kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 8 Oktober 2003

 Pariwisata


''One Visa Policy'' belum Terwujud--------

Hambat Tingkatkan Kunjungan Wisatawan Intra ASEAN

Denpasar (Bali Post) -
Keinginan para praktisi dan pelaku pariwisata di ASEAN untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan nampaknya masih menemui ganjalan. Ini berkaitan dengan one visa policy di ASEAN yang belum terwujud.

Hal itu dikatakan seorang praktisi pariwisata Elly Hutabarat saat memberikan presentasinya dalam diskusi panel ''Business Partnerhip among ASEAN Countries'' di Nusa Dua, Selasa (7/10) kemarin.

''ASEAN, terutama pihak pemerintahnya harus segera mendiskusikan masalah kebijakan ini,'' ujarnya. Board member PATA ini mengatakan, banyak warga negara ASEAN yang ingin berkunjung ke negara ASEAN lainnya. Namun, karena harus berurusan dengan visa, mereka harus membatalkan keinginannya. ''Kalau bisa visa ini harus di-eliminate atau kalau perlu bepergian ke negara-negara Intra ASEAN, mengurus visa cukup sekali saja dan visa itu berlaku di semua negara ASEAN.'' Apa yang disampaikannya ini berkaitan dengan ASEAN Tourism Agreement, yang salah satunya menyangkut masalah visa.

Untuk realisasinya, presiden PAN Travel ini mengakui masih ada hambatan. Salah satunya adalah yang dilakukan Indonesia sendiri. Indonesia dengan kebijakan baru --visa on arrival-- masih mengenakan visa bagi mereka yang masuk. Kalau ada yang tidak dikenakan bebas visa adalah mereka yang berasal dari negara-negara yang bukan memberi kontribusi bagi kedatangan wisatawan. Elly membayangkan kalau terus menerus seperti ini, wisatawan yang akan datang ke Indonesia akan berkurang. Imbasnya tentu saja bagi mereka yang bekerja di sektor pariwisata.

Wisatawan tentu memilih destinasi yang biaya paling murah atau sekalian ke destinasi yang tidak mengenakan visa. Ini akan menimbulkan persaingan antar negara. Indonesia bisa kehilangan devisa dari sektor pariwisata kalau ini terjadi. Karena itu dia menginginkan pemerintah untuk mengundurkan atau meninjau kembali kebijakan ini. ''Saya bukan mau melawan pemerintah, tapi lihat dulu dong situasinya.''

Ganjalan

Selain masalah visa, soal fiskal pun menurutnya bisa menjadi ganjalan dalam peningkatan pariwisata. Menteri-menteri pariwisata ASEAN menurutnya pernah minta penghapusan fiskal atau sering juga disebut travel tax ini. Untuk Indonesia, mungin penghapusan fiskal bisa dilakukan untuk negara tetangga terdekat saja, seperti Malaysia. Dia mencontohkan, kalau orang Indonesia mau ke Malaysia atau Singapura sehari atau dua hari tapi disuruh membayar fiskal Rp 1 juta tentu keberatan.

Dalam presentasi serangkai forum ASEAN-BIS ini, Elly juga memfokuskan perhatiannya pada Intra ASEAN Travel untuk jangka pendek dan investasi untuk Youth Travel untuk jangka panjang. Alasannya adalah pariwisata intra ASEAN punya peluang bagus asal promosi dilakukan dengan gencar. Sementara bagi generasi muda yang akan menjadi pemain masa depan juga perlu diperkenalkan dengan pariwisata. ''Suatu hari nanti, ASEAN akan menjadi destinasi nomor satu di dunia,'' ujarnya yakin. (wah/iah/012/056)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)