kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 30 Nopember 2003 tarukan valas
 

POTRET


I Made Sujana

Takut Perkembangan Pariwisata Kaburkan Batasan Wilayah Suci

Serangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2003, Pemerintah RI telah memberikan penghargaan kepada 17 pemuda Indonesia sebagai "Pemuda Pelopor Tingkat Nasional tahun 2003". Para pemuda tersebut berasal dari seluruh wilayah Indonesia, mereka telah menunjukkan kepeloporannya di bidangnya masing-masing. Nilai kepeloporan mereka tidak saja dalam wacana atau konsep, namun lebih di tingkat action -- berbuat sesuatu yang positif secara nyata untuk kepentingan orang banyak. Salah satu di antara mereka adalah I Made Sujana, asal Beraban, Kediri, Tabanan. Pria berambut gondrong dan ayah satu anak ini telah melakukan serangkaian gerakan kepeloporan -- "berjuang" tanpa kenal letih di bidang budaya dan pariwisata -- setidaknya untuk kepentingan daerah lingkungannya, Beraban. Bagaimana cerita rincinya, berikut wawancara Bali Post dengan I Made Sujana.

------------------ 

BAGAIMANA ihwalnya Anda bisa terpilih sebagai "Pemuda Pelopor" di bidang budaya dan pariwisata?
Sebenarnya berawal dari Tanah Lot. Kebetulan saya asli penduduk Desa Beraban, Tabanan. Sejak kecil, sekitar 1979 sebelum pariwisata berkembang benar seperti seramai sekarang, saya sudah mengamati semua, bagaimana perkembangan Tanah Lot itu. Dan yang saya tahu, setelah 1970-an ke atas pariwisata itu mulai bagus. Nah, berdasarkan itu saya menjadi tertarik menekuni pariwisata dari segi pendidikan yang pada tingkatan teknis saja.

Lalu, fenomena apa yang memancing pikiran Anda untuk berbuat sesuatu?
Setelah perkembangan dari tahun ke tahun, ternyata Tanah Lot itu kontribusinya terhadap masyarakat setempat saya lihat tidak signifikan. Artinya, masyarakat di situ harus bersaing dengan masyarakat luar yang memiliki modal besar -- misalnya untuk membuat warung, artshop dan lain sebagainya. Bagi saya, objek yang sudah dikenal seluruh dunia itu hasilnya sangat besar, sedangkan masukan buat masyarakat setempat tidak ada, baik dari unsur finansial maupun sosialnya. Melihat hal itu, saya dan teman-teman tokoh masyarakat mulai kumpul-kumpul kemudian membicarakan. Sebelumnya, hal ini sudah disadari oleh masyarakat bahwa ada yang salah sistem pengelolaan Tanah Lot.

Apakah sebelumnya sudah ada semacam pergerakan untuk itu?
Ada. Sudah dua kali kami melakukan pergerakan untuk memperjuangkan hak masyarakat. Bahkan, sejak almarhum bapak kepala desa, sudah ada upaya memperjuangkan.

Jelasnya bagaimana?
Begini, sekitar tahun 1998 terjadi perubahan sistem politik, pemilu, otonomi daerah dan segala macam. Saya mulai melakukan survei dari tahun 1997. Memang, asumsi masyarakat dulu, Tanah Lot layaknya dikelola oleh desa adat setempat. Tetapi sayang, saat itu kami belum memiliki argumentasi yang cukup kuat karena dipengaruhi oleh sistem pemerintahan yang dulu. Tetapi setelah digulirkannya undang-undang otonomi daerah, kemudian saya mencoba untuk mencari data di bawah dengan mengadakan survei, observasi, dan segala macam. Ternyata, dari data-data yang diterima, ditemukan bahwa pendapatan dari pengelolaan Tanah Lot sangat besar. Misalnya saja, dari menghitung mobil yang masuk lengkap dengan orangnya, itu bisa mendapatkan pemasukan yang besar.

