kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 23 Oktober 2003

 Nusatenggara


TPF Unsa Merasa Dilecehkan Petugas RSUD

Sumbawa Besar (Bali Post) -
Sejumlah mahasiswa Universitas Samawa (Unsa) yang tergabung dalam Tim Pencari Fakta (TPF) kasus kematian Mustakim di RSUD Sumbawa Besar, merasa dilecehkan oleh paramedis. Hal ini terlihat dari sikap paramedis yang enggan memberikan data, saat anggota TPF datang ke rumah sakit setempat.

Sulitnya memperoleh data tentang kronologi kematian Mustakim, kata seorang mahasiswa Ihsan, membuat anggota TPF merasa jengkel. Padahal, dua hari sebelum datang ke RSUD, anggota TPF sudah menyampaikan informasi tentang rencana kedatangan mencari data. Setibanya di rumah sakit, mahasiswa dibuat kecewa oleh petugas.

''Anehnya, kami disuruh mencari data ke polisi. Saran ini jelas mengecewakan,'' papar Ihsan, Rabu (22/10) kemarin dalam pertemuan di RSUD Sumbawa Besar. Hadir pada pertemuan itu Kepala UGD RSUD Sumbawa dr. AAG Kosala Putra, petugas medis dan paramedis, serta sejumlah anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsa. Seperti diketahui, anggota TPF Unsa kini sedang melakukan investigasi atas kematian mahasiswa Unsa Mustakim, yang diduga dianiaya oknum polisi. Sebelum dimasukkan ke dalam sel tahanan di Mapolres Sumbawa, korban sempat dirawat di RSUD. Setelah meninggal di ruang sel, korban kembali dibawa ke rumah sakit setempat.

Ketua BEM Unsa Andi Rusdi menyatakan, kedatangan mahasiswa ke RSUD, selain menyampaikan kekecewan anggota TPF, juga karena cukup banyak persoalan yang dikeluhkan masyarakat. Ini akibat lemahnya manajemen rumah sakit, sehingga berpengaruh terhadap pelayanan terhadap pasien. Ia menilai, tidak layak seorang petugas rumah sakit menyuruh anggota TPF mencari data ke polisi, padahal menjelang kematiannya Mustakim sempat dirawat di RSUD Sumbawa.

Kalau melihat kronologi kematian Mustakim, lanjut Andi, rumah sakit harus bertanggung jawab. Sebab, tak semudah itu seorang pasien diserahkan ke polisi dalam keadaan sakit.

Kepala UGD RSUD Sumbawa dr. AAG Kosala Putra menyangkal melecehkan mahasiswa. Karena identitas Mustakim tidak dikenal, rumah sakit terpaksa menghubungi polisi. Hal ini sesuai dengan pedoman penanganan pasien di UGD. Ia juga membantah RSUD menutup-nutupi data yang dibutuhkan mahasiswa. ''Kalau dianggap pelecehan, kami mohon maaf,'' ujar Kosala.

Petugas medis dr. Iwan mengungkapkan, petugas paramedis ragu memberikan data karena identitas mahasiswa tidak dikenal. Selain itu, ada kekhawatiran paramedis, seperti saat dijemput oleh polisi baru-baru ini untuk dimintai keterangan, tanpa sepengetahuan pimpinan rumah sakit. Hal senada dikatakn petugas paramedis Gatot. Menurut dia, ia sempat menolak menandatanganani kertas kosong yang disodorkan oleh anggota TPF. ''Namun, setelah keterangan saya ditulis di kertas, baru saya mau tanda tangan,'' kata Gatot. (051)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)