Kegagalan
Bahasa Taruna-taruni
APA
hendak dikatakan ketika data riset menunjukkan angka seperti ini:
dari dua kasus kekerasan massal tiap bulan satu dasawarsa
terakhir di Bali, lebih-lebih lagi lima tahun terakhir
(1998-2003 ini yang setara dengan era "konon"
reformasi), hampir 50 persen di antara sumbu pemicunya bermula
dari sengketa anak muda. Variasinya beragam, mulai dari saling
salip saat naik motor di jalanan, saling senggol, ditatap
kelompok lain, salah paham di warung, sampai kenes-kenesan
sepele berbau pelecehan gender mencolek cewek anak muda lain.
Tambah menggundahkan lagi
manakala ketahuan gara-gara persoalan antaranak muda
taruna-taruni di jalanan itu malah akhirnya berlanjut dengan
menggebuk kulkul bulus banjar, sehingga tidak urung bergerombol
ikut-ikutan khalaflah kaum tua membawa madik, tanpa
menimbang-nimbang kritis dulu sumber sebabnya. Akibatnya jelas:
antardua banjar saling berkelahi, saling habisi, sehingga
tertebar tersemailah bibit dendam kesumat bergenerasi-generasi
antarbanjar saling bertetangga. Manakala benih dendam ini
menemui mega-simpul kendaraan politik sebagai pelampiasannya,
aksi kekerasan berkebiadaban layaknya di Patandakan, Buleleng,
26 Oktober lalu pun meletus.
Mulai dari aksi
bakar-bakaran fasilitas umum 21 Oktober 1999, sampai termutakhir
(sementara ini) di Tabanan dan Buleleng itu, sudah begitu terang
benderang sebenarnya dapat diidentifikasi: massa utamanya adalah
kerumunan anak-anak muda usia, generasi baru Bali yang dari sisi
kultural jelas merupakan generasi berkesenjangan aksara yang
keluar dari mesin pendidikan gonta-ganti kurikulum seiring
gonta-ganti menteri. Andai itu malah dibiarkan berlarut-larut
kalangan tua plus elite penguasa yang pura-pura bingung lalu
hanya bisa menjawab dengan membebani Ida Batara Sasuhunan dan
para leluhur lelangit dengan guru piduka dan runtutan ritual
caru hingga tawur-nya, berarti Bali bakal menderita memetik
musibah karma sendiri kelak dua dasawarsaan lagi ketika WTO
benar-benar sudah diberlakukan 2020. Ini persoalan superserius
berat sebenarnya di tengah kegamangan pegangan nilai generasi
yang tanpa melewati tradisi aksara-teks-baca mapan kuat namun
justru dari tradisi lisan langsung melompat lagi
bernikmat-nikmat ke tradisi audio-visual lisan tulen. Tanpa
bekal tradisi berlogika ketajaman analitis terstruktur terukur
jelas, yang lazimnya dihasilkan lewat tradisi aksara-teks-baca,
generasi taruna-taruni Bali ini kini langsung saja
berenang-renang bermandikan tradisi impresif serba sepintas
loncat-loncat layaknya tayangan layar televisi. Ini jelas akan
mudah kalah saing dengan generasi dari tradisi aksara-teks-baca
kuat lewat basis akar pengajaran bahasa berkelatihan logika plus
penajaman kepekaan cita rasa model Barat yang berporos tradisi
Retorika Yunani.
Di negeri ini Retorika
malah disalahmaknai sebatas pengertian "omong-omong doang
tanpa aksi", alias NATO, no action talk only. Padahal
paling mendasar primer elementer sebenarnya pada Retorika adalah
pelajaran berbahasa, sehingga seperti Blaise Pascal bilang,
"Pembinaan berbahasa pada hakikatnya adalah pembinaan jalan
pikiran yang terpadu dengan getaran citarasa." Dengan
begitu manusia berbudi luhur baginya adalah manusia totalitas
berlogika pikir runut analitis plus berkepekaan bercitarasa. Di
Bali itu dirumuskan dalam konsepsi "basa-rasa" di mana
basa bisa merujuk sebagai bahasa sekaligus bumbu yang sama-sama
berinti-hakikat elementer rasa. Dari basa sebagai bahasa sebagai
bumbu itulah rasa akan muncul mekar cemerlang.
Negeri ini sudah pernah
membuktikan kebenaran dalil itu lewat generasi pemerdeka
pembebas bangsa dari kolonisasi Belanda lewat generasi Sukarno-Hatta-Syahrir-Sutomo-Ki
Hajar Dewantara-Agus Salim dan kawan-kawan segenerasi. Dengan
kecerdasan komunikasi bahasa gemilanglah sebenarnya bangsa ini
dimerdekakan dibebaskan dari kolonisasi oleh generasi berguru
Eropa Belanda yang mengedepankan basis humaniora itu. Dengan
bahasa pula kemerdekaan bangsa dan negara ini diproklamasikan,
sehingga benarlah kenyataan sejarah mencatat: betapa bahasa
Indonesia ada nun 17 tahun lebih awal tinimbang negara ini ada,
yakni lewat gelar Soempah Pemuda 28 Oktober 1928, sedangkan
Negara baru ada 17 Agustus 1945. Data sejarah pula menunjukkan,
sebelum militernya berekspansi ke Bali, Belanda justru lebih
awal mengirim ahli-ahli bahasanya untuk memetakan detail simpul
syarat pola pikir manusia Bali.
Maka data angka di awal
tadi bisa dipahami dari sisi kebahasaan sebagai akar persoalan
kegagalan taruna-taruni Bali kini memasuki era kemasan
pencitraan yang bersumbu poros pada penguasaan komunikasi
berbahasa. Karena kegagalan itu maka masalah yang ada lantas
tidak diselesaikan dengan berkomunikasi dengan bahasa santun,
berdiplomasi, berdialog bertatap muka sesama manusia, melainkan
justru dengan kekerasan. Artinya, ketika cadik tidak sanggup
dikuasai digunakan sebagai "senjata" berkeunggulan,
mereka cuma punya madik.
Dari sini kiranya bisa
dirunut korelasinya kenapa di Bali taruna-taruni jarang langka
bin sepi-sepi saja dari aksi kritis memprotes berunjuk rasa
terhadap ketimpangan perlakuan aparat Negara. Bukan karena
mereka tak merasakan ketidakbenaran perilaku itu melainkan
karena ketidakmampuan mengartikulasikannya ke dalam bentuk
logika bahasa yang cerdas sekaligus bercitarasa tinggi elegan.
Ini terang amat sangat
berbahaya dan membahayakan bagi orang lain dan terutama bahkan
bagi Bali sendiri ke depan. Mereka akan dengan mudah didesak
terdesak dalam persaingan lalu akhirnya berbalik dengan madik
sebagai satu-satunya "bahasa kekerasan" naluri
primitif yang mereka bisa. Saatnya para orangtua dan elite di
Bali segera menggarap serius kegagalan berbahasa taruna-taruni
ini, sebelum aksi kekerasan fisik generasi baru ini mengalir ke
generasi baru berikutnya.
* I Made
Prabaswara
|