kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 8 Oktober 2003

 Budaya


Pura Watu Klotok dari Batu ''Makocok''---

''Meminang'' Kesuburan, Pesucian Batara Besakih

Pura Luhur Watu Klotok yang berdiri megah di wawengkon Banjar Celepik, Desa Tojan, Klungkung -- sekitar tujuh kilometer dari jantung kota Semarapura -- memang ditakdirkan menjadi salah satu pura penting di gumi Bali. Tiap Saniscara Pon Sinta tiba, pura kahyangan jagat yang dinyakini sebagai linggih pesucian Ida Batara Besakih ini dipastikan didatangi jutaan umat Hindu dari seluruh penjuru Bali. Mereka datang untuk memohon keselamatan dunia akhirat. Bagi para petani, pura ini juga merupakan tempat yang tepat untuk ''meminang'' kesuburan dan keselamatan sawah serta lahan pertanian.

--------------------------------

Panorama bentang pantai berpasir hitam yang memagari Pura Watu Klotok dengan debur ombak yang seperti tak pernah lelah mencumbu bibir pantai sepanjang masa, memang menawarkan suasana magis-religius nan kental. Vibrasi itu terasa kian sempurna manakala umat yang pedek tangkil akan terperangkap dalam kesenyapan, karena pura ini ''steril'' dari ingar-bingar suara mesin kendaraan serta hiruk-pikuk aktivitas penduduk. Sungguh, sebuah situs yang mahasempurna untuk mendekatkan serta menyatukan diri dengan Sang Maha Pencipta.

Sayang, tak banyak catatan sejarah yang merekam pembangunan pura ini, sehingga masih banyak misteri yang belum tersingkap. Dari sedikit catatan sejarah itu, terdapat Lontar Dewa Purana Bangsul yang antara lain memuat: "Beliau Hyang Raja Kertha, datang ke pinggir laut tenggara yang diberi nama Silajong Watu Klotok, demikian disebut orang, mendirikan pura buat menjaga upacara untuk danau, mendatangkan hujan lebat, mengalirkan air selalu membawa kehidupan segala tumbuh-tumbuhan bagai jiwa alam sekalian".

Bunyi lontar itu menunjukkan bahwa Pura Watu Klotok dibangun oleh Raja Kertha untuk memohon kesuburan dan keselamatan di sawah. Siapakah Raja Kertha itu? Pertanyaan itu terjawab tuntas dalam Lontar Kusuma Dewa yang menegaskan Raja Kertha adalah Mpu Kuturan. Tokoh agamawan, pendeta terkenal yang membangun pura-pura berstatus kahyangan jagat dan sad kahyangan di Bali. Sementara dalam Lontar Babad Bendesa Mas disebutkan, Mpu Kuturan membangun Pura Penataran Agung Padang, Pura Goa Lawah, Pura Dasar Gelgel, Pura Watu Klotok dan Pura Agung Kentel Gumi.

Tidak jelas benar, tahun berapa pura-pura besar itu dibangun. Namun dari sejumlah catatan sejarah, Mpu Kuturan tiba di Bali pada tahun Saka 923 (tahun 1001 Masehi), maka pembangunan pura-pura itu diperkirakan sekitar dekade tahun itu juga. Mpu Kuturan merupakan salah satu dari lima pendeta bersaudara "Panca Tirtha" (Mpu Gni Jaya, Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Bharadah dan Mpu Kuturan-red) yang sempat melakukan perjalanan suci ke tanah Bali. Saat di Bali, Mpu Kuturan berpasraman di Silayukti Teluk Padang (Padangbai-red) dan dikenal sebagai salah seorang pengokoh sendi-sendi kehidupan beragama Hindu di Bali.

Kesuburan Makhluk Hidup

Sementara itu, Lontar Raja Purana Besakih menyebutkan bahwa pantai Watu Klotok merupakan pantai terpilih sebagai genah pesucian Ida Batara Besakih. Ketika Rsi Markandhya meletakkan panca datu di Pura Basukian/Besakih abad VIII -- selanjutnya ditata dan dikembangkan oleh Mpu Kuturan -- maka sejak saat itu perairan Watu Klotok dipakai sebagai pusat pesucian Ida Batara Kabeh di Besakih. Dengan adanya batu makocok yang bersinar di tepian pantai Watu Klotok, maka tempat ini tidak semata sebagai genah pesucian. Tetapi juga di-sungsung oleh umat yang mengolah tanah sawah, memohon keselamatan, kesuburan di sawah agar terbebas dari merana (hama penyakit-red) yang menyerang sawah mereka. Sampai kini, upacara mohon pakuluh atau lebih dikenal dengan upacara neduh lan pengusabaan masih digelar secara rutin. Upacara nangluk merana ini berlangsung tiap Purnamaning Kelima.