Mulai dari situlah kami mengumpulkan data, juga mengadakan studi kelayakan. Berdasarkan itulah kami berusaha keras untuk bisa mengelola Tanah Lot. Hal ini juga dibantu oleh tokoh-tokoh pemuda, termasuk bendesa adat, juga tokoh yang berkecimpung di politik. Semua tokoh ini mendukung, membimbing dan men-support kami secara penuh dan akhirnya kami bisa membuat suatu usulan. Tapi perjuangan ini bisa berjalan sukses justru berkat dukungan dari masyarakat yang dibuktikan dengan pengumpulan tanda tangan.

Pergerakan tersebut atas nama forum, asosiasi tertentu, atau secara pribadi?
Pergerakan itu boleh dikata berawal sejak terpilihnya saya menjadi koordinator pemuda, kemudian diangkat menjadi ketua Karang Taruna. Tapi mencuatnya pergerakan sejak adanya Gapera (Gabungan Pemuda Beraban) yang merupakan sebuah LSM. Gapera ini merupakan garda terdepan kami untuk mengadakan provokasi dan lain sebagainya. Untuk mengadakan pergerakan itu, saya awali dengan mengadakan strategi-strategi, baik dalam politik, sosial dan sebagainya. Semua anggota masyarakat, pemuda dan tokoh-tokohnya bersatu. Syukurlah, akhirnya gerak kami disetujui oleh Bupati Tabanan. Juga berkat upaya kami melobi DPRD untuk membuat Pansus kemudian merekonmendasikan pengkajian.

Bagaimana dengan pola atau sistem pengelolaan objek wisata Tanah Lot yang sudah ada sebelumnya?
Pola pengelolaan yang lama itu sistem kontrak selama 11 tahun, sedangkan dari kajian aspek legal atau hukum itu sudah sangat tidak dimungkinkan pada waktu itu. Padahal sistem pungutan retribusi waktu itu tidak boleh dikontrakkan. Yang paling berhak memungut retribusi atau pengelolaan suatu objek itu jelas-jelas dikatakan adalah desa adat setempat. Tapi, dengan alasan masyarakat tidak memiliki keahlian, SDM-nya rendah, dan segala macam itu sebagai alasan pembenar, upaya kami tidak berhasil. Upaya ini bukan saya lakukan sekali saja, bahkan kami sampai berjuang ke Jakarta. Lebih nyatanya lagi, kami sudah pernah ikut tender, tetapi dikalahkan juga. Bukan kalah, tapi dikalahkan. Kemudian pemuda dan semua pihak masuk menjadi satu, jadi sebuah power yang cukup besar. Pada Juli 2000, akhirnya pengelolaan objek wisata Tanah Lot diserahkan secara teknis kepada desa adat.

Jadi, pastinya sudah berapa lama objek wisata Tanah Lot dikelola sendiri berdasarkan dampak pergerakan yang telah Anda lakukan? Terus, sejauh mana sistem yang diterapkan dan apakah hasil itu sudah bisa dinikmati masyarakat Beraban itu sendiri?
Sekarang ini sudah hampir tiga tahunan. Dulu, kontraknya sekitar Rp 300 juta per tahun kepada Pemda saja dan yang lainnya tidak. Sekarang, pengelolaan Tanah Lot menggunakan sistem kemitraan dengan membentuk manajemen yang anggotanya terdiri dari pemerintah daerah, pihak swasta dan masyarakat setempat. Ini dilakukan untuk menghindari konflik pada saat itu. Maklum saja, suasana sudah panas karena di satu sisi masyarakat memiliki suatu keinginan, sedangkan di satu sisi lagi Tanah Lot itu sudah dikontrak oleh salah satu badan swasta. Untuk ini, maka diambil sistem pengelolaan kemitraan. Jadi, pada tingkat pembagian hasil dilakukanlah sharing, tapi tidak berlaku pada pekerjaannya. Karena, yang bekerja secara operasional adalah kami dari pihak desa adat.

