kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 30 Nopember 2003 tarukan valas
 

CERMIN


Psikologi oleh I Made Rustika

Merasa Kalah dari Istri

SAYA seorang laki-laki berusia 35 tahun, sudah mempunyai dua orang anak. Kami dulu menikah waktu masih sama-sama kuliah. Karena kesulitan biaya saya akhirnya memutuskan untuk berhenti kuliah, sedangkan istri saya masih tetap melanjutkan studinya. Pada waktu itu saya membiayai studi istri dengan sangat berat, harapan saya supaya di antara kami ada yang mencapai sarjana. Dengan semangat yang sangat tinggi istri saya akhirnya bisa menyelesaikan studi sehingga ia menyandang gelar sarjana, saya merasa bangga karena bisa membiayai istri menyelesaikan studi. Setelah melamar di beberapa perusahaan, istri saya akhirnya diterima di sebuah perusahaan yang cukup terkenal. Setelah beberapa tahun bekerja prestasi istri saya cukup cepat menanjak, sekarang ia sudah menduduki posisi yang cukup penting. Seiring dengan posisinya itu namanya juga makin populer sehingga orang-orang lebih mengenal dia dibandingkan dengan saya. Karena kesibukannya, ia seringkali kurang memperhatikan masalah-masalah di rumah, di samping itu kepribadiannya juga nampak berubah. Kalau dulu dia nampak begitu rendah hati dan memperhatikan keluarga sedangkan sekarang ia nampak tinggi hati dan bergaya orang penting. Dalam pertemuan-pertemuan dengan orang banyak saya sering merasa tidak percaya diri dan merasa ''kalah'' dari istri, ia dikenal banyak orang sedangkan saya tidak. Bapak Pengasuh, bagaimana caranya mengatasi perasaan ''kalah'' dari istri sehingga tetap merasa sebagai kepala keluarga? Bagaimana caranya mengingatkan kembali istri supaya ia mau memperhatikan kehidupan rumah tangganya, tidak hanya sibuk di luar rumah?

S, Denpasar
Saudara S, dari pengamatan Anda terhadap perilaku istri belakangan ini, Anda merasa istri mulai kurang memperhatikan dan kurang menghargai Anda. Terkait dengan pertanyaan Anda bagaimana caranya mengatasi perasaan ''kalah'' dari istri, yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk mengatasi perasaan kalah adalah mengembangkan dorongan berani bersaing.

Dalam kehidupan orang akan selalu dihadapkan pada persaingan-persaingan, baik dalam hal persaingan yang sederhana maupun dalam persaingan yang kompleks. Apabila dalam persaingan, seseorang merasa tidak berdaya untuk menghadapi persaingan sehingga timbul dalam dirinya perasaan pesimis dan kalah, maka hal ini merupakan awal keambrukan bagi orang tersebut. Karena ia cenderung memandang sesuatu mengenai dirinya sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah. Sejalan dengan makin menguatnya perasaan kalah dalam diri maka kebutuhan untuk diperhatikan dan dikasihi orang lain akan makin meningkat. Manifestasi dari perasaan tidak berdaya ini bisa dalam berbagai bentuk gangguan. Bagi orang tertentu keadaan tidak berdaya ini bisa muncul dalam bentuk gangguan hipokndriasis yaitu merasa diri menderita suatu penyakit tertentu (misalnya: sakit dada, sakit perut, dsb) padahal dalam kenyataannya ia tidak menderita penyakit tersebut. Ia merasa senang kalau orang mau mengatakan bahwa ia sakit, karena dengan demikian ia merasa aman. Bagi orang lain, keinginan untuk mendapatkan perhatian ini bisa juga muncul dalam bentuk gangguan konversi, berupa kelumpuhan, kejang, dsb.

Dari apa yang telah dikemukakan nampaklah bahwa dorongan untuk berani bersaing merupakan dorongan yang sangat penting dalam diri manusia, karena dengan adanya dorongan inilah orang akan terpacu menggunakan potensi dirinya secara optimal. Atas dasar itulah Saudara S diharapkan tidak larut pada perasaan pesimis dan kalah bersaing dengan istri. Apabila semula timbul bisikan dalam diri: "aku kalah dari istriku, ia bisa populer sedangkan aku tidak", sekarang berkatalah pada diri: ''aku belum tentu kalah, apabila aku tetap berusaha pada bidang yang aku tekuni aku optimis akan bisa menunjukkan diri, masing-masing orang mempunyai kelebihan sendiri-sendiri''. Sejalan dengan bisikan-bisikan positif itu, gelutilah dengan tekun bidang yang sesuai dengan kelebihan diri. Apabila mengalami kegagalan paculah diri untuk menggunakan pengalaman sebagai guru untuk melangkah lebih lanjut.

Sejalan dengan meningkatnya dorongan untuk menunjukkan diri, di mana optimisme meningkat maka selanjutnya tunjukkanlah diri sebagai kepala keluarga yang mantap di hadapan istri. Untuk mengingatkan istri terhadap kewajibannya sebagai ibu rumah tangga, Saudara S diharapkan melakukan pendekatan yang efektif dan terarah, dengan mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain:

Pilih Waktu Tepat untuk berdiskusi
Dari sekian banyak kesibukan istri, carilah waktu yang cukup luang dan suasana hati istri sedang gembira. Suasana hati sedang gembira perlu diperhitungkan karena dalam suasana hati gembira lebih banyak ide-ide positif yang bisa diingat oleh istri sehingga diskusi akan bisa berjalan lebih baik, sebaliknya apabila pembicaraan dilakukan pada waktu suasana hati sedang marah atau sedih maka akan sulit mengingat dan mengembangkan ide-ide yang positif. Secara perlahan tetapi dengan penuh kemantapan dan wibawa ajaklah istri untuk melihat kenyataan bahwa suatu ikatan perkawinan akan bisa berjalan dengan baik kalau kedua belah pihak mau saling memahami hak dan kewajibannya, serta masing-masing pihak mau saling menyesuaikan diri pada waktu menghadapi suatu permasalahan.

Pada waktu pandangan tersebut disampaikan maka reaksi istri mungkin akan menutup diri dan menganggap apa yang telah dilakukan sudah benar. Apabila reaksi ini yang ditunjukkan istri maka kuasailah diri dan kendalikan emosi sehingga pertengkaran bisa dihindarkan. Secara perlahan ajaklah sisi dewasa yang ada dalam diri istri untuk menganalisis permasalahan sehingga lama kelamaan istri bisa memandang permasalahan dengan jernih, siapa dirinya, apa hak dan kewajibannya sebagai seorang istri.

Konsisten Melakukan Kesepakatan
Setelah istri mau membuka diri dan bisa memandang permasalahan dengan objektif selanjutnya Saudara S diharapkan menunjukkan tekad dan perilaku yang konsisten dengan hasil kesepakatan atau hasil diskusi. Konsisten dalam tindakan ini penting ditunjukkan karena istri akan memandang suaminya sebagai figur yang mantap dan berwibawa kalau kata-katanya dapat dipegang, sehingga istri akan dipacu untuk ikut berperilaku demikian.


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com