I Made Sujana
Takut Perkembangan
Pariwisata Kaburkan Batasan Wilayah Suci
Serangkaian peringatan
Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2003, Pemerintah RI telah
memberikan penghargaan kepada 17 pemuda Indonesia sebagai "Pemuda
Pelopor Tingkat Nasional tahun 2003". Para pemuda tersebut
berasal dari seluruh wilayah Indonesia, mereka telah menunjukkan
kepeloporannya di bidangnya masing-masing. Nilai kepeloporan
mereka tidak saja dalam wacana atau konsep, namun lebih di
tingkat action -- berbuat sesuatu yang positif secara nyata
untuk kepentingan orang banyak. Salah satu di antara mereka
adalah I Made Sujana, asal Beraban, Kediri, Tabanan. Pria
berambut gondrong dan ayah satu anak ini telah melakukan
serangkaian gerakan kepeloporan -- "berjuang" tanpa
kenal letih di bidang budaya dan pariwisata -- setidaknya untuk
kepentingan daerah lingkungannya, Beraban. Bagaimana cerita
rincinya, berikut wawancara Bali Post dengan I Made Sujana.
------------------
BAGAIMANA
ihwalnya Anda bisa terpilih sebagai "Pemuda Pelopor"
di bidang budaya dan pariwisata?
Sebenarnya berawal dari Tanah Lot. Kebetulan saya asli penduduk
Desa Beraban, Tabanan. Sejak kecil, sekitar 1979 sebelum
pariwisata berkembang benar seperti seramai sekarang, saya sudah
mengamati semua, bagaimana perkembangan Tanah Lot itu. Dan yang
saya tahu, setelah 1970-an ke atas pariwisata itu mulai bagus.
Nah, berdasarkan itu saya menjadi tertarik menekuni pariwisata
dari segi pendidikan yang pada tingkatan teknis saja.
Lalu,
fenomena apa yang memancing pikiran Anda untuk berbuat sesuatu?
Setelah perkembangan dari tahun ke tahun, ternyata Tanah Lot itu
kontribusinya terhadap masyarakat setempat saya lihat tidak
signifikan. Artinya, masyarakat di situ harus bersaing dengan
masyarakat luar yang memiliki modal besar -- misalnya untuk
membuat warung, artshop dan lain sebagainya. Bagi saya, objek
yang sudah dikenal seluruh dunia itu hasilnya sangat besar,
sedangkan masukan buat masyarakat setempat tidak ada, baik dari
unsur finansial maupun sosialnya. Melihat hal itu, saya dan
teman-teman tokoh masyarakat mulai kumpul-kumpul kemudian
membicarakan. Sebelumnya, hal ini sudah disadari oleh masyarakat
bahwa ada yang salah sistem pengelolaan Tanah Lot.
Apakah sebelumnya sudah
ada semacam pergerakan untuk itu?
Ada. Sudah dua kali kami melakukan pergerakan untuk
memperjuangkan hak masyarakat. Bahkan, sejak almarhum bapak
kepala desa, sudah ada upaya memperjuangkan.
Jelasnya bagaimana?
Begini, sekitar tahun 1998 terjadi perubahan sistem politik,
pemilu, otonomi daerah dan segala macam. Saya mulai melakukan
survei dari tahun 1997. Memang, asumsi masyarakat dulu, Tanah
Lot layaknya dikelola oleh desa adat setempat. Tetapi sayang,
saat itu kami belum memiliki argumentasi yang cukup kuat karena
dipengaruhi oleh sistem pemerintahan yang dulu. Tetapi setelah
digulirkannya undang-undang otonomi daerah, kemudian saya
mencoba untuk mencari data di bawah dengan mengadakan survei,
observasi, dan segala macam. Ternyata, dari data-data yang
diterima, ditemukan bahwa pendapatan dari pengelolaan Tanah Lot
sangat besar. Misalnya saja, dari menghitung mobil yang masuk
lengkap dengan orangnya, itu bisa mendapatkan pemasukan yang
besar.
