Pura Watu Klotok dari Batu ''Makocok''---
''Meminang''
Kesuburan, Pesucian Batara Besakih
Pura Luhur Watu
Klotok yang berdiri megah di wawengkon Banjar Celepik,
Desa Tojan, Klungkung -- sekitar tujuh kilometer dari
jantung kota Semarapura -- memang ditakdirkan menjadi
salah satu pura penting di gumi Bali. Tiap Saniscara Pon
Sinta tiba, pura kahyangan jagat yang dinyakini sebagai
linggih pesucian Ida Batara Besakih ini dipastikan
didatangi jutaan umat Hindu dari seluruh penjuru Bali.
Mereka datang untuk memohon keselamatan dunia akhirat.
Bagi para petani, pura ini juga merupakan tempat yang
tepat untuk ''meminang'' kesuburan dan keselamatan sawah
serta lahan pertanian.
--------------------------------
Panorama bentang
pantai berpasir hitam yang memagari Pura Watu Klotok
dengan debur ombak yang seperti tak pernah lelah mencumbu
bibir pantai sepanjang masa, memang menawarkan suasana
magis-religius nan kental. Vibrasi itu terasa kian
sempurna manakala umat yang pedek tangkil akan
terperangkap dalam kesenyapan, karena pura ini ''steril''
dari ingar-bingar suara mesin kendaraan serta hiruk-pikuk
aktivitas penduduk. Sungguh, sebuah situs yang
mahasempurna untuk mendekatkan serta menyatukan diri
dengan Sang Maha Pencipta.
Sayang, tak banyak
catatan sejarah yang merekam pembangunan pura ini,
sehingga masih banyak misteri yang belum tersingkap. Dari
sedikit catatan sejarah itu, terdapat Lontar Dewa Purana
Bangsul yang antara lain memuat: "Beliau Hyang Raja
Kertha, datang ke pinggir laut tenggara yang diberi nama
Silajong Watu Klotok, demikian disebut orang, mendirikan
pura buat menjaga upacara untuk danau, mendatangkan hujan
lebat, mengalirkan air selalu membawa kehidupan segala
tumbuh-tumbuhan bagai jiwa alam sekalian".
Bunyi lontar itu
menunjukkan bahwa Pura Watu Klotok dibangun oleh Raja
Kertha untuk memohon kesuburan dan keselamatan di sawah.
Siapakah Raja Kertha itu? Pertanyaan itu terjawab tuntas
dalam Lontar Kusuma Dewa yang menegaskan Raja Kertha
adalah Mpu Kuturan. Tokoh agamawan, pendeta terkenal yang
membangun pura-pura berstatus kahyangan jagat dan sad
kahyangan di Bali. Sementara dalam Lontar Babad Bendesa
Mas disebutkan, Mpu Kuturan membangun Pura Penataran Agung
Padang, Pura Goa Lawah, Pura Dasar Gelgel, Pura Watu
Klotok dan Pura Agung Kentel Gumi.
Tidak jelas benar,
tahun berapa pura-pura besar itu dibangun. Namun dari
sejumlah catatan sejarah, Mpu Kuturan tiba di Bali pada
tahun Saka 923 (tahun 1001 Masehi), maka pembangunan
pura-pura itu diperkirakan sekitar dekade tahun itu juga.
Mpu Kuturan merupakan salah satu dari lima pendeta
bersaudara "Panca Tirtha" (Mpu Gni Jaya, Mpu
Semeru, Mpu Gana, Mpu Bharadah dan Mpu Kuturan-red) yang
sempat melakukan perjalanan suci ke tanah Bali. Saat di
Bali, Mpu Kuturan berpasraman di Silayukti Teluk Padang (Padangbai-red)
dan dikenal sebagai salah seorang pengokoh sendi-sendi
kehidupan beragama Hindu di Bali.
Kesuburan
Makhluk Hidup
Sementara itu,
Lontar Raja Purana Besakih menyebutkan bahwa pantai Watu
Klotok merupakan pantai terpilih sebagai genah pesucian
Ida Batara Besakih. Ketika Rsi Markandhya meletakkan panca
datu di Pura Basukian/Besakih abad VIII -- selanjutnya
ditata dan dikembangkan oleh Mpu Kuturan -- maka sejak
saat itu perairan Watu Klotok dipakai sebagai pusat
pesucian Ida Batara Kabeh di Besakih. Dengan adanya batu
makocok yang bersinar di tepian pantai Watu Klotok, maka
tempat ini tidak semata sebagai genah pesucian. Tetapi
juga di-sungsung oleh umat yang mengolah tanah sawah,
memohon keselamatan, kesuburan di sawah agar terbebas dari
merana (hama penyakit-red) yang menyerang sawah mereka.
