kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 8 Januari 2003

 Bali


Dari Warung Global Interaktif-"Bali Post"

Pejabat Sekarang tak Punya Nurani dan Keprihatinan

Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Badung 2003 kini mengundang sorotan publik. Fokus sorotan tak lain, besarnya tunjangan pejabat yang mencapai Rp 2 juta per bulan atau Rp 24 juta per tahun. Kritik pedas mengalir dari pengunjung acara Warung Global yang disiarkan Radio Global FM 99,15 Kini Jani Bali yang disiarkan, Selasa (7/1) kemarin. Mereka menilai, itu merupakan bukti para pejabat tidak punya moral atau nurani dan keprihatinan sedikit pun. Betapa tidak, mereka terus saja menuntut kenaikan gaji dan tunjangan-tunjangan di tengah krisis yang menghimpit rakyat kecil akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), tarif dasar listrik (TDL) dan telepon. Berikut rangkuman opini pendengar acara yang juga dipancarluaskan Radio Genta Suara Sakti Bali FM 106,15 dan Radio Singaraja FM 107,2.

Penelepon pertama Maryadi menyebutkan, tunjangan jabatan yang dianggarkan dalam RAPBD Badung 2003 itu sangat tinggi jika dibandingkan dengan apa yang dialami masyarakat sekarang ini. Maklum, pendapatan masyarakat saat ini paling tinggi antara Rp 3,5 sampai 4 juta. Karena itu, dia mengusulkan sebaiknya tunjangan jabatan itu dialihkan untuk penanganan penduduk pendatang.

Ireng dari Bajra dengan nada keras mengatakan, pejabat sekarang sudah tidak punya nurani. Sebab, meski ada demo di mana-mana menentang kenaikan harga BBM, tarif listrik dan telepon, pemerintah tetap saja ngotot memberlakukannya. "Pejabat semestinya mengurusi rakyat bukan mengurusi perutnya sendiri. Apa janji-janjinya dulu kepada rakyat, tolong sekarang dipenuhi. DPR jangan hanya menuntut kenaikan gaji terus menerus," tegasnya.

Namun apa pun suara rakyat, ujar Sinda yang menelepon berikutnya, pemerintah berlaku EGP (emang gue pikirin). SK yang dikeluarkan hanyalah untuk diri mereka sendiri. Satu-satunya cara untuk membatasi kekuasaan mereka, hanyalah menunggu Pemilu 2004 nanti. Dia pun meminta agar RAPBN Badung tahun 2003 itu dikaji ulang.

"Itulah sebabnya tidak pernah karikatur pejabat yang kurus, semua perutnya gendut dan buncit. Ternyata, itu karena tunjangan jabatan mereka demikian banyak. Karena itu, RAPBD Badung tahun 2003 sedikit pun tidak mencerminkan keprihatinan di tengah krisis seperti kondisi real yang dialami masyarakat," tambah Made dari Padangsambian sembari setuju tunjangan jabatan itu dihapuskan saja dialihkan untuk rakyat yang memerlukan.

Sudana lebih keras lagi mengatakan, pejabat dan pemerintah terus memeras rakyat sampau menjadi mampus. Sementara Kadek Mako dari Kedewatan, Ubud menilai, apa yang ditetapkan pemerintah sekarang hanyalah kompensasi dari balas jasa terdahulu. Sedikit pun mereka tidak prihatin di tahun krisis 2003 ini. Mereka malah membagi-bagi duit di mana itu diusulkan pihak eksekutif dan ditandatangani pihak legislatif. Ini sudah merupakan sebuah perselingkuhan.

"Kita tahu PNS itu tidak punya sistem kerja yang pasti, mereka hanya mengandalkan instruksi. Kenaikan pangkat atau jabatan mereka bukanlah karena prestasi, tetapi karena memang sudah pasti dan harus tiap empat tahun sekali," jelas Mako.

Gede Orti dari Kuta berkata lain lagi, bahwa pejabat sekarang hanya bisa mendengar tetapi tidak pernah mau mendengarkan suara rakyat. Mereka hanya bisa bicara tetapi tidak pernah mau membicarakan masalah rakyat. Meskipun rakyat kecil menangis sampai keluar air mata darah, mereka tidak pernah peduli. "Mereka hanya menuntut tunjangan, tetapi kinerjanya mana? Sebaiknya, tunjangan jabatan mereka itu dibagikan untuk subsidi rakyat," jelasnya.

