kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 23 Oktober 2003

 Pariwisata


Pelabuhan Wisata

PEMKAB Karangasem tampaknya tak cuma berpangku tangan menunggu pulihnya pariwisata. Ada beberapa usaha yang dilakukan dalam rangka menata kawasan wisata, menyiapkan diri kalau keberuntungan datang, yakni pulihnya kembali pariwisata. ''Kita hanya berharap kepada stabilitas keamanan. Jangan sampai setelah bom Kuta dan Hotel JW Marriott di Jakarta, ada lagi peledakan bom susulan. kalau keamanan sudah stabil, pariwisata Bali pasti pulih kembali,'' ujar Kadis Parsenibud Karangasem Ida Nyoman Djelantik, B.A. beberapa waktu lalu di Amlapura.

Ia mengatakan tingkat hunian hotel di Karangasem masih rendah, meskipun sudah ada peningkatan wisatawan yang menginap di kawasan Denpasar dan Badung. Guna mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara ke Karangasem, ia mengajukan usulan pelabuhan wisata di Tulamben. Pembangunan objek wisata alternatif, seperti lapangan golf, penataan kawasan wisata tirta di Tulamben, di samping pemugaran istana di atas air taman Sukasada Ujung.

Di samping penataan itu, di objek wisata tirta Jemeluk (OWTJ) tahun lalu juga telah dibangun gedung dan stage. Sayangnya, bangunan yang dibangun dengan biaya besar itu sampai kini belum efektif berfungsi. Padahal, ide awalnya di bangunan OWTJ itu menjadi pangkalan penyelam. Pengelolaannya diserahkan ke Desa Adat Culik. Stage diharapkan digunakan tempat pertunjukan kesenian tradisional. Di sekitar areal itu juga dikelola art shop yang menawarkan berbagai jenis kerajinan suvenir khas Karangasem. Tiap wisatawan yang masuk ke areal gedung OWTJ itu dikenai retribusi.

Dalam rangka memanfaatkan gedung OWTJ itu, lanjut Djelantik, pihaknya berencana mengkoordinasikan perusahaan biro perjalanan wisata dan perusahaan dive operator yang kerap membawa tamu ke Jemeluk. Mereka diharapkan bisa mengarahkan tamunya yang bakal menyelam berpangkalan dari OWTJ. Dari sana, barulah berangkat menikmati pemandangan bawah laut ke mana mereka suka.

Lambatnya pulih industri pariwisata di Karangasem, diduga sebagai akibat masih pendeknya waktu berwisata di Bali, terkait dengan travel warning yang masih belum dicabut oleh beberapa negara asal wisatawan. Sementara untuk ke Karangasem dari Bandara Ngurah Rai menggunakan jalan darat memerlukan waktu yang sangat lama. ''Apalagi, sering terjadi kemacetan lalu lintas jurusan Denpasar-Amlapura. Perjalanan yang jauh, memakan waktu lama, sangat melelahkan sekaligus membosankan, sehingga wisatawan masih enggan ke Karangasem. Mereka lebih memilih mengunjungi objek wisata yang lebih dekat dengan Bandara Ngurah Rai,'' katanya.

Guna mencari jalan keluar agar wisatawan lebih mudah ke Karangasem, pihaknya mengajukan usulan pembukaan dermaga pariwisata. Pantai yang diajukan, yakni Tulamben. ''Usulan itu sudah saya sampaikan, mudah-mudahan disetujui pemegang kebijakan. Kalau dermaga itu sudah dibangun maka dengan boat cepat, wisatawan yang hendak diving ke Karangasem akan lebih mudah dan cepat, sekitar 30 menit sudah bisa sampai dibandingkan kalau lewat jalan darat yang bisa memakan waktu 2,5 jam sampai tiga jam,'' paparnya. (bud)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)