kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 30 Nopember 2003 tarukan valas
 

POTRET


Anak Pantai yang Pelopor

PENERIMA anugerah "Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Tahun 2003" untuk bidang budaya dan pariwisata asal Bali, I Made Sujana, adalah mantan anak pantai. Maklum saja, orangtuanya nelayan sekaligus petani. Dengan berkembangnya objek wisata Tanah Lot, sulung dari dua bersaudara ini kemudian menjadi pedagang acung. Jika turis datang, ia berikan bunga pucuk, lalu ia diberikan uang secara sukarela.

Dengan berkembangnya waktu, barang dagangannya pun menjadi lebih meningkat. Ia kemudian menjajakan suvenir atau pun postcard. Namun ketika duduk di kelas VI SD, ia menjadi tukang foto langsung jadi secara amatiran. Pekerjaan ini dilakukan bersama anak-anak lain setelah pulang dari sekolah. "Di daerah lingkungan saya, pekerjaan menjajakan suvenir sudah biasa dilakukan dan seolah menjadi tradisi. Yakni bermain sambil mencari uang," katanya.

Selanjutnya, Sujana melanjutkan pada sekolah SMTK Denpasar, mengambil jurusan tataboga. Menurutnya ini dilakukan karena ia berpikir bahwa Tanah Lot pasti menjadi daerah pariwisata, apalagi sudah ada pembebasan tanah untuk mendirikan Bali Nirwana Resort (BNR). Nah, dengan adanya kawasan wisata itu, keinginannya untuk menekuni dunia pariwisata semakin jelas. "Saya berpikiran sederhana saja, di laut harus belajar bikin jukung atau pancing, jangan coba-coba belajar bikin cangkul. Begitu juga di daerah saya ada pariwisata, kenapa tidak mencoba saja," akunya polos.

Namun, setelah tamat, pria yang hobi memancing ini tidak diterima di BNR. Ia sedikit kesal juga. "Padahal sudah ada kesepakatan, kalau mau membebaskan tanah untuk dibangun BNR, kami akan mendapat dua jatah untuk bekerja di BNR. Setelah dibebaskan tanahnya, tapi saya tidak mendapat apa-apa. Sedangkan yang diterima kebanyakan dari luar Bali.

Selanjutnya saya berpikir untuk melanjutkan lagi pada sekolah P4B di Renon Denpasar mencari diploma 1, dengan harapan bisa diterima menjadi pegawai BNR, ternyata ditolak. Belum puas sampai di situ saya melanjutkan lagi pada diploma 3 dengan mengambil bidang manjemen pariwisata. Kalau saja mau jujur, sayalah satu-satunya orang tamatan diploma 3. Sudah mendapat jatah, memiliki pendidikan cukup, ditolak lagi,'' cerita Sujana.

Lalu, ia melanjutkan, "Setelah itu, saya merasa jengah, maka kembali melanjutkan pada STIA mengambil jurusan admisnistrasi niaga, juga tidak diterima. Pada saat ditolak itu, saya merasa menjadi orang terbodoh di Beraban. Maka dari situlah rasa idealisme saya mulai tumbuh. Mungkin karena sering bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa yang suka demo, maka mulailah saya mengadakan pergerakan-pergerakan. Lagian, orang-orang Beraban yang bekerja di situ cuma sebagian kecil."

Dengan dukungan dari beberapa pihak, Sujana akhirnya menyusun pergerakan mengadakan negosiasi memperjuangkan orang Beraban sesuai dengan Amdal, RTL dan RKL bahwa yang diutamakan untuk menjadi pegawai di BNR adalah masyarakat setempat. Sedangkan kenyataannya, orang Beraban hanya dipekerjakan 10 - 15 persen. "Padahal sebelumnya, ada kesepakan kalau tanah dibebaskan untuk didirikan hotel, minimal satu orang pemilik tanah tersebut akan mendapat dua jatah inti. Kalau kakek saya melepas tanahnya, berarti saya juga mendapat dua jatah. Tetapi semua itu hanya omong kosong. Mencari Satpam saja dari luar, mencari sopir juga dari luar daerah. Ya sudah. Saya kumpulkan para pemuda untuk mengadakan protes, karena kalau begini caranya ya nggak benar," kenangnya.

Babak berikutnya, 1998 Sujana mengumpulkan para tokoh desa kemudian mengadakan demo besar-besaran. Padahal sebelumnya, masyarakat Beraban sangat memproteksi BNR ini, sedangkan daerah lain ribut-ribut dengan keberadaan BNR. "Malah yang terjadi masyarakat Beraban cooling down. Karena, mereka sudah dijanjikan yang bagus. Di-PHK menjadi petani, akan bekerja sebagai roomboy, kan lebih enak. Jujur saja, para petani itu melihat dari unsur itu saja.

Padahal di balik itu terdapat banyak efek. Buktinya, masyarakat Beraban tidak siap menerima uang sebanyak itu. Karena, mereka tidak dididik memegang uang banyak. Jadi pemakaiannya konsumtif sekali dan sekarang sudah terbukti banyak. Nah itulah salah satu ketakutannya," katanya sembari mengatakan pembebasan tanah itu dilakukan mulai 1990 dan bahkan tahun 1988 sudah ada pembebasan tanah dengan adanya tentara suka masuk rumah.

