Pengurus Pelti
Didominasi Pengusaha
Jakarta
(Bali Post) -
Kepengurusan PB Pelti periode 2002-2007 yang diumumkan
Ketua Umum Martina Wijaya di Jakarta, Selasa (7/1) kemarin,
ternyata didominasi para pengusaha. Dari 52 personel, 30
di antaranya wajah baru yang minim pengetahuan tentang
olah raga tenis.
Seperti sudah diduga
semula, untuk posisi sekjen, Martina mempercayakan
koleganya Soebronto Laras. Bos Indomobil ini akan
mengendalikan tujuh bidang, yakni pengembangan, pembinaan
junior, pembinaan senior, pertandingan, perencanaan dan
anggaran, serta promosi dan pemasaran. Ketujuh bidang
tersebut lima di antaranya dijabat oleh mereka yang
berlatar belakang pengusaha dan perbankan. Sekjen juga
membawahi 18 komite yang merupakan ujung tombak PB Pelti
dalam mengoperasionalkan semua kegiatan atau program
selama kurun waktu lima tahun ke depan. Sekjen dibantu dua
orang wakil, salah satunya Agust Ferry Raturandang yang
membidangi hubungan luar negeri.
Untuk posisi vital
lainnya seperti humas yang dalam kepengurusan sebelumnya
dinilai menjadi titik lemah, kini dijabat tokoh pers
kawakan August Parengkuan. Menurut Martina, komposisi
pengurus masih mungkin berubah sampai dilakukan pengukuhan
oleh KONI Pusat.
''Masih terbuka
adanya perubahan komposisi pengurus, namun demikian saya
percaya mereka yang diajak untuk menjadi pengurus sudah
punya komitmen membantu tenis Indonesia,'' kata Martina,
wanita pengusaha berusia 60 tahun yang masih kelihatan
cantik dan enerjik.
Menjawab pertanyaan
kenapa tidak memenuhi janjinya dengan merangkul semua
komponen tenis termasuk Permana Agung yang menjadi
pesaingnya dalam Munas Pelti di Makassar, Desember lalu,
pemilik kapal pesiar Awani Dream itu menegaskan, sesuatu
kekeliruan besar jika kita mengajak orang untuk bersama-sama
membangun prestasi tenis nasional sementara orang tersebut
sudah apriori lebih dulu terhadap kiprah organisasi ini di
masa mendatang.
Ia menjelaskan, para
pendukung Permana jauh-jauh hari telah melontarkan kritik
pedas bahwa tenis Indonesia makin hancur karena pucuk
pimpinannya kurang akomodatif terhadap persoalan yang ada.
(035)
|