kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 30 Nopember 2003 tarukan valas
 

KELUARGA


Tidak Kuat Menghadapi Kenyataan

Belakangan ini di media massa tiada hari tanpa berita bunuh diri. Seakan-akan trend tahun 2003 untuk Bali adalah bunuh diri. Begitu mudah mereka membunuh dirinya. Cara bunuh diri pun cara yang memang benar mematikan. Seakan-akan mereka yang diberitakan memanggil saudara-saudaranya yang lain untuk mengikuti jejaknya, bahwa bunuh diri adalah cara yang menarik untuk ditiru. Semua orang akan mengetahui beritanya.

SEORANG perempuan cantik diantar suaminya -- sebut saja Dina -- mengeluh, "Dokter saya tidak kuat. Saya lebih baik mati saja. Saya tidak kuat menghadapi kenyataan ini". Suaminya mendampingi dengan muka sedih dan bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kelihatannya ia sudah pasrah mendengar rintihan istrinya. Kemarin istrinya dibawa ke rumah sakit karena ia menenggak racun nyamuk. Ia bersyukur Tuhan masih memberikan istrinya untuk hidup. Namun Dina tetap ingin mati. Ia merasa badannya lemas, merasa tidak mampu jalan, merasa seluruh tubuhnya terasa berat sehingga datang ke dokter pun harus dipapah suaminya. Ia mengatakan, kalau tegang maka ia merasakan sakit kepala seperti migrain.

Dina merasa hidupnya penuh penderitaan.
Bapaknya sangat keras menuntut ia harus belajar saja dan harus menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Ia tidak diberikan bergaul dengan teman-teman laki-laki karena dianggap mengganggu dalam menyelesaikan studinya. Ia tak berani menceritakan masalahnya kepada orangtuanya karena mereka pasti memarahi, menekannya tanpa ada keinginan untuk membantu atau mencarikan penyelesaian. Beberapa kali ia minggat dari rumah karena merasa tertekan. Akhirnya saat ia merasa sangat tertekan dengan situasi di rumahnya, ia mendesak pacarnya untuk mengawininya karena ia ingin bebas dari tekanan orangtuanya. Ia ingin memperoleh kehidupan yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, tanpa tekanan.

Setelah menikah, bukan kenyamanan dan kebahagiaan yang diperolehnya. Ia menyesal hamil setelah menikah sehingga kuliahnya harus ditunda. Ia harus tinggal bersama mertua yang pendidikannya hanya SD karena suaminya adalah anak tunggal laki-laki yang juga harus menjaga orangtuanya. Ia harus mengikuti kebiasaan mertua yang setiap hari ngaturang canang di setiap sudut rumahnya yang tidak pernah dilakukan Dina di rumahnya sendiri. Yang membuat ia merasa putus asa adalah, apapun yang dilakukannya selalu salah di mata mertuanya. Ia tak boleh melakukan apa yang ia rasakan baik. Ia tak boleh mendidik anaknya yang sudah berumur satu tahun sesuai dengan apa yang dibacanya di buku-buku. Ia harus mengikuti kata mertua yang katanya sudah berpengalaman. Hidupnya diatur oleh mertuanya.

Dina tidak merasa punya kebebasan hidup. Apa artinya hidup ini?

Suaminya jarang di rumah karena ia harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Ia ingin bekerja, ingin mendapatkan uang sendiri, ingin kuliah, ingin punya rumah sendiri atau ngontrak rumah sehingga bebas dari cengkraman mertua. Ia merasa tak kuat menghadapi kenyataan yang di luar perkiraannya. Tiada tempat ia mengeluh, tiada yang mau merasakan dirinya. Akhirnya ia merasa tak mampu untuk hidup. Dorongan untuk mati sangat kuat. Tiba-tiba seperti ada dorongan yang tidak ia ketahui untuk mengambil racun nyamuk yang ada di ruang tamu. Ia bawa ke kamar, ia tidak memikirkan apa-apa, hanya ingin lepas dari penderitaan. Ia merasa, hanya mati jalan yang paling mudah dapat ia lakukan agar bebas dari himpitan penderitaan yang menimpa dirinya.

Epidemiologi
Ada rentang waktu tindakan antara berpikir mengenai bunuh diri dengan melakukannya. Beberapa orang mempunyai ide bunuh diri kalau menghadapi penderitaan yang berat, tetapi tak pernah melakukannya. Beberapa orang lainnya merencanakan dalam beberapa hari, minggu, atau bahkan tahunan sebelum melakukannya, sementara yang lainnya melakukannya secara impulsif (tindakan yang timbul karena dorongan dari hatinya) tanpa perencanaan.

Di Amerika, setiap tahun lebih dari 30 ribu orang meninggal karena bunuh diri. Di abad 20 ini, angka kejadian bunuh diri di AS berkisar 12,5 per 100 ribu penduduk dengan angka tertinggi 17,4 per 100 ribu penduduk dicapai pada tahun 1930-an pada zaman "Great Depression".

Di seluruh dunia, angka bunuh diri berkisar paling tinggi mencapai 25 per 100 ribu penduduk yang terjadi di Skandinavia, Switzerland, German, Austria dan negara-negara Eropa Timur, dan Jepang. Sedangkan yang berada di bawah 10 per 100 ribu penduduk terjadi di Spanyol, Italia, Irlandia, Mesir dan Belanda. Di Bali kelihatannya mau meniru negara-negara industri.

