Hari
Keagamaan Membangun Kerukunan
Sam vo
manaamsi sam vrataa.
Sam aakuutir namaamasi.
Amii ye vivrataa sthana.
Taan vah sam namayaamsi.
(Atharvaveda III 8.5)
Maksudnya:
Aku menyatukan pikiran-pikiranmu, gagasan-gagasanmu dan
tindakan-tindakanmu. Kami mengantarkan para pelaku
kejahatan menuju jalan yang benar.
SETELAH ledakan
bom di Kuta 12 Oktober 2002 terdapat banyak hari raya
keagamaan yang perayaannya sangat berdekatan. Bulan
November 2002 umat Hindu merayakan Galungan dan Kuningan
yakni 20 dan 30 November 2002. Belum beberapa lama yakni
tanggal 6 dan 7 Desember umat Islam merayakan hari raya
Idul Fitri. Dalam bulan Desember juga tanggal 25 dan 26
umat Kristiani merayakan hari raya Natal. Umumnya semua
hari raya keagamaan itu memiliki makna kesucian sesuai
dengan ajaran agama tersebut.
Salah satu makna
kesucian itu adalah melakukan introspeksi. Sejauh mana
perjalanan hidup kita ini. Sejauh mana pula kita melakukan
ajaran suci keagamaan itu dengan sebaik-baiknya. Demikian
pula sejauh mana kita telah melakukan perbaikan-perbaikan
dalam hidup kebersamaan kita di dunia ini. Apakah sudah
kita melakukan upaya-upaya mulia secara bersama di dunia
ini dalam membangun kehidupan bersama yang kondusif.
Manusia diciptakan
Tuhan dalam keadaan yang sama dan berbeda-beda. Meskipun
semua manusia memiliki badan jasmani, tetapi keberadaan
badan jasmani itu berbeda-beda satu sama lainnya. Demikian
juga rohani. Semua manusia memiliki rohani, tetapi keadaan
rohaninya juga berbeda-beda. Karena itu, Mantra
Atharvaveda yang dikutip di atas ini mengajarkan agar umat
manusia terus berupaya menyatukan pikirannya, gagasannya
dan tindakannya.
Melalui hari raya
keagamaan itu setiap kelompok umat beragama menjadikan
hari raya keagamaan itu sebagai momentum untuk
mengembangkan pikiran, gagasan dan langkah untuk membangun
kebersamaan yang sejati. Akan sangat baik sekali kalau
dapat dihindari merayakan keagamaan dengan cara-cara yang
bersifat eksklusif. Kesucian dan keluhuran ajaran agama
yang kita anut jangan dijadikan sumber pendorong untuk
memunculkan sikap eksklusivisme.
Sikap eksklusivisme
akan mudah mendatangkan kesan sepertinya merendahkan yang
lain. Kalau pihak lain memiliki kesempatan maka akan
membalas dengan sikap eksklusivisme. Tentunya mereka yang
menonjolkan sikap eksklusivisme itu adalah mereka yang
umumnya mudah terpancing karena lemahnya daya tahan
mental. Karena itu, kesucian dan keluhuran ajaran agama
yang dijakini itu jangan dijadikan ajang untuk pamer
kelebihan.
Jadikanlah kesucian
dan keluhuran ajaran agama yang diyakini sebagai kekuatan
untuk meningkatkan spiritualitas diri, meningkatkan
loyalitas dan untuk disinergikan pada berbagai aspek
kehidupan. Peningkatan spiritualitas diri itu akan membawa
tranformasi diri ke arah yang makin baik. Dalam
hubungannya dengan di luar diri dalam kehidupan bersama
akan menumbuhkan loyalitas pada berbagai perbedaan sebagai
hal yang kodrati.
Kesucian dan
keluhuran ajaran agama yang dianut itu seyogianya
dijadikan unsur yang sangat potensial untuk mengatasi
berbagai persoalan hidup yang dihadai oleh umat manusia.
Persoalan hidup itu ada yang bersifat individual ada juga
yang bersifat sosial. Kesucian dan keluhuran ajaran agama
yang diyakini itu jangan disalahgunakan untuk
bersombongria dengan menganggap agama orang lain lebih
jelek.
Mereka yang menjadi
sombong karena agama yang dianutnya umumnya disebabkan
tidak menghayati agama yang dianutnya secara utuh. Atau
pemimpin yang menginformasikan ajaran agama kepada umatnya
tidak jujur atau salah menafsirkan kesucian dan keluhuran
ajaran agama yang diyakinkan itu. Kalau eksklusivisme
beragama dapat diredam melalui momentum hari raya
keagamaan maka seluruh pemeluk agama akan dapat
mempertemukan pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya yang
mulia.
Dari pertemuan
tersebut akan dapat ditetapkan langkah bersama membangun
hidup yang harmonis namun tetap dinamis mengatasi dinamika
zaman sesuai dengan irama kehidupan ini. Kalau
eksklusivisme beragama dapat diatasi bersama-sama secara
jujur maka anasir-anasir kekerasan yang mungkin ada di
setiap umat beragama dapat diredam. Salah satu media untuk
meredam anasir-anasir kekerasan itu agar jangan menjadi
terorisme adalah lewat hari raya keagamaan. Kalau tetap
hari raya keagamaan dijadikan media untuk menonjolkan
eksklusivisme maka bibit-bibit kekerasan itu dapat saja
muncul menjadi sikap terorisme yang memakai kedok agama.
* I Ketut
Gobyah
|