Kotoran
Telinga tak Perlu Dikorek Habis
Seseorang mengeluhkan
telinganya yang terasa amat nyeri. Ia bertanya, obat apa yang
dapat menyembuhkan telinganya. Ketika balik ditanya, apa yang
telah ia lakukan sebelumnya pada telinganya itu, katanya tak ada
sesuatu hal yang khusus. Hanya, katanya, sempat ia bersihkan
telinganya dengan cotton bud. Ia mengaku, kebiasaan ini telah
menjadi bagian dari rutinitasnya, sebab tanpa melewatkan yang
satu ini ia merasa telinganya selalu kotor, lengket. Ia pun
mengaku jijik dengan tahi telinga. Maka setiap hari
dikorek-koreklah telinganya untuk memastikan bahwa telinganya
telah benar-benar bersih-licin, bebas dari tilu. Ia baru
berhenti mengorek telinga setelah dipastikan bahwa tak ada
setitik noda pun melekat lagi. Benarkah tindakannya ini?
BANYAK
orang menganggap kotoran telinga, tahi kuping, tilu, atau
istilah medisnya serumen, merupakan sesuatu yang bersifat kotor,
jorok, menjijikkan, keberadaannya berkait dengan sanitasi
seseorang. Fenomena ini tak jarang menjadikan seseorang demikian
terobsesinya pada kebersihan telinganya. Sering terdengar ada
sebagian masyarakat yang mengorek tahi kupingnya setiap hari.
Apakah benar kotoran telinga harus dikikis habis dari telinga?
Apakah tahi kuping tidak memiliki fungsi sama sekali?
Mitos yang umum beredar di
masyarakat bahwa serumen merupakan kotoran telinga yang wajib
dibuang. Jika terdapat kotoran telinga, diyakini ada sejumlah
akibat yang dapat ditimbulkannya misalnya telinga terasa gatal,
gangguan pendengaran, telinga terasa penuh, dan hal yang utama
seringnya dikaitkan dengan tingkat pemeliharaan kebersihan
pribadi seseorang. Penumpukan serumen yang berlebihan,
menggumpal -- sampai menyumbat liang telinga, memang harus
dikeluarkan, tetapi dengan menggunakan metode atau cara yang
aman.
Sebelum memahami beberapa
efek buruk dari kebiasaan mengorek-mengikis habis tahi kuping
ini, ada baiknya dipahami sedikit fungsi penting kotoran telinga.
Serumen memiliki beberapa manfaat esensial yang mengharuskan
orang tetap memelihara eksistensinya dalam jumlah tertentu pada
indera pendengarannya. Fungsi itu antara lain sebagai media
proteksi terhadap segala bentuk kotoran, debu, pasir, biji
tanaman kecil, debris yang masuk, agar tak menembus bagian
telinga yang lebih dalam. Dia juga berfungsi menonaktifkan
kuman-bakteri yang masuk telinga, mempertahankan kelembaban
liang telinga, hingga menangkap serangga yang merayap-terbang
kesasar yang terperangkap di dalam lubang telinga. Beragam
fungsi penting tersebut dimungkinkan karena kekhasan sifatnya
yang lengket, kental, serta berbau khas.
Secara teori, orang tak
akan mungkin menjumpai serumen di bagian telinga yang lebih
dalam, karena ia hanya diproduksi pada 1/3 liang telinga bagian
luar oleh kelenjar serumen berkait dengan beragam fungsi
protektif di atas. Pada beberapa keadaan, sering dijumpai justru
kotoran telinga terdorong jauh ke dalam, bagaimana ini bisa
terjadi? Kebiasaan mengorek telinga dengan cotton bud, bulu ayam,
skrip rambut, ujung peniti, merupakan kebiasaan tidak sehat
sebagai salah satu biang keladi yang sering dijumpai.
Beragam cara tidak sehat
tersebut justru akan mendorong kotoran telinga masuk ke bagian
telinga yang lebih dalam, yang jika kebiasaan ini tetap
dipertahankan, lama-lama gumpalan serumen akan makin membesar.