Soal pembagian keuntungan?
Dari keuntungan itu, Pemda mendapat 55 persen sebagai PAD, desa adat 20 persen, CV Arijasa 15 persen, dan 5 persen disisihkan untuk pura-pura yang ada di Tanah Lot. Serta 5 persen lagi untuk desa adat satu Kecamatan Kediri, demi untuk menjaga eksistensi adat dan budaya, kelangsungan apacara adat dan keagamaan Tri Khayangan yang ada. Nah, seperti itulah sekarang dampaknya. Kalau dulu, kan cuma untuk pihak swasta dan Pemda saja, sedangkan kalau masyarakat kepingin ya harus berebut di situ. Walau sekarang hal itu tetap terjadi, tapi kelebihannya bisa dimeratakan dan hasilnya jauh lebih besar. Saya rasa ini sudah lari kepada sistem pengendalian internal dan sistem manajemen yang ada. Transparansinya sudah ada, tidak ada lagi kasus tiket palsu, tawar-menawar harga, permainan staf depan untuk nego harga, dan sebagainya. Sekarang, kalau pun ada nego, diskonnya harus resmi karena sudah ditentukan Perda. Misalnya, untuk anak sekolah diskon 5 persen.

Bagaimana soal dampak sikap masyarakat Beraban sendiri?
Masyarakat sudah menjadi lebih peduli. Buktinya, pada sejumlah bangunan di wilayah itu, mereka cenderung sudah mulai melakukan upaya-upaya protektif. Bagi mereka (masyarakat Beraban, red), Tanah Lot merupakan suatu kawasan wisata religius, di mana budaya, adat, agama, harus dikedepankan. Di samping itu, mereka juga mengedepankan unsur penataan, menjaga ketertiban pedagang, menjaga kesucian juga pelestarian daripada situs-situs budaya yang ada. Dengan makin terpeliharanya kesucian areal, objek itu akan menjadi lebih menarik, inilah paham kami masyarakat Beraban. Untuk menata kawasan, kami mencoba menciptakan konsep-konsep baru, meskipun sering terbentur dengan pendanaan. Kami sadar tidak gampang melakukan semua itu kalau sumber pendanaannya tidak bagus. Mudah-mudahan saja, Pemda memberikan perhatian yang lebih sehingga bisa menyajikan Tanah Lot betul-betul memiliki konsep yang berlandaskan konsep Tri Hita Karana dan Tri Mandala. Dengan begitu Tanah Lot itu memiliki keselarasan, kemudian setiap wilayah itu memiliki tingkatan wilayah-wilayah seperti utamaning mandala, madyaning mandala dan nistaning mandala.

***

Dalam penataan wilayah, apakah ada upaya-upaya khusus?
Sekarang, pada nistaning mandala kita sudah menata menjadi sebuah taman yadnya. Taman ini memiliki tanaman-tanaman bunga yang dapat dipergunakan untuk kegiatan upacara yadnya. Tanaman di situ tidak bisa dipetik sembarangan, apalagi menjualnya, terkecuali bila ada kegiatan upacara. Sedangkan di sebelahnya, dibuat hutan yadnya yang khusus untuk tanaman keras seperti berbagai jenis kelapa, kayu, bambu, tebu, ancak bingin, cemara geseng, dan lain sebagainya yang sulit dicari. Dengan adanya tanaman yadnya ini kami berharap pura-pura lain yang membutuhkannya bisa mencari di Tanah Lot.

Mulai kapan program taman itu dibuat dan dioperasikan?
Sejak kami diberikan untuk mengelola wisata Tanah Lot, program seperti itu sudah ada. Ketika wilayah lain atau pura-pura besar membutuhkan tanaman yadnya, jawabannya: ambil di Tanah Lot.

Dalam konteks budaya dan pariwisata, bagi Anda, sejauh mana "taman yadnya" itu bermakna?
Dari taman yadnya itu bisa dijelaskan tentang filosofi atau budaya. Dalam satu pohon akan bisa dijelaskan panjang lebar, tentunya itu tergantung dari wawasan guide. Ya, katakanlah misalnya pohon base yang diambil di taman yadnya, ini bisa diterjemahkan dari pagi hingga sore. Hal ini memunculkan trend pariwisata yang bisa kita ciptakan sendiri. Quality-nya daripada tourism adalah pemahaman turis terhadap budaya kita yang dimunculkan lewat taman yadnya. Kami tidak akan mungkin membangun kasino, diskotek, live music dan sebagainya. Itulah daya tarik yang kami andalkan.

