|
Minggu Transisi
MINGGU
besok ini merupakan minggu penutup tahun atau kalender
gerejawi. Sesudahnya kita akan memasuki permulaan kalender
gerejawi itu dengan merayakan Masa Advent. Selama Masa
Advent umat Kristiani mempersiapkan diri guna menyambut
Hari Natal, peringatan kedatangan atau kelahiran Kristus.
Namun untuk hari-hari ini baiklah kita masih
mengkonsentrasikan perhatian pada suasana dan isi minggu
terakhir kalender gerejawi itu.
Dalam tradisi,
minggu terakhir ini disebut juga sebagai Minggu Kekekalan.
Minggu ini hendak mengingatkan, bahwa segala sesuatu di
dunia ini mempunyai akhir. Dalam minggu ini kita diajak
menoleh ke belakang guna mengingat semua saudara, kenalan
dan semua orang yang kita ketahui telah meninggal dunia.
Berapa saja telah meninggal selama setahun ini. Pastilah
di antara kita ada yang masih merasakan ketegangan,
kesedihan, kekosongan dan mungkin trauma, karena mereka
telah meninggalkan kita untuk selamanya. Mungkin masih
terbayang di pelupuk mata kita peristiwa dan saat-saat
terakhir dengan mereka. Saat terakhir, ketika kita masih
berbicara dan berkomunikasi dengan mereka. Lalu
detik-detik, ketika nafas tinggal satu demi satu. Semuanya
kemudian terhenti, mata menutup dan tiada gerak hidup lagi.
Tinggal tersirat
pada wajah mereka beberapa kesan. Ada yang muram, namun
tak jarang yang meninggalkan rona kelegaan, kecerahan,
bahkan gurat-gurat senyuman. Itulah pengalaman kita,
menyaksikan seseorang pada akhir hidupnya. Akhir yang
membulatkan seluruh diri dan hidupnya. Setiap kita pun
sendiri akan mengalaminya.
Menyangkut akhir
hidup, surat yang dialamatkan kepada gereja di Korintus
yang kedua, pasal 5:1-9, mengandung Sabda Tuhan tentang
hidup masakini dan di seberang kematian. Bagian Alkitab
ini agak sulit dipahami, namun saripati yang relevan untuk
kita renungkan begini: Rasul Paulus menyatakan, bahwa ia
suka untuk beralih dari tubuh ini guna menetap pada Tuhan.
(ayat 8) Tubuh manusia ini diumpamakan seperti sebuah
kemah tempat tinggal di bumi. (ayat 1dst) Sekali nanti
kemah ini akan dibongkar Tuhan dan diganti dengan rumah
surgawi. Selama manusia berada dalam kemah itu, selama itu
pula dipenuhi dengan keluhan akibat banyaknya tekanan dan
beban. Sebagaimana hidup dalam kemah, maka segala
sesuatunya bersifat darurat dan sementara. Situasi ini
gampang kita bayangkan dengan membaca atau melihat keadaan
orang-orang yang harus berdiam di bawah tenda atau kemah,
seperti mereka yang digusur di Jakarta atau di daerah
perang di Aceh dan di mana pun. Mereka semua merindukan
rumah untuk tinggal menetap.
Sekarang ini pun
kita diumpamakan masih hidup di kemah. Sekali nanti kemah
akan dibongkar. Ada fase kemah atau tubuh ini rusak dan
habis. Inilah saat kematian kita. Kita mati dan habis.
Bukan hanya kemahnya, tetapi diri kita mati dan tiada.
Memang menakutkan. Namun Tuhan Sang Pencipta, yang
memiliki kuasa untuk mencipta, akan menciptakan kita
secara baru dari ketiadaan kita itu. Tuhan membuat kita
yang baru, dengan tubuh baru. Tidak lagi hidup di dalam
kemah, namun lewat lompatan besar ke situasi yang sama
sekali baru, ke dalam rumah surgawi atau tubuh rohani.
Situasi di seberang
kematian memang tak dapat dbayangkan dengan mudah.
Semuanya ini hanya dapat diterima dengan kepercayaan. Roh
Tuhan mengkaruniakan iman, agar kita menyiapkan diri guna
menghadapi peristiwa akhir itu dengan tabah hati. Sebuah
cerita pendek berikut ini mungkin dapat membantu kita
memahami jalan dan lompatan hidup.
Ada beberapa anak
bermain-main di halaman rumah. Mereka berkejar-kejaran.
Gembira, saling tangkap dan rangkul, lalu berkejaran lagi.
Ada salah seorang yang naik ke atas tembok penyengker.
Anak-anak lain ikut naik. Sampai di atas, rasa gamang
mulai menguasai diri mereka. Mereka jadi ketakutan. Mau
merangkak turun, kaki gemetaran. Menangis tak tahu mau apa.
Lalu datang seorang laki-laki dewasa. Ia minta anak-anak
itu satu demi satu melompat. ''Ayo, lompat. Saya jaga dan
saya akan menatangmu!'' Tangan lelaki itu terbuka dan siap
menyambut anak demi anak. Namun tak ada yang berani
melompat. Sampai ada satu orang anak yang menceburkan diri.
Ia ditatang oleh tangan yang siap menyambutnya. Anak itu
berani menceburkan diri. Berani mempercayakan dirinya pada
si lelaki itu, sebab orang itu adalah ayahnya sendiri.
Ayah yang dikenal dan dicintainya.
Minggu akhir
kalender gerejawi mengingatkan kita pada mereka yang sudah
tiada di bumi ini dan pada akhir hidup kita. Minggu ini
mengingatkan masa transisi. Kita boleh berpegang pada
Sabda dari 2 Korintus 5:7-9 : ''Hidup kami ini adalah
hidup karena percaya, bukan karena melihat; tetapi hati
kami tabah dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini
untuk menetap pada Tuhan. Sebab itu juga kami berusaha,
baik kami dalam tubuh ini, maupun kami di luarnya (dalam
tubuh baru kelak, pen.), supaya kami berkenan kepada-Nya.''
|