|
''Mempercantik''
Pura Watu Klotok
SEJAK
2002 hingga 2003 ini, Pemkab Klungkung melakukan renovasi
total terhadap Pura Watu Klotok. Paling tidak, sekitar Rp
3,5 milyar harus dirogoh untuk menciptakan fisik bangunan
nan megah, anggun dan berwibawa yang didominasi
bahan-bahan batu alam hitam mengkilat yang didatangkan
khusus dari Selat, Karangasem. Tidak hanya itu, lingkungan
pura pun ditata dan dipercantik sehingga meningkatkan
kenyamanan serta kekhusyukan pemedek yang bersembahyang ke
sana.
 Menurut
Sekda Klungkung Drs. I Gusti Ngurah Rai, M.Si., unsur dan
struktur pura mencakup 33 bagian yang tersebar di tiga
palemahan (Tri Mandala), yakni Jaba Sisi yang disebut
nista mandala sebagai lambang alam Bhur Loka, Jaba Tengah
(madya mandala) sebagai lambang Bhwah Loka dan Jeroan (utama
mandala) sebagai perlambang Swah Loka. Dalam tiap mandala
terdapat sejumlah pelinggih dengan fungsinya
sendiri-sendiri. ''Pembagian tri mandala bukan kebetulan
semata. Semua itu merupakan tuntunan tata susila bagi tiap
umat Hindu yang masuk ke pura. Tuntutan tata susila itu
adalah Tri Kaya Parisudha yakni manacika, wacika dan
kayika parisudha. Berpikir, berkata dan berbuat yang suci,''
paparnya panjang lebar.
Berkaitan
dengan rampungnya renovasi Pura Watu Klotok itu, katanya,
Pemkab Klungkung akan menggelar Karya Agung Mamungkah,
Pedanan dan Ngenteg Linggih di pura setempat. Puncak karya
yang diplot menghabiskan dana Rp 800 juta itu jatuh pada
Saniscara Pon Sinta atau Sabtu (8/11) mendatang. Sementara
rangkaian karya sudah berlangsung sejak Rabu (10/9) lalu
yang diawali dengan upacara nuasen karya di Pura Watu
Klotok. Seluruh prosesi upacara akan ditutup pada Minggu
(23/11) dengan maajar-ajar di Pura Goa Lawah. ''Mengingat
padat dan panjangnya rangkaian karya, kami perkirakan dana
yang diplot itu tidak mencukupi. Karena itu, kami masih
mengharapkan dana punia dari umat se-dharma,'' ujar Rai
yang juga menjabat Ketua Umum Panitia Pelaksana Karya
Agung Mamungkah, Pedanan lan Ngenteg Linggih Pura Watu
Klotok itu.
Gusur
Pedagang
Ternyata,
bukan fisik Pura Watu Klotok saja yang ''dipoles''. Pemkab
Klungkung juga sudah merampungkan pembangunan fasilitas
parkir insidental di areal pura itu yang bertujuan
mengantisipasi luberan pemedek yang ''menyerbu'' pura
kahyangan jagat itu saat pujawali. Mayoritas pemedek yang
berasal dari seluruh penjuru Bali itu jelas menggunakan
kendaraan bermotor sehingga fasilitas parkir permanen (luas
sekitar 20 are) yang ada dinilai sudah tidak mencukupi
lagi.
''Belajar
dari pengalaman pada pujawali-pujawali sebelumnya,
fasilitas parkir yang ada saat ini memang tidak mampu lagi
menampung luberan kendaraan pemedek. Makanya, pembangunan
fasilitas parkir tambahan itu dinilai sangat urgen,'' kata
Rai.
Lahan
parkir insidental itu dibangun di sebelah utara bencingah
agung pura yang luas totalnya mencapai 0,8 hektar. Karena
sifatnya insidental, fasilitas parkir itu tidak diaspal
tetapi cukup ditutupi dengan pasir dan batu (sirtu) lalu
dipadatkan dengan alat berat. ''Fasilitas parkir tambahan
itu bisa menampung sekitar 300 kendaraan. Mudah-mudahan,
langkah ini bisa menuntaskan kekroditan perparkiran yang
hampir terjadi tiap pujawali di Pura Watu Klotok,''
katanya.
Di masa
datang, kata Rai, lingkungan Puru Watu Klotok sangat
potensial dipromosikan sebagai objek wisata baru di
Klungkung. Di samping panorama bentang pantainya yang
mempesona, kemegahan Pura Watu Klotok pascarenovasi juga
merupakan sebuah garansi untuk menaut hati wisatawan
mancanegara maupun domestik. Angka kunjungan wisatawan ke
objek wisata ''tidak resmi'' ini pun terus merambat naik.
Fenomena itu telah disambut oleh sejumlah pedagang dengan
mendirikan warung-warung darurat di sana.
Kini,
bangunan-bangunan sederhana itu tidak tertata dengan baik
dan melanggar sempadan pantai sehingga "merusak"
kemegahan Pura Watu Klotok beserta lingkungannya. Khawatir
kawasan itu makin "diserbu" pedagang, Pemkab
Klungkung terpaksa menerapkan tindakan tegas dengan "menggusur"
delapan warung yang sudah telanjur berdiri di tepian
pantai berpasir hitam itu. ''Jika dari sekarang tidak
diambil tindakan tegas, kami khawatir jumlah warung itu
makin menjamur. Kalau sudah begitu, penertibannya pun akan
makin sulit,'' kata Kepala Kantor Perlindungan dan
Ketertiban Masyarakat (Lintibmas) Klungkung Tjokorda Alit
Suryadarma, B.A. beberapa waktu lalu.
Meskipun
warung-warung itu "digusur", katanya, bukan
berarti Pemkab Klungkung melarang total warganya untuk
berjualan di lingkungan pura yang berstatus pura kahyangan
jagat itu. Masyarakat masih diizinkan mendirikan bangunan
di tanah-tanah milik penduduk setempat dan laba pura yang
lokasinya jauh dari bibir pantai serta tidak menghalangi
pandangan ke arah pura. ''Kami tidak membongkar paksa
warung-warung itu. Setelah kami beri pembinaan, para
pemilik warung dengan kesadaran sendiri membongkar
warungnya. Sebagai gantinya, mereka membangun kembali
warungnya di sebelah utara dan barat pura dengan jarak
yang relatif jauh,'' katanya dan menambahkan, pembangunan
warung itu tidak akan mengganggu aktivitas pemedek maupun
wisatawan yang ingin menikmati keindahan Pura dan pantai
Watu Klotok.
*
w. sumatika
|