kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 8 Oktober 2003

 Budaya


Weda Wakya
Pura Segara Watu Klotok

Isya vasyam
Idam sarvam.
Jagat yat kim ca
Jagatya jagat.
(Yajurveda XXXX,1)
Maksudnya: Tuhan berstana di alam semesta (bhuwana agung) baik pada yang bergerak maupun pada yang tidak bergerak.

MANTRA Veda ini memberikan kita pemahaman bahwa stana Tuhan yang sebenarnya adalah pada alam semesta yang disebut Bhuwana Agung dengan segala isinya baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Ini artinya tidak ada bagian alam ini tanpa kehadiran Tuhan. Pura adalah tempat memuja Tuhan yang esa dan yang berstana di alam raya ini. Kalau demikian halnya apakah pura itu bukan stana Tuhan. Karena menurut keyakinan Hindu sebagaimana dinyatakan dalam Mantra Veda ini bahwa Tuhan ada di mana-mana tentunya termasuk di pura.

Apa bedanya di pura dan tidak di pura? Pura adalah simbol atau replika dari Bhuwana Agung ini. Seperti dinyatakan dalam Lontar Dharma Surya baha Meru itu lambang gunung dan gunung lambang Bhuwana. Tumpah-tumpang Meru pinaka uriping bhuwana, pinaka pataling bhuwana. Demikian juga pelinggih pura lainnya adalah lambang bhuwana. Pura adalah media memuja Tuhan. Ini artinya bukan pura yang berwujud fisik itu yang disembah oleh umat Hindu. Pura hanya media memuja Tuhan. Memuja Tuhan menurut keyakinan Hindu bukanlah sekadar memuja. Memuja Tuhan untuk didayagunakan membenahi kehidupan individual dan sosial umat manusia di dunia ini.

Sebelum Mpu Kuturan mendampingi raja menata kehidupan umat Hindu di Bali sudah dikenal adanya tiga pura di setiap kerajaan yaitu Pura Segara, Pura Penataran dan Pura Puncak. Tiga pura itu simbol atau media memuja Tuhan yang berada di Bhur, Bhuwah dan Swah Loka. Pura Watu Klotok yang berada di tepi pantai selatan kota Klungkung tergolong Pura Segara. Konon Pura Segara Watu Klotok inilah sebagai sentra seluruh Pura Segara yang ada di Bali. Fungsi Pura Segara sebagai simbol alam Bhur Loka dalam konsepsi Tri Loka dan sebagai simbol predana dalam konsepsi rwa bhineda. Gunung atau wukir simbol purusa, sedangkan segara simbol predana. Memuja mengusahakan keseimbangan hidup lahir batin di dunia ini. Memuja Tuhan yang menjiwai Tri Loka sebagai simbol untuk mendayagunakan makna pemujaan itu mewujudkan kesucian Tri Loka tersebut. Terbukti perilaku buruk manusia di bumi ini juga dapat merusak keadaan di ruang angkasa. Seperti penggunaan freon yaitu zat yang digunakan dalam air condition dapat merusak lapisan ozon. Dengan terganggunya lapisan ozon itu sinar matahari menjadi terganggu juga fungsinya sebagai sumber kehidupan di planet bumi ini.

Pembuangan asap mesin yang mengandung CO2 secara berlebihan ke udara dapat menimbulkan efek rumah kaca di ruang angkasa. Efek rumah kaca itu menimbulkan pemanasan global, sehingga suhu di bumi ini makin meningkat. Pemujaan Tuhan di Pura Segara Watu Klotok sebagai simbol penjabaran perbuatan suci di Bhur Loka ini sehingga tidak merusak Tri Loka ini.

Pura Segara Watu Klotok sebagai tempat melangsungkan upacara Melasti terutama saat ada upacara besar di Pura Besakih. Misalnya upacara Manca Wali Krama, Eka Dasa Rudra, Meligia Marebu Bumi, dll. Tujuan utama dari Melasti menurut Lontar Sunarigama dan Sang Hyang Aji Swamandala sangatlah universal. Tujuan utama tersebut yaitu untuk menguatkan sradha dan bakti umat kepada Tuhan dan semua manifestasi-Nya. Dengan kuatnya sradha dan bakti umat kepada Tuhan, umat dapat mengentaskan masyarakat dari penderitaan.

Upacara Melasti juga mengandung nilai agar didahului dengan melakukan penguatan individual dengan menghilangkan papa klesa, sebagaimana dinyatakan dalam lontar. Klesa itu sumber kepapaan individual. Klesa terdiri atas lima yaitu: Awidya artinya kegelapan hati nurani, Asmita sifat mementingkan diri sendiri (egois), Raga artinya hidup dengan mengumbar hawa nafsu, Dwesa artinya dikuasai oleh nafsu benci dan dendam dan Abhiniwesa artinya hidup yang selalu diliputi oleh rasa takut.

Tujuan Melasti yang selanjutnya adalah untuk menanamkan niat suci untuk selalu menghindari kerusakan alam lingkungan. Jadinya peningkatan sradha dan bakti itu harus mampu mendorong munculnya kegiatan hidup untuk mensejahterakan kehidupan sosial, penguatan individual dan pelestarian alam secara nyata. Sehingga fungsi Pura Segara Watu Klotok sebagai pusat Pura Segara di Bali sangatlah mulia dan universal.

* I Ketut Gobyah

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)