Ni Putu Ary Hartini
Jadi Penyiar Kayaknya
Enak
BERAWAL
dari menyenangi budaya tradisional Bali, Ni Putu Ary Hartini
akhirnya terpilih menjadi juara I pada "Lomba
Presenter" Bali TV kategori "Pembaca Berita Berbahasa
Bali" belum lama ini. Menurutnya, profesi yang mengandalkan
suara dan penampilan ini digeluti dan dipelajari secara otodidak
sejak menjadi murid SMP. Profesi ini digeluti, berawal dari
banyaknya ia mengumpulkan prestasi dari lomba-lomba yang
diikutinya. Di antaranya lomba baca puisi, lomba mesatwa, lomba
cerdas tangkas, lomba utsawa dharma gita, dan sebagai penari
festival gong kebyar di Pesta Kesenian Bali (PKB).
Meskipun demikian, Ary --
begitu ia sering disapa, sering dipercaya menjadi presenter. Baik
di tingkat Kecamatan Mengwi seperti dalam lomba desa dan
seremonial lainnya, atau mewakili Kabupaten Badung sebagai
presenter pada acara pementasan kesenian berkaitan PKB di Taman
Budaya Denpasar. "Setelah mendengar ada lomba di Bali TV
saya kepingin mencobanya. Juga ingin membuka kesempatan untuk
memperkenalkan diri pada publik lewat lomba. Ternyata sangat
surprise bisa terpilih sebagai juara I. Saya berharap, setelah
mendapat juara diberikan kesempatan untuk mengisi acara.
Walaupun tidak menjadi presenter tetap, tetapi cukup mengisi
acara-acara kecil-kecilan saja," kata alumnus Teknik Sipil
Universitas Udayana ini.
Menurut pemilik
tinggi-berat 165 cm dan 55 kg yang gemar makan bakso ini,
mengikuti lomba presenter karena merupakan hobi. Bagi Ary, di
samping ingin menyalurkan bakat dan menambah wawasan lewat
membaca berita, juga untuk melestarikan budaya tradisional Bali.
"Jujur saja, sejak kecil saya sudah ingin menekuni dunia
televisi, terutama pada bidang penyiaran. Menjadi penyiar itu
kayaknya enak banget. Di samping untuk mendapat wawasan lebih
luas. Jelasnya, kalau membaca itu kan harus menguasai isinya,
tidak cuma membaca," paparnya.
Walau mengikuti lomba
presenter kali ini merupakan yang pertama, tetapi ia sama sekali
tidak grogi atau takut. Justru ia tampil percaya diri dan enjoy
saja. Wajar saja, setelah lomba ia merasa optimis bisa mendapat
juara, namun tidak tahu bisa meraih juara I. "Banyak juga
selentingan dari teman-teman bahwa saya bisa meraih juara. Tapi,
belum berani memastikan, karena merasa penampilan saya dadakan,"
ujarnya.
Sulung dari tiga saudara
putri pasangan I Made Gunawan (alm) dan Ni Made Astini, A.Ma.Pd.
ini mengatakan, dalam mengikuti lomba ia tidak melakukan
persiapan yang serius. Dua hari sebelum lomba, ia hanya sempat
latihan membaca, kemudian mempraktikkan secara langsung di depan
kaca. Sedangkan yang menilai adalah ibunya sendiri. Maklum saja,
Ary adalah seorang pekerja swasta yang sedikit memiliki waktu
untuk berlatih. "Saya belajar melalui siaran berita di Bali
TV. Walau cuma dua hari itu, tetapi semua saya bisa mendapat
masukan. Seperti mengukur intonasi, pemenggalan kalimat yang pas
dan ekspresi," katanya polos.
Lebih lanjut, dara
kelahiran Gulingan, 5 Juni 1977 ini menjelaskan, sekarang ini
anak-anak sangat jarang bisa menggunakan bahasa Bali sebagai
alat komunikasi. Padahal ini perlu dilestarikan, sehingga budaya
tradisional Bali ini tidak hilang. Nah, untuk itu, sebaiknya
bahasa Bali pertama kali dilatih dalam lingkungan keluarganya.
Walaupun sederhana, tetapi saking seringnya akan menjadi biasa.
Di sekolah juga harus diberikan pelajaran bahasa Bali. "Ilmunya
didapat di sekolah dan praktiknya dilakukan pada lomba-lomba
seperti ini. Kalau bisa, lomba seperti ini dilakukan lebih
sering lagi. Bisa juga lomba mesatwa dan lomba mawirama,"
katanya.
Ketika ditanya, apakah Ary
juga menggeluti dunia model, sambil menarik napas panjang ia
berkata, "Saya tidak senang melakukan seni gaya itu. Tetapi
saya tidak membencinya. Lagian, saya rasa tidak mutlak seorang
presenter itu adalah seorang model. Dunia model hanya sebagai
pendukung saja. Walau tidak cantik, yang penting mampu
berekspresi dan bisa menarik pemirsa untuk betah menonton.
Lagian tidak selalu orang yang cantik bisa masuk ke dunia
penyiaran," katanya. (buda)
|