kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 23 Oktober 2003

 Pariwisata


Kunjungan Tuan Bush

DILIHAT dari sudut pandang publikasi internasional (international publicity), Indonesia selama lima tahun terakhir ini mendapatkan ''iklan gratis'' lumayan banyak dari berbagai media terkenal di dunia. Puncaknya adalah ketika era reformasi digulirkan, Mei 1998. Menyusul kemudian rezim Soeharto jatuh, Habibie naik ke panggung kekuasaan. Namun hanya setahun bertahan, jatuh lagi diganti Gus Dur, yang juga tak bertahan lama hingga diganti oleh Megawati.

Suhu politik kerap memanas dan keamanan pun cukup labil, bahkan hingga kini suhunya masih naik-turun. Sehingga, publikasi internasional -- yang tak salah kalau disebutkan ''iklan gratis'' -- itu tetap saja bisa dipanen oleh Indonesia.

Dilihat dari perspektif pariwisata, international publicity tersebut sejatinya memiliki kekuatan besar untuk menarik minat warga dunia berkunjung ke Indonesia setelah situasi normal dan suhu politik stabil. Kapan itu? Inilah pertanyaan besar yang bukan saja ditujukan kepada aparat keamanan (pemerintah termasuk di dalamnya), tetapi sekaligus menantang seluruh komponen masyarakat di negeri ini.

Kalaupun misalnya situasi ''abnormal'' tadi tidak bisa tuntas dipadamkan dan politik dalam negeri tetap gonjang-ganjing, sepanjang bisa dilokalisasi, jelas horizon atau zoning-nya, international publicity tetap saja memberikan hikmah dilihat dari sudut pandang turisme. Sebab, international publicity memiliki kekuatan cukup dahsyat memompakan gambaran Indonesia ke mind (memori) masyarakat dunia, baik mereka yang sudah mengenal dan pernah menginjakkan kakinya di negeri seribu pulau ini maupun yang belum.

Dengan demikian, begitu keinginan berwisata muncul, maka informasi tentang Indonesia yang tersimpan di memori warga dunia akibat sentuhan international publicity itu akan keluar memberikan signal pertama. Contohnya Israel, Lebanon, bahkan Irak perang berkecamuk terus, turis asing tetap saja datang, walau larangan dikumandangkan terus. asalah Indonesia sekarang, masih memunculkan kesan kuat seakan-akan tidak ada satu pun kawasan atau area di negeri ini yang bisa memberikan jaminan keamanan bagi pelancong. Warga dunia seolah-olah masih mengalami kesulitan besar untuk memeta atau melukiskan, mana zone ''perang'' dan mana zone damai (bebas ''perang'') di Indonesia ini?

Nah, siapa yang memiliki keahlian dan kapasitas untuk memetakan dengan jelas kedua zone itu? Siapa yang bertugas melokalisasi ''keabnormalan'' dan ''kegonjang-ganjingan'' ini, sekaligus memisahkannya dengan areal normal dan nongonjang-ganjing? Siapa di antara kita yang paling siap menangkal atau menetralisasikan kesan-kesan negatif merugikan terhadap Indonesia? Ini pertanyaan pelik berikutnya.

Bali, Oktober 2002 ke belakang, selalu siap menjawab pertanyaan itu dan berdiri di depan memangku tugas berat itu. Sebagai daerah tujuan wisata (DTW) utama di Indonesia, Bali dulu terkenal aman, damai, dan jauh dari kekerasan. Tetapi, begitu bom meledak di Legian, 12 Oktober 2002, citranya tiba-tiba berubah menjadi sorotan dunia. Pulau penyandang seribu satu sebutan indah -- the last paradise island, the island of peace, the island of dreeming -- yang sebelumnya selalu dirindukan oleh turis mancanegara, spontan menjadi objek travel advesory, travel warning dan travel ban.

Untuk mengembalikan situasi Bali yang aman, damai, dan jauh dari kekerasan seperti sediakala, ternyata tidak hanya menjadi obsesi rakyat di pulau kecil yang hanya memiliki luas 5.632,86 km ini. Obsesi untuk menciptakan Bali aman, damai, dan jauh dari kekerasan juga datang dari pemimpin Indonesia, para pemimpin negara di kawasan ASEAN, tak terkecuali PM Australia dan kepala negara adidaya, Tuan Bush sendiri.

Di tingkat regional, pascabom Kuta, nyaris tak ada satu pun pejabat tinggi di negeri ini yang dibebastugaskan untuk memikirkan Bali. Dari Presiden dan Wapres, para menko, pemimpin departemen, menteri negara, kepala badan, tak terkecuali para pelaku bisnis berduyun-duyun datang ke Bali. Berbagai program disusun, berbagai kegiatan dirancang. Program-program kenegaraan, sidang-sidang tingkat regional dan internasional, yang sebelumnya direncanakan di luar Bali, dipindah ke Bali.

Rakyat Bali, kelihatannya, bersyukur atas simpati itu. Harapan mereka (rakyat Bali), kedatangan para petinggi negara dan pengusaha kelas atas itu sama tulusnya dengan mereka. Tidak sekadar mencari keuntungan politik, atau sebatas menyelamatkan usaha pribadi. Tetapi betul-betul untuk memulihkan dan menormalkan Bali yang sempat terkoyak-koyak oleh bom. Terwujudkah harapan tulus rakyat Bali itu? Ini sebuah pertanyaan juga yang bukan membutuhkan jawaban dalam bentuk untaian kalimat, tetapi jawaban berbentuk karya nyata sehingga mampu mewujudkan kedamaian, keamanan, jauh dari kekerasan, dan sentimen keagamaan.

Bali memang penting diselamatkan, karena punya hak untuk itu. Dari perspektif ekonomi, pulau kecil ini ternyata menjadi ''mesin'' devisa negara cukup potensial. Jangan terkejut, kalau hampir 30% devisa negara tercipta dari pulau kecil ini. Menurut Taufiq Kiemas (suami Presiden Megawati) -- yang politisi dan pengusaha itu -- pendapatan sektor pariwisata Indonesia paling rendah 17 milyar dolar AS per tahun. Dari jumlah itu, menurut Mas Taufiq, paling rendah 5 milyar dolar AS per tahun bersumber dari Bali -- kalau nilai tukar Rp 8.350 berarti sekitar Rp 41 trilyun.

Jika dari Rp 41 trilyun itu, 20% (Rp 8,2 trilyun) saja terkontribusi ke masyarakat, rakyat di pulau kecil ini pasti lebih sejahtera. Sampaikah nilai 20% itu ke masyarakat yang merupakan pendukung utama budaya Bali, yang dijadikan modal pengembangan pariwisata? Ini juga sebuah pertanyaan yang penting mendapatkan jawaban supaya masyarakat Bali (Hindu) tidak diliputi kesangsian ''menginvestasikan'' budayanya di sektor pariwisata.

Jika 20% saja misalnya, hasil pembangunan pariwisata tidak terkontribusi ke masyarakat, memang, tidak salah kalau ada yang menyindir bahwa rakyat Bali memang cukup piawai menjual murah budayanya. alam konteks pariwisata, bulan Oktober 2003 ini, betul-betul bertuah untuk Bali. Para pemimpin negara di lingkungan ASEAN melangsungkan KTT ke-9 (ASEAN Business Advisory Council) di Bali, 7-8 Oktober. Tuan Bush dalam peralanannya ke Australia, singgah juga di Bali. Selain untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Megawati, kunjungannya di Bali juga dimanfaatkan untuk mengundang tokoh-tokoh agama.

Terlepas dari tujuan politik apa yang dimainkan Tuan Bush singgah di Bali, dilihat dari perspektif pariwisata sangat penting nilainya. Ini "iklan gratis" lagi bagi Indonesia, khususnya Bali. Keamanan Bali yang sempat disangsikan warga dunia pascabom Legian, dengan diselenggarakannya KTT ke-9 yang dihadiri para pemimpin negara lingkungan ASEAN dan kini disusul lagi oleh Tuan Bush, pemimpin negara super power mestinya bisa menghapuskan kesangsian itu. ehadiran Bush di Bali, penting sekali artinya dalam proses "memisahkan" kesan masa lampau yang sarat dengan kesangsian bidang keamanan dengan menyajikan pandangan lain bagi masa depan.

Proses pemisahan kesan dengan dukungan international publicity ini diharapkan mampu memompakan kesan serupa baru ke mind (memori) warga dunia -- baik yang sudah mengenal dan pernah ke Bali maupun yang belum -- bahwa Bali sekarang sudah layak dikunjungi lagi dan aman. Begitu nanti situasi dalam negeri stabil, kesan yang sudah tersimpan di memori masing-masing akan menggiring warga dunia lebih besar lagi datang ke Bali.

Proses itu sangat memungkinkan terjadi. Pandangan ini berkembang selama lima tahun terakhir dalam workshop-workshop kalangan ahli pikir top bertemakan Visioning the Future (Membentuk Gambaran tentang Masa Depan) yang diselenggarakan oleh Himpunan Hotel dan Restoran International.

Pembahasan dalam workshop-workshop ini biasanya menghasilkan ide-ide baru serbagai kilas balik dari kejadian masa lalu. Michael Olsen (2003) dalam tulisannya tentang Keramahan dan Wisatawan Masa Depan, menyodorkan sejumlah pertanyaan penting untuk menangkap ide-ide itu. Di antaranya (1) bagaimana anda berinteraksi dengan tamu masa depan, (2) bagaimana tamu bepergian di masa depan, (3) bagaimana tamu berkomunikasi kelak, (4) bagaimana anda mendistribusikan produk pada tamu, (5) apakah keuntungan bagi pelanggan baru akan menjadi permintaan tamu di masa depan, (6) kompetensi apa yang diperlukan tamu di masa depan, (7) standar apa yang berterima di masa depan?

Menurut Michael Olsen, penulis dan pengamat pariwisata dunia, tantangan utama masa depan usaha jasa turisme ialah mengidentifikasi pola yang muncul dari pancaran informasi yang kompleks. Ini merupakan prasyarat bahwa para pemimpin organisasi politik ataupun usaha akan terus melakukan pencarian guna menemukan ide-ide dan peluang untuk memimpin persaingan tiap saat. Ini bukan saja menuntut kemampuan memadukan pola-pola yang timbul dari semua sumber informasi, pengalaman dan pertukaran, juga menuntut adanya kreativitas pengembangan pandangan menjadi sebuah keunggulan kompetitif.

Para pemimpin dalam hubungan ini harus menghindari apa yang oleh Linden (1998) diacu sebagai "tirani masa lalu yang belum jauh lewatnya". Bagi orang banyak, itu berarti ketidakmampuan melihat pola yang sedang muncul karena terpaku pada tingkat kenyamanan hidup masa kini dan mala lalu yang baru saja lewat.

Dalam keadaan sekompleks dan ketidakmenetuan sekarang ini, mereka memang lebih aman menggantungkan diri pada tirani masa lalu ketimbang megambil resiko berpegang pada inisiatif baru untuk menggaet pelanggan masa mendatang. Jika harus memilih, Bali sebaiknya memilih yang mana: "tirani masa lalu yang belum jauh lewatnya" atau menangkap masa depan tanpa harus mengingkari masa lalu supaya tidak kehilangan arah dalam perjalanan ke depan? Ternyata banyak sekali pertanyaan muncul menyambut kedatangan Tuan Bush di Bali.

* Berata Ashrama

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)