Mulai dari situlah kami
mengumpulkan data, juga mengadakan studi kelayakan. Berdasarkan
itulah kami berusaha keras untuk bisa mengelola Tanah Lot. Hal
ini juga dibantu oleh tokoh-tokoh pemuda, termasuk bendesa adat,
juga tokoh yang berkecimpung di politik. Semua tokoh ini
mendukung, membimbing dan men-support kami secara penuh dan
akhirnya kami bisa membuat suatu usulan. Tapi perjuangan ini
bisa berjalan sukses justru berkat dukungan dari masyarakat yang
dibuktikan dengan pengumpulan tanda tangan.
Pergerakan tersebut atas
nama forum, asosiasi tertentu, atau secara pribadi?
Pergerakan itu boleh dikata berawal sejak terpilihnya saya
menjadi koordinator pemuda, kemudian diangkat menjadi ketua
Karang Taruna. Tapi mencuatnya pergerakan sejak adanya Gapera (Gabungan
Pemuda Beraban) yang merupakan sebuah LSM. Gapera ini merupakan
garda terdepan kami untuk mengadakan provokasi dan lain
sebagainya. Untuk mengadakan pergerakan itu, saya awali dengan
mengadakan strategi-strategi, baik dalam politik, sosial dan
sebagainya. Semua anggota masyarakat, pemuda dan tokoh-tokohnya
bersatu. Syukurlah, akhirnya gerak kami disetujui oleh Bupati
Tabanan. Juga berkat upaya kami melobi DPRD untuk membuat Pansus
kemudian merekonmendasikan pengkajian.
Bagaimana dengan pola atau
sistem pengelolaan objek wisata Tanah Lot yang sudah ada
sebelumnya?
Pola pengelolaan yang lama itu sistem kontrak selama 11 tahun,
sedangkan dari kajian aspek legal atau hukum itu sudah sangat
tidak dimungkinkan pada waktu itu. Padahal sistem pungutan
retribusi waktu itu tidak boleh dikontrakkan. Yang paling berhak
memungut retribusi atau pengelolaan suatu objek itu jelas-jelas
dikatakan adalah desa adat setempat. Tapi, dengan alasan
masyarakat tidak memiliki keahlian, SDM-nya rendah, dan segala
macam itu sebagai alasan pembenar, upaya kami tidak berhasil.
Upaya ini bukan saya lakukan sekali saja, bahkan kami sampai
berjuang ke Jakarta. Lebih nyatanya lagi, kami sudah pernah ikut
tender, tetapi dikalahkan juga. Bukan kalah, tapi dikalahkan.
Kemudian pemuda dan semua pihak masuk menjadi satu, jadi sebuah
power yang cukup besar. Pada Juli 2000, akhirnya pengelolaan
objek wisata Tanah Lot diserahkan secara teknis kepada desa adat.
Jadi, pastinya sudah
berapa lama objek wisata Tanah Lot dikelola sendiri berdasarkan
dampak pergerakan yang telah Anda lakukan? Terus, sejauh mana
sistem yang diterapkan dan apakah hasil itu sudah bisa dinikmati
masyarakat Beraban itu sendiri?
Sekarang ini sudah hampir tiga tahunan. Dulu, kontraknya sekitar
Rp 300 juta per tahun kepada Pemda saja dan yang lainnya tidak.
Sekarang, pengelolaan Tanah Lot menggunakan sistem kemitraan
dengan membentuk manajemen yang anggotanya terdiri dari
pemerintah daerah, pihak swasta dan masyarakat setempat. Ini
dilakukan untuk menghindari konflik pada saat itu. Maklum saja,
suasana sudah panas karena di satu sisi masyarakat memiliki
suatu keinginan, sedangkan di satu sisi lagi Tanah Lot itu sudah
dikontrak oleh salah satu badan swasta. Untuk ini, maka diambil
sistem pengelolaan kemitraan. Jadi, pada tingkat pembagian hasil
dilakukanlah sharing, tapi tidak berlaku pada pekerjaannya.
Karena, yang bekerja secara operasional adalah kami dari pihak
desa adat.
Soal pembagian keuntungan?
