kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 23 Oktober 2003

 Ekonomi


Hadapi Ketidakpastian----

Penurunan Bunga SBI akan Melambat

Jakarta (Bali Post) -
Bank Indonesia (BI) mengisyaratkan akan adanya perlambatan penurunan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dalam waktu-waktu mendatang. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap ketidakpastian di masa datang. "Kita sebaiknya mengerem sedikit-sedikit sekarang, daripada kita menaikkan mendadak nanti, pasar pasti kaget dan itu agak berbahaya," kata Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono di Jakarta, Rabu (22/10) kemarin.

Dikatakan Hartadi, saat ini BI berusaha menyerap sebanyak mungkin tawaran atau pun SBI yang akan jatuh tempo. Misalnya, kalau ada SBI yang jatuh tempo, katakan Rp 20 trilyun itu akan coba diserap seluruhnya. Saat ini, bank-bank masih wait and see untuk pemberian lending-nya.

Menurut Hartadi, kalau likuiditas ini terlalu dibiarkan dan menjadi hot money akan berbahaya karena bisa saja uang itu kemudian disalurkan untuk perdagangan valas. Alasannya, saat ini bank tidak mempunyai outlet lain dalam menyalurkan likuiditasnya, selain di SBI dan kredit. Sehingga, nantinya kecenderungannya kecepatan penurunan bunga SBI akan sedikit melambat.

SBI Naik

Sementara itu, dalam lelang kemarin, BI menyebutkan, suku bunga SBI kembali naik setelah beberapa lama terus turun. Pada lelang tersebut rata-rata tertimbang SBI 1 bulan mencapai 8,53 persen atau naik dua basis poin dari pada posisi pekan lalu, 8,51 persen. Lelang tersebut berhasil menyerap dana Rp 25,11 trilyun atau 99,52 persen dari jumlah lelang yang diterima BI.

Meski begitu, dia mengatakan, penurunan SBI tetap terbuka, tetapi tidak akan sebanyak sebelumnya. Dalam pandangannya, bunga SBI akan berada di kisaran 8-8,5 persen sampai akhir tahun. "Tetapi, kita tidak akan tahan-tahan dia, cuma kecepatannya yang kita atur, seperti naik mobil, kita tetap jalan tetapi lebih slow down sedikit karena ada tikungan disana, kita harus hati-hati itu saja" tambahnya.

Ketika ditanya potensi kenaikan inflasi menjelang hari raya dan akhir tahun bisa menyebabkan SBI naik kembali, Hartadi menjelaskan, kebijakan moneter tidak bereaksi pada inflasi dalam waktu yang pendek. Apalagi inflasi disebabkan oleh hari raya. Yang menjadi perhatian BI saat ini, lanjut dia adalah adanya sejumlah tantangan di depan.

Ditanya antisipasi BI menghadapi lonjakan base money menjelang akhir tahun, dia mengakui, BI tidak melakukan kebijakan apapun. Bahkan, BI akan mengakomodir kebutuhan uang tunai masyarakat, mengingat pada saat itu, kebutuhan akan uang tunai sangat tinggi. Mengenai nilai lonjakannya, Hartadi belum berani memastikan. Tetapi, berdasarkan pengalaman lalu nominal lonjakan mencapai Rp 5-10 trilyun.

Meski dipastikan naik, dia memperkirakan pertumbuhan base money dalam batas yang aman. BI sendiri menargetkan base money pada tahun 2003 senilai Rp 135 trilyun. Ditambahkannya, penambahan uang beredar itu pada awal tahun biasanya kembali menurun. "Jadi, karena itu siklus, kita tidak akan respons apa pun," katanya seraya mengatakan, pertumbuhan 10 persen itu tidak akan mengganggu perekonomian karena secara keselurahan masih on track.

Hartadi juga mengatakan, gelaja deflasi yang terjadi secara global telah menolong tingkat inflasi di dalam negeri. Akibatnya, konsumen lebih banyak tertolong karena banyak harga-harga yang turun. Dia melihat, gejala serupa masih akan terjadi di tahun depan. (kmb2)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)