kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 30 Nopember 2003 tarukan valas
 

OPINI


Singa dan Rubah dalam Poliarki

KETIKA ide demokrasi didengungkan pertama kali sebagai sistem politik dan pemerintahan 2.500 tahun silam di Athena, jumlah pendukungnya cuma ribuan. Pendukung yang kemudian disebut rakyat tersebut diatur kehidupannya dalam pemerintahan negara kota. Segala kebijakan dan undang-undang ditelorkan lewat keputusan bersama, dengan azas one man one vote atau satu orang satu suara. Suara terbanyak yang juga dikenal dengan slogan ''Vox Populi Vox Dei'' atau ''Suara Rakyat adalah Suara Tuhan'' dianggap sebagai keputusan yang harus dipatuhi semua hadirin, termasuk para pemimpin.

''Sekarang istilah demokrasi nyaris menyerupai puing-puing peninggalan kuno yang dipergunakan secara terus menerus selama 2.500 tahun. Sedangkan seiring dengan perubahan zaman dan tingkat pemahaman manusia terhadap cita-cita demokrasi, terutama dengan munculnya negara-negara bangsa di abad ke-17, lahir pula pranata-pranata politik yang secara radikal berbeda dari yang diterapkan orang-orang di zaman Yunani kuno,'' ujar Rubag saat kawan-kawannya bersikutat membincangkan makna dan fungsi demokrasi, yang istilahnya secara fasih diucapkan orang, khususnya menjelang Pemilu 2004.

''Aku heran, sekarang sedikit saja hak seseorang dikurangi, dia akan menuduh orang yang mengurangi haknya tidak demokratis. Kalah tipis dalam pemilihan untuk sebuah kedudukan, pemenangnya akan dituduh melakukan trik-trik kotor yang tidak demokratis. Terutama menjelang pemilu, yang namanya tidak tercantum dalam daftar Caleg, langsung mencak-mencak dan ada yang mengerahkan massa untuk berunjuk rasa ke sekretariat partainya sambil membawa spanduk menuntut demokrasi ditegakkan. Padahal dia baru saja keluar dari ruang musyawarah, dimana dia dikalahkan secara demokratis. Tidak jarang, ada yang meloncat seperti kutu ke partai lain atas nama demokrasi, ha...ha...ha,'' celoteh Minggik sembari terbahak.

''Demokrasi, memang istilah yang gampang diucapkan, tapi sulit dimengerti hakikatnya. Mirip seperti menggapai bayangan diri sendiri, yang menjauh dengan jarak tetap. Kadang-kadang kita di depan, lalu bayangan mengejar kita dari belakang atau sebaliknya, namun kita tidak pernah bersatu dengan bayangan. Nah, demokrasi pun seperti bayangan, berbentuk tapi tidak jelas dan selalu berwarna hitam,'' kilah Dewa Ngurah.

''Jangankan kita yang terhimpun dalam bangsa yang baru mengenyam kemerdekaan sejak 58 tahun silam, negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris yang sejak berdiri hingga sekarang tidak pernah terjajah pun tidak mampu mempersembahkan demokrasi seperti yang pernah dialami Socrates, Plato dan Aristoteles. Lucunya lagi, Yunani sebagai tempat kelahiran demokrasi ternyata nyaris tidak pernah diperintah rezim demokratis sejak negara kotanya tenggelam dihantam perkembangan zaman dan raja-raja filsuf tidak dilahirkan lagi di sana. Ironisnya, konon sekarang orang-orang Yunani modern hanya bisa minum-minum di cafe sambil bernostalgia tentang kebesaran para filsuf kuno mereka, yang pikiran-pikirannya sekarang sering dijadikan referensi para pakar politik, ekonomi, hukum, budaya dan sosial di negara-negara Barat. Aku khawatir, hal yang sama bisa terjadi pada orang-orang Bali beberapa tahun mendatang, sementara gamelan angklung, jegog, genggong dan semar pegulingan dipahami dan dimainkan lebih lihai oleh orang-orang Amerika, Jepang, Perancis dan Cina dibanding orang Bali,'' sahut Jernat.

''Mudah-mudahan kekhawatiranmu tidak menjadi kenyataan meski budaya Barbie sedang melanda negeri kita, juga akibat teriakan demokratisasi dan pasar bebas atau globalisasi. Aku tertarik mendengar sinyalemenmu tentang ketidakmampuan semua negara di dunia saat ini menyelenggarakan pemerintahan dan sistem politik demokrasi yang ideal sesuai aslinya. Memang banyak negara menyebut diri mereka demokratis, namun sebenarnya yang mereka anut adalah sistem demokrasi pluralis atau poliarki. Tidak murni demokrasi, tapi mendekati demokrasi. Ambil contoh Amerika Serikat, yang kadang-kadang disebut dedengkot demokrasi! Sejak kemerdekaannya tahun 1776, pernahkah negeri itu dipimpin presiden wanita? Lalu, apakah orang-orang berkulit hitam di sana cuma jago main tinju, menyanyi, dan bola basket? Apakah otak mereka tidak seencer orang-orang kulit putih, sehingga tidak boleh jadi presiden, atau maksimal hanya boleh jadi Menlu seperti Collin Powel?'' papar Kadek Bekul.

