30 Persen
Pinjaman CGI tak Terserap
Jakarta
(Bali Post) -
Pemerintah tahun 2002 tidak dapat memanfaatkan pinjaman
dari Consultative Group on Indonesia (CGI) karena masih
menyisakan sekitar 30 persen dari dana yang
dijanjikan.Kemampuan pemerintah dalam menyerap pinjaman
CGI yang dituangkan dalam berbagai proyek 2002 tergolong
rendah.
Hal itu dikatakan
Sekretaris Menneg PPN/Sekretaris Utama Bappenas
Koensatwanto Inpasihardjo di Jakarta, Selasa (7/1) kemarin,
bisa saja berpengaruh pada pinjaman baru. Ia mencontohkan,
pembatalan proyek di Sumatera dan Sulawesi secara langsung
mempengaruhi perspektif negara donor dalam mem-pledge
pinjaman baru nantinya. Tapi, pemerintah akan menjelaskan
pada mereka kenapa pinjaman tersebut tidak terserap.
"Yang akan
dilihat, apakah kesalahan ini juga dilakukan oleh lender
sendiri," katanya. Dijelaskan, sebenarnya
proyek-proyek yang berasal dari pinjaman CGI secara
keseluruhan sudah on going. Nah, inilah yang akan
diyakinkan pada negara donor nantinya. Menurut dia,
penentuan pinjaman baru bukan saja berdasarkan berapa yang
diminta pemerintah, juga seberapa jauh dana itu terserap.
Selain itu, dalam pertemuan CGI pada medio Januari ini,
telah ditetapkan oleh UU APBN 2003.
Jadi, menurutnya,
jumlahnya tidak akan jauh dari itu. Dalam APBN 2003
ditetapkan pinjaman luar negeri Rp 29,250 trilyun atau
1,51 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlah itu
dibagi ke dalam dua bagian, pinjaman proyek Rp 18,900
trilyun (0,97 persen) dan pinjaman program Rp 10,360
trilyun (0,53 persen).
Seiring dengan itu,
pemerintah juga berusaha mencicil pinjaman uang luar
negerinya Rp 17,263 trilyun. Dia juga sepakat bila harus
ada langkah-langkah nyata untuk meningkatkan penyerapan
dana pinjaman tersebut. Dia meyakinkan, pinjaman yang
berasal dari Jepang tidak akan dikurangi atau dibatalkan.
Sebab, pinjaman dari negara Sakura ini tidak dikenakan
commitment fee, berbeda dengan pinjaman yang berasal dari
Asian Development Bank (ADB) dan Bank Dunia.
"Kalau yang
sebagian dibatalkan tidak apa-apa, yang setengahnya masih
bisa jalan, kok," kata dia. Ketika ditanya apakah
pembatalan proyek itu sudah diterapkan, menurut dia masih
sebatas wacana. Yang juga mengherankannya, setelah
pemerintah mengumumkan adanya pembatalan sejumlah proyek,
tawaran pinjaman baru justru banyak yang muncul. Sementara
itu, staf ahli Menko Perekonomian Mahendra Siregar
mengatakan, penyerapan yang hanya mencapai 70 persen dari
pinjaman CGI sangat dimungkinkan.
Dampaknya terhadap
pinjaman baru, tegas dia, bisa saja terjadi bisa juga
tidak. Sebab, menurut Mahendra, penyebab rendahnya
pinjaman baru bisa dari berbagai sumber. Misalnya,
pendamping rupiah yang tidak ada. Atau, dari segi
pencairan pledging. "Saya kira terlalu umum. Harus
dilihat kasus per kasus," tandasnya. (kmb2)
|