Dari Warung Global ''Interaktif'' Bali Post
Masyarakat
Pesimis GWK bisa Jalan
Macetnya proyek
Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Desa Ungasan mendapat
perhatian masyarakat. Ada yang menginginkan proyek
dilanjutkan terus, namun ada juga yang mengatakan emang
gue pikirin (EGP). Kesalahan akibat tertundanya proyek ini
ditudingkan kepada masalah dana. Dulu pengelola
gembar-gembor proyek bisa jalan karena dana ada, tetapi
sekarang semua itu nol besar. Proyek macet dan dana pun
tak ada. Ada masyarakat yang mengharapkan dana segera
turun, kalau perlu masyarakat juga mau nyumbang. Demikian
yang mengemuka dalam warung global, Rabu (22/10) kemarin
yang bertopik ''GWK harus Diselamatkan.'' Acara ini
disiarkan langsung oleh Radio Global FM 99,15 Kinijani dan
direlai Radio Genta Bali FM 106,15 dan Radio Singaraja FM
107,2. Berikut rangkumannya.
======================================================
Proyek GWK yang
bernilai Rp 1 trilyun ini terancam macet. Padahal sebelum
proyek ini jalan, pengelola sudah gembar-gembor mengatakan
dana ada. Saat itu yang belum ada hanya izin dari
pemerintah. Kini ketika izin turun, tetap saja proyek
mangkrak. Warga di sekitar GWK pesimis proyek itu akan
berjalan. Selain itu berbagai konflik internal dalam tubuh
manajemen juga menjadi penyebab macetnya proyek. Perubahan
manajemen disertai turunnya investasi juga ikut
berpengaruh.
Satu hal lagi yang
menjadi permasalahan adalah posisi patung Wisnu ini.
Lazimnya Dewa Wisnu berada di Utara, namun patung GWK ini
berada di Selatan. Ada yang mengatakan dari segi tempat
saja sudah menyalahi Ista Dewata, namun ada yang
mengganggap itu bukan masalah, asal bisa memaknai posisi
dengan benar, tidak asal Utara Selatan saja. Seperti yang
dikemukakan Manulaba, tempat patung ini sudah salah. ''Wisnu
itu di Utara, bukan di Selatan.'' Usulan ini didukung
Ngurah Oka. Dia mempertanyakan apakah GWK tidak bisa
diganti dengan patung Brahma saja. Tetapi Dewa Aji Pegil
dan Nang Mitra menampik pendapat itu. Menurut mereka Utara
Selatan hanyalah sebatas rentangan tangan dan patokan yang
terpenting adalah Purwa Daksina. ''Jadi lanjutkan saja
pembangunan proyek GWK, karena secara ekonomi bisa
menambah pemasukan dan bisa jadi trade mark Bali,'' tegas
Dewa Aji Pegil.
Keinginan
mempertahankan GWK juga diusulkan Ireng. Pasalnya, ini
adalah karya putra Bali yang bisa dijadikan tonggak
sejarah dan bisa jadi kebanggaan. Soal dana, dia sendiri
tidak tahu pasti. Malahan balik bertanya, katanya
penyandang dana sudah ada. Usulan melanjutkan pembangunan
GWK ini disetujui Arya, Godel, Iskandar, Maria, Malini,
Komang Merta dan Gung Gundul.
Mereka sangat setuju
GWK dilanjutkan karena bisa berdampak positif, salah
satunya adalah memberikan tempat bagi tenaga kerja.
Komponen pariwisata, menurut Komang Merta sangat ingin
proyek ini cepat selesai. ''Sekarang kebanyakan wisatawan
yang datang hanya bisa mengkhayal sampai di GWK. Mereka
tidak tahu seperti apa nanti tingginya patung ini, apakah
benar akan melebihi patung Liberty,'' ujar pekerja
pariwisata ini. Gung Gudul dengan yakin menambahkan, GWK
belum rampung saja pengunjung sudah banyak.
Soal dana, Natri
mengusulkan, pengelola bekerja sama dengan pihak Perum
Angkasa Pura. Tak hanya itu, semua stake holder harus
saling bekerja sama disertai SDM yang qualified. ''Kalau
perlu cari tenaga pengelola yang independen untuk mencegah
conflict of interest dan kontrol internal bisa berjalan,''
tegasnya.
Usulan yang senada
dilontarkan Mangara Siahaan. Dia mengajak masyarakat Bali
mengadakan gebu Bali (gerakan seribu atau lima ribu untuk
Bali). Tiap orang Bali dimintai sumbangan seribu atau lima
ribu untuk mendanai proyek ini. Sementara alternatif lain
adalah meminta pemprop Bali membantu mencarikan investor.
Menyangkut pemprop
atau pemda, Jerry mengingatkan agar segera diusut dan
kalau perlu dipanggil, siapa sebenarnya pemegang izin GWK.
Kalau ternyata izin mereka sudah kadaluwarsa tentu harus
diproses lagi. Bagi Sinda, proyek GWK ini hanya kebanyakan
omong dengan janji-janji palsu. ''EGP kalau dilanjutin,''
sindirnya.
Jarot juga
mengingatkan, kalau mau bikin proyek, modal dulu baru
model. Karenanya dia minta pengusaha dan masyarakat
memikirkan masak-masak apa yang mau dibangun, biar tidak
macet di tengah jalan. Sekarang ini tanah saja banyak yang
belum dibayar, bagaimana mau meneruskan proyek. (wah)
|