kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 23 Oktober 2003

 Bali


Kegiatan Satpol PP belum Membuat Jera Gepeng

Gianyar (Bali Post) -
Penertiban yang dilakukan Satpol PP Gianyar terhadap gelandangan dan pengemis (gepeng) selama ini, ternyata tidak membuat mereka yang identik dengan peminta-minta itu jera. Meski terus ditertibkan, ditangkapi kemudian dipulangkan oleh satpol PP ke daerah asal gepeng bersangkutan, tetap saja seperti tumbuh hilang berganti -- para gepeng itu kembali marak di keramaian Gianyar.

Mereka seakan-akan menikmati main kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP. Setiap razia dilakukan, aksi dramatis -- kejar-mengejar petugas dengan gepeng -- sering terjadi di tengah keramain. Bahkan di keramaian lalu lintas kota Gianyar yang bisa saja membahayakan kedua belah pihak. Para gepeng itu seakan tidak mempedulikan keramaian. Yang penting mereka bisa lolos dari kejaran petugas.

''Gepeng ini tetap saja ramai, padahal tiap kami berhasil mengamankan mereka, selalu kami pulangkan dengan mengantar mereka hingga ke tempat asalnya. Tetapi ketika dilakukan penertiban lagi, ternyata sebagian besar orang yang sama,'' ujar Kepala Badan kesbanglinmas Gianyar Made Mertha Adhiatmaja, Rabu (22/10) kemarin. Ia menambahkan, ada banyak jalan pintas yang bias dilalui para gepeng asal Munti Gunung Karangasem itu menuju Gianyar.

Seperti halnya razia yang dilakukan Satpol PP Gianyar, Selasa (21/10) yang dipimpin Wakasatpol PP A.A. Oka Digjaya. Sedikitnya 13 gepeng diringkus di kawasan Ubud. Padahal sehari sebelumnya, juga berhasil diamankan sekitar 23 gepeng. Para gepeng ini kini mulai mengarahkan sasaran kepada wisatawan, karena penduduk setempat mulai ''menutup pintu'' bagi penggepeng ini.

Sejumlah pedagang di kawasan Sukawati dan Ubud juga mengeluhkan ulah para gepeng tersebut. Pasalnya, banyak wisatawan yang enggan memasuki toko mereka untuk menghindari tangan-tangan usil para gepeng. ''Gepeng itu sering nyolek-nyolek wisatawan yang baru masuk ke toko. Karena tamu itu malas meladeni, mereka bergegas pergi dan meninggalkan toko kami tanpa melihat-lihat terlebih dahulu,'' ujar Eka, seorang pedagang di Ubud.

Kadis Sosial Gianyar IB Nyoman Rai, ketika dimintai konfirmasi terkait penyakit sosial yang tak kunjung berkurang itu, mengakui, kalau untuk menekan para gepeng tersebut sangatlah sulit. ''Kalau diadakan kerja sama antardaerah, mungkin bisa,'' ujarnya.

Rai berharap peran serta pelaku pariwisata dalam menanggulangi gepeng tersebut. Pasalnya menjamurnya gepeng secara keseluruhan dapat merusak citra Bali, khususnya dunia pariwisata. ''Kalau kalangan pariwisata ikut ambil bagian menertibkan gepeng, sedikit demi sedikit gepeng itu pasti dapat diatasi,'' tambahnya.

Lebih lanjut dikatakan Rai, memang selama ini pelaku pariwisata itu sudah menyerahkan PHR untuk pemerintah, tetapi itu kan uang dari rakyat yang kebetulan mempergunakan jasa pariwisata itu. (bal)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)