Kegiatan
Satpol PP belum Membuat Jera Gepeng
Gianyar
(Bali Post) -
Penertiban yang dilakukan Satpol PP Gianyar terhadap
gelandangan dan pengemis (gepeng) selama ini, ternyata
tidak membuat mereka yang identik dengan peminta-minta itu
jera. Meski terus ditertibkan, ditangkapi kemudian
dipulangkan oleh satpol PP ke daerah asal gepeng
bersangkutan, tetap saja seperti tumbuh hilang berganti --
para gepeng itu kembali marak di keramaian Gianyar.
Mereka seakan-akan
menikmati main kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP.
Setiap razia dilakukan, aksi dramatis -- kejar-mengejar
petugas dengan gepeng -- sering terjadi di tengah keramain.
Bahkan di keramaian lalu lintas kota Gianyar yang bisa
saja membahayakan kedua belah pihak. Para gepeng itu
seakan tidak mempedulikan keramaian. Yang penting mereka
bisa lolos dari kejaran petugas.
''Gepeng ini tetap
saja ramai, padahal tiap kami berhasil mengamankan mereka,
selalu kami pulangkan dengan mengantar mereka hingga ke
tempat asalnya. Tetapi ketika dilakukan penertiban lagi,
ternyata sebagian besar orang yang sama,'' ujar Kepala
Badan kesbanglinmas Gianyar Made Mertha Adhiatmaja, Rabu
(22/10) kemarin. Ia menambahkan, ada banyak jalan pintas
yang bias dilalui para gepeng asal Munti Gunung Karangasem
itu menuju Gianyar.
Seperti halnya razia
yang dilakukan Satpol PP Gianyar, Selasa (21/10) yang
dipimpin Wakasatpol PP A.A. Oka Digjaya. Sedikitnya 13
gepeng diringkus di kawasan Ubud. Padahal sehari
sebelumnya, juga berhasil diamankan sekitar 23 gepeng.
Para gepeng ini kini mulai mengarahkan sasaran kepada
wisatawan, karena penduduk setempat mulai ''menutup pintu''
bagi penggepeng ini.
Sejumlah pedagang di
kawasan Sukawati dan Ubud juga mengeluhkan ulah para
gepeng tersebut. Pasalnya, banyak wisatawan yang enggan
memasuki toko mereka untuk menghindari tangan-tangan usil
para gepeng. ''Gepeng itu sering nyolek-nyolek wisatawan
yang baru masuk ke toko. Karena tamu itu malas meladeni,
mereka bergegas pergi dan meninggalkan toko kami tanpa
melihat-lihat terlebih dahulu,'' ujar Eka, seorang
pedagang di Ubud.
Kadis Sosial Gianyar
IB Nyoman Rai, ketika dimintai konfirmasi terkait penyakit
sosial yang tak kunjung berkurang itu, mengakui, kalau
untuk menekan para gepeng tersebut sangatlah sulit. ''Kalau
diadakan kerja sama antardaerah, mungkin bisa,'' ujarnya.
Rai berharap peran
serta pelaku pariwisata dalam menanggulangi gepeng
tersebut. Pasalnya menjamurnya gepeng secara keseluruhan
dapat merusak citra Bali, khususnya dunia pariwisata. ''Kalau
kalangan pariwisata ikut ambil bagian menertibkan gepeng,
sedikit demi sedikit gepeng itu pasti dapat diatasi,''
tambahnya.
Lebih lanjut
dikatakan Rai, memang selama ini pelaku pariwisata itu
sudah menyerahkan PHR untuk pemerintah, tetapi itu kan
uang dari rakyat yang kebetulan mempergunakan jasa
pariwisata itu. (bal)
|