Sekali lagi, lebih lanjut dikatakannya, padahal mereka sudah berjanji menyiapkan masyarakat Beraban untuk diperkerjakan, tetapi realisasinya tidak ada. "Makanya BNR itu pernah hancur sekali. Selanjutnya BNR membuka diri dan masyarakat di sana semakin membuka diri pula, akhirnya 30 - 60 persen masyarakat Beraban bekerja di BNR. Itulah gebrakan yang terkeras yang pernah saya lakukan," kata Sujana.

Di samping itu, ia menjelaskan tentang Desa Adat Beraban yang memiliki sekitar delapan sekaa gong dan juga memiliki kelompok kesenian yang banyak. Apalagi, mereka sudah ditampung di BNR dengan memiliki jadwal tetap. Menurut Sujana, "Kalau dulu jangan harap bisa mendapat pentas di hotel, paling-paling hanya menonton truk mengangkut rombongan kesenian dari depan leneng dengan memegang arak. Kami tidak mau seperti ayam yang bertelur di lumbung padi, matinya kelaparan. Dulu ada komentar bahwa ada calo tenaga kerja, kami tak mau urus itu. Yang jelas, bagaimana masyarakat Beraban diperdayakan. Dan setelah ada pergerakan, akhirnya ada beberapa masyarakat Beraban yang sudah dididik, dan langsung diterima menjadi karyawan."

Bagi Sujana, secara pribadi pergerakan ini dianggap sebagai pemanasan saja. Namun ia tidak menampik, suksesnya pergerakan ini juga berkat adanya dukungan dari tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Karena dengan bersatu padunya, idealisme semakin kuat, dukungan semakian keras, ide-ide juga muncul semakin cemerlang. Sehingga ketika ke Tanah Lot dukungan semakin mengkristal, idealisme semakin kuat. "Saya sadar, sebaik apa pun konsep yang ada tanpa dukungan dari masyarakat itu tidak akan pernah terjadi. "Kajian paling aeng-pun datang dan hitung-hitungan yang paling tepat, kalau tidak adanya dukungan dari masyarakat saya yakin tidak akan berhasil," tegasnya.

"Syukur saja masyarakat Beraban tahu, berpikir sangat wajar dan sehat sehingga tidak terjadi getaran-getaran di internal. Konflik di dalam tetap ada. Tapi itu hanya riak-riak. Tetapi jika untuk kepentingan yang lebih besar masyarakat menjadi besar yang satu bahasa. Nah, inilah menjadi kebanggaan kami," papar anggota Bappenas kabupaten Tabanan yang bertugas menjadi KPEL (Kemintraan Pengembangan Ekonomi Lokal) yang mengaku tidak memiliki hari libur ini.

***

LALU tentang penghargaan sebagai pemuda pelopor itu? Untuk menjadi pemuda pelopor, sebelunya sama sekali Sujana tidak tahu. "Dulu saya kira itu datangnya dari Partai Pelopor, ha ha ha. Saya tidak mengerti. Awalnya, bapak Camat Kediri memanggil saya ditawari untuk mengikuti kompetisi pemilihan pemuda pelopor bersama Disbudpar Tabanan. Setelah setuju, selanjutnya saya pergi ke Kepala Desa dan Bendesa Adat untuk merekomendasikan yang kebetulan juga didukung oleh para tokoh Beraban," ceritanya. Sujana merinci, pertama diadakan seleksi pada tingkat kabupaten yang diikuti oleh enam orang. Terus muncul satu orang menjadi pemuda pelopor untuk tingkat kabupaten, lalu semua kabupaten membawa ke propinsi. Selanjutnya muncullah pemuda pelopor tingkat propinsi yang jumlahnya empat orang. Ada bidang kewirausahaan, pariwisata budaya dan ada kesukarelawanan. Inilah yang muncul ke tingkat nasional, tapi yang dikirim hanya dua orang yakni dalam bidang pariwisata budaya dan kewirausahaan dari Bali. "Di tingkat nasional, yang mendapat bidang pariwisata budaya itu ada dua orang, saya dari Bali dan satu dari Yogyakarta," ujarnya.

Lalu di Jakarta ada tes lagi? Menurut Sujana, tes di tingkat nasional itu tidak ada. "Justru timnya datang ke Bali, seperti dilakukan verifikasi, cek keaslian. Tim dari Jakarta datang diantar oleh tim propinsi ke lapangan. Tim ini seperti mengadakan sidak, semuanya diperiksa. Pokoknya banyak sekali. Ternyata, ketika dipanggil ke Jakarta itu sebenarnya saya sudah sebagai pemuda pelopor. Sehingga di Jakarta menerima penghargaan saja, juga bisa bertemu dengan para menteri terkait dengan kepeloporannya," tutur Sujana.

Penghargaan pemuda pelopor diterima Sujana pada 28 Oktober 2003, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda yang diserahkan oleh Mendiknas. "Mau bukti, saya banyak kliping kegiatan yang sempat ada di koran. Juga lengkap dengan foto-foto, kliping, bagaimana studi kelayakannya, bagaimana klausul pengajuannya, bagaimana tingkat perkembangannya setelah dikelola, bagaimana konsep ke depan, bagaimana sejarahnya, semua itu masih ada. Mungkin itulah yang dinilai tim," akunya. (bud/tin)


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com