Selain "taman yadnya", potensi apa lagi yang Anda kembangkan?
Kami juga memiliki atraksi wisata. Atraksi ini tetap nuansanya religius tradisional. Kalau toh atraksi itu berupa live music, itu harus live music Bali, bukan live music Madonna.

Apa itu sudah dilakukan?
Sudah. Tapi, pada saat ini sifatnya hanya on request. Misalnya, diorder atraksi Kecak, dan lain sebagainya, dengan harganya sekian-sekian. Di sini kami bisa bantu view-nya yang bagus. Kalau ingin sunset time-nya, kalau ingin di tepi pantai, kita menyediakan apa pun itu. Saat ini sudah kami lakukan. Ya, sekalian untuk pemberdayaan desa adat Beraban yang kebetulan wilayah desa adat ini hanya satu kawasan desa adat. Jadi, betul-betul kami memberdayakan segala potensi yang ada di wilayah desa adat sendiri. Kalau NBR (Nirwana Bali Resort) memerlukan kesenian, yang diutamakan adalah desa adat Beraban. Jadi, semua itu sudah jalan. Saat ini sudah ada yayasan yang bergerak di bidang itu. Kalau di bidang kesenian sudah ada yang mengurusnya. Bersama dengan NBR, kami juga akan membentuk sebuah Lembaga Pengembangan Bisnis.

Maksud Anda, lembaga itu menangani semisal industri kerajinan?
Ya. Ini diharapkan akan menjadi muara dari hasil karya orang-orang Beraban yang bisa kami kembangkan. Mudah-mudahan ini bisa direstui, jadi kami bisa membentuk kelompok-kelompok usaha di masyarakat. Kenapa tidak, desa adat Beraban memiliki potensi wilayah yang dapat diandalkan, seperti NBR dan wisata Tanah Lot. Sedangkan potensi perajin dan petani akan diberdayakan dalam internal dulu. Nantinya kami juga ingin menciptakan ekonomi kerakyatan.

Bagaimana keterkaitannya dengan kawasan wisata lain di Tabanan yaang belum atau sudah berkembang?
Kami memiliki konsep pengembangan pariwisata di daerah Tabanan dengan motto "starting and the beginning from Beraban". Kami akan mulai melakukan pengembangan dari Beraban. Dengan berkembangnya itu, kami harap mampu mengangkat citra daripada kawasan-kawasan dari wisata lain yang belum dan yang sudah berkembang di Tabanan. Pada produk, komoditas, dan produksi, kami akan melalui starting dari sini. Melalui event dalam jangka kecil, kami akan melakukan pameran. Kenapa Nusa Dua memiliki "Festival Nusa Dua" dan kami di Tabanan tidak memiliki "Tanah Lot Festival" misalnya. Jika itu bisa dilaksanakan, akan semakin terangkatlah citra Tanah Lot sendiri. Tanah Lot ternyata ada Tabanan. Nah, Tabanan akan bisa dikenal melalui Tanah Lot karena Tanah Lot sendiri marketshare-nya dari seluruh dunia. Kenapa kita harus jauh-jauh memamerkan, misalnya harus ke Arab? Orang Arab datang ke kita, kenapa kita tidak memamerkan di situ?