Upacara lain yang sering digelar di areal Pura Watu Klotok (pantai-red) adalah mulang pakelem dalam rangkaian upacara-upacara besar di Pura Besakih seperti Eka Dasa Rudra, Tri Bhuana, Eka Bhuana, Candi Narmada dan Panca Bali Krama lainnya. Selain sebagai rasa syukur atas jasa-jasa Sang Hyang Kala Sunia juga bermakna memohon hujan untuk kesuburan dan kehidupan segala tumbuh-tumbuhan serta kemakmuran seluruh makhluk hidup kepada Sang Penguasa Samudera. Di samping itu, masyarakat setempat juga seringkali menggelar upacara ngangkid, malukat dan neduh di atas bentang pantai berpasir hitam ini.

Masyarakat setempat juga meyakini pantai Watu Klotok memendam misteri yang sulit dianalisis dengan akal sehat. Bentang pantai dari Ketapang Kembar hingga pantai Sidayu adalah kawasan misteri yang merupakan teritorial ''Pasukan Kopassus'' Ratu Gde Nusa. Siapa pun yang berani berbuat onar dan tidak senonoh -- terutama saat mandi -- jangan harap bisa pulang dengan selamat. Pantangan itu tampaknya sangat dipatuhi oleh masyarakat.

Berawal dari Batu ''Makocok''

Ketua III Panitia Pelaksana Karya Agung Memungkah dan Pedanan Ngenteg Linggih Pura Watu Klotok Tjokorda Alit Suryadarma, B.A. memperkirakan, Pura Watu Klotok merupakan warisan tradisi megalitik yang mengalami masa keemasannya pada masa perundagian. Saat itu, dihasilkan berbagai bentuk bangunan megalitik yang dijiwai oleh kepercayaan kepada arwah nenek moyang dan kekuatan-kekuatan alam lainnya. Dalam komunitas masyarakat megalitik yang agraris, kesuburan tanah pertanian dan penyediaan air (dari gunung) secara berkelanjutan merupakan sebuah keniscayaan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat. Di samping memuja kekuatan gunung, masyarakat megalitik juga sangat menghormati kekuatan laut. ''Perkawinan'' dua kekuatan itu dipercayai akan melahirkan kekuatan yang mahadahsyat.

Kepercayaan itu tetap berkembang subur dalam masyarakat Bali modern yang diimplementasikan ke dalam konsep Nyegara-Gunung. Mereka tetap memuja kekuatan gunung seperti Batara Gunung Agung maupun kekuatan laut seperti Batara Segara atau Batara Baruna secara turun-temurun. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. ''Kepercayaan itu tak lekang dimakan waktu. Dalam hal ini, pemujaan kekuatan Dewa Gunung dan Dewa Laut sekaligus telah mencakup pemujaan kepada kekuatan alam, arwah leluhur. Sebuah wujud penghormatan yang sangat lengkap,'' kata Kepala Kantor Perlindungan dan Ketertiban Masyarakat (Lintibmas) Klungkung ini.

Lebih lanjut, Suryadarma menyakini bahwa Pura Watu Klotok yang kini berarsitektur sangat megah itu berasal dari pemujaan pra-Hindu yang wujudnya sangat sederhana. Berupa batu makocok (berbunyi-red) yang bersinar dengan laut mahaluas menghampar di hadapannya. Dua perpaduan kekuatan alam yang bersatu dengan kekuatan magis arwah nenek moyang. Laut di depan pura yang kini sudah menyatu diyakini sebagai sumber kekuatan untuk mendapatkan ketenteraman dan kesejahteraan hidup. Situs ini kemudian dinamai Pura Watu Klotok yang bersumber dari kata watu (batu) dan klotok atau krotok/makocok yang artinya berbunyi. ''Penamaan situs ini jelas bersumber dari sana,'' katanya sambil menambahkan, pura ini punya rencang atau unen-unen bikul putih, lelipi poleng dan penyu macolek pamor yang sewaktu-waktu menampakkan wujudnya di hadapan umat yang bersembahyang.

* w. sumatika

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)