TPF
Unsa Merasa Dilecehkan Petugas RSUD
Sumbawa
Besar (Bali Post) -
Sejumlah mahasiswa Universitas Samawa (Unsa) yang
tergabung dalam Tim Pencari Fakta (TPF) kasus kematian
Mustakim di RSUD Sumbawa Besar, merasa dilecehkan oleh
paramedis. Hal ini terlihat dari sikap paramedis yang
enggan memberikan data, saat anggota TPF datang ke rumah
sakit setempat.
Sulitnya memperoleh
data tentang kronologi kematian Mustakim, kata seorang
mahasiswa Ihsan, membuat anggota TPF merasa jengkel.
Padahal, dua hari sebelum datang ke RSUD, anggota TPF
sudah menyampaikan informasi tentang rencana kedatangan
mencari data. Setibanya di rumah sakit, mahasiswa dibuat
kecewa oleh petugas.
''Anehnya, kami
disuruh mencari data ke polisi. Saran ini jelas
mengecewakan,'' papar Ihsan, Rabu (22/10) kemarin dalam
pertemuan di RSUD Sumbawa Besar. Hadir pada pertemuan itu
Kepala UGD RSUD Sumbawa dr. AAG Kosala Putra, petugas
medis dan paramedis, serta sejumlah anggota Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsa. Seperti diketahui, anggota
TPF Unsa kini sedang melakukan investigasi atas kematian
mahasiswa Unsa Mustakim, yang diduga dianiaya oknum polisi.
Sebelum dimasukkan ke dalam sel tahanan di Mapolres
Sumbawa, korban sempat dirawat di RSUD. Setelah meninggal
di ruang sel, korban kembali dibawa ke rumah sakit
setempat.
Ketua BEM Unsa Andi
Rusdi menyatakan, kedatangan mahasiswa ke RSUD, selain
menyampaikan kekecewan anggota TPF, juga karena cukup
banyak persoalan yang dikeluhkan masyarakat. Ini akibat
lemahnya manajemen rumah sakit, sehingga berpengaruh
terhadap pelayanan terhadap pasien. Ia menilai, tidak
layak seorang petugas rumah sakit menyuruh anggota TPF
mencari data ke polisi, padahal menjelang kematiannya
Mustakim sempat dirawat di RSUD Sumbawa.
Kalau melihat
kronologi kematian Mustakim, lanjut Andi, rumah sakit
harus bertanggung jawab. Sebab, tak semudah itu seorang
pasien diserahkan ke polisi dalam keadaan sakit.
Kepala UGD RSUD
Sumbawa dr. AAG Kosala Putra menyangkal melecehkan
mahasiswa. Karena identitas Mustakim tidak dikenal, rumah
sakit terpaksa menghubungi polisi. Hal ini sesuai dengan
pedoman penanganan pasien di UGD. Ia juga membantah RSUD
menutup-nutupi data yang dibutuhkan mahasiswa. ''Kalau
dianggap pelecehan, kami mohon maaf,'' ujar Kosala.
Petugas medis dr.
Iwan mengungkapkan, petugas paramedis ragu memberikan data
karena identitas mahasiswa tidak dikenal. Selain itu, ada
kekhawatiran paramedis, seperti saat dijemput oleh polisi
baru-baru ini untuk dimintai keterangan, tanpa
sepengetahuan pimpinan rumah sakit. Hal senada dikatakn
petugas paramedis Gatot. Menurut dia, ia sempat menolak
menandatanganani kertas kosong yang disodorkan oleh
anggota TPF. ''Namun, setelah keterangan saya ditulis di
kertas, baru saya mau tanda tangan,'' kata Gatot. (051)
|