Arsitektur
Islam di Tengah Kebudayaan Dunia
Setelah Nabi Muhammad SAW
wafat pada 8 Juli 632 Masehi menurut perhitungan ahli sejarah,
arsitektur Islam berkembang seiring penyebaran agama Islam ke
Asia barat, seluruh pantai utara Afrika sampai Spanyol, seluruh
Asia tengah, ke sebagian India dan termasuk ke Indonesia. Lalu,
mengapa arsitektur Islam dapat dikatakan identik dengan
arsitektur masjid? Benarkah lantaran ciri-ciri arsitektur Islam
itu sendiri dapat terlihat jelas dalam perkembangan arsitektur
masjid?
ARSITEKTUR
Islam berdasarkan wujud dan penampilannya, merupakan gambaran
perjalanan waktu yang telah diisi oleh kegiatan pembangunan
arsitektur-arsitektur yang secara khusus lahir dari suatu bentuk
kebudayaan Islam.
Akibat dari penyebaran
agama Islam dari jazirah Arab ke daerah lainnya, maka muncullah
dua unsur dasar dalam kebudayaan Islam. Pertama, pengaruh dari
kehidupan asli di Arab. Kedua, pengaruh kebudayaan asli dari
daerah-daerah yang kemudian masuk Islam. Asimilasi dari
kebudayaan Arab yang dibawa oleh penyebar agama Islam dengan
kebudayaan dari lokal genius daerah baru yang telah masuk Islam,
melahirkan suatu wujud baru dalam arsitektur Islam. Dari
perpaduan kebudayaan tersebut tumbuh kecakapan-kecapakan
berdasarkan pengalaman dan kecakapan teknik, yang didasari oleh
pemikiran kepandaian menghitung, kepandaian membangun,
pengetahuan tentang bahan, konstruksi dan estetika dalam
penampilan baru arsitektur Islam.
Fungsionalisme
Arsitektur Islam dapat dikatakan identik dengan arsitektur
masjid. Sebab, ciri-ciri arsitektur Islam dapat terlihat jelas
dalam perkembangan arsitektur masjid. Ketika tempat suci masjid
baru diperkenalkan Nabi Muhammad SAW untuk tempat suci agama
Islam, hal yang pertama yang dilakukan beliau adalah membuat
tempat suci yang bertitik tolak dari prinsip fungsionalisme.
Sebab, masjid sebelumnya tidak pernah ada. Intuisi manusiawi
Nabi Muhammad didasari atas prinsip mendirikan sesuatu di atas
tanah, untuk tujuan memberi tempat dan melayani kebutuhan
masyarakat yang terjadi secara spontan pada saat itu.
Prototipe masjid yang
dibuat Nabi Muhammad secara spontan tersebut adalah masjid
dengan konsep "masjid lapangan". Unsur utamanya adalah
ruang terbuka atau lapangan di bagian tengah denah dan
dikelilingi dinding tembok pembatas. Konsep ini dikembangkan
dari adat kebiasaan lama bangsa Arab, yang memanfaatkan bentuk
lapangan terbuka di antara dinding-dinding pembatas, untuk
menampung aktivitas pertemuan dan aktivitas kehidupan lainnya.
Denah masjid adalah segi empat yang dibatasi dinding. Di
sepanjang dinding dalam, dibuat semacam serambi yang langsung
berhubungan dengan lapangan terbuka, sebagai bagian tengah
masjid. Pintu masuknya diberi tanda dengan gapura atau gerbang
yang terdiri atas tumpukan batu-batu alam. Masjid yang dibuat
Nabi Muhammad ini konstruksinya alamiah, dengan penyelesaian
yang sederhana dan cepat bisa digunakan. Batang pohon kurma yang
alamiah dimanfaatkan sebagai tiang, pelepah kurma sebagai
rusuk-rusuk pengatap dan daunnya digunakan sebagai atap.
Sedangkan dinding-dinding batu yang kuat, ditumpuk menjadi
dinding pelindung dengan perekat tanah liat.
Tempat Nabi Muhammad
menyampaikan wejangan adalah berupa penonjolan dinding yang juga
merupakan serambi, ditopang pohon kurma dan tempat ini sedikit
ditinggikan. Di kemudian hari tempat ini berkembang menjadi
relung atau ceruk untuk menunjukkan arah kiblat dan disebut
mihrab. Sedangkan tempat duduk Nabi yang berupa serambi pada
dinding dan tempatnya ditinggikan disebut mimbar.
Pada awalnya, arah
sembahyang mengarah ke Yerusalem. Setelah ada wahyu Tuhan
tentang arah sembahyang menuju ke arah kedudukan Ka'bah, barulah
arah sembahyang berubah, sehingga dinding ruang sembahyang
masjid ke arah Ka'bah menjadi arah kiblat.
Bukti Nyata
Kebudayaan Islam yang pada awalnya didukung oleh orang-orang
penghuni jazirah Arab, hidup di antara padang pasir yang ganas.
Mereka adalah kaum Badawi yang biasa hidup di dalam perkemahan
dan mengembara mencari tanah subur untuk kelangsungan hidupnya.
Akibat dari kehidupan yang biasa dilakoninya di padang pasir
tersebut, mereka memiliki bakat untuk mudah menyesuaikan diri
dengan kebudayaan-kebudayaan lain, yang ada di sekitarnya,
seperti kebudayaan bangsa Mesir, Babilionia (Irak), Sasanid di
Persia (Iran) dan kebudayaan di Padang Sinai (Yahudi).