***

Dulu, ketika Anda memulai pergerakan untuk "membangun" Beraban, apa tantangan yang paling Anda rasakan?
Ego sektoral. Ini disebabkan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap objek Tanah Lot banyak. Juga pemahaman masyarakat tentang pengelolaan secara internal, itu juga ada gesekan. Tetapi, ketika kami mampu buktikan, akhirnya mereka bisa menyadari dan justru dukungan itu berbalik pada ide-ide kami. Sekarang saja masyarakat sudah peduli sekali. Meskipun ada dilontarkan kata-kata mengkritik yang kedengarannya seperti menjatuhkan, namun mereka sebetulnya sangat mendukung. Bahkan, mereka sudah protektif dan melindungi Tanah Lot. Kami betul-betul berdayakan masyarakat sendiri. Di satu sisi dari pengembangan pariwisatanya, dan di sisi lain menjaga keajegan dan kelestarian Tanah Lot. Terus terang saja saya sempat ketakutan, makin pesatnya perkembangan pariwisata akan mengaburkan batasan-batasan wilayah suci. Juga makin banyaknya entertainment akan makin mengaburkan batasan-batasan seni sakral dan modern. Secara perlahan pemahaman masyarakat tentang pengetahuan pariwisata dan budaya kami coba jelaskan.

Di samping faktor ego sektoral?
Masalah ego sektoral memang yang menonjol. Yang kedua, jelas pembuktiannya ada aspek legal. Inilah permasalahannya. Bayangkan saja, Tanah Lot itu bisa dikontrak sampai 11 tahun. Meskipun kami sudah pertanyakan kenapa bisa sampai 11 tahun, jawabannya pun tidak ada. Dan itu tetap harus dipegang. Pola-pola ini masih berjalan. Nah, mudah-mudahan dengan adanya transparansi dan masyarakat sudah berani bersuara, praktik-praktik seperti itu tidak terjadi lagi. Memang sistem pemerintahan sebelum otonomi daerah cukup keras, di samping masyarakatnya polos dan lugu. Sehingga banyak warga masih melihat pekerjaannya besok ketimbang diajak untuk bikin masalah. Ini sangat berbeda dengan sekarang, anak-anak muda yang rata-rata berpendidikan, memiliki pengalaman tidak semudah itu akan diajak. Apalagi sekarang masyarakat sudah merasakan benar dampaknya. Kalau dulu, hanya 10-15 orang yang diperkerjakan masyarakat Beraban, tetapi sekarang ada 160 orang.

Bagaimana sistem pengelolaan para pekerja tersebut?
Kami melaksanakan sistem padat karya. Mereka bergiliran berjaga, setiap Minggu mendapat giliran sekali. Saya pikir, makin banyak yang diajak menjaga objek itu, maka makin banyak pula masyarakat yang akan bersentuhan secara emosional terhadap pekerjaan-pekerjaan yang dihadapi di objek itu. Mereka jadi paham, apa yang harus dia jaga dan apa yang harus dia kerjakan. Nah, ini tentunya akan dikomunikasikan di banjar mereka masing-masing karena para pekerja di situ adalah juga merupakan perwakilan dari masing-masing banjar adat di Beraban.

Secara khusus, apakah ada tantangan di tingkat pemahaman masyarakat?
Ada memang beberapa pemahaman masyarakat yang saat ini menjadi tantangan kita, misalnya masalah menjaga ketertiban. Orang yang berjualan di situ hanya berpikiran bagaimana bisa mencari duit sebanyak mungkin. Sedangkan yang diterapkan dalam manajemen kami, bagaimana tamu yang datang ini merasa senang, nyaman, dan tertib. Untuk itu kami mengadakan pendekatan dengan pihak kelian adat, bendesa adat dan juga yang terkait. Tugas ini memang cukup berat.

* pewawancara: budarsana
                          gusmartin


BIODATA

Nama                 : I Made Sujana, A.Par.,S.sos
Tempat/tgl.lahir : Tabanan, 17 Mei 1973
Nama istri          : Ni Luh Eka Widyantari
Anak                  : Ni Putu Ratih Argita Dewi 

Pendidikan        : S1 Administrasi Bisnis
                            DIII Pariwisata
Alamat               : Br. Batugaing Kaja Beraban, Kediri, Tabanan
Penghargaan       : 
Pemuda Pelopor Bidang Budaya-Pariwisata 
Tingkat Nasinal 2003


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com