kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 22 Nopember 2003

 Budaya

Minggu Transisi

MINGGU besok ini merupakan minggu penutup tahun atau kalender gerejawi. Sesudahnya kita akan memasuki permulaan kalender gerejawi itu dengan merayakan Masa Advent. Selama Masa Advent umat Kristiani mempersiapkan diri guna menyambut Hari Natal, peringatan kedatangan atau kelahiran Kristus. Namun untuk hari-hari ini baiklah kita masih mengkonsentrasikan perhatian pada suasana dan isi minggu terakhir kalender gerejawi itu.

Dalam tradisi, minggu terakhir ini disebut juga sebagai Minggu Kekekalan. Minggu ini hendak mengingatkan, bahwa segala sesuatu di dunia ini mempunyai akhir. Dalam minggu ini kita diajak menoleh ke belakang guna mengingat semua saudara, kenalan dan semua orang yang kita ketahui telah meninggal dunia. Berapa saja telah meninggal selama setahun ini. Pastilah di antara kita ada yang masih merasakan ketegangan, kesedihan, kekosongan dan mungkin trauma, karena mereka telah meninggalkan kita untuk selamanya. Mungkin masih terbayang di pelupuk mata kita peristiwa dan saat-saat terakhir dengan mereka. Saat terakhir, ketika kita masih berbicara dan berkomunikasi dengan mereka. Lalu detik-detik, ketika nafas tinggal satu demi satu. Semuanya kemudian terhenti, mata menutup dan tiada gerak hidup lagi.

Tinggal tersirat pada wajah mereka beberapa kesan. Ada yang muram, namun tak jarang yang meninggalkan rona kelegaan, kecerahan, bahkan gurat-gurat senyuman. Itulah pengalaman kita, menyaksikan seseorang pada akhir hidupnya. Akhir yang membulatkan seluruh diri dan hidupnya. Setiap kita pun sendiri akan mengalaminya.

Menyangkut akhir hidup, surat yang dialamatkan kepada gereja di Korintus yang kedua, pasal 5:1-9, mengandung Sabda Tuhan tentang hidup masakini dan di seberang kematian. Bagian Alkitab ini agak sulit dipahami, namun saripati yang relevan untuk kita renungkan begini: Rasul Paulus menyatakan, bahwa ia suka untuk beralih dari tubuh ini guna menetap pada Tuhan. (ayat 8) Tubuh manusia ini diumpamakan seperti sebuah kemah tempat tinggal di bumi. (ayat 1dst) Sekali nanti kemah ini akan dibongkar Tuhan dan diganti dengan rumah surgawi. Selama manusia berada dalam kemah itu, selama itu pula dipenuhi dengan keluhan akibat banyaknya tekanan dan beban. Sebagaimana hidup dalam kemah, maka segala sesuatunya bersifat darurat dan sementara. Situasi ini gampang kita bayangkan dengan membaca atau melihat keadaan orang-orang yang harus berdiam di bawah tenda atau kemah, seperti mereka yang digusur di Jakarta atau di daerah perang di Aceh dan di mana pun. Mereka semua merindukan rumah untuk tinggal menetap.

Sekarang ini pun kita diumpamakan masih hidup di kemah. Sekali nanti kemah akan dibongkar. Ada fase kemah atau tubuh ini rusak dan habis. Inilah saat kematian kita. Kita mati dan habis. Bukan hanya kemahnya, tetapi diri kita mati dan tiada. Memang menakutkan. Namun Tuhan Sang Pencipta, yang memiliki kuasa untuk mencipta, akan menciptakan kita secara baru dari ketiadaan kita itu. Tuhan membuat kita yang baru, dengan tubuh baru. Tidak lagi hidup di dalam kemah, namun lewat lompatan besar ke situasi yang sama sekali baru, ke dalam rumah surgawi atau tubuh rohani.

Situasi di seberang kematian memang tak dapat dbayangkan dengan mudah. Semuanya ini hanya dapat diterima dengan kepercayaan. Roh Tuhan mengkaruniakan iman, agar kita menyiapkan diri guna menghadapi peristiwa akhir itu dengan tabah hati. Sebuah cerita pendek berikut ini mungkin dapat membantu kita memahami jalan dan lompatan hidup.

Ada beberapa anak bermain-main di halaman rumah. Mereka berkejar-kejaran. Gembira, saling tangkap dan rangkul, lalu berkejaran lagi. Ada salah seorang yang naik ke atas tembok penyengker. Anak-anak lain ikut naik. Sampai di atas, rasa gamang mulai menguasai diri mereka. Mereka jadi ketakutan. Mau merangkak turun, kaki gemetaran. Menangis tak tahu mau apa. Lalu datang seorang laki-laki dewasa. Ia minta anak-anak itu satu demi satu melompat. ''Ayo, lompat. Saya jaga dan saya akan menatangmu!'' Tangan lelaki itu terbuka dan siap menyambut anak demi anak. Namun tak ada yang berani melompat. Sampai ada satu orang anak yang menceburkan diri. Ia ditatang oleh tangan yang siap menyambutnya. Anak itu berani menceburkan diri. Berani mempercayakan dirinya pada si lelaki itu, sebab orang itu adalah ayahnya sendiri. Ayah yang dikenal dan dicintainya.

Minggu akhir kalender gerejawi mengingatkan kita pada mereka yang sudah tiada di bumi ini dan pada akhir hidup kita. Minggu ini mengingatkan masa transisi. Kita boleh berpegang pada Sabda dari 2 Korintus 5:7-9 : ''Hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat; tetapi hati kami tabah dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan. Sebab itu juga kami berusaha, baik kami dalam tubuh ini, maupun kami di luarnya (dalam tubuh baru kelak, pen.), supaya kami berkenan kepada-Nya.''

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)