kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 30 Nopember 2003 tarukan valas
 

ARSITEKTUR


Arsitektur Islam di Tengah Kebudayaan Dunia

Setelah Nabi Muhammad SAW wafat pada 8 Juli 632 Masehi menurut perhitungan ahli sejarah, arsitektur Islam berkembang seiring penyebaran agama Islam ke Asia barat, seluruh pantai utara Afrika sampai Spanyol, seluruh Asia tengah, ke sebagian India dan termasuk ke Indonesia. Lalu, mengapa arsitektur Islam dapat dikatakan identik dengan arsitektur masjid? Benarkah lantaran ciri-ciri arsitektur Islam itu sendiri dapat terlihat jelas dalam perkembangan arsitektur masjid?

ARSITEKTUR Islam berdasarkan wujud dan penampilannya, merupakan gambaran perjalanan waktu yang telah diisi oleh kegiatan pembangunan arsitektur-arsitektur yang secara khusus lahir dari suatu bentuk kebudayaan Islam.

Akibat dari penyebaran agama Islam dari jazirah Arab ke daerah lainnya, maka muncullah dua unsur dasar dalam kebudayaan Islam. Pertama, pengaruh dari kehidupan asli di Arab. Kedua, pengaruh kebudayaan asli dari daerah-daerah yang kemudian masuk Islam. Asimilasi dari kebudayaan Arab yang dibawa oleh penyebar agama Islam dengan kebudayaan dari lokal genius daerah baru yang telah masuk Islam, melahirkan suatu wujud baru dalam arsitektur Islam. Dari perpaduan kebudayaan tersebut tumbuh kecakapan-kecapakan berdasarkan pengalaman dan kecakapan teknik, yang didasari oleh pemikiran kepandaian menghitung, kepandaian membangun, pengetahuan tentang bahan, konstruksi dan estetika dalam penampilan baru arsitektur Islam.

Fungsionalisme
Arsitektur Islam dapat dikatakan identik dengan arsitektur masjid. Sebab, ciri-ciri arsitektur Islam dapat terlihat jelas dalam perkembangan arsitektur masjid. Ketika tempat suci masjid baru diperkenalkan Nabi Muhammad SAW untuk tempat suci agama Islam, hal yang pertama yang dilakukan beliau adalah membuat tempat suci yang bertitik tolak dari prinsip fungsionalisme. Sebab, masjid sebelumnya tidak pernah ada. Intuisi manusiawi Nabi Muhammad didasari atas prinsip mendirikan sesuatu di atas tanah, untuk tujuan memberi tempat dan melayani kebutuhan masyarakat yang terjadi secara spontan pada saat itu.

Prototipe masjid yang dibuat Nabi Muhammad secara spontan tersebut adalah masjid dengan konsep "masjid lapangan". Unsur utamanya adalah ruang terbuka atau lapangan di bagian tengah denah dan dikelilingi dinding tembok pembatas. Konsep ini dikembangkan dari adat kebiasaan lama bangsa Arab, yang memanfaatkan bentuk lapangan terbuka di antara dinding-dinding pembatas, untuk menampung aktivitas pertemuan dan aktivitas kehidupan lainnya. Denah masjid adalah segi empat yang dibatasi dinding. Di sepanjang dinding dalam, dibuat semacam serambi yang langsung berhubungan dengan lapangan terbuka, sebagai bagian tengah masjid. Pintu masuknya diberi tanda dengan gapura atau gerbang yang terdiri atas tumpukan batu-batu alam. Masjid yang dibuat Nabi Muhammad ini konstruksinya alamiah, dengan penyelesaian yang sederhana dan cepat bisa digunakan. Batang pohon kurma yang alamiah dimanfaatkan sebagai tiang, pelepah kurma sebagai rusuk-rusuk pengatap dan daunnya digunakan sebagai atap. Sedangkan dinding-dinding batu yang kuat, ditumpuk menjadi dinding pelindung dengan perekat tanah liat.

Tempat Nabi Muhammad menyampaikan wejangan adalah berupa penonjolan dinding yang juga merupakan serambi, ditopang pohon kurma dan tempat ini sedikit ditinggikan. Di kemudian hari tempat ini berkembang menjadi relung atau ceruk untuk menunjukkan arah kiblat dan disebut mihrab. Sedangkan tempat duduk Nabi yang berupa serambi pada dinding dan tempatnya ditinggikan disebut mimbar.

Pada awalnya, arah sembahyang mengarah ke Yerusalem. Setelah ada wahyu Tuhan tentang arah sembahyang menuju ke arah kedudukan Ka'bah, barulah arah sembahyang berubah, sehingga dinding ruang sembahyang masjid ke arah Ka'bah menjadi arah kiblat.

Bukti Nyata
Kebudayaan Islam yang pada awalnya didukung oleh orang-orang penghuni jazirah Arab, hidup di antara padang pasir yang ganas. Mereka adalah kaum Badawi yang biasa hidup di dalam perkemahan dan mengembara mencari tanah subur untuk kelangsungan hidupnya. Akibat dari kehidupan yang biasa dilakoninya di padang pasir tersebut, mereka memiliki bakat untuk mudah menyesuaikan diri dengan kebudayaan-kebudayaan lain, yang ada di sekitarnya, seperti kebudayaan bangsa Mesir, Babilionia (Irak), Sasanid di Persia (Iran) dan kebudayaan di Padang Sinai (Yahudi).