Menurut Abdul Rochym yang
aktif menulis arsitektur Islam, hal ini bisa terjadi karena
adanya semacam perasaan keserumpunan di antara kaum Badawi dan
kaum Arab sekitarnya. Sehingga, mereka menganggap bahwa
kebudayaan yang dihasilkan oleh bangsa Mesir purba, Mesopotamia
(Irak purba), Padang Sinai purba dan Iran purba, merupakan
warisan bersama, berasal dari satu turunan yang berkaitan dengan
kebudayaan keturunan Samiyah (Semit).
Salah satu aspek budaya
yang telah memberikan bukti nyata adalah bidang arsitektur.
Sebab, melalui bidang arsitektur, ukuran tinggi-rendahnya
kebudayaan suatu bangsa dapat dilihat. Jauh sebelum kebudayaan
Islam tumbuh, bangsa-bangsa di sekitar jazirah Arab telah
mengenal wujud-wujud arsitektur terkenal. Bangsa Mesir yang
hidup di sepanjang dataran lembah Sungai Nil, telah mewarisi
keterampilan membangun arsitektur piramid dari zaman Mesir Purba.
Keturunan bangsa Sumeria
dan Semit (Irak Purba) yang tinggal di sepanjang sungai Tigris
dan Eufrat, telah memiliki keterampilan membangun arsitektur
perkotaan, konstruksi kubah dan piramida-piramida tangga yang
disebut zigurat. Dari kebudayaan Persia (Iran purba) telah
diwarisi kemahiran membangun konstruksi pilar, penggunaan bahan
batu-bata pada bangunan istana dengan teknik konstruksi
lengkungan-lengkungan yang disebut iwan dan gerbang dengan
berbagai hiasan. Dari pengaruh peninggalan arsitektur kaum
Sasanid di Persia inilah arsitektur Islam yang menimba dan
mengembangkan bentuk-bentuk konstruksi lengkung dan kubah pada
bentuk bangunan-bangunannya.
Ketika kebudayaan Islam
bersentuhan dengan kebudayaan Eropa di Kerajaan Romawi timur (Bizantium/
Konstantinopel) pada abad ke-11, arsitektur Islam juga menimba
teknik dan bentuk arsitektur Eropa, yang tumbuh dari arsitektur
Yunani dan Romawi. Sebaliknya teknik dan bentuk arsitektur Islam
yang dibawa oleh bangsa Turki (kaum Seljuk) juga disadap oleh
bangsa Romawi untuk dikembangkan di Kerajaan Romawi timur.
Akibat adanya kontak
budaya antara orang-orang Muslim Turki dengan budaya Nasrani di
Eropa timur inilah, arsitektur Islam yang semula hanya mengenal
atap bangunan rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal
atap meruncing ke atas. Selain itu, sejak bersentuhan dengan
kebudayaan Kerajaan Romawi timur ini juga, arsitektur Islam
mulai mengenal arsitektur yang bersifat megah, berkesan perkasa
dan vertikalisme. Peninggalan arsitektur Islam terkenal di
daerah ini adalah Masjid Aya Sophia, yang sebelumnya merupakan
sebuah gereja. Dengan sikap penuh kearifan, orang-orang Muslim
Turki ketika mengambil alih Gereja Ayasophia pada 1453, bentuk
arsitektur Aya Sophia tidak dibongkar. Kubah Aya Sophia dari
zaman Bizantium (Romawi) tetap dibiarkan, tetapi penampilan
bentuk luarnya dilengkapi empat buah menara. Kemudian pembagian
ruangnya disempurnakan, disesuaikan dengan kaidah-kaidah Islam.
Termasuk penyempurnaan terhadap penggunaan hiasan-hiasan yang
semula ada di Aya Sophia, kemudian ditambahi kaligragfi Arab.
Selain masuk melalui
Kerajaan Romawi timur, setelah melalui Afrika utara kebudayaan
Islam juga masuk Eropa melalui Cordoba di Spanyol. Arsitektur
Islam yang berkembang Eropa melalui Cordoba-Spanyol adalah
arsitektur Islam yang disebut bergaya Moor. Gaya ini dibawa oleh
bangsa Berber yang berasal dari Maroko (Afrika Utara). Mereka
juga disebut suku Habsyi, sebagai orang-orang Muslim di Spanyol.
Perkembangan kebudayaan Islam di Spanyol kemudian mempengaruhi
seluruh Eropa barat, yang saat itu belum memiliki penataan kota
yang baik dan lingkungannya masih becek. Karya arsitektur Islam
terkenal di Spanyol adalah Istana Alhambra di Granada, yang
dibangun oleh Mohamad Ibn Al Amar. Proses pembangunan istana ini
sangat lama (1248-1354). Istana ini kemudian dipugar dan
disempurnakan lagi oleh para sultan penggantinya.
Istana Alhambar merupakan
karya arsitektur yang sangat dikagumi sampai saat ini, dibangun
di dataran tinggi dengan topografi bertingkat-tingkat dan
lingkungannya dipenuhi taman air. Di sekeliling ruang tengah
istananya didereti pilar-pilar berkonstruksi lengkung. Ruang
tengah istananya yang terbuka dilengkapi kolam air mancur dari
batu pualam, didukung empat patung singa.
Dengan demikian,
arsitektur Islam yang semula sangat sederhana, kemudian
berkembang dalam berbagai bentuk dan dipengaruhi oleh
kebudayaan-kebudayaan lokal, maupun kebudayaan-kebudayaan dunia.
Hal ini sejalan dengan jiwa para penyebar agama Islam ke
daerah-daerah baru, yang sebelumnya telah memiliki kebudayaan
asli.
* gede mugi
raharja
|