Singa dan
Rubah dalam Poliarki
KETIKA
ide demokrasi didengungkan pertama kali sebagai sistem politik
dan pemerintahan 2.500 tahun silam di Athena, jumlah
pendukungnya cuma ribuan. Pendukung yang kemudian disebut rakyat
tersebut diatur kehidupannya dalam pemerintahan negara kota.
Segala kebijakan dan undang-undang ditelorkan lewat keputusan
bersama, dengan azas one man one vote atau satu orang satu suara.
Suara terbanyak yang juga dikenal dengan slogan ''Vox Populi Vox
Dei'' atau ''Suara Rakyat adalah Suara Tuhan'' dianggap sebagai
keputusan yang harus dipatuhi semua hadirin, termasuk para
pemimpin.
''Sekarang
istilah demokrasi nyaris menyerupai puing-puing peninggalan kuno
yang dipergunakan secara terus menerus selama 2.500 tahun.
Sedangkan seiring dengan perubahan zaman dan tingkat pemahaman
manusia terhadap cita-cita demokrasi, terutama dengan munculnya
negara-negara bangsa di abad ke-17, lahir pula pranata-pranata
politik yang secara radikal berbeda dari yang diterapkan
orang-orang di zaman Yunani kuno,'' ujar Rubag saat
kawan-kawannya bersikutat membincangkan makna dan fungsi
demokrasi, yang istilahnya secara fasih diucapkan orang,
khususnya menjelang Pemilu 2004.
''Aku heran, sekarang
sedikit saja hak seseorang dikurangi, dia akan menuduh orang
yang mengurangi haknya tidak demokratis. Kalah tipis dalam
pemilihan untuk sebuah kedudukan, pemenangnya akan dituduh
melakukan trik-trik kotor yang tidak demokratis. Terutama
menjelang pemilu, yang namanya tidak tercantum dalam daftar
Caleg, langsung mencak-mencak dan ada yang mengerahkan massa
untuk berunjuk rasa ke sekretariat partainya sambil membawa
spanduk menuntut demokrasi ditegakkan. Padahal dia baru saja
keluar dari ruang musyawarah, dimana dia dikalahkan secara
demokratis. Tidak jarang, ada yang meloncat seperti kutu ke
partai lain atas nama demokrasi, ha...ha...ha,'' celoteh Minggik
sembari terbahak.
''Demokrasi, memang
istilah yang gampang diucapkan, tapi sulit dimengerti hakikatnya.
Mirip seperti menggapai bayangan diri sendiri, yang menjauh
dengan jarak tetap. Kadang-kadang kita di depan, lalu bayangan
mengejar kita dari belakang atau sebaliknya, namun kita tidak
pernah bersatu dengan bayangan. Nah, demokrasi pun seperti
bayangan, berbentuk tapi tidak jelas dan selalu berwarna hitam,''
kilah Dewa Ngurah.
''Jangankan kita yang
terhimpun dalam bangsa yang baru mengenyam kemerdekaan sejak 58
tahun silam, negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris
yang sejak berdiri hingga sekarang tidak pernah terjajah pun
tidak mampu mempersembahkan demokrasi seperti yang pernah
dialami Socrates, Plato dan Aristoteles. Lucunya lagi, Yunani
sebagai tempat kelahiran demokrasi ternyata nyaris tidak pernah
diperintah rezim demokratis sejak negara kotanya tenggelam
dihantam perkembangan zaman dan raja-raja filsuf tidak
dilahirkan lagi di sana. Ironisnya, konon sekarang orang-orang
Yunani modern hanya bisa minum-minum di cafe sambil bernostalgia
tentang kebesaran para filsuf kuno mereka, yang
pikiran-pikirannya sekarang sering dijadikan referensi para
pakar politik, ekonomi, hukum, budaya dan sosial di
negara-negara Barat. Aku khawatir, hal yang sama bisa terjadi
pada orang-orang Bali beberapa tahun mendatang, sementara
gamelan angklung, jegog, genggong dan semar pegulingan dipahami
dan dimainkan lebih lihai oleh orang-orang Amerika, Jepang,
Perancis dan Cina dibanding orang Bali,'' sahut Jernat.
''Mudah-mudahan
kekhawatiranmu tidak menjadi kenyataan meski budaya Barbie
sedang melanda negeri kita, juga akibat teriakan demokratisasi
dan pasar bebas atau globalisasi. Aku tertarik mendengar
sinyalemenmu tentang ketidakmampuan semua negara di dunia saat
ini menyelenggarakan pemerintahan dan sistem politik demokrasi
yang ideal sesuai aslinya. Memang banyak negara menyebut diri
mereka demokratis, namun sebenarnya yang mereka anut adalah
sistem demokrasi pluralis atau poliarki. Tidak murni demokrasi,
tapi mendekati demokrasi. Ambil contoh Amerika Serikat, yang
kadang-kadang disebut dedengkot demokrasi! Sejak kemerdekaannya
tahun 1776, pernahkah negeri itu dipimpin presiden wanita? Lalu,
apakah orang-orang berkulit hitam di sana cuma jago main tinju,
menyanyi, dan bola basket? Apakah otak mereka tidak seencer
orang-orang kulit putih, sehingga tidak boleh jadi presiden,
atau maksimal hanya boleh jadi Menlu seperti Collin Powel?''
papar Kadek Bekul.
''Aku tertarik dengan
pendapatmu dalam bentuk pertanyaan itu. Maurice Duverger dalam
buku 'Sosiologi Politik'-nya mengatakan, bahwa dalam teori rasis
ada pendapat yang mengatakan bahwa bangsa-bangsa berkulit putih
memiliki bakat sosial dan intelektual yang lebih superior
dibanding bangsa-bangsa kulit berwarna. Karena itu, ras-ras
superior berhak memimpin dan menggiring ras-ras inferior untuk
menuju peradaban yang lebih tinggi. Ras berkulit hitam, kata dia,
sangat sulit untuk maju dan melepaskan diri dari struktur
sosialnya yang primitif. Di antara ras-ras kulit berwarna,
katanya, hanya ras berkulit kuning yang paling maju, namun sulit
digiring ke arah demokrasi. Lagi pula, menurut Duverger,
semaju-majunya ras kulit kuning, kualitasnya baru setingkat
bangsa Eropa abad ke-17 atau 18. Apa tidak pendapat seperti itu
yang masih melekat di kalangan bangsa kulit putih hingga ini?
Sayang, justru bangsa kita masih banyak yang mengagung-agungkan
keunggulan mereka, bahkan berlomba ingin menyerap dan mengadopsi
sistem politik, ekonomi, bahkan budaya berbau Barat,'' komentar
Rubag.
''Itu pendapat atau teori
yang berlebihan dan mengingkari kenyataan. Bahkan ketinggalan
zaman, meskipun dalam sebuah film Amerika pernah aku dengar
celetukan 'America for American' yang diucapkan berkali-kali
para aktor berkulit putih. Di lain pihak sering aku lihat, dalam
pertandingan tinju dunia maupun konser musik, para petinju dan
penyanyi berkulit hitam tidak jarang dikawal para bodyguard dan
rody kulit putih. Demikian pula wasit dan hakim tinju atau
pemain band dan para penyanyi pengiringnya berkulit putih.
Artinya mereka semua diupah super boxer dan super singer
berkulit hitam. Bahkan Michael Jackson, mempekerjakan banyak
orang kulit putih untuk mengelola dan mengurus yayasannya yang
bergerak dalam bidang sosial, khususnya memberikan perhatian
pada anak-anak terlantar dan kekurangan gizi. Malah berkat
kemampuan dan intelektualitasnya dia termasuk jajaran terdepan
selebritis dunia,'' ungkap Ngurah Santika. ''Apakah bukan karena
malu dengan eksistensinya, dia lalu mewantek kulit hitamnya jadi
putih, meluruskan rambutnya yang keriting dan memanjakan
hidungnya agar jejak-jejak ras hitamnya terhapus?'' sela Minggik.
''Andaikata benar semua
itu buatan, aku rasa alasannya bukan karena malu sebagai orang
Negro, tapi karena kebutuhan sebagai selebriti. Sebagai warga
negara sebuah negara yang menganut paham demokrasi pluralis atau
poliarki, Jackson lebih wajar dibanding beberapa penyanyi kita
yang tampak menggelikan bila melakukan tindakan serupa. Sayang,
karena kemajuannya dalam segala hal melampaui prestasi
orang-orang kulit putih, akhirnya Jackson diganjal tuduhan yang
menurut beberapa pendukungnya disebut rasial. Mudah-mudahan
nasibnya tidak setragis Martin Luther King, John Brown dan
Malcolm X, yang karena ingin mengubah nasib warga kulit hitam
yang tertindas, akhirnya jadi martir dengan tubuh berlubang
tertembus timah panas.''
''Lalu siapa yang berani
menjamin dan masih yakin demokrasi sebagai sistem politik yang
terbaik untuk menuju ke kemakmuran? Memang inti dari demokrasi
adalah kebebasan, persamaan dan persaudaraan, tapi unsur
persaudaraan sering diabaikan orang dalam berdemokrasi.
Akibatnya, kebebasan senantiasa digunakan secara semena-mena,
sehingga sering melanggar kebebasan orang lain. Atas nama
demokrasi pula, pihak yang dilanggar kebebasannya melakukan
tindakan yang sama demi persamaan, maka terjadi lah perang
saudara. Apalagi kalau jumlah politisi Machiavellis lebih banyak
dibanding politisi moralis, jangan harap demokrasi bisa tumbuh
subur seperti yang diharapkan. Dengan meniru karakter singa dan
rubah sekaligus, politisi-politisi Machiavellis akan melalap
habis pihak moralis atas nama kebebasan,'' ujar Rubag.
* aridus
|