Catatan
Pariwisata Sepekan----------
Dunia
Kepariwisataan makin Mencekam
Kebrutalan
teroris kembali menguras air mata. Lebih dari 20 nyawa
melayang dan ratusan lainnya terluka akibat bom bunuh
diri di Istanbul, Turki, yang terjadi dua hari lalu.
Para korban tersayat bersama kepingan gedung Konsulat
Inggris dan Bank HSBC yang terguncang. Mereka, para
korban itu, menjadi tumbal dari rasa dendam
berkepanjangan dari sekelompok "manusia".
TERLEPAS
dari motif politis serta berbagai doktrin pembenarnya,
aksi terorisme telah menggugah rasa kemanusiaan --
siapa pun yang masih merasa sebagai manusia. Di luar
itu, aksi terorisme juga menimbulkan dampak ekonomi
yang luar biasa bagi dunia. Selain perang dan wabah
SARS, aksi terorisme menjadi penyumbang terbesar
krisis ekonomi global dalam dua tahun terakhir.
Menyitir The Economist edisi Januari 2003, terorisme
telah menebar ketakutan, dunia menjadi sangat mencekam
untuk aktivitas bepergian.
Situasi ini
merupakan puncak ekstremitas dari berbagai dampak
pariwisata, baik secara ekonomi maupun sosial budaya.
Setelah Tragedi WTC di New York, industri pariwisata
dunia mengalami penurunan kinerja di mana perjalanan
wisatawan internasional mengalami penurunan sebanyak
1,3%, dari sebelumnya 697 juta orang (2000) menjadi
689 juta orang pada 2001.
Sekadar
membandingkan, penurunannya sama dengan jumlah
kedatangan wisman ke Bali selama enam tahun
berturut-turut. Sampai Januari 2003, perusahaan
penerbangan paling berpengaruh di dunia Americam
Airlines mengalami kerugian sampai 500 juta dolar AS.
Tingkat hunian hotel untuk London dan New York menurun
sampai di bawah 75%. Kondisi ini semakin parah oleh
rentetan aksi terorisme internasional serta merebaknya
wabah SARS beberapa waktu lalu. Bagi kita di sini
setali tiga uang, kondisi pariwisata masih
tertatih-tatih.
Aksi terorisme
memang berada di luar kontrol kita dan bisa terjadi di
mana saja. Kalau kita memakai teori probabilitas dalam
matematika, terlepas dari berbagai gambaran mencekam
tadi, sesungguhnya kita masih menyimpan harapan. Aksi
terorisme yang terjadi secara terus-menerus bisa
membuat para wisatawan imun. Akhirnya kekhawatiran dan
fobia bepergian bisa ditekan, yang pada gilirannya
arus kunjungan wisatawan dunia kembali bergairah.
Namun, analisiS
pelipur lara dan yang bersifat spekulatif ini
tampaknya jauh dari kenyataan. Bagaimana pun kondisi
kepariwisataan dunia memang sudah telanjur ruwet.
Menurut M. Gunawan (2003), identifikasi beberapa
kekuatan penggerak yang diperkirakan banyak memberikan
pengaruh terhadap pergerakan wisatawan internasional
antara lain, (1) pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat
di berbagai negara, (2) kelonggaran atas travel
restrictions yang terjadi beberapa tahun terakhir, (3)
meningkatnya disposable income, (4) intesitas dan
keberhasilan promosi pariwisata dan (5) meningkatnya
frekuenasi dari durasi perjalanan pendek (short trip).
Kesemuannya
memperlihatkan betapa tingginya kompetisi dalam
kepariwisataan global. Di tengah berbagai
kecenderungan tadi, hanya destinasi yang siaplah yang
bisa bertahan. Untuk itu kita tak bisa lagi
dininabobokan oleh prestasi para leluhur kita yang
membuat Bali tersohor di seantero jagat. Romantisme
tentang keindahan, pesona alam dan kehalusan budi tak
lagi memadai untuk suatu persaingan. Juga umpatan
"fuck terrorist!" tak banyak membantu. Perlu
ada terobosan yang orisinal dan otentik sesuai
kekinian zaman. * gregorius