''Aku tertarik dengan pendapatmu dalam bentuk pertanyaan itu. Maurice Duverger dalam buku 'Sosiologi Politik'-nya mengatakan, bahwa dalam teori rasis ada pendapat yang mengatakan bahwa bangsa-bangsa berkulit putih memiliki bakat sosial dan intelektual yang lebih superior dibanding bangsa-bangsa kulit berwarna. Karena itu, ras-ras superior berhak memimpin dan menggiring ras-ras inferior untuk menuju peradaban yang lebih tinggi. Ras berkulit hitam, kata dia, sangat sulit untuk maju dan melepaskan diri dari struktur sosialnya yang primitif. Di antara ras-ras kulit berwarna, katanya, hanya ras berkulit kuning yang paling maju, namun sulit digiring ke arah demokrasi. Lagi pula, menurut Duverger, semaju-majunya ras kulit kuning, kualitasnya baru setingkat bangsa Eropa abad ke-17 atau 18. Apa tidak pendapat seperti itu yang masih melekat di kalangan bangsa kulit putih hingga ini? Sayang, justru bangsa kita masih banyak yang mengagung-agungkan keunggulan mereka, bahkan berlomba ingin menyerap dan mengadopsi sistem politik, ekonomi, bahkan budaya berbau Barat,'' komentar Rubag.

''Itu pendapat atau teori yang berlebihan dan mengingkari kenyataan. Bahkan ketinggalan zaman, meskipun dalam sebuah film Amerika pernah aku dengar celetukan 'America for American' yang diucapkan berkali-kali para aktor berkulit putih. Di lain pihak sering aku lihat, dalam pertandingan tinju dunia maupun konser musik, para petinju dan penyanyi berkulit hitam tidak jarang dikawal para bodyguard dan rody kulit putih. Demikian pula wasit dan hakim tinju atau pemain band dan para penyanyi pengiringnya berkulit putih. Artinya mereka semua diupah super boxer dan super singer berkulit hitam. Bahkan Michael Jackson, mempekerjakan banyak orang kulit putih untuk mengelola dan mengurus yayasannya yang bergerak dalam bidang sosial, khususnya memberikan perhatian pada anak-anak terlantar dan kekurangan gizi. Malah berkat kemampuan dan intelektualitasnya dia termasuk jajaran terdepan selebritis dunia,'' ungkap Ngurah Santika. ''Apakah bukan karena malu dengan eksistensinya, dia lalu mewantek kulit hitamnya jadi putih, meluruskan rambutnya yang keriting dan memanjakan hidungnya agar jejak-jejak ras hitamnya terhapus?'' sela Minggik.

''Andaikata benar semua itu buatan, aku rasa alasannya bukan karena malu sebagai orang Negro, tapi karena kebutuhan sebagai selebriti. Sebagai warga negara sebuah negara yang menganut paham demokrasi pluralis atau poliarki, Jackson lebih wajar dibanding beberapa penyanyi kita yang tampak menggelikan bila melakukan tindakan serupa. Sayang, karena kemajuannya dalam segala hal melampaui prestasi orang-orang kulit putih, akhirnya Jackson diganjal tuduhan yang menurut beberapa pendukungnya disebut rasial. Mudah-mudahan nasibnya tidak setragis Martin Luther King, John Brown dan Malcolm X, yang karena ingin mengubah nasib warga kulit hitam yang tertindas, akhirnya jadi martir dengan tubuh berlubang tertembus timah panas.''

''Lalu siapa yang berani menjamin dan masih yakin demokrasi sebagai sistem politik yang terbaik untuk menuju ke kemakmuran? Memang inti dari demokrasi adalah kebebasan, persamaan dan persaudaraan, tapi unsur persaudaraan sering diabaikan orang dalam berdemokrasi. Akibatnya, kebebasan senantiasa digunakan secara semena-mena, sehingga sering melanggar kebebasan orang lain. Atas nama demokrasi pula, pihak yang dilanggar kebebasannya melakukan tindakan yang sama demi persamaan, maka terjadi lah perang saudara. Apalagi kalau jumlah politisi Machiavellis lebih banyak dibanding politisi moralis, jangan harap demokrasi bisa tumbuh subur seperti yang diharapkan. Dengan meniru karakter singa dan rubah sekaligus, politisi-politisi Machiavellis akan melalap habis pihak moralis atas nama kebebasan,'' ujar Rubag.

* aridus

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com