kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 23 Oktober 2003

 Topik


Sampah Plastik, Momok Wisatawan ke Jemeluk

KEINDAHAN alam Jemeluk memang sangat menawan. Namun, keindahan itu ternodai sampah plastik yang menumpuk di kawasan tersebut. Bahkan, sampah plastik itu kini menjadi momok bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Tulamben, khususnya ke Jemeluk. Karena itu, sampah plastik mesti diperangi dengan membudayakan hidup bersih sampai ke masyarakat pedesaan.

Menurut praktisi pariwisata di kawasan Bunutan IW Kari Subali saat ditemui di Jemeluk, kemarin, tidak hanya pantai dan laut, semua wilayah mesti bebas dari sampah plastik kalau menginginkan Karangasem tidak ditinggalkan wisman. Apalagi, Karangasem yang terkenal dengan wisata tirtanya. Air yang kotor akan sangat menjijikkan dan membahayakan kesehatan.

''Kalau menginginkan wisatwan tetap mencintai kawasan wisata di Karangasem, khususnya kawasan wisata Tulamben, semua pihak mesti bertanggung jawab menjaga kebersihannya dari segala macam yang namanya sampah, baik sampah padat seperti plastik maupun sampah cair,'' tegas pria bercambang lebat ini. Caranya, gerakan budaya bersih harus betul-betul dilakukan. Di kawasan wisata, gerakan itu mesti dimulai dari pelaku atau yang berkepentingan dengan pariwisata itu sendiri.

Kadis Parsenibud Karangasem Ida Nyoman Djelantik, B.A. juga menyebutkan, sampah apalagi sampah plastik sangat ditakuti wisatawan. Karena itu, budaya hidup bersih mendesak diterapkan dan itu bisa dimulai dari sekolah-sekolah. Di tiap rumah tangga mesti disuluhkan, agar ada pemisahan antara sampah yang mudah hancur dengan yang tidak. Sampah organik atau yang mudah hancur bisa dibuatkan lubang di pekarangan agar menjadi kompos. Kompos itu nantinya bisa dipakai pupuk dan disebarkan di lahan pertanian.

Sampah nonorganik yang masih bisa dimanfaatkan dengan mendaur ulang, bisa diserahkan ke pemulung atau pengumpul barang bekas. Sementara yang sampah padat yang tak bisa dimanfaatkan lagi, seperti plastik yang tak berguna dimasukkan ke dalam tong sampah atau drum, lalu dibakar. ''Saya pernah mencoba melakukan pemisahan sampah di rumah tangga sendiri. Sampah yang tak mudah hancur seperti plastik, dibakar dalam drum. Saya kira, kalau disediakan sebuah drum di tiap rumah tangga akan sangat mudah. Tinggal bagaimana kita semua serius bergerak mulai membiasakan hidup dengan menjaga lingkungan tetap bersih. Menurut saya, di tiap kecamatan di Karangasem sudah perlu memiliki TPA sendiri agar sampah tak dibuang di sembarang tempat,'' katanya.

Kepala Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Lingkungan Hidup (DKPLH) Drs. IW Jagra mengatakan, masalah kebersihan merupakan tanggung jawab semua pihak. Agar budaya hidup bersih terwujud, semua pihak mesti saling menyadarkan masyarakat. ''Masalah sampah jangan semua diserahkan ke DKPLH,'' katanya.

Kari Subali mengatakan, penataan kawasan wisata Tulamben dengan membuat rencana detail tata ruang (RDTR) seperti yang sudah diperdakan untuk dua kawasan wisata yakni Candidasa dan Ujung, mendesak dilakukan. RDTR untuk kawasan wisata Tulamben mesti disusulkan. Hal itu guna memberikan rambu-rambu, agar penduduk atau investor yang berniat membangun di kawasan itu memiliki pedoman yang jelas, ada payung hukum jika pemkab melakukan tindakan ke pelanggar RDTR.

''Pantai sebagai areal umum dan juga ada wilayah yang berfungsi untuk upacara keagaman di Bali mesti diamankan. Ruang bagi nelayan tradisional dan lahan penggaraman tradisional yang menarik sebagai aset daya tarik wisata dan tempat petani mencari nafkah juga mesti dijaga, jangan sampai habis tergusur. Belakangan ini, lahan penggaraman tradisional di Amed dan Datah tinggal sedikit, di samping petani garam juga kian berkurang,'' katanya.

Kari Subali yang pemilik Hotel Good Karma di Lean, Bunutan ini mengatakan, kunjungan wisman ke kawasan Tulamben belakangan sudah meningkat, meskipun masih kecil. Hunian hotel sudah membaik. ''Saya tidak sombong, di tempat saya sendiri hunian sudah mencapai 50%,'' akunya.

Di kawasan wisata Tulamben kini kian banyak berdiri hotel serta pondok wisata, di samping tentu saja restoran serta fasilitas akomodasi lainnya. Kawasan wisata Tulamben amat terkenal di dunia karena wisata tirtanya -- seperti pantai Jemeluk dan Tulamben. Kedua pantai itu terkenal karena terumbu karangnya yang indah dengan ikan hiasnya. Banyak wisatawan minat khusus yakni berwisata tirta, seperti diving dan snorkling datang ke pantai-pantai kawasan wisata itu. Hal yang sama disampaikan Wakil Bupati Karangasem Drs. IGP Widjera maupun Ida Nyoman Djelantik. Keduanya mengatakan, khusus pantai Tulamben tergolong sebagai tempat wisata menyelam terbaik ke empat di dunia setelah pantai di Kepulauan Karibia. ''Itu berdasarkan peringkat yang dikeluarkan sebuah majalah wisata internasional,'' ujar Djelantik.

Lomba Foto Bawah Laut

Widjera mengatakan saat ini ada proposal dari sebuah perusahaan biro perjalanan wisata di Denpasar. Mereka mengajukan proposal soal rencana lomba foto bawah laut atau kejuaraan internasional scuba diving dan underwater photo/film international. Dia yang asal Banjar Buyan, Rendang, Karangasem itu telah merapatkan pengajuan proposal itu dengan stafnya. Pemkab mendukung kegiatan itu, karena akan berfungsi sebagai promosi dunia kepariwisataan Karangasem dan Bali umumnya. ''Kami mendukung dan sepakat membantu dengan apa yang kami bisa bantu. Kami bakal mengundang penggagasnya langsung ke Karangasem, agar kami bisa lebih mengetahui rencana mereka,'' katanya.

Widjera mengatakan, bantuan yang bisa diberikan Pemkab seperti masalah keamanan, tim SAR, fasilitas kesehatan di antaranya ambulans serta tempat penginapan. Soal hotel tempat menginap, Ketua PHRI Karangasem Ida Made Alit sudah menyatakan bersedia melakukan pendekatan dengan anggotanya, agar diberikan diskon 30 sampai 40 persen. ''Bantuan itu saja, rasanya sudah ratusan juta rupiah. Kalau dana lainnya yakni panitia minta Pemkab Karangasem membantu hadiah (price money) mencapai Rp 486 juta, kami belum bisa menjanjikan. Barangkali, panitia bisa mengusahakan mencari sponsor atau bekerja sama dengan persatuan wisata tirta, organisasi menyelam, Gahawisri atau Asita,'' kata Widjera.

Dia mengatakan, kegiatan internasional yang direncanakan digelar Juni 2004 itu, menurut penggagasnya, tempat penyelenggaraannya digelar di pantai Tulamben atas permintaan peserta. Direncanakan kegiatan itu bakal diikuti lebih dari 15 negara. * budana

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)