Menurut Abdul Rochym yang aktif menulis arsitektur Islam, hal ini bisa terjadi karena adanya semacam perasaan keserumpunan di antara kaum Badawi dan kaum Arab sekitarnya. Sehingga, mereka menganggap bahwa kebudayaan yang dihasilkan oleh bangsa Mesir purba, Mesopotamia (Irak purba), Padang Sinai purba dan Iran purba, merupakan warisan bersama, berasal dari satu turunan yang berkaitan dengan kebudayaan keturunan Samiyah (Semit).

Salah satu aspek budaya yang telah memberikan bukti nyata adalah bidang arsitektur. Sebab, melalui bidang arsitektur, ukuran tinggi-rendahnya kebudayaan suatu bangsa dapat dilihat. Jauh sebelum kebudayaan Islam tumbuh, bangsa-bangsa di sekitar jazirah Arab telah mengenal wujud-wujud arsitektur terkenal. Bangsa Mesir yang hidup di sepanjang dataran lembah Sungai Nil, telah mewarisi keterampilan membangun arsitektur piramid dari zaman Mesir Purba.

Keturunan bangsa Sumeria dan Semit (Irak Purba) yang tinggal di sepanjang sungai Tigris dan Eufrat, telah memiliki keterampilan membangun arsitektur perkotaan, konstruksi kubah dan piramida-piramida tangga yang disebut zigurat. Dari kebudayaan Persia (Iran purba) telah diwarisi kemahiran membangun konstruksi pilar, penggunaan bahan batu-bata pada bangunan istana dengan teknik konstruksi lengkungan-lengkungan yang disebut iwan dan gerbang dengan berbagai hiasan. Dari pengaruh peninggalan arsitektur kaum Sasanid di Persia inilah arsitektur Islam yang menimba dan mengembangkan bentuk-bentuk konstruksi lengkung dan kubah pada bentuk bangunan-bangunannya.

Ketika kebudayaan Islam bersentuhan dengan kebudayaan Eropa di Kerajaan Romawi timur (Bizantium/ Konstantinopel) pada abad ke-11, arsitektur Islam juga menimba teknik dan bentuk arsitektur Eropa, yang tumbuh dari arsitektur Yunani dan Romawi. Sebaliknya teknik dan bentuk arsitektur Islam yang dibawa oleh bangsa Turki (kaum Seljuk) juga disadap oleh bangsa Romawi untuk dikembangkan di Kerajaan Romawi timur.

Akibat adanya kontak budaya antara orang-orang Muslim Turki dengan budaya Nasrani di Eropa timur inilah, arsitektur Islam yang semula hanya mengenal atap bangunan rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap meruncing ke atas. Selain itu, sejak bersentuhan dengan kebudayaan Kerajaan Romawi timur ini juga, arsitektur Islam mulai mengenal arsitektur yang bersifat megah, berkesan perkasa dan vertikalisme. Peninggalan arsitektur Islam terkenal di daerah ini adalah Masjid Aya Sophia, yang sebelumnya merupakan sebuah gereja. Dengan sikap penuh kearifan, orang-orang Muslim Turki ketika mengambil alih Gereja Ayasophia pada 1453, bentuk arsitektur Aya Sophia tidak dibongkar. Kubah Aya Sophia dari zaman Bizantium (Romawi) tetap dibiarkan, tetapi penampilan bentuk luarnya dilengkapi empat buah menara. Kemudian pembagian ruangnya disempurnakan, disesuaikan dengan kaidah-kaidah Islam. Termasuk penyempurnaan terhadap penggunaan hiasan-hiasan yang semula ada di Aya Sophia, kemudian ditambahi kaligragfi Arab.

Selain masuk melalui Kerajaan Romawi timur, setelah melalui Afrika utara kebudayaan Islam juga masuk Eropa melalui Cordoba di Spanyol. Arsitektur Islam yang berkembang Eropa melalui Cordoba-Spanyol adalah arsitektur Islam yang disebut bergaya Moor. Gaya ini dibawa oleh bangsa Berber yang berasal dari Maroko (Afrika Utara). Mereka juga disebut suku Habsyi, sebagai orang-orang Muslim di Spanyol. Perkembangan kebudayaan Islam di Spanyol kemudian mempengaruhi seluruh Eropa barat, yang saat itu belum memiliki penataan kota yang baik dan lingkungannya masih becek. Karya arsitektur Islam terkenal di Spanyol adalah Istana Alhambra di Granada, yang dibangun oleh Mohamad Ibn Al Amar. Proses pembangunan istana ini sangat lama (1248-1354). Istana ini kemudian dipugar dan disempurnakan lagi oleh para sultan penggantinya.

Istana Alhambar merupakan karya arsitektur yang sangat dikagumi sampai saat ini, dibangun di dataran tinggi dengan topografi bertingkat-tingkat dan lingkungannya dipenuhi taman air. Di sekeliling ruang tengah istananya didereti pilar-pilar berkonstruksi lengkung. Ruang tengah istananya yang terbuka dilengkapi kolam air mancur dari batu pualam, didukung empat patung singa.

Dengan demikian, arsitektur Islam yang semula sangat sederhana, kemudian berkembang dalam berbagai bentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan-kebudayaan lokal, maupun kebudayaan-kebudayaan dunia. Hal ini sejalan dengan jiwa para penyebar agama Islam ke daerah-daerah baru, yang sebelumnya telah memiliki kebudayaan asli.

* gede mugi raharja


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com