Faktor-faktor risiko adalah (1) Pria mati bunuh diri empat kali lebih banyak dibandingkan dengan wanita, namun wanita empat kali lebih sering melakukan tindakan percobaan bunuh diri daripada pria; (2) Bunuh diri meningkat seiring dengan meningkatnya usia, paling banyak pada usia 15-24 tahun. Angka tertingi bunuh diri terjadi pada kelompok usia di atas 55 tahun; (3) Dua dari tiga kasus bunuh diri dilakukan oleh pria kulit putih. Belakangan meningkat pada ras kulit hitam. Pada kelompok imigran lebih tinggi dibandingkan penduduk asli; (4) Bunuh diri pada penduduk Katolik Roma lebih rendah dibandingkan dengan kelompok Protestan dan Yahudi; (5) Perkawinan yang harmonis mempunyai kecenderungan lebih rendah untuk melakukan bunuh diri. Bunuh diri lebih sering terjadi pada mereka yang secara sosial terisolasi dan mempunyai riwayat keluarga bunuh diri; (6) Semakin tinggi status sosial seseorang semakin besar kemungkinan terjadinya bunuh diri, namun jatuhnya status sosial juga meningkatkan risiko terjadinya bunuh diri; (7) Pada umumnya orang yang berhasil bunuh diri karena menggantung diri. Pria lebih banyak menggunakan senjata api, gantung diri atau melompat dari ketinggian. Wanita lebih cenderung overdosis dengan zat psikoaktif atau racun, tetapi senjata api mulai meningkat penggunaannya.

Ada beberapa teori diajukan kenapa orang sampai bunuh diri. Dari teori sosiologi yang diajukan oleh Emile Durkheim, sosiolog dari Perancis, membagi bunuh diri menjadi tiga kelompok yaitu (1) egoistic, melakukan tindakan bunuh diri karena tidak mempunyai ikatan kuat dengan kelompok sosialnya (dikucilkan, tidak menikah, perceraian), (2) altruistic, melakukan bunuh diri untuk menunjukkan loyalitas, pengabdian pada kelompoknya (harakiri, mesatya), dan (3) anomic, tidak mampu menghadapi perubahan di masyarakat mengenai nilai dan standar hidup (misalnya kehilangan pekerjaan, krisis ekonomi).

Menurut teori Freud, bunuh diri merupakan tampilan agresi yang diarahkan ke diri melawan suatu introyeksi, ambivalensi akan kehilangan objek cinta. Ia melakukan bunuh diri karena sebelumnya ia merepresi keinginan untuk membunuh seseorang. Menninger mengatakan bunuh diri sebagai tindakan pembunuhan yang terbalik karena adanya kemarahan seseorang terhadap orang lain. Tindakan ini sebagai pembunuhan yang diarahkan ke diri. Ada tiga komponen dalam bunuh diri yaitu keinginan untuk membunuh, keinginan untuk dibunuh, dan keinginan untuk mati.

ari psikodinamika mereka yang melakukan tindakan bunuh diri dapat dipelajari fantasi mereka akan apa yang akan terjadi dan apa konsekuensinya jika mereka melakukannya. Biasanya karena kehilangan objek cinta atau mendapatkan suatu perlakuan narsisistik, akan mengalami suatu afek yang berlebihan seperti marah yang sangat dan perasan bersalah, atau diidentifikasi sebagai korban bunuh diri. Menurut Aaron Beck, tindakan bunuh diri menunjukkan ketidakberdayaan seseorang menghadapi kehidupan ini.

Pandangan dari segi biologik mengatakan bunuh diri terjadi karena penurunan kadar serotonin di otak. Adanya riwayat bunuh diri di keluarga meningkatkan risiko terjadinya tindakan bunuh diri dan bunuh diri itu sendiri. Studi lain di Denmark menyatakan bahwa faktor genetik menurunkan nilai ambang perilaku bunuh diri yang mengarah kepada ketidakmampuan untuk mengontrol perilaku impulsif. Gangguan jiwa atau stresor lingkungan memiliki potensi sebagai pencetus perilaku impulsif yang mengarah kepada suatu bunuh diri.

Sedangkan Suryani dan Jensen mengatakan, mereka yang melakukan bunuh diri karena adanya suatu kekuatan yang mendorongnya untuk melakukan itu (kesurupan). Ia berada dalam keadaan terpusat pada satu keadaan dimana kemampuan berpikir dan bertimbangnya tidak berperan. Semua norma-norma hidup terabaikan. Ia di bawah kendali kekuatan ini yang merupakan dorongan dalam dirinya.

Pencegahan

Maraknya tindakan mencoba bunuh diri dan mati bunuh diri akhir-akhir ini di Bali seharusnya menjadi perhatian semua pihak di Bali, terutama dari pemerintah dengan dinas-dinas yang terkait seperti departemen agama, pendidikan, kesehatan, LSM, seniman terutama yang bergerak di pertunjukan seperti arja, wayang, bondres, dan masyarakat dengan desa pakramannya.

Usaha segera yang harus dilakukan sbb;
* Tanamkan di masyarakat sejak dini bahwa bunuh diri adalah tindakan berdosa, tindakan orang yang putus asa, tindakan yang tidak berani menghadapi kenyataan. Hal ini dapat dilakukan melalui cerita sebelum tidur, cerita guru-guru di sekolah, ceramah-ceramah agama, dan pertunjukan di masyarakat.
* Berikan lingkungan nyaman dengan ada tempat untuk mengekspresikan emosi melalui aktivitas seni, olah raga, rekreasi dan dialog.
* Adakan waktu untuk bekerja dan istirahat. Masyarakat harus bisa menikmati tidur nyenyak
* Adakan waktu merenung, mensyukuri apa yang diterima hari ini adalah yang terbaik.

* luh ketut suryani
cokorda bagus jaya lesmana


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com