Tidak Kuat
Menghadapi Kenyataan
Belakangan ini di media
massa tiada hari tanpa berita bunuh diri. Seakan-akan trend
tahun 2003 untuk Bali adalah bunuh diri. Begitu mudah mereka
membunuh dirinya. Cara bunuh diri pun cara yang memang benar
mematikan. Seakan-akan mereka yang diberitakan memanggil
saudara-saudaranya yang lain untuk mengikuti jejaknya, bahwa
bunuh diri adalah cara yang menarik untuk ditiru. Semua orang
akan mengetahui beritanya.
SEORANG
perempuan cantik diantar suaminya -- sebut saja Dina -- mengeluh,
"Dokter saya tidak kuat. Saya lebih baik mati saja. Saya
tidak kuat menghadapi kenyataan ini". Suaminya mendampingi
dengan muka sedih dan bingung, tidak tahu apa yang harus
dilakukannya. Kelihatannya ia sudah pasrah mendengar rintihan
istrinya. Kemarin istrinya dibawa ke rumah sakit karena ia
menenggak racun nyamuk. Ia bersyukur Tuhan masih memberikan
istrinya untuk hidup. Namun Dina tetap ingin mati. Ia merasa
badannya lemas, merasa tidak mampu jalan, merasa seluruh
tubuhnya terasa berat sehingga datang ke dokter pun harus
dipapah suaminya. Ia mengatakan, kalau tegang maka ia merasakan
sakit kepala seperti migrain.
Dina merasa hidupnya penuh
penderitaan.
Bapaknya sangat keras menuntut ia harus belajar saja dan harus
menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Ia tidak diberikan bergaul
dengan teman-teman laki-laki karena dianggap mengganggu dalam
menyelesaikan studinya. Ia tak berani menceritakan masalahnya
kepada orangtuanya karena mereka pasti memarahi, menekannya
tanpa ada keinginan untuk membantu atau mencarikan penyelesaian.
Beberapa kali ia minggat dari rumah karena merasa tertekan.
Akhirnya saat ia merasa sangat tertekan dengan situasi di
rumahnya, ia mendesak pacarnya untuk mengawininya karena ia
ingin bebas dari tekanan orangtuanya. Ia ingin memperoleh
kehidupan yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, tanpa
tekanan.
Setelah menikah, bukan
kenyamanan dan kebahagiaan yang diperolehnya. Ia menyesal hamil
setelah menikah sehingga kuliahnya harus ditunda. Ia harus
tinggal bersama mertua yang pendidikannya hanya SD karena
suaminya adalah anak tunggal laki-laki yang juga harus menjaga
orangtuanya. Ia harus mengikuti kebiasaan mertua yang setiap
hari ngaturang canang di setiap sudut rumahnya yang tidak pernah
dilakukan Dina di rumahnya sendiri. Yang membuat ia merasa putus
asa adalah, apapun yang dilakukannya selalu salah di mata
mertuanya. Ia tak boleh melakukan apa yang ia rasakan baik. Ia
tak boleh mendidik anaknya yang sudah berumur satu tahun sesuai
dengan apa yang dibacanya di buku-buku. Ia harus mengikuti kata
mertua yang katanya sudah berpengalaman. Hidupnya diatur oleh
mertuanya.
Dina tidak merasa punya
kebebasan hidup. Apa artinya hidup ini?
Suaminya jarang di rumah
karena ia harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Ia
ingin bekerja, ingin mendapatkan uang sendiri, ingin kuliah,
ingin punya rumah sendiri atau ngontrak rumah sehingga bebas
dari cengkraman mertua. Ia merasa tak kuat menghadapi kenyataan
yang di luar perkiraannya. Tiada tempat ia mengeluh, tiada yang
mau merasakan dirinya. Akhirnya ia merasa tak mampu untuk hidup.
