kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 22 Nopember 2003

 Pariwisata

  • Catatan Pariwisata Sepekan----------
    Dunia Kepariwisataan makin Mencekam

    Kebrutalan teroris kembali menguras air mata. Lebih dari 20 nyawa melayang dan ratusan lainnya terluka akibat bom bunuh diri di Istanbul, Turki, yang terjadi dua hari lalu. Para korban tersayat bersama kepingan gedung Konsulat Inggris dan Bank HSBC yang terguncang. Mereka, para korban itu, menjadi tumbal dari rasa dendam berkepanjangan dari sekelompok "manusia".

    TERLEPAS dari motif politis serta berbagai doktrin pembenarnya, aksi terorisme telah menggugah rasa kemanusiaan -- siapa pun yang masih merasa sebagai manusia. Di luar itu, aksi terorisme juga menimbulkan dampak ekonomi yang luar biasa bagi dunia. Selain perang dan wabah SARS, aksi terorisme menjadi penyumbang terbesar krisis ekonomi global dalam dua tahun terakhir. Menyitir The Economist edisi Januari 2003, terorisme telah menebar ketakutan, dunia menjadi sangat mencekam untuk aktivitas bepergian.

    Situasi ini merupakan puncak ekstremitas dari berbagai dampak pariwisata, baik secara ekonomi maupun sosial budaya. Setelah Tragedi WTC di New York, industri pariwisata dunia mengalami penurunan kinerja di mana perjalanan wisatawan internasional mengalami penurunan sebanyak 1,3%, dari sebelumnya 697 juta orang (2000) menjadi 689 juta orang pada 2001.

    Sekadar membandingkan, penurunannya sama dengan jumlah kedatangan wisman ke Bali selama enam tahun berturut-turut. Sampai Januari 2003, perusahaan penerbangan paling berpengaruh di dunia Americam Airlines mengalami kerugian sampai 500 juta dolar AS. Tingkat hunian hotel untuk London dan New York menurun sampai di bawah 75%. Kondisi ini semakin parah oleh rentetan aksi terorisme internasional serta merebaknya wabah SARS beberapa waktu lalu. Bagi kita di sini setali tiga uang, kondisi pariwisata masih tertatih-tatih.

    Aksi terorisme memang berada di luar kontrol kita dan bisa terjadi di mana saja. Kalau kita memakai teori probabilitas dalam matematika, terlepas dari berbagai gambaran mencekam tadi, sesungguhnya kita masih menyimpan harapan. Aksi terorisme yang terjadi secara terus-menerus bisa membuat para wisatawan imun. Akhirnya kekhawatiran dan fobia bepergian bisa ditekan, yang pada gilirannya arus kunjungan wisatawan dunia kembali bergairah.

    Namun, analisiS pelipur lara dan yang bersifat spekulatif ini tampaknya jauh dari kenyataan. Bagaimana pun kondisi kepariwisataan dunia memang sudah telanjur ruwet. Menurut M. Gunawan (2003), identifikasi beberapa kekuatan penggerak yang diperkirakan banyak memberikan pengaruh terhadap pergerakan wisatawan internasional antara lain, (1) pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat di berbagai negara, (2) kelonggaran atas travel restrictions yang terjadi beberapa tahun terakhir, (3) meningkatnya disposable income, (4) intesitas dan keberhasilan promosi pariwisata dan (5) meningkatnya frekuenasi dari durasi perjalanan pendek (short trip).

    Kesemuannya memperlihatkan betapa tingginya kompetisi dalam kepariwisataan global. Di tengah berbagai kecenderungan tadi, hanya destinasi yang siaplah yang bisa bertahan. Untuk itu kita tak bisa lagi dininabobokan oleh prestasi para leluhur kita yang membuat Bali tersohor di seantero jagat. Romantisme tentang keindahan, pesona alam dan kehalusan budi tak lagi memadai untuk suatu persaingan. Juga umpatan "fuck terrorist!" tak banyak membantu. Perlu ada terobosan yang orisinal dan otentik sesuai kekinian zaman. * gregorius

     

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)