Hadapi Ketidakpastian----
Penurunan Bunga
SBI akan Melambat
Jakarta
(Bali Post) -
Bank Indonesia (BI) mengisyaratkan akan adanya perlambatan
penurunan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dalam
waktu-waktu mendatang. Langkah ini diambil sebagai
antisipasi terhadap ketidakpastian di masa datang.
"Kita sebaiknya mengerem sedikit-sedikit sekarang,
daripada kita menaikkan mendadak nanti, pasar pasti kaget
dan itu agak berbahaya," kata Deputi Gubernur BI
Hartadi Sarwono di Jakarta, Rabu (22/10) kemarin.
Dikatakan Hartadi,
saat ini BI berusaha menyerap sebanyak mungkin tawaran
atau pun SBI yang akan jatuh tempo. Misalnya, kalau ada
SBI yang jatuh tempo, katakan Rp 20 trilyun itu akan coba
diserap seluruhnya. Saat ini, bank-bank masih wait and see
untuk pemberian lending-nya.
Menurut Hartadi,
kalau likuiditas ini terlalu dibiarkan dan menjadi hot
money akan berbahaya karena bisa saja uang itu kemudian
disalurkan untuk perdagangan valas. Alasannya, saat ini
bank tidak mempunyai outlet lain dalam menyalurkan
likuiditasnya, selain di SBI dan kredit. Sehingga,
nantinya kecenderungannya kecepatan penurunan bunga SBI
akan sedikit melambat.
SBI Naik
Sementara itu, dalam
lelang kemarin, BI menyebutkan, suku bunga SBI kembali
naik setelah beberapa lama terus turun. Pada lelang
tersebut rata-rata tertimbang SBI 1 bulan mencapai 8,53
persen atau naik dua basis poin dari pada posisi pekan
lalu, 8,51 persen. Lelang tersebut berhasil menyerap dana
Rp 25,11 trilyun atau 99,52 persen dari jumlah lelang yang
diterima BI.
Meski begitu, dia
mengatakan, penurunan SBI tetap terbuka, tetapi tidak akan
sebanyak sebelumnya. Dalam pandangannya, bunga SBI akan
berada di kisaran 8-8,5 persen sampai akhir tahun. "Tetapi,
kita tidak akan tahan-tahan dia, cuma kecepatannya yang
kita atur, seperti naik mobil, kita tetap jalan tetapi
lebih slow down sedikit karena ada tikungan disana, kita
harus hati-hati itu saja" tambahnya.
Ketika ditanya
potensi kenaikan inflasi menjelang hari raya dan akhir
tahun bisa menyebabkan SBI naik kembali, Hartadi
menjelaskan, kebijakan moneter tidak bereaksi pada inflasi
dalam waktu yang pendek. Apalagi inflasi disebabkan oleh
hari raya. Yang menjadi perhatian BI saat ini, lanjut dia
adalah adanya sejumlah tantangan di depan.
Ditanya antisipasi
BI menghadapi lonjakan base money menjelang akhir tahun,
dia mengakui, BI tidak melakukan kebijakan apapun. Bahkan,
BI akan mengakomodir kebutuhan uang tunai masyarakat,
mengingat pada saat itu, kebutuhan akan uang tunai sangat
tinggi. Mengenai nilai lonjakannya, Hartadi belum berani
memastikan. Tetapi, berdasarkan pengalaman lalu nominal
lonjakan mencapai Rp 5-10 trilyun.
Meski dipastikan
naik, dia memperkirakan pertumbuhan base money dalam batas
yang aman. BI sendiri menargetkan base money pada tahun
2003 senilai Rp 135 trilyun. Ditambahkannya, penambahan
uang beredar itu pada awal tahun biasanya kembali menurun.
"Jadi, karena itu siklus, kita tidak akan respons apa
pun," katanya seraya mengatakan, pertumbuhan 10
persen itu tidak akan mengganggu perekonomian karena
secara keselurahan masih on track.
Hartadi juga
mengatakan, gelaja deflasi yang terjadi secara global
telah menolong tingkat inflasi di dalam negeri. Akibatnya,
konsumen lebih banyak tertolong karena banyak harga-harga
yang turun. Dia melihat, gejala serupa masih akan terjadi
di tahun depan. (kmb2)
|