kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 8 Oktober 2003

 Budaya


''Mempercantik'' Pura Watu Klotok

SEJAK 2002 hingga 2003 ini, Pemkab Klungkung melakukan renovasi total terhadap Pura Watu Klotok. Paling tidak, sekitar Rp 3,5 milyar harus dirogoh untuk menciptakan fisik bangunan nan megah, anggun dan berwibawa yang didominasi bahan-bahan batu alam hitam mengkilat yang didatangkan khusus dari Selat, Karangasem. Tidak hanya itu, lingkungan pura pun ditata dan dipercantik sehingga meningkatkan kenyamanan serta kekhusyukan pemedek yang bersembahyang ke sana.

Menurut Sekda Klungkung Drs. I Gusti Ngurah Rai, M.Si., unsur dan struktur pura mencakup 33 bagian yang tersebar di tiga palemahan (Tri Mandala), yakni Jaba Sisi yang disebut nista mandala sebagai lambang alam Bhur Loka, Jaba Tengah (madya mandala) sebagai lambang Bhwah Loka dan Jeroan (utama mandala) sebagai perlambang Swah Loka. Dalam tiap mandala terdapat sejumlah pelinggih dengan fungsinya sendiri-sendiri. ''Pembagian tri mandala bukan kebetulan semata. Semua itu merupakan tuntunan tata susila bagi tiap umat Hindu yang masuk ke pura. Tuntutan tata susila itu adalah Tri Kaya Parisudha yakni manacika, wacika dan kayika parisudha. Berpikir, berkata dan berbuat yang suci,'' paparnya panjang lebar.

Berkaitan dengan rampungnya renovasi Pura Watu Klotok itu, katanya, Pemkab Klungkung akan menggelar Karya Agung Mamungkah, Pedanan dan Ngenteg Linggih di pura setempat. Puncak karya yang diplot menghabiskan dana Rp 800 juta itu jatuh pada Saniscara Pon Sinta atau Sabtu (8/11) mendatang. Sementara rangkaian karya sudah berlangsung sejak Rabu (10/9) lalu yang diawali dengan upacara nuasen karya di Pura Watu Klotok. Seluruh prosesi upacara akan ditutup pada Minggu (23/11) dengan maajar-ajar di Pura Goa Lawah. ''Mengingat padat dan panjangnya rangkaian karya, kami perkirakan dana yang diplot itu tidak mencukupi. Karena itu, kami masih mengharapkan dana punia dari umat se-dharma,'' ujar Rai yang juga menjabat Ketua Umum Panitia Pelaksana Karya Agung Mamungkah, Pedanan lan Ngenteg Linggih Pura Watu Klotok itu.

Gusur Pedagang

Ternyata, bukan fisik Pura Watu Klotok saja yang ''dipoles''. Pemkab Klungkung juga sudah merampungkan pembangunan fasilitas parkir insidental di areal pura itu yang bertujuan mengantisipasi luberan pemedek yang ''menyerbu'' pura kahyangan jagat itu saat pujawali. Mayoritas pemedek yang berasal dari seluruh penjuru Bali itu jelas menggunakan kendaraan bermotor sehingga fasilitas parkir permanen (luas sekitar 20 are) yang ada dinilai sudah tidak mencukupi lagi.

''Belajar dari pengalaman pada pujawali-pujawali sebelumnya, fasilitas parkir yang ada saat ini memang tidak mampu lagi menampung luberan kendaraan pemedek. Makanya, pembangunan fasilitas parkir tambahan itu dinilai sangat urgen,'' kata Rai.

Lahan parkir insidental itu dibangun di sebelah utara bencingah agung pura yang luas totalnya mencapai 0,8 hektar. Karena sifatnya insidental, fasilitas parkir itu tidak diaspal tetapi cukup ditutupi dengan pasir dan batu (sirtu) lalu dipadatkan dengan alat berat. ''Fasilitas parkir tambahan itu bisa menampung sekitar 300 kendaraan. Mudah-mudahan, langkah ini bisa menuntaskan kekroditan perparkiran yang hampir terjadi tiap pujawali di Pura Watu Klotok,'' katanya.

Di masa datang, kata Rai, lingkungan Puru Watu Klotok sangat potensial dipromosikan sebagai objek wisata baru di Klungkung. Di samping panorama bentang pantainya yang mempesona, kemegahan Pura Watu Klotok pascarenovasi juga merupakan sebuah garansi untuk menaut hati wisatawan mancanegara maupun domestik. Angka kunjungan wisatawan ke objek wisata ''tidak resmi'' ini pun terus merambat naik. Fenomena itu telah disambut oleh sejumlah pedagang dengan mendirikan warung-warung darurat di sana.

Kini, bangunan-bangunan sederhana itu tidak tertata dengan baik dan melanggar sempadan pantai sehingga "merusak" kemegahan Pura Watu Klotok beserta lingkungannya. Khawatir kawasan itu makin "diserbu" pedagang, Pemkab Klungkung terpaksa menerapkan tindakan tegas dengan "menggusur" delapan warung yang sudah telanjur berdiri di tepian pantai berpasir hitam itu. ''Jika dari sekarang tidak diambil tindakan tegas, kami khawatir jumlah warung itu makin menjamur. Kalau sudah begitu, penertibannya pun akan makin sulit,'' kata Kepala Kantor Perlindungan dan Ketertiban Masyarakat (Lintibmas) Klungkung Tjokorda Alit Suryadarma, B.A. beberapa waktu lalu.

Meskipun warung-warung itu "digusur", katanya, bukan berarti Pemkab Klungkung melarang total warganya untuk berjualan di lingkungan pura yang berstatus pura kahyangan jagat itu. Masyarakat masih diizinkan mendirikan bangunan di tanah-tanah milik penduduk setempat dan laba pura yang lokasinya jauh dari bibir pantai serta tidak menghalangi pandangan ke arah pura. ''Kami tidak membongkar paksa warung-warung itu. Setelah kami beri pembinaan, para pemilik warung dengan kesadaran sendiri membongkar warungnya. Sebagai gantinya, mereka membangun kembali warungnya di sebelah utara dan barat pura dengan jarak yang relatif jauh,'' katanya dan menambahkan, pembangunan warung itu tidak akan mengganggu aktivitas pemedek maupun wisatawan yang ingin menikmati keindahan Pura dan pantai Watu Klotok.

* w. sumatika

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)