Apa Arti tanpa Kekerasan?
Presiden Megawati Soekarnoputri telah mencanangkan
tahun 2003 sebagai tahun perdamaian tanpa kekerasan.
Spanduk-spanduk yang berisi selogan-selogan anti kekerasan
dipampang di beberapa ruas jalan, walaupun masih kalah
mencoloknya apabila dibandingkan dengan spanduk-spanduk
reklame seminar, kursus-kursus, atau penjualan
barang-barang konsumtif lainnya.
Bagi rakyat kecil, rakyat yang tidak pernah terlibat
dalam melakukan tindakan kekerasan untuk memperjuangkan
hidupnya, dan bahkan sering hanya menjadi korban dari
tindakan kekerasan, mendengar seruan perdamaian tanpa
kekerasan tersebut sebagai angin sorga. Namun apakah
pengertian tanpa kekerasan yang mereka dengar itu sama
dengan yang dimaksudkan oleh Ibu Presiden?
Saya yang tinggal bertiga dalam satu rumah bersama
istri dan seorang anak, ternyata tidak memperoleh
kesepakatan tentang pengertian ''tanpa kekerasan''
tersebut. Masing-masing mempunyai pengertian
sendiri-sendiri dengan argumen masing-masing. Apabila
seandainya hal ini kemudian ditanyakan pendapat kepada
masing-masing orang di seluruh Tanah Air, yang dengan
berbagai latar belakang kehidupan yang bermacam-macam
pasti juga akan mempunyai pengertian yang berbeda-beda
sesuai dengan harapan-harapan yang menunjang aktivitas
kehidupannya.
Menurut tuan Anselm Fenerbach, bahwa sifat yang
menimbang semua pendapat itu benar, hanyalah karena alat
timbangannya yang salah. Karena itu sebagai rakyat ingin
mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang apa sebenarnya
yang dimaksudkan dengan ''tanpa kekerasan'' tersebut.
Penjelasan ini tentu sangat penting karena apa yang telah
dicanangkan oleh Ibu Presiden itu dapat terwujud dengan
benar, sesuai harapan sebagian besar rakyat Indonesia.
Pengertian-pengertian yang berbeda sangat pahit,
walaupun sebelumnya kedengarannya merdu di telinga dan
indah di mata. Ada suatu perbedaan yang jelas tentang ''tanpa
kekerasan'' yang diajarkan oleh Mahatma Gandhi dan apa
yang dicanangkan oleh Ibu Megawati. Mahatma Gandhi saat
itu adalah sebagai rakyat yang tertindas dibawah jajahan
Inggris, menggunakan senjata ''Ahimsa'' atau tanpa
kekerasan untuk melawan penjajah, guna mencapai
kemerdekaan India. Demikian juga Dr. Marthin Luther King
yang juga diilhami semangat Ahimsa-nya Mahatma Gandhi,
berjuang untuk mendapatkan hak-hak sipilnya di Amerika
Serikat. Aapakah ''tanpa kekerasan'' yang Megawati
ungkapkan sama dengan Ahimsanya Mahatma Gandhi.
I Ketut Mantra
Jl. Cok Agung Tresna 33 Denpasar
Kepada PDAM Denpasar
Lewat tulisan terbuka ini, saya pelanggan PDAM merasa
perlu bertanya soal rekening PDAM yang tanpa data. Ini
sudah berlaku berbulan-bulan, aneh! Ada jumlah biaya yang
harus dibayar tetapi tidak ada data/ angka perhitungannya.
Memakai perangkat canggih seperti komputer (Garbage In
Garbage Out) tetapi hasilnya benar-benar konyol, tidak
seperti logika komputer.
Tidak mungkinkah suatu saat pelanggan dikemplang dengan
tagihan yang membengkak? Logikanya pemakaian 0-10 M3
bayarnya sama. Kalau selama ini konsumen dianggap memakai
0 M3 (ingat, rekening tanpa data) bukankah dalam setahun (jika
rata-rata pemakaian 10 M3/bln) ada data 120 M3 selisihnya.
Kemudian dibulan ke- 13 baru ada perhitungan, berarti
konsumen harus bayar 120 M3. Apakah ini ide yang tidak
masuk akal?
Dalam kondisi seperti ini, yang rugi tetaplah konsumen.
Lha wong rekening dibuat tanpa data perhitungan kok!
Lantas program komputer yang lama (lengkap perhitungan)
dikemanakan?
I Gede Wirata
Jl. Tukad Yeh Aya Gg. VIII/GL.20 Denpasar
Masyarakat Kecil
Mati Terjepit
Sejak terjadi musibah besar, pemboman Kuta, masyarakat
Bali paling merasakan dampaknya. Di satu sisi perusahaan
yang terlibat langsung dengan tamu seperti hotel, restoran,
travel dan yang lainnya pada mem-PHK-kan tenaga kerjanya.
Dipihak lain, daya beli masyarakat menurun, sehingga
sirkulasi uang tidak stabil ini membuat masyarakat ketar-
ketir terhimpit.
Di pihak lain pemerintah Kota Denpasