Antisipasi
Tindakan Kekerasan di Kalangan Umat
Maknai Kembali Konsep ''Tapa'' --
Menyikapi tindak
kekerasan yang terjadi belakangan ini, tampaknya umat
mesti memaknai kembali nilai-nilai luhur yang terkandung
dalam ajaran Hindu. Hindu memiliki banyak konsep yang
adiluhung, tetapi terkadang dalam tataran nilai muncul
perilaku umat yang menyimpang. Artinya, dalam realitasnya
terjadi perilaku yang kontradiktif dengan apa yang
diajarkan agama. Apa saja nilai-nilai adilihung itu?
Bagaimana seharusnya umat memaknai nilai tersebut agar
tidak terjadi tindakan kekerasan?
=======================
Dalam sebuah dharma
wacana, Ida Pedanda Gede Made Gunung sempat mengatakan
bahwa umat mesti tetap melakukan tapa, yadnya dan kerthi.
Dengan demikian diharapkan umat menemukan tujuan hidup,
yakni kebahagiaan lahir dan batin. Tapa, kata Ida Pedanda,
mengandung pengertian pengendalian pikiran atau hawa nafsu.
Itu berarti umat mesti mampu menghilangkan kesombongan
diri, iri hati dan menghindari perbuatan yang merugikan
orang lain dan diri sendiri.
Bahkan, menurut Ida
Pedanda, simbol pengendalian pikiran, dalam Hindu juga
diwujudkan dalam bentuk destar (udeng). Destar, tak hanya
memiliki fungsi aksesoris, tetapi juga simbol pengekangan
hawa nafsu. Sedangkan kerthi mengandung pengertian bahwa
umat mesti melakukan pengabdian, baik kepada bangsa dan
negara, perusahaan tempat bekerja, maupun kepada keluarga.
''Jika hal itu bisa dilakukan secara seimbang, tentu
kebahagiaan hidup akan bisa dirasakan. Kebahagiaan itulah
merupakan sorga di dunia nyata. Kebahagiaan semacam itu
diharapkan ditemukan juga di dunia akhirat (sorga).
Hal senada dikatakan
dosen Unhi Wayan Budi Utama. Ia mengatakan bahwa Hindu
memiliki banyak konsep atau nilai yang adiluhung. Tetapi
dalam tataran implementasi, kerap ditemui perilaku
menyimpang. Gesekan karena berbeda identitas, belakangan
sering muncul ke permukaan. Demikian pula tindakan
kekerasan lainnya, sering mewarnai kehidupan. Hal itu
terjadi, menurut Budi Utama, karena kuatnya pengaruh
kapitalisme atau imprealisme -- yang berpeluang munculnya
sikap individualisme.
Jika individualisme
demikian kuat, nilai-nilai kebersamaan, konsep
penyamabrayan, lambat-laun bisa luntur. Jika itu sudah
luntur, gesekan-gesekan dalam bentuk apa pun dengan mudah
pula terjadi. Misalnya, hanya berbeda aspirasi,
antar-nyama bisa tak bertegur sapa.
Karena itu, menurut
Budi Utama, umat perlu memaknai kembali ajaran agama atau
menginterpretasikan kembali nilai-nilai yang terkandung
dalam sastra agama. Demikian juga pentingnya kembali umat
melakukan kontemplasi (perenungan). Dengan demikian
diharapkan persoalan kemanusiaan bisa diatasi. Sebab,
persoalan kemanusiaan tak sepenuhnya bisa diatasi hanya
dengan pola pikir ilmiah. Persoalan kemanusiaan bisa
diselesaikan dengan pendekatan spiritual.
Tak Bermakan
Ritual
Dikatakan, banyaknya
hari raya yang dimiliki umat Hindu, tak hanya bermakna
ritual. Tetapi, hari-hari raya itu dimaknai sebagai
kesempatan untuk melakukan koreksi diri atau evaluasi diri.
Yang terpenting lagi dalam hari raya itu umat mampu
mulatsarira, sehingga diharapkan dapat kembali pada
kasujatian diri. Hari raya itu tak lain untuk mengingatkan
dan menyucikan pikiran kita.
