kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 23 Oktober 2003

 Bali


Dari Warung Global ''Interaktif'' Bali Post

Masyarakat Pesimis GWK bisa Jalan

Macetnya proyek Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Desa Ungasan mendapat perhatian masyarakat. Ada yang menginginkan proyek dilanjutkan terus, namun ada juga yang mengatakan emang gue pikirin (EGP). Kesalahan akibat tertundanya proyek ini ditudingkan kepada masalah dana. Dulu pengelola gembar-gembor proyek bisa jalan karena dana ada, tetapi sekarang semua itu nol besar. Proyek macet dan dana pun tak ada. Ada masyarakat yang mengharapkan dana segera turun, kalau perlu masyarakat juga mau nyumbang. Demikian yang mengemuka dalam warung global, Rabu (22/10) kemarin yang bertopik ''GWK harus Diselamatkan.'' Acara ini disiarkan langsung oleh Radio Global FM 99,15 Kinijani dan direlai Radio Genta Bali FM 106,15 dan Radio Singaraja FM 107,2. Berikut rangkumannya.

======================================================

Proyek GWK yang bernilai Rp 1 trilyun ini terancam macet. Padahal sebelum proyek ini jalan, pengelola sudah gembar-gembor mengatakan dana ada. Saat itu yang belum ada hanya izin dari pemerintah. Kini ketika izin turun, tetap saja proyek mangkrak. Warga di sekitar GWK pesimis proyek itu akan berjalan. Selain itu berbagai konflik internal dalam tubuh manajemen juga menjadi penyebab macetnya proyek. Perubahan manajemen disertai turunnya investasi juga ikut berpengaruh.

Satu hal lagi yang menjadi permasalahan adalah posisi patung Wisnu ini. Lazimnya Dewa Wisnu berada di Utara, namun patung GWK ini berada di Selatan. Ada yang mengatakan dari segi tempat saja sudah menyalahi Ista Dewata, namun ada yang mengganggap itu bukan masalah, asal bisa memaknai posisi dengan benar, tidak asal Utara Selatan saja. Seperti yang dikemukakan Manulaba, tempat patung ini sudah salah. ''Wisnu itu di Utara, bukan di Selatan.'' Usulan ini didukung Ngurah Oka. Dia mempertanyakan apakah GWK tidak bisa diganti dengan patung Brahma saja. Tetapi Dewa Aji Pegil dan Nang Mitra menampik pendapat itu. Menurut mereka Utara Selatan hanyalah sebatas rentangan tangan dan patokan yang terpenting adalah Purwa Daksina. ''Jadi lanjutkan saja pembangunan proyek GWK, karena secara ekonomi bisa menambah pemasukan dan bisa jadi trade mark Bali,'' tegas Dewa Aji Pegil.

Keinginan mempertahankan GWK juga diusulkan Ireng. Pasalnya, ini adalah karya putra Bali yang bisa dijadikan tonggak sejarah dan bisa jadi kebanggaan. Soal dana, dia sendiri tidak tahu pasti. Malahan balik bertanya, katanya penyandang dana sudah ada. Usulan melanjutkan pembangunan GWK ini disetujui Arya, Godel, Iskandar, Maria, Malini, Komang Merta dan Gung Gundul.

Mereka sangat setuju GWK dilanjutkan karena bisa berdampak positif, salah satunya adalah memberikan tempat bagi tenaga kerja. Komponen pariwisata, menurut Komang Merta sangat ingin proyek ini cepat selesai. ''Sekarang kebanyakan wisatawan yang datang hanya bisa mengkhayal sampai di GWK. Mereka tidak tahu seperti apa nanti tingginya patung ini, apakah benar akan melebihi patung Liberty,'' ujar pekerja pariwisata ini. Gung Gudul dengan yakin menambahkan, GWK belum rampung saja pengunjung sudah banyak.

Soal dana, Natri mengusulkan, pengelola bekerja sama dengan pihak Perum Angkasa Pura. Tak hanya itu, semua stake holder harus saling bekerja sama disertai SDM yang qualified. ''Kalau perlu cari tenaga pengelola yang independen untuk mencegah conflict of interest dan kontrol internal bisa berjalan,'' tegasnya.

Usulan yang senada dilontarkan Mangara Siahaan. Dia mengajak masyarakat Bali mengadakan gebu Bali (gerakan seribu atau lima ribu untuk Bali). Tiap orang Bali dimintai sumbangan seribu atau lima ribu untuk mendanai proyek ini. Sementara alternatif lain adalah meminta pemprop Bali membantu mencarikan investor.

Menyangkut pemprop atau pemda, Jerry mengingatkan agar segera diusut dan kalau perlu dipanggil, siapa sebenarnya pemegang izin GWK. Kalau ternyata izin mereka sudah kadaluwarsa tentu harus diproses lagi. Bagi Sinda, proyek GWK ini hanya kebanyakan omong dengan janji-janji palsu. ''EGP kalau dilanjutin,'' sindirnya.

Jarot juga mengingatkan, kalau mau bikin proyek, modal dulu baru model. Karenanya dia minta pengusaha dan masyarakat memikirkan masak-masak apa yang mau dibangun, biar tidak macet di tengah jalan. Sekarang ini tanah saja banyak yang belum dibayar, bagaimana mau meneruskan proyek. (wah)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)