Ironisnya, itu sampai menyumbat liang telinga. Dampak
selanjutnya, beragam gangguan pendengaran seperti suara
krebek-krebek, bunyi yang hilang timbul, penurunan tajam
pendengaran, atau bahkan bisa sampai berakibat tuli. Sumbatan
total pada telinga akan secara otomatis menghalangi hantaran
gelombang suara dari luar untuk kemudian melanjutkan beberapa
proses penting di dalam telinga sampai akhirnya impuls suara ini
dapat diubah ke bentuk suara yang nyata yang dapat didengar.
Bagaimana
Menyikapi
Kasus infeksi pada telinga sebagai akibat kebiasan
mengorek-ngorek telinga menjadi suatu hal yang amat sering
dijumpai di masyarakat. Infeksi akan berefek pada timbulnya rasa
nyeri-bengkak yang amat sangat pada telinga. Hal ini erat
kaitannya dengan anatomi telinga luar dimana kulit telinga luar
langsung melekat pada tulang rawan di bawahnya sehingga adanya
infeksi akan memberikan rangsangan nyeri yang hebat. Tidak
jarang dijumpai beragam metode di atas dapat sampai menciderai
-- menembus genderang telinga. Kekeringan dinding telinga luar
yang menampakkan gambaran pengelupasan sel-sel pembentuknya,
merupakan dampak lain yang dapat terjadi.
Selain itu, kebiasaaan
buruk ini memudahkan terjadinya perlukaan-perdarahan liang
telinga. Pada keadaan yang bersifat ekstrem, pernah pula
dilaporkan terjadinya kolaps -- pingsan pada seeorang yang
sedang asyik mengorek telinganya. Bagaimana kita menyikapi
kotoran telinga ini? Sekali lagi, serumen bukanlah kotoran
telinga, tetapi justru berfungsi menangkap setiap kotoran yang
masuk. Secara alami, setelah produksinya dianggap cukup untuk
menjalankan beragam fungsi penting di atas, kelebihannya akan
keluar dengan sendirinya ke muara lubang telinga. Nah, kotoran
telinga yang menyembul inilah yang dapat dibersihkan dengan
menggunakan tisue atau lap basah.
Tetapi, pada beberapa
individu ada yang memiliki sifat serumen yang keras, yang sulit
keluar secara alami, sehingga dapat menumpuk di lubang telinga.
Pada keadaan seperti ini, terdapat beberapa metode yang dapat
membantu pengeluaran serumen berlebihan ini, antara lain melalui
irigasi telinga dengan menggunakan air hangat, kuretase dengan
sendok serumen (semacam kawat kecil yang ujungnya membulat),
irigasi dengan menggunakan larutan hydrogen peroxida, dengan
larutan yang terdiri dari komposisi vinegar, air, dan peroxida
dengan perbandingan 1:1:2.
Sebuah metode yang
beberapa waktu lalu sempat populer yaitu teknik pemanasan dengan
lilin. Dilaporkan metode ini justru dapat memicu timbulnya
infeksi, serumen yang panas dapat pula menimbulkan efek luka
bakar pada telinga luar, bahkan akibat yang serius bisa terjadi
perforasi dari liang telinga sehingga cara ini tidak dianjurkan
penerapannya. Sebuah tips yang sangat sederhana dalam upaya
membantu melunakkan kotoran telinga yang keras untuk kemudian
mendorongnya keluar yang dapat dengan mudahnya dibuat-dikerjakan
di rumah, beberapa waktu lalu sempat dikemukakan oleh Prof.
Harvey Coates seorang dokter senior dari Perth, Australia, di
tengah-tengah acara pemeriksaan telinga terhadap sejumlah korban
bom Bali 12 Oktober yang lalu serta sejumlah masyarakat yang
memiliki problem THT. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama
Yayasan Bali Hati dan Yayasan Kemanusiaan Indonesia (The John
Fawcett Foundation). Menurut Harvey yang telah melahirkan
puluhan artikel-penelitian di bidang THT ini, penggunaan 1
sendok the baking soda dalam larutan 15 ml air hangat, efektif
melunakkkan serumen yang keras. Larutan ini digunakan 3 tetes
sehari selama 5 hari.
Harvey juga berpesan, agar
masyarakat menghentikan kebiasaan mengorek-ngorek telinga dengan
beragam benda atau cara apapun.
* dr. Ossyris Abu
Bakar
|