Dari keuntungan itu, Pemda mendapat 55 persen sebagai PAD, desa
adat 20 persen, CV Arijasa 15 persen, dan 5 persen disisihkan
untuk pura-pura yang ada di Tanah Lot. Serta 5 persen lagi untuk
desa adat satu Kecamatan Kediri, demi untuk menjaga eksistensi
adat dan budaya, kelangsungan apacara adat dan keagamaan Tri
Khayangan yang ada. Nah, seperti itulah sekarang dampaknya.
Kalau dulu, kan cuma untuk pihak swasta dan Pemda saja,
sedangkan kalau masyarakat kepingin ya harus berebut di situ.
Walau sekarang hal itu tetap terjadi, tapi kelebihannya bisa
dimeratakan dan hasilnya jauh lebih besar. Saya rasa ini sudah
lari kepada sistem pengendalian internal dan sistem manajemen
yang ada. Transparansinya sudah ada, tidak ada lagi kasus tiket
palsu, tawar-menawar harga, permainan staf depan untuk nego
harga, dan sebagainya. Sekarang, kalau pun ada nego, diskonnya
harus resmi karena sudah ditentukan Perda. Misalnya, untuk anak
sekolah diskon 5 persen.
Bagaimana soal dampak
sikap masyarakat Beraban sendiri?
Masyarakat sudah menjadi lebih peduli. Buktinya, pada sejumlah
bangunan di wilayah itu, mereka cenderung sudah mulai melakukan
upaya-upaya protektif. Bagi mereka (masyarakat Beraban, red),
Tanah Lot merupakan suatu kawasan wisata religius, di mana
budaya, adat, agama, harus dikedepankan. Di samping itu, mereka
juga mengedepankan unsur penataan, menjaga ketertiban pedagang,
menjaga kesucian juga pelestarian daripada situs-situs budaya
yang ada. Dengan makin terpeliharanya kesucian areal, objek itu
akan menjadi lebih menarik, inilah paham kami masyarakat Beraban.
Untuk menata kawasan, kami mencoba menciptakan konsep-konsep
baru, meskipun sering terbentur dengan pendanaan. Kami sadar
tidak gampang melakukan semua itu kalau sumber pendanaannya
tidak bagus. Mudah-mudahan saja, Pemda memberikan perhatian yang
lebih sehingga bisa menyajikan Tanah Lot betul-betul memiliki
konsep yang berlandaskan konsep Tri Hita Karana dan Tri Mandala.
Dengan begitu Tanah Lot itu memiliki keselarasan, kemudian
setiap wilayah itu memiliki tingkatan wilayah-wilayah seperti
utamaning mandala, madyaning mandala dan nistaning mandala.
***
Dalam penataan wilayah,
apakah ada upaya-upaya khusus?
Sekarang, pada nistaning mandala kita sudah menata menjadi
sebuah taman yadnya. Taman ini memiliki tanaman-tanaman bunga
yang dapat dipergunakan untuk kegiatan upacara yadnya. Tanaman
di situ tidak bisa dipetik sembarangan, apalagi menjualnya,
terkecuali bila ada kegiatan upacara. Sedangkan di sebelahnya,
dibuat hutan yadnya yang khusus untuk tanaman keras seperti
berbagai jenis kelapa, kayu, bambu, tebu, ancak bingin, cemara
geseng, dan lain sebagainya yang sulit dicari. Dengan adanya
tanaman yadnya ini kami berharap pura-pura lain yang
membutuhkannya bisa mencari di Tanah Lot.
Mulai kapan program taman
itu dibuat dan dioperasikan?
Sejak kami diberikan untuk mengelola wisata Tanah Lot, program
seperti itu sudah ada. Ketika wilayah lain atau pura-pura besar
membutuhkan tanaman yadnya, jawabannya: ambil di Tanah Lot.
Dalam konteks budaya dan
pariwisata, bagi Anda, sejauh mana "taman yadnya" itu
bermakna?
