belajar bikin cangkul. Begitu juga di daerah
saya ada pariwisata, kenapa tidak mencoba saja," akunya
polos.
Namun, setelah tamat, pria
yang hobi memancing ini tidak diterima di BNR. Ia sedikit kesal
juga. "Padahal sudah ada kesepakatan, kalau mau membebaskan
tanah untuk dibangun BNR, kami akan mendapat dua jatah untuk
bekerja di BNR. Setelah dibebaskan tanahnya, tapi saya tidak
mendapat apa-apa. Sedangkan yang diterima kebanyakan dari luar
Bali.
Selanjutnya saya berpikir
untuk melanjutkan lagi pada sekolah P4B di Renon Denpasar
mencari diploma 1, dengan harapan bisa diterima menjadi pegawai
BNR, ternyata ditolak. Belum puas sampai di situ saya
melanjutkan lagi pada diploma 3 dengan mengambil bidang manjemen
pariwisata. Kalau saja mau jujur, sayalah satu-satunya orang
tamatan diploma 3. Sudah mendapat jatah, memiliki pendidikan
cukup, ditolak lagi,'' cerita Sujana.
Lalu, ia melanjutkan,
"Setelah itu, saya merasa jengah, maka kembali melanjutkan
pada STIA mengambil jurusan admisnistrasi niaga, juga tidak
diterima. Pada saat ditolak itu, saya merasa menjadi orang
terbodoh di Beraban. Maka dari situlah rasa idealisme saya mulai
tumbuh. Mungkin karena sering bergabung dengan
mahasiswa-mahasiswa yang suka demo, maka mulailah saya
mengadakan pergerakan-pergerakan. Lagian, orang-orang Beraban
yang bekerja di situ cuma sebagian kecil."
Dengan dukungan dari
beberapa pihak, Sujana akhirnya menyusun pergerakan mengadakan
negosiasi memperjuangkan orang Beraban sesuai dengan Amdal, RTL
dan RKL bahwa yang diutamakan untuk menjadi pegawai di BNR
adalah masyarakat setempat. Sedangkan kenyataannya, orang
Beraban hanya dipekerjakan 10 - 15 persen. "Padahal
sebelumnya, ada kesepakan kalau tanah dibebaskan untuk didirikan
hotel, minimal satu orang pemilik tanah tersebut akan mendapat
dua jatah inti. Kalau kakek saya melepas tanahnya, berarti saya
juga mendapat dua jatah. Tetapi semua itu hanya omong kosong.
Mencari Satpam saja dari luar, mencari sopir juga dari luar
daerah. Ya sudah. Saya kumpulkan para pemuda untuk mengadakan
protes, karena kalau begini caranya ya nggak benar,"
kenangnya.
Babak berikutnya, 1998
Sujana mengumpulkan para tokoh desa kemudian mengadakan demo
besar-besaran. Padahal sebelumnya, masyarakat Beraban sangat
memproteksi BNR ini, sedangkan daerah lain ribut-ribut dengan
keberadaan BNR. "Malah yang terjadi masyarakat Beraban
cooling down. Karena, mereka sudah dijanjikan yang bagus. Di-PHK
menjadi petani, akan bekerja sebagai roomboy, kan lebih enak.
Jujur saja, para petani itu melihat dari unsur itu saja.
Padahal di balik itu
terdapat banyak efek. Buktinya, masyarakat Beraban tidak siap
menerima uang sebanyak itu. Karena, mereka tidak dididik
memegang uang banyak. Jadi pemakaiannya konsumtif sekali dan
sekarang sudah terbukti banyak. Nah itulah salah satu
ketakutannya," katanya sembari mengatakan pembebasan tanah
itu dilakukan mulai 1990 dan bahkan tahun 1988 sudah ada
pembebasan tanah dengan adanya tentara suka masuk rumah.
Sekali lagi, lebih lanjut
dikatakannya, padahal mereka sudah berjanji menyiapkan
masyarakat Beraban untuk diperkerjakan, tetapi realisasinya
tidak ada. "Makanya BNR itu pernah hancur sekali.
Selanjutnya BNR membuka diri dan masyarakat di sana semakin
membuka diri pula, akhirnya 30 - 60 persen masyarakat Beraban
bekerja di BNR. Itulah gebrakan yang terkeras yang pernah saya
lakukan," kata Sujana.
