|
Pelabuhan
Wisata
PEMKAB
Karangasem tampaknya tak cuma berpangku tangan menunggu
pulihnya pariwisata. Ada beberapa usaha yang dilakukan
dalam rangka menata kawasan wisata, menyiapkan diri kalau
keberuntungan datang, yakni pulihnya kembali pariwisata.
''Kita hanya berharap kepada stabilitas keamanan. Jangan
sampai setelah bom Kuta dan Hotel JW Marriott di Jakarta,
ada lagi peledakan bom susulan. kalau keamanan sudah
stabil, pariwisata Bali pasti pulih kembali,'' ujar Kadis
Parsenibud Karangasem Ida Nyoman Djelantik, B.A. beberapa
waktu lalu di Amlapura.
Ia
mengatakan tingkat hunian hotel di Karangasem masih rendah,
meskipun sudah ada peningkatan wisatawan yang menginap di
kawasan Denpasar dan Badung. Guna mendongkrak kunjungan
wisatawan mancanegara ke Karangasem, ia mengajukan usulan
pelabuhan wisata di Tulamben. Pembangunan objek wisata
alternatif, seperti lapangan golf, penataan kawasan wisata
tirta di Tulamben, di samping pemugaran istana di atas air
taman Sukasada Ujung.
Di
samping penataan itu, di objek wisata tirta Jemeluk (OWTJ)
tahun lalu juga telah dibangun gedung dan stage. Sayangnya,
bangunan yang dibangun dengan biaya besar itu sampai kini
belum efektif berfungsi. Padahal, ide awalnya di bangunan
OWTJ itu menjadi pangkalan penyelam. Pengelolaannya
diserahkan ke Desa Adat Culik. Stage diharapkan digunakan
tempat pertunjukan kesenian tradisional. Di sekitar areal
itu juga dikelola art shop yang menawarkan berbagai jenis
kerajinan suvenir khas Karangasem. Tiap wisatawan yang
masuk ke areal gedung OWTJ itu dikenai retribusi.
Dalam
rangka memanfaatkan gedung OWTJ itu, lanjut Djelantik,
pihaknya berencana mengkoordinasikan perusahaan biro
perjalanan wisata dan perusahaan dive operator yang kerap
membawa tamu ke Jemeluk. Mereka diharapkan bisa
mengarahkan tamunya yang bakal menyelam berpangkalan dari
OWTJ. Dari sana, barulah berangkat menikmati pemandangan
bawah laut ke mana mereka suka.
Lambatnya
pulih industri pariwisata di Karangasem, diduga sebagai
akibat masih pendeknya waktu berwisata di Bali, terkait
dengan travel warning yang masih belum dicabut oleh
beberapa negara asal wisatawan. Sementara untuk ke
Karangasem dari Bandara Ngurah Rai menggunakan jalan darat
memerlukan waktu yang sangat lama. ''Apalagi, sering
terjadi kemacetan lalu lintas jurusan Denpasar-Amlapura.
Perjalanan yang jauh, memakan waktu lama, sangat
melelahkan sekaligus membosankan, sehingga wisatawan masih
enggan ke Karangasem. Mereka lebih memilih mengunjungi
objek wisata yang lebih dekat dengan Bandara Ngurah Rai,''
katanya.
Guna
mencari jalan keluar agar wisatawan lebih mudah ke
Karangasem, pihaknya mengajukan usulan pembukaan dermaga
pariwisata. Pantai yang diajukan, yakni Tulamben. ''Usulan
itu sudah saya sampaikan, mudah-mudahan disetujui pemegang
kebijakan. Kalau dermaga itu sudah dibangun maka dengan
boat cepat, wisatawan yang hendak diving ke Karangasem
akan lebih mudah dan cepat, sekitar 30 menit sudah bisa
sampai dibandingkan kalau lewat jalan darat yang bisa
memakan waktu 2,5 jam sampai tiga jam,'' paparnya.
(bud)
|