Dorongan untuk mati sangat kuat. Tiba-tiba seperti ada dorongan
yang tidak ia ketahui untuk mengambil racun nyamuk yang ada di
ruang tamu. Ia bawa ke kamar, ia tidak memikirkan apa-apa, hanya
ingin lepas dari penderitaan. Ia merasa, hanya mati jalan yang
paling mudah dapat ia lakukan agar bebas dari himpitan
penderitaan yang menimpa dirinya.
Epidemiologi
Ada rentang waktu tindakan antara berpikir mengenai bunuh diri
dengan melakukannya. Beberapa orang mempunyai ide bunuh diri
kalau menghadapi penderitaan yang berat, tetapi tak pernah
melakukannya. Beberapa orang lainnya merencanakan dalam beberapa
hari, minggu, atau bahkan tahunan sebelum melakukannya,
sementara yang lainnya melakukannya secara impulsif (tindakan
yang timbul karena dorongan dari hatinya) tanpa perencanaan.
Di Amerika, setiap tahun
lebih dari 30 ribu orang meninggal karena bunuh diri. Di abad 20
ini, angka kejadian bunuh diri di AS berkisar 12,5 per 100 ribu
penduduk dengan angka tertinggi 17,4 per 100 ribu penduduk
dicapai pada tahun 1930-an pada zaman "Great
Depression".
Di seluruh dunia, angka
bunuh diri berkisar paling tinggi mencapai 25 per 100 ribu
penduduk yang terjadi di Skandinavia, Switzerland, German,
Austria dan negara-negara Eropa Timur, dan Jepang. Sedangkan
yang berada di bawah 10 per 100 ribu penduduk terjadi di Spanyol,
Italia, Irlandia, Mesir dan Belanda. Di Bali kelihatannya mau
meniru negara-negara industri.
Faktor-faktor risiko
adalah (1) Pria mati bunuh diri empat kali lebih banyak
dibandingkan dengan wanita, namun wanita empat kali lebih sering
melakukan tindakan percobaan bunuh diri daripada pria; (2) Bunuh
diri meningkat seiring dengan meningkatnya usia, paling banyak
pada usia 15-24 tahun. Angka tertingi bunuh diri terjadi pada
kelompok usia di atas 55 tahun; (3) Dua dari tiga kasus bunuh
diri dilakukan oleh pria kulit putih. Belakangan meningkat pada
ras kulit hitam. Pada kelompok imigran lebih tinggi dibandingkan
penduduk asli; (4) Bunuh diri pada penduduk Katolik Roma lebih
rendah dibandingkan dengan kelompok Protestan dan Yahudi; (5)
Perkawinan yang harmonis mempunyai kecenderungan lebih rendah
untuk melakukan bunuh diri. Bunuh diri lebih sering terjadi pada
mereka yang secara sosial terisolasi dan mempunyai riwayat
keluarga bunuh diri; (6) Semakin tinggi status sosial seseorang
semakin besar kemungkinan terjadinya bunuh diri, namun jatuhnya
status sosial juga meningkatkan risiko terjadinya bunuh diri;
(7) Pada umumnya orang yang berhasil bunuh diri karena
menggantung diri. Pria lebih banyak menggunakan senjata api,
gantung diri atau melompat dari ketinggian. Wanita lebih
cenderung overdosis dengan zat psikoaktif atau racun, tetapi
senjata api mulai meningkat penggunaannya.
Ada beberapa teori
diajukan kenapa orang sampai bunuh diri. Dari teori sosiologi
yang diajukan oleh Emile Durkheim, sosiolog dari Perancis,
membagi bunuh diri menjadi tiga kelompok yaitu (1) egoistic,
melakukan tindakan bunuh diri karena tidak mempunyai ikatan kuat
dengan kelompok sosialnya (dikucilkan, tidak menikah, perceraian),
(2) altruistic, melakukan bunuh diri untuk menunjukkan loyalitas,
pengabdian pada kelompoknya (harakiri, mesatya), dan (3) anomic,
tidak mampu menghadapi perubahan di masyarakat mengenai nilai
dan standar hidup (misalnya kehilangan pekerjaan, krisis ekonomi).
