Psikologi oleh I Made Rustika
Merasa Kalah dari
Istri
SAYA
seorang laki-laki berusia 35 tahun, sudah mempunyai dua orang
anak. Kami dulu menikah waktu masih sama-sama kuliah. Karena
kesulitan biaya saya akhirnya memutuskan untuk berhenti kuliah,
sedangkan istri saya masih tetap melanjutkan studinya. Pada
waktu itu saya membiayai studi istri dengan sangat berat,
harapan saya supaya di antara kami ada yang mencapai sarjana.
Dengan semangat yang sangat tinggi istri saya akhirnya bisa
menyelesaikan studi sehingga ia menyandang gelar sarjana, saya
merasa bangga karena bisa membiayai istri menyelesaikan studi.
Setelah melamar di beberapa perusahaan, istri saya akhirnya
diterima di sebuah perusahaan yang cukup terkenal. Setelah
beberapa tahun bekerja prestasi istri saya cukup cepat menanjak,
sekarang ia sudah menduduki posisi yang cukup penting. Seiring
dengan posisinya itu namanya juga makin populer sehingga
orang-orang lebih mengenal dia dibandingkan dengan saya. Karena
kesibukannya, ia seringkali kurang memperhatikan masalah-masalah
di rumah, di samping itu kepribadiannya juga nampak berubah.
Kalau dulu dia nampak begitu rendah hati dan memperhatikan
keluarga sedangkan sekarang ia nampak tinggi hati dan bergaya
orang penting. Dalam pertemuan-pertemuan dengan orang banyak
saya sering merasa tidak percaya diri dan merasa ''kalah'' dari
istri, ia dikenal banyak orang sedangkan saya tidak. Bapak
Pengasuh, bagaimana caranya mengatasi perasaan ''kalah'' dari
istri sehingga tetap merasa sebagai kepala keluarga? Bagaimana
caranya mengingatkan kembali istri supaya ia mau memperhatikan
kehidupan rumah tangganya, tidak hanya sibuk di luar rumah?
S, Denpasar
Saudara S, dari pengamatan Anda terhadap perilaku istri
belakangan ini, Anda merasa istri mulai kurang memperhatikan dan
kurang menghargai Anda. Terkait dengan pertanyaan Anda bagaimana
caranya mengatasi perasaan ''kalah'' dari istri, yang dapat
dijadikan bahan pertimbangan untuk mengatasi perasaan kalah
adalah mengembangkan dorongan berani bersaing.
Dalam kehidupan orang akan
selalu dihadapkan pada persaingan-persaingan, baik dalam hal
persaingan yang sederhana maupun dalam persaingan yang kompleks.
Apabila dalam persaingan, seseorang merasa tidak berdaya untuk
menghadapi persaingan sehingga timbul dalam dirinya perasaan
pesimis dan kalah, maka hal ini merupakan awal keambrukan bagi
orang tersebut. Karena ia cenderung memandang sesuatu mengenai
dirinya sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah. Sejalan dengan
makin menguatnya perasaan kalah dalam diri maka kebutuhan untuk
diperhatikan dan dikasihi orang lain akan makin meningkat.
Manifestasi dari perasaan tidak berdaya ini bisa dalam berbagai
bentuk gangguan. Bagi orang tertentu keadaan tidak berdaya ini
bisa muncul dalam bentuk gangguan hipokndriasis yaitu merasa
diri menderita suatu penyakit tertentu (misalnya: sakit dada,
sakit perut, dsb) padahal dalam kenyataannya ia tidak menderita
penyakit tersebut. Ia merasa senang kalau orang mau mengatakan
bahwa ia sakit, karena dengan demikian ia merasa aman. Bagi
orang lain, keinginan untuk mendapatkan perhatian ini bisa juga
muncul dalam bentuk gangguan konversi, berupa kelumpuhan, kejang,
dsb.
Dari apa yang telah
dikemukakan nampaklah bahwa dorongan untuk berani bersaing
merupakan dorongan yang sangat penting dalam diri manusia,
karena dengan adanya dorongan inilah orang akan terpacu
menggunakan potensi dirinya secara optimal. Atas dasar itulah
Saudara S diharapkan tidak larut pada perasaan pesimis dan kalah
bersaing dengan istri. Apabila semula timbul bisikan dalam diri:
"aku kalah dari istriku, ia bisa populer sedangkan aku
tidak", sekarang berkatalah pada diri: ''aku belum tentu
kalah, apabila aku tetap berusaha pada bidang yang aku tekuni
aku optimis akan bisa menunjukkan diri, masing-masing orang
mempunyai kelebihan sendiri-sendiri''. Sejalan dengan
bisikan-bisikan positif itu, gelutilah dengan tekun bidang yang
sesuai dengan kelebihan diri. Apabila mengalami kegagalan
paculah diri untuk menggunakan pengalaman sebagai guru untuk
melangkah lebih lanjut.
Sejalan dengan
meningkatnya dorongan untuk menunjukkan diri, di mana optimisme
meningkat maka selanjutnya tunjukkanlah diri sebagai kepala
keluarga yang mantap di hadapan istri. Untuk mengingatkan istri
terhadap kewajibannya sebagai ibu rumah tangga, Saudara S
diharapkan melakukan pendekatan yang efektif dan terarah, dengan
mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain:
Pilih Waktu Tepat
untuk berdiskusi
Dari sekian banyak kesibukan istri, carilah waktu yang cukup
luang dan suasana hati istri sedang gembira. Suasana hati sedang
gembira perlu diperhitungkan karena dalam suasana hati gembira
lebih banyak ide-ide positif yang bisa diingat oleh istri
sehingga diskusi akan bisa berjalan lebih baik, sebaliknya
apabila pembicaraan dilakukan pada waktu suasana hati sedang
marah atau sedih maka akan sulit mengingat dan mengembangkan
ide-ide yang positif. Secara perlahan tetapi dengan penuh
kemantapan dan wibawa ajaklah istri untuk melihat kenyataan
bahwa suatu ikatan perkawinan akan bisa berjalan dengan baik
kalau kedua belah pihak mau saling memahami hak dan kewajibannya,
serta masing-masing pihak mau saling menyesuaikan diri pada
waktu menghadapi suatu permasalahan.
Pada waktu pandangan
tersebut disampaikan maka reaksi istri mungkin akan menutup diri
dan menganggap apa yang telah dilakukan sudah benar. Apabila
reaksi ini yang ditunjukkan istri maka kuasailah diri dan
kendalikan emosi sehingga pertengkaran bisa dihindarkan. Secara
perlahan ajaklah sisi dewasa yang ada dalam diri istri untuk
menganalisis permasalahan sehingga lama kelamaan istri bisa
memandang permasalahan dengan jernih, siapa dirinya, apa hak dan
kewajibannya sebagai seorang istri.
Konsisten
Melakukan Kesepakatan
Setelah istri mau membuka diri dan bisa memandang permasalahan
dengan objektif selanjutnya Saudara S diharapkan menunjukkan
tekad dan perilaku yang konsisten dengan hasil kesepakatan atau
hasil diskusi. Konsisten dalam tindakan ini penting ditunjukkan
karena istri akan memandang suaminya sebagai figur yang mantap
dan berwibawa kalau kata-katanya dapat dipegang, sehingga istri
akan dipacu untuk ikut berperilaku demikian.
|