Dari taman yadnya itu bisa dijelaskan tentang filosofi atau
budaya. Dalam satu pohon akan bisa dijelaskan panjang lebar,
tentunya itu tergantung dari wawasan guide. Ya, katakanlah
misalnya pohon base yang diambil di taman yadnya, ini bisa
diterjemahkan dari pagi hingga sore. Hal ini memunculkan trend
pariwisata yang bisa kita ciptakan sendiri. Quality-nya daripada
tourism adalah pemahaman turis terhadap budaya kita yang
dimunculkan lewat taman yadnya. Kami tidak akan mungkin
membangun kasino, diskotek, live music dan sebagainya. Itulah
daya tarik yang kami andalkan.
Selain "taman yadnya",
potensi apa lagi yang Anda kembangkan?
Kami juga memiliki atraksi wisata. Atraksi ini tetap nuansanya
religius tradisional. Kalau toh atraksi itu berupa live music,
itu harus live music Bali, bukan live music Madonna.
Apa itu sudah dilakukan?
Sudah. Tapi, pada saat ini sifatnya hanya on request. Misalnya,
diorder atraksi Kecak, dan lain sebagainya, dengan harganya
sekian-sekian. Di sini kami bisa bantu view-nya yang bagus.
Kalau ingin sunset time-nya, kalau ingin di tepi pantai, kita
menyediakan apa pun itu. Saat ini sudah kami lakukan. Ya,
sekalian untuk pemberdayaan desa adat Beraban yang kebetulan
wilayah desa adat ini hanya satu kawasan desa adat. Jadi,
betul-betul kami memberdayakan segala potensi yang ada di
wilayah desa adat sendiri. Kalau NBR (Nirwana Bali Resort)
memerlukan kesenian, yang diutamakan adalah desa adat Beraban.
Jadi, semua itu sudah jalan. Saat ini sudah ada yayasan yang
bergerak di bidang itu. Kalau di bidang kesenian sudah ada yang
mengurusnya. Bersama dengan NBR, kami juga akan membentuk sebuah
Lembaga Pengembangan Bisnis.
Maksud Anda, lembaga itu
menangani semisal industri kerajinan?
Ya. Ini diharapkan akan menjadi muara dari hasil karya
orang-orang Beraban yang bisa kami kembangkan. Mudah-mudahan ini
bisa direstui, jadi kami bisa membentuk kelompok-kelompok usaha
di masyarakat. Kenapa tidak, desa adat Beraban memiliki potensi
wilayah yang dapat diandalkan, seperti NBR dan wisata Tanah Lot.
Sedangkan potensi perajin dan petani akan diberdayakan dalam
internal dulu. Nantinya kami juga ingin menciptakan ekonomi
kerakyatan.
Bagaimana keterkaitannya
dengan kawasan wisata lain di Tabanan yaang belum atau sudah
berkembang?
Kami memiliki konsep pengembangan pariwisata di daerah Tabanan
dengan motto "starting and the beginning from Beraban".
Kami akan mulai melakukan pengembangan dari Beraban. Dengan
berkembangnya itu, kami harap mampu mengangkat citra daripada
kawasan-kawasan dari wisata lain yang belum dan yang sudah
berkembang di Tabanan. Pada produk, komoditas, dan produksi,
kami akan melalui starting dari sini. Melalui event dalam jangka
kecil, kami akan melakukan pameran. Kenapa Nusa Dua memiliki
"Festival Nusa Dua" dan kami di Tabanan tidak memiliki
"Tanah Lot Festival" misalnya. Jika itu bisa
dilaksanakan, akan semakin terangkatlah citra Tanah Lot sendiri.
Tanah Lot ternyata ada Tabanan. Nah, Tabanan akan bisa dikenal
melalui Tanah Lot karena Tanah Lot sendiri marketshare-nya dari
seluruh dunia. Kenapa kita harus jauh-jauh memamerkan, misalnya
harus ke Arab? Orang Arab datang ke kita, kenapa kita tidak
memamerkan di situ?
***
Dulu, ketika Anda memulai pergerakan untuk "membangun"
Beraban, apa tantangan yang paling Anda rasakan?
Ego sektoral. Ini disebabkan pihak-pihak yang berkepentingan
terhadap objek Tanah Lot banyak. Juga pemahaman masyarakat
tentang pengelolaan secara internal, itu juga ada gesekan.