Di samping itu, ia
menjelaskan tentang Desa Adat Beraban yang memiliki sekitar
delapan sekaa gong dan juga memiliki kelompok kesenian yang
banyak. Apalagi, mereka sudah ditampung di BNR dengan memiliki
jadwal tetap. Menurut Sujana, "Kalau dulu jangan harap bisa
mendapat pentas di hotel, paling-paling hanya menonton truk
mengangkut rombongan kesenian dari depan leneng dengan memegang
arak. Kami tidak mau seperti ayam yang bertelur di lumbung padi,
matinya kelaparan. Dulu ada komentar bahwa ada calo tenaga kerja,
kami tak mau urus itu. Yang jelas, bagaimana masyarakat Beraban
diperdayakan. Dan setelah ada pergerakan, akhirnya ada beberapa
masyarakat Beraban yang sudah dididik, dan langsung diterima
menjadi karyawan."
Bagi Sujana, secara
pribadi pergerakan ini dianggap sebagai pemanasan saja. Namun ia
tidak menampik, suksesnya pergerakan ini juga berkat adanya
dukungan dari tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Karena dengan
bersatu padunya, idealisme semakin kuat, dukungan semakian keras,
ide-ide juga muncul semakin cemerlang. Sehingga ketika ke Tanah
Lot dukungan semakin mengkristal, idealisme semakin kuat. "Saya
sadar, sebaik apa pun konsep yang ada tanpa dukungan dari
masyarakat itu tidak akan pernah terjadi. "Kajian paling
aeng-pun datang dan hitung-hitungan yang paling tepat, kalau
tidak adanya dukungan dari masyarakat saya yakin tidak akan
berhasil," tegasnya.
"Syukur saja
masyarakat Beraban tahu, berpikir sangat wajar dan sehat
sehingga tidak terjadi getaran-getaran di internal. Konflik di
dalam tetap ada. Tapi itu hanya riak-riak. Tetapi jika untuk
kepentingan yang lebih besar masyarakat menjadi besar yang satu
bahasa. Nah, inilah menjadi kebanggaan kami," papar anggota
Bappenas kabupaten Tabanan yang bertugas menjadi KPEL (Kemintraan
Pengembangan Ekonomi Lokal) yang mengaku tidak memiliki hari
libur ini.
***
LALU
tentang penghargaan sebagai pemuda pelopor itu? Untuk menjadi
pemuda pelopor, sebelunya sama sekali Sujana tidak tahu. "Dulu
saya kira itu datangnya dari Partai Pelopor, ha ha ha. Saya
tidak mengerti. Awalnya, bapak Camat Kediri memanggil saya
ditawari untuk mengikuti kompetisi pemilihan pemuda pelopor
bersama Disbudpar Tabanan. Setelah setuju, selanjutnya saya
pergi ke Kepala Desa dan Bendesa Adat untuk merekomendasikan
yang kebetulan juga didukung oleh para tokoh Beraban,"
ceritanya. Sujana merinci, pertama diadakan seleksi pada tingkat
kabupaten yang diikuti oleh enam orang. Terus muncul satu orang
menjadi pemuda pelopor untuk tingkat kabupaten, lalu semua
kabupaten membawa ke propinsi. Selanjutnya muncullah pemuda
pelopor tingkat propinsi yang jumlahnya empat orang. Ada bidang
kewirausahaan, pariwisata budaya dan ada kesukarelawanan. Inilah
yang muncul ke tingkat nasional, tapi yang dikirim hanya dua
orang yakni dalam bidang pariwisata budaya dan kewirausahaan
dari Bali. "Di tingkat nasional, yang mendapat bidang
pariwisata budaya itu ada dua orang, saya dari Bali dan satu
dari Yogyakarta," ujarnya.
Lalu di Jakarta ada tes
lagi? Menurut Sujana, tes di tingkat nasional itu tidak ada.
"Justru timnya datang ke Bali, seperti dilakukan verifikasi,
cek keaslian. Tim dari Jakarta datang diantar oleh tim propinsi
ke lapangan. Tim ini seperti mengadakan sidak, semuanya
diperiksa. Pokoknya banyak sekali. Ternyata, ketika dipanggil ke
Jakarta itu sebenarnya saya sudah sebagai pemuda pelopor.
Sehingga di Jakarta menerima penghargaan saja, juga bisa bertemu
dengan para menteri terkait dengan kepeloporannya," tutur
Sujana.
Penghargaan pemuda pelopor
diterima Sujana pada 28 Oktober 2003, bertepatan dengan Hari
Sumpah Pemuda yang diserahkan oleh Mendiknas. "Mau bukti,
saya banyak kliping kegiatan yang sempat ada di koran. Juga
lengkap dengan foto-foto, kliping, bagaimana studi kelayakannya,
bagaimana klausul pengajuannya, bagaimana tingkat
perkembangannya setelah dikelola, bagaimana konsep ke depan,
bagaimana sejarahnya, semua itu masih ada. Mungkin itulah yang
dinilai tim," akunya. (bud/tin)
|