Keheranan atas perilaku para pejabat ini juga disampaikan Ketut Sentana dari Kintamani dan Nuarta dari Denpasar. Mereka merasa heran, mengapa para pejabat tidak punya rasa prihatin sedikit pun di tengah kenaikan harga-harga sekarang ini. Semestinya, mereka melakukan tekanan bagimana caranya agar harga-harga bisa dijangkau masyarakat. "Ini memang keterlaluan," imbuh Intan yang menelepon selanjutnya singkat.

Semua itu, menurut Pekak Iluh dari Kuta, karena para pejabat sekarang sudah mengobral moralnya untuk mencari kekayaan. Akhirnya, moral mereka menjadi habis sehingga terjadi krisis moral. Seharusnya, menurut Andre dari Kapal, para pejabat di sini bisa meniru apa yang dilakukan di Korea. Para pejabat di sana mau gajinya dipotong untuk memulihkan perekonomian mereka. Di sini para pejabat utamanya anggota Dewan malah kaya-kaya. "Mereka seperti wedus (kambing-red), maunya nyosor terus," ledeknya sembari mengajak semua pihak saat ini bersama-sama untuk mengencangkan ikat pinggang.

Saat ini, menurut salah seorang tokoh Kuta Rutha Ady, krisis memang belum pulih. RAPBD Badung tahun 2003 justru disusun dalam kondisi krisis pascatragedi Kuta. Semestinya RAPBD itu mencerminkan kondisi krisis dan keprihatinan. Bahkan, harus ada angka-angka mengenai pemulihan perekonomian dan pariwisata. Sebab harus diakui, sumber-sumber pemasukan Badung selama ini lebih banyak dipasok oleh Kuta, seperti dari pajak hotel dan restoran, pajak reklame, penerangan jalan dan sejenisnya.

Kini, lanjutnya, uang dari Kuta itu malah dibagi-bagi untuk tunjangan jabatan. Jika ini terus berlangsung, tidak salah jika keinginan Kuta untuk memisahkan diri dari Badung kian kuat. Itu bukan karena arogansi, tetapi karena selama ini masyarakat Kuta merasa telah dibohongi. Semestinya, Pemkab Badung mengayomi masyarakatnya pascaledakan Bom di Kuta. Misalnya untuk mencegah terjadinya PHK dan sejenisnya. "Bagaimana pun juga RAPBD Badung tahun 2003 itu harus ditinjau kembali. Jika terbukti ada perselingkuhan antara pihak eksekutif dan legislatif, maka keinginan Kuta untuk memisahkan diri dari Badung akan makin menguat," tegasnya.

Memang, imbuh Ketut Arda dan Ketut Lengkong, dari dulu sudah tidak ada perbaikan menyangkut krisis moral pejabat ini. Saat rakyat morat-marit, para pejabat di Badung malah enak-enak bagi-bagi duit. Badung yang kaya, jalan-jalannya malah lebih jelek dari Kabupaten Gianyar.

Lain lagi pendapat Roi, bahwa tunjangan jabatan Rp 2 juta itu termasuk kecil. Asalkan, para pejabat itu tidak lagi melakukan korupsi di sana-sini. Masalahnya, banyak pejabat yang sudah gaji dan tunjangan jabatannya tinggi masih saja korupsi. "Tinjau ulang RAPBD Badung tahun 2003 karena timing-nya tidak tepat," tegas Putra Sangging dari Jl. Trengguli menimpali.

Pendapat senada disampaikan Sony dari Klungkung, Made Ari dari Seminyak dan Catra. Bahkan Catra mengilustrasikan pejabat sekarang seperti gerandong yang makan daging, darah pokoknya apa saja semua mau dimakan. Gajinya sudah besar, proyek-proyek masih saja disunat dan minta tunjangan jabatan dinaikkan. Sementara perbaikan yang dilakukan untuk rakyat tidak ada sama sekali. "Para pejabat itu sudah dapat gaji besar, tunjangan jabatan tinggi, mobil lengkap dengan uang minyak dan uang perjalanan dinas, rumah dinas dan fasilitas lainnya," ujar Pan Luh Sri dari Bangli mengakhiri acara sembari berharap, apa yang terjadi di Badung tidak sampai diikuti para pejabat di daerahnya di Bangli. (sug)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)