Tetapi, ketika kami mampu buktikan, akhirnya mereka bisa
menyadari dan justru dukungan itu berbalik pada ide-ide kami.
Sekarang saja masyarakat sudah peduli sekali. Meskipun ada
dilontarkan kata-kata mengkritik yang kedengarannya seperti
menjatuhkan, namun mereka sebetulnya sangat mendukung. Bahkan,
mereka sudah protektif dan melindungi Tanah Lot. Kami
betul-betul berdayakan masyarakat sendiri. Di satu sisi dari
pengembangan pariwisatanya, dan di sisi lain menjaga keajegan
dan kelestarian Tanah Lot. Terus terang saja saya sempat
ketakutan, makin pesatnya perkembangan pariwisata akan
mengaburkan batasan-batasan wilayah suci. Juga makin banyaknya
entertainment akan makin mengaburkan batasan-batasan seni sakral
dan modern. Secara perlahan pemahaman masyarakat tentang
pengetahuan pariwisata dan budaya kami coba jelaskan.
Di samping faktor ego
sektoral?
Masalah ego sektoral memang yang menonjol. Yang kedua, jelas
pembuktiannya ada aspek legal. Inilah permasalahannya. Bayangkan
saja, Tanah Lot itu bisa dikontrak sampai 11 tahun. Meskipun
kami sudah pertanyakan kenapa bisa sampai 11 tahun, jawabannya
pun tidak ada. Dan itu tetap harus dipegang. Pola-pola ini masih
berjalan. Nah, mudah-mudahan dengan adanya transparansi dan
masyarakat sudah berani bersuara, praktik-praktik seperti itu
tidak terjadi lagi. Memang sistem pemerintahan sebelum otonomi
daerah cukup keras, di samping masyarakatnya polos dan lugu.
Sehingga banyak warga masih melihat pekerjaannya besok ketimbang
diajak untuk bikin masalah. Ini sangat berbeda dengan sekarang,
anak-anak muda yang rata-rata berpendidikan, memiliki pengalaman
tidak semudah itu akan diajak. Apalagi sekarang masyarakat sudah
merasakan benar dampaknya. Kalau dulu, hanya 10-15 orang yang
diperkerjakan masyarakat Beraban, tetapi sekarang ada 160 orang.
Bagaimana sistem
pengelolaan para pekerja tersebut?
Kami melaksanakan sistem padat karya. Mereka bergiliran berjaga,
setiap Minggu mendapat giliran sekali. Saya pikir, makin banyak
yang diajak menjaga objek itu, maka makin banyak pula masyarakat
yang akan bersentuhan secara emosional terhadap
pekerjaan-pekerjaan yang dihadapi di objek itu. Mereka jadi
paham, apa yang harus dia jaga dan apa yang harus dia kerjakan.
Nah, ini tentunya akan dikomunikasikan di banjar mereka
masing-masing karena para pekerja di situ adalah juga merupakan
perwakilan dari masing-masing banjar adat di Beraban.
Secara khusus, apakah ada
tantangan di tingkat pemahaman masyarakat?
Ada memang beberapa pemahaman masyarakat yang saat ini menjadi
tantangan kita, misalnya masalah menjaga ketertiban. Orang yang
berjualan di situ hanya berpikiran bagaimana bisa mencari duit
sebanyak mungkin. Sedangkan yang diterapkan dalam manajemen kami,
bagaimana tamu yang datang ini merasa senang, nyaman, dan tertib.
Untuk itu kami mengadakan pendekatan dengan pihak kelian adat,
bendesa adat dan juga yang terkait. Tugas ini memang cukup berat.
*
pewawancara: budarsana
gusmartin
BIODATA
Nama
: I Made Sujana, A.Par.,S.sos
Tempat/tgl.lahir : Tabanan, 17 Mei 1973
Nama istri
: Ni Luh Eka Widyantari
Anak
: Ni Putu Ratih Argita Dewi
Pendidikan : S1
Administrasi Bisnis
DIII Pariwisata
Alamat
: Br. Batugaing Kaja Beraban, Kediri, Tabanan
Penghargaan :
Pemuda Pelopor Bidang Budaya-Pariwisata
Tingkat Nasinal 2003
|