kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 8 Januari 2003

 Ekonomi


30 Persen Pinjaman CGI tak Terserap

Jakarta (Bali Post) -
Pemerintah tahun 2002 tidak dapat memanfaatkan pinjaman dari Consultative Group on Indonesia (CGI) karena masih menyisakan sekitar 30 persen dari dana yang dijanjikan.Kemampuan pemerintah dalam menyerap pinjaman CGI yang dituangkan dalam berbagai proyek 2002 tergolong rendah.

Hal itu dikatakan Sekretaris Menneg PPN/Sekretaris Utama Bappenas Koensatwanto Inpasihardjo di Jakarta, Selasa (7/1) kemarin, bisa saja berpengaruh pada pinjaman baru. Ia mencontohkan, pembatalan proyek di Sumatera dan Sulawesi secara langsung mempengaruhi perspektif negara donor dalam mem-pledge pinjaman baru nantinya. Tapi, pemerintah akan menjelaskan pada mereka kenapa pinjaman tersebut tidak terserap.

"Yang akan dilihat, apakah kesalahan ini juga dilakukan oleh lender sendiri," katanya. Dijelaskan, sebenarnya proyek-proyek yang berasal dari pinjaman CGI secara keseluruhan sudah on going. Nah, inilah yang akan diyakinkan pada negara donor nantinya. Menurut dia, penentuan pinjaman baru bukan saja berdasarkan berapa yang diminta pemerintah, juga seberapa jauh dana itu terserap. Selain itu, dalam pertemuan CGI pada medio Januari ini, telah ditetapkan oleh UU APBN 2003.

Jadi, menurutnya, jumlahnya tidak akan jauh dari itu. Dalam APBN 2003 ditetapkan pinjaman luar negeri Rp 29,250 trilyun atau 1,51 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlah itu dibagi ke dalam dua bagian, pinjaman proyek Rp 18,900 trilyun (0,97 persen) dan pinjaman program Rp 10,360 trilyun (0,53 persen).

Seiring dengan itu, pemerintah juga berusaha mencicil pinjaman uang luar negerinya Rp 17,263 trilyun. Dia juga sepakat bila harus ada langkah-langkah nyata untuk meningkatkan penyerapan dana pinjaman tersebut. Dia meyakinkan, pinjaman yang berasal dari Jepang tidak akan dikurangi atau dibatalkan. Sebab, pinjaman dari negara Sakura ini tidak dikenakan commitment fee, berbeda dengan pinjaman yang berasal dari Asian Development Bank (ADB) dan Bank Dunia.

"Kalau yang sebagian dibatalkan tidak apa-apa, yang setengahnya masih bisa jalan, kok," kata dia. Ketika ditanya apakah pembatalan proyek itu sudah diterapkan, menurut dia masih sebatas wacana. Yang juga mengherankannya, setelah pemerintah mengumumkan adanya pembatalan sejumlah proyek, tawaran pinjaman baru justru banyak yang muncul. Sementara itu, staf ahli Menko Perekonomian Mahendra Siregar mengatakan, penyerapan yang hanya mencapai 70 persen dari pinjaman CGI sangat dimungkinkan.

Dampaknya terhadap pinjaman baru, tegas dia, bisa saja terjadi bisa juga tidak. Sebab, menurut Mahendra, penyebab rendahnya pinjaman baru bisa dari berbagai sumber. Misalnya, pendamping rupiah yang tidak ada. Atau, dari segi pencairan pledging. "Saya kira terlalu umum. Harus dilihat kasus per kasus," tandasnya. (kmb2)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)