Dalam situasi
carut-marut seperti ini, Budi Utama mengharapkan umat
tidak mengartikulasikan Kali Yuga sebagai zaman penuh
kekacauan, sehingga semua perbuatan menyimpang dianggap
sebagai pakibeh gumi. Jangan sampai ciri-ciri zaman Kali
ini dijadikan pembenar untuk melakukan perbuatan yang
bertentangan dengan ajaran agama. Mengapa demikian? Sebab,
agama dengan tegas melarang umatnya melakukan perbuatan
yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. ''Sekarang
berbagai problem patologi sosial sering muncul ke
permukaan. Justru problem itu dianggap wajar karena
pengaruh zaman Kali,'' katanya.
Konsep atau nilai
luhur yang ada dalam ajaran agama mesti kembali dimaknai
untuk mengantisipasi munculnya tindakan kekerasan. ''Kita
tak berharap agama hanya dimaknai sebatas formal. Padahal,
agama mengajarkan umatnya melakukan kesalehan sosial dan
berdisiplin,'' ujarnya.
Hal yang sama
dikatakan Guru Besar Universitas Hindu Indonesia (Unhi)
Denpasar Prof. Dr. IB Gunadha, M.Si. bahwa agama justru
bertujuan untuk mengagungkan atau memuliakan segala
tingkah laku manusia. Bukan membuat tafsir-tafsir atau
mencari aksioma baru untuk membenarkan perbuatan yang
nyata-nyata menyimpang. ''Tetapi itu yang cenderung
terjadi selama ini,'' katanya.
Weda yang merupakan
kitab suci Hindu, kata mantan Sekjen Parisada Pusat ini,
sangat kental dengan nilai-nilai moral. Tiap tradisi agama
dan filsafat yang berkembang dari spirit Weda diwarnai
oleh nilai-nilai moral. Secara umum terdapat beberapa
nilai moral dalam Weda yaitu kebenaran (satya), kemurahan
hati (dana), pengendalian diri (tapa), tanpa kekerasan
(ahimsa) dan rasa iba (compassion). ''Satya merupakan
nilai yang paling penting di dalam Hindu. Agama
mengajarkan umat menjadi manusia yang benar, menghindari
segala bentuk kebohongan, kecurangan, keangkuhan dan
kesalahan.
Pengendalian diri (tapa)
juga menempati posisi penting dalam mewujudkan
keseimbangan unsur fisik dan mental, unsur sekala dan
niskala, material dan spiritual. ''Pengendalian diri
menjadi sangat penting manakala kita mewujudkan ketenangan
pikiran, sehingga mampu merefleksikan diri yang selalu
ditutupi oleh indra dan ahamkara (ego),'' ujar mantan
anggota DPRD Badung dan Bali ini.
Ahimsa, kata Gunadha,
tak hanya menyangkut tindakan tetapi juga pikiran dan
perkataan. Kekerasan yang terjadi selama ini di berbagai
daerah sebenarnya dimulai dari kekerasan dalam pikiran.
Sudah menjadi semacam ''dalil'' bahwa produk-produk apa
saja yang lahir dari pikiran (manah) sangat rentan dengan
kekerasan. Karena itu umat mesti berpikir, berkata dan
bertindak tidak sampai menyebabkan orang lain ketakutan
serta cemas.
Mampu
Mengendalikan Diri
Manusia yang ideal,
kata Gunadha, adalah mereka yang mampu mengendalikan diri,
berbuat baik kepada sesama, dan selalu siap mengorbankan
hidupnya demi kebaikan orang lain (gumawe sukaning len).
Dikatakannya,
pengendalian diri (tapa) amat penting ditajamkan
pemaknaannya. Dalam konteks kekinian, sesorang mesti
berupaya keras melakukan tapa agar tidak terjadi perbuatan
yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Umat hendaknya
tidak seperti gula atau garam yang jika dimasukkan ke
dalam air menjadi larut. Umat mesti mampu seperti minyak
dengan air. Kendati dijadikan satu, keduanya tetap tidak
larut.
Di samping itu, yasa
kerti juga penting lebih dikedepankan. Pengabdian kepada
hal yang lebih besar, seperti ngertian jagat agar rahayu
penting lebih dimantapkan. Tak kalah pentingnya umat
melakukan upawasa (puasa).
Puasa di sini, tak
hanya berarti tidak makan dan minum. Luas dari pengertian
itu, umat mesti melakukan puasa berbicara yang justru
memprovokasi orang lain untuk melakukan tindakan yang
menyimpang. Puasa bentuk lainnya, tidak berpikir negatif
terhadap orang lain dan tidak menyakiti hati orang lain.
Yang terpenting lagi, umat berpuasa tidak melakukan tindak
kekerasan, terlebih dengan nyama braya sendiri. (lun)
|