Sampai kini, upacara mohon pakuluh atau lebih dikenal
dengan upacara neduh lan pengusabaan masih digelar secara
rutin. Upacara nangluk merana ini berlangsung tiap
Purnamaning Kelima.
Upacara lain yang
sering digelar di areal Pura Watu Klotok (pantai-red)
adalah mulang pakelem dalam rangkaian upacara-upacara
besar di Pura Besakih seperti Eka Dasa Rudra, Tri Bhuana,
Eka Bhuana, Candi Narmada dan Panca Bali Krama lainnya.
Selain sebagai rasa syukur atas jasa-jasa Sang Hyang Kala
Sunia juga bermakna memohon hujan untuk kesuburan dan
kehidupan segala tumbuh-tumbuhan serta kemakmuran seluruh
makhluk hidup kepada Sang Penguasa Samudera. Di samping
itu, masyarakat setempat juga seringkali menggelar upacara
ngangkid, malukat dan neduh di atas bentang pantai
berpasir hitam ini.
Masyarakat setempat
juga meyakini pantai Watu Klotok memendam misteri yang
sulit dianalisis dengan akal sehat. Bentang pantai dari
Ketapang Kembar hingga pantai Sidayu adalah kawasan
misteri yang merupakan teritorial ''Pasukan Kopassus''
Ratu Gde Nusa. Siapa pun yang berani berbuat onar dan
tidak senonoh -- terutama saat mandi -- jangan harap bisa
pulang dengan selamat. Pantangan itu tampaknya sangat
dipatuhi oleh masyarakat.
Berawal dari
Batu ''Makocok''
Ketua III Panitia
Pelaksana Karya Agung Memungkah dan Pedanan Ngenteg
Linggih Pura Watu Klotok Tjokorda Alit Suryadarma, B.A.
memperkirakan, Pura Watu Klotok merupakan warisan tradisi
megalitik yang mengalami masa keemasannya pada masa
perundagian. Saat itu, dihasilkan berbagai bentuk bangunan
megalitik yang dijiwai oleh kepercayaan kepada arwah nenek
moyang dan kekuatan-kekuatan alam lainnya. Dalam komunitas
masyarakat megalitik yang agraris, kesuburan tanah
pertanian dan penyediaan air (dari gunung) secara
berkelanjutan merupakan sebuah keniscayaan untuk
menciptakan kesejahteraan masyarakat. Di samping memuja
kekuatan gunung, masyarakat megalitik juga sangat
menghormati kekuatan laut. ''Perkawinan'' dua kekuatan itu
dipercayai akan melahirkan kekuatan yang mahadahsyat.
Kepercayaan itu
tetap berkembang subur dalam masyarakat Bali modern yang
diimplementasikan ke dalam konsep Nyegara-Gunung. Mereka
tetap memuja kekuatan gunung seperti Batara Gunung Agung
maupun kekuatan laut seperti Batara Segara atau Batara
Baruna secara turun-temurun. Dari satu generasi ke
generasi berikutnya. ''Kepercayaan itu tak lekang dimakan
waktu. Dalam hal ini, pemujaan kekuatan Dewa Gunung dan
Dewa Laut sekaligus telah mencakup pemujaan kepada
kekuatan alam, arwah leluhur. Sebuah wujud penghormatan
yang sangat lengkap,'' kata Kepala Kantor Perlindungan dan
Ketertiban Masyarakat (Lintibmas) Klungkung ini.
Lebih lanjut,
Suryadarma menyakini bahwa Pura Watu Klotok yang kini
berarsitektur sangat megah itu berasal dari pemujaan pra-Hindu
yang wujudnya sangat sederhana. Berupa batu makocok (berbunyi-red)
yang bersinar dengan laut mahaluas menghampar di
hadapannya. Dua perpaduan kekuatan alam yang bersatu
dengan kekuatan magis arwah nenek moyang. Laut di depan
pura yang kini sudah menyatu diyakini sebagai sumber
kekuatan untuk mendapatkan ketenteraman dan kesejahteraan
hidup. Situs ini kemudian dinamai Pura Watu Klotok yang
bersumber dari kata watu (batu) dan klotok atau krotok/makocok
yang artinya berbunyi. ''Penamaan situs ini jelas
bersumber dari sana,'' katanya sambil menambahkan, pura
ini punya rencang atau unen-unen bikul putih, lelipi
poleng dan penyu macolek pamor yang sewaktu-waktu
menampakkan wujudnya di hadapan umat yang bersembahyang.
* w.
sumatika
|