Menurut teori Freud, bunuh
diri merupakan tampilan agresi yang diarahkan ke diri melawan
suatu introyeksi, ambivalensi akan kehilangan objek cinta. Ia
melakukan bunuh diri karena sebelumnya ia merepresi keinginan
untuk membunuh seseorang. Menninger mengatakan bunuh diri
sebagai tindakan pembunuhan yang terbalik karena adanya
kemarahan seseorang terhadap orang lain. Tindakan ini sebagai
pembunuhan yang diarahkan ke diri. Ada tiga komponen dalam bunuh
diri yaitu keinginan untuk membunuh, keinginan untuk dibunuh,
dan keinginan untuk mati.
ari psikodinamika mereka
yang melakukan tindakan bunuh diri dapat dipelajari fantasi
mereka akan apa yang akan terjadi dan apa konsekuensinya jika
mereka melakukannya. Biasanya karena kehilangan objek cinta atau
mendapatkan suatu perlakuan narsisistik, akan mengalami suatu
afek yang berlebihan seperti marah yang sangat dan perasan
bersalah, atau diidentifikasi sebagai korban bunuh diri. Menurut
Aaron Beck, tindakan bunuh diri menunjukkan ketidakberdayaan
seseorang menghadapi kehidupan ini.
Pandangan dari segi
biologik mengatakan bunuh diri terjadi karena penurunan kadar
serotonin di otak. Adanya riwayat bunuh diri di keluarga
meningkatkan risiko terjadinya tindakan bunuh diri dan bunuh
diri itu sendiri. Studi lain di Denmark menyatakan bahwa faktor
genetik menurunkan nilai ambang perilaku bunuh diri yang
mengarah kepada ketidakmampuan untuk mengontrol perilaku
impulsif. Gangguan jiwa atau stresor lingkungan memiliki potensi
sebagai pencetus perilaku impulsif yang mengarah kepada suatu
bunuh diri.
Sedangkan Suryani dan
Jensen mengatakan, mereka yang melakukan bunuh diri karena
adanya suatu kekuatan yang mendorongnya untuk melakukan itu (kesurupan).
Ia berada dalam keadaan terpusat pada satu keadaan dimana
kemampuan berpikir dan bertimbangnya tidak berperan. Semua
norma-norma hidup terabaikan. Ia di bawah kendali kekuatan ini
yang merupakan dorongan dalam dirinya.
Pencegahan
Maraknya tindakan mencoba
bunuh diri dan mati bunuh diri akhir-akhir ini di Bali
seharusnya menjadi perhatian semua pihak di Bali, terutama dari
pemerintah dengan dinas-dinas yang terkait seperti departemen
agama, pendidikan, kesehatan, LSM, seniman terutama yang
bergerak di pertunjukan seperti arja, wayang, bondres, dan
masyarakat dengan desa pakramannya.
Usaha segera yang harus
dilakukan sbb;
* Tanamkan di masyarakat sejak dini bahwa bunuh diri adalah
tindakan berdosa, tindakan orang yang putus asa, tindakan yang
tidak berani menghadapi kenyataan. Hal ini dapat dilakukan
melalui cerita sebelum tidur, cerita guru-guru di sekolah,
ceramah-ceramah agama, dan pertunjukan di masyarakat.
* Berikan lingkungan nyaman dengan ada tempat untuk
mengekspresikan emosi melalui aktivitas seni, olah raga,
rekreasi dan dialog.
* Adakan waktu untuk bekerja dan istirahat. Masyarakat harus
bisa menikmati tidur nyenyak
* Adakan waktu merenung, mensyukuri apa yang diterima hari ini
adalah yang terbaik.
* luh ketut
suryani
cokorda bagus jaya lesmana
|