Giliran Hillary Clinton Kunjungi Irak
Serangan Bom Bunuh
Diri Tetap Terjadi
Baghdad -
Berselang sehari setelah kunjungan mendadak yang dilakukan
Presiden George W. Bush, maka giliran senator Hillary Rodham
Clinton melakukan kunjungan serupa ke Irak, Sabtu (29/11)
kemarin. Kunjungannya tersebut tidak terkesan rahasia dan
terburu-buru.
Tidak
seperti Bush yang hanya berada dua jam di sebuah pangkalan di
Bandara Internasional Baghdad bersama 600 tentara AS, Hillary
memilih melakukan kunjungan ke luar bandara. Dia sempat
mengunjungi sejumlah tempat termasuk kompleks istana dan
pangkalan tentara AS.
Hillary sempat berbicara
dengan sejumlah pegawai administrasi Irak termasuk dengan
seorang wanita muslim. "Sudah bukan saatnya bagi tentara AS
memikirkan kemenangan perang. Sekarang perang tersulit baru tiba.
Bagaimana mereka dapat memenangkan hati dan pikiran rakyat Irak.
Ini tantangan yang sulit," jelas Hillary.
Dalam kunjungannya itu,
istri mantan Presiden AS Bill Clinton tersebut didampingi
senator dari perwakilan Rhode Island Jack Reed. Hillary dengan
terus terang memuji kunjungan Bush sebelumnya. Baginya kunjungan
semacam itu sangat luar biasa.
Sementara itu dari
peternakan pribadi Bush di wilayah Crawford Texas, penasihat
keamanan nasional Concoleeza Rice menolak anggapan kunjungan
Bush hanya memandang masalah politik. Tujuannya untuk
menenangkan kondisi Irak yang makin memburuk. "Sejujurnya,
Irak masih merupakan daerah berbahaya dan itu bukan rahasia lagi,"
tutur Rice. Bahkan Rice menegaskan kunjungan Bush selama dua
setengah jam itu tidak mengubah apa pun di Irak. Apalagi
berkaitan dengan masalah stabilitas keamanan di sana.
Saat bersamaan, kandidat
Presiden AS dari mantan Jenderal Wesley Clark memuji keberanian
kunjungan Bush ke Irak. Pujian serupa juga dilakukan oleh
sejumlah pengamat politik AS. Menurut Clark, kedatangan Bush di
Irak menunjukkan Washington berperan penting dalam pembangunan
negara tersebut. "Kunjungan itu telah memperlihatkan betapa
kondisi Irak sangat berbahaya saat ini dan kita memerlukan
bantuan dari sekutu AS untuk mengatasi masalah di sana,"
ujar Clark.
Di Irak, serangan bom
bunuh diri tetap terjadi. Seorang tentara AS dari kesatuan
Divisi 101 Airborne tewas akibat serangan empat mortir dekat
pangkalannya di Mosul. Selain serangan mortir, kota Baghdad juga
dihantui kecemasan karena demonstrasi ribuan orang. Mereka
memasuki pusat kota dengan slogan-slogan antiteror dan
pengeboman. Azis al-Yasser yang tampil sebagai koordinator
demonstrasi mengungkapkan demo tersebut meminta agar rakyat Irak
membantu pasukan AS untuk menghadapi teror yang meningkat
belakangan ini. "Kita harus membantu mereka para pasukan
koalisi. Ini bukan permasalahan pasukan asing sebagai penyebab
kekacauan. Tetapi Irak akan banjir darah jika mereka mundur,"
ujar Azis yang juga tokoh dari Aliansi Demokrasi Irak.
Pihak keamanan tidak mau
ambil risiko dengan keamanan sepanjang demo berlangsung.
Kepolisian Irak turut mendampingi para demonstran. Sementara itu
pengawalan ketat juga dilakukan pasukan AS dengan kendaraan
lapis baja dan dua helikopter.
Saat ini pihak
administrator AS tengah berupaya mencari solusi untuk penyerahan
kekuasaan kepada pihak Irak. Pasalnya penolakan oleh tokoh
Shiite Ayatollah Ali Sistani mengenai bentuk kaukus untuk
pemilihan tidak langsung menyebabkan rencana awal AS berantakan.
Seorang tokoh senior AS mengungkapkan, pihak koalisi memilih
untuk memberi kesempatan lebih besar kepada Irak. "Jika
mereka menolak kaukus kami, kami tidak akan memaksakan. Kami
harus menemukan jalan lain menuju pemilihan mendatang,"
jelasnya.
Menanggapi kelanjutan
serangan bunuh diri di Irak, sejumlah penangkapan tokoh Al-Qaeda
berlangsung di beberapa negara. Jerman dan Italia menangkap
setidaknya lima anggotanya. Bahkan salah satunya warga Algeria
yang ditangkap di Jerman dan penangkapan tokoh wanita di Padua
Italia. Menurut kepolisian kedua negara, para tersangka
ditangkap akibat merekrut orang-orang untuk melakukan bom bunuh
diri.
Dari penangkapan di
Hamburg Jerman, seorang juru bicara polisi wanita
mengidentifikasikan seorang tersangka bernama Mahjub Abderrazak
dan dikenal sebagai seorang sheik. Sedangkan juru bicara
kepolisian Italia mengungkapkan sel Al-Qaeda di Italia telah
melakukan kontak dengan anggotanya di Italia Utara untuk
merekrut pasukan berani mati. Dari lima yang ditangkap di
Italia, dua di antaranya merupakan warga Irak dan Tunisia. (rah/afp)
|