kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 27 Nopember 2003

 Bali


Bisnis ''Esek-esek'' Pasca-Lebaran -----

Persediaan Sedikit, ''Ayam Kampung'' Laris

BISNIS esek-esek di kawasan Sanur dan Padanggalak, terkena imbas Lebaran. Hampir semua pekerja seks komersial (PSK) di dua kawasan ini pulang kampung. Hanya segelintir orang yang tinggal di lokasi semula karena tak punya duit untuk pulang. Pemilik bungalo atau penginapan termasuk pekerja (calo yang mengantarkan PSK) pun sepi pemasukan. Kafe di kawasan ini juga tutup hingga tujuh hari karena ''ayam-ayamnya'' pada pulang semua.

Pemantauan Bali Post di dua lokasi sejak Selasa (25/11) dan Rabu (26/11) kemarin menunjukkan kawasan yang terkenal dengan sarang prostitusi ini sangat jauh berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kawasan 21X di Jl. Betngandang II yang dulu dihuni puluhan PSK cantik dan aduhai kini kosong. Hanya Yayak -- calo pengantar PSK -- yang tidur-tiduran di beranda muka kompleks ini. Semua ayam milik bosnya mudik untuk merayakan Lebaran.

''Semua anak-anak pulang. Payah kalau sekarang mencari cewek orderan,'' ujarnya. Ia mengatakan pesan dari hotel melati dan bintang di kawasan Sanur juga ada satu dan dua. Namun kebanyakan mereka memilih ''ayam kampung'' alias PSK asal Bali. ''Di sini hanya ada satu cewek asal Bali yakni Ni Komang asal Jembrana di kawasan 06 Betngandang I,'' ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan Wayan di kawasan Betngandang I No 1X. Bahkan ia mengatakan bisnis esek-esek menjelang dan pasca-Lebaran agak sepi dan berimbas pada pemilik penginapan. Jika ada tamu yang ingin disiapkan, ia juga punya persediaan. Hanya tarifnya sekarang agak naik yakni Rp 100.000 jika diajak keluar. Sedangkan sebelumnya Rp 50.000. Istilah keluar dipakai untuk membedakan PSK yang tak menggunakan fasilitas penginapan di kawasan Betngandang. Jika mau pakai seharian tarifnya Rp 400.000. ''Itu pun harus didahului dengan bayar di depan,'' ujarnya. Tarif PSK di kawasan ini menurut Wayan memang naik tajam. Barangkali ini menganut mekanisme pasar. Ketika persediaan sedikit dan permintaan naik atau tetap, harga barang akan naik. Wayan menyebutkan tarif akan tambah naik untuk cewek kafe di sekitar kawasan ini. Mereka ini, kata dia, rada susah diajak kompromis untuk bisnis ini karena memasang tarif tinggi dan sistem per jam. ''Satu jam tarifnya Rp 100.000, dua jam berarti Rp 200.000,'' ujarnya.

Lagian, kata pemuda asal Sanur ini, saat ini cewek kafe juga sebagian besar pulang kampung. Pusat perkampungan PSK di Sanur saat ini hanya bukan di dua lokasi yakni Betngandang I No. 06 dan Betngandang II No. 21X. Kafe Mahayu dalam pengamatan Bali Post juga tutup rapat. Menurut warga sekitar kafe, semua cewek yang sering mangkal di kafe terlaris di Sanur ini pulang kampung. Pengelola penginapan di 89X Betngandang II juga mengaku sepi pesanan karena PSK kebanyakan pulang kampung.

Tak Punya Uang

Pemandangan lebih sepi tampak di kawasan Padanggalak dan pasiran Jl. By-pass Ngurah Rai. Tak lagi terdengar irama dangdut yang biasanya menjadi ciri khas kompleks ini. Di kawasan PSK kelas bawah ini kini hanya ditunggu satu-dua PSK tiap kompleks. Mereka yang tak pulang kampung ini punya alasan berhari raya di Bali karena minim dana. Apakah mereka kebanjiran order? Ternyata tidak. Dua PSK asal Banyuwangi yang ada di kawasan ini mengaku tak banyak tamu yang datang. Hal ini dibenarkan juga oleh Yati, salah seorang PSK yang seharian tak mendapat tamu, Selasa lalu. Menurut Yati, teman-temannya banyak yang pulang karena sejak awal sudah mengumpulkan duit. ''Saya tak punya cukup uang untuk beli oleh-oleh dan bekal anak,'' ujarnya.

Para germo di kawasan ini juga turun penerimaannya. Namun mereka tak khawatir kalau anak buahnya tak kembali, karena semua pakaian masih ditinggal di lokasi penginapan. ''Paling tidak mereka libur seminggu,'' ujar salah seorang germo di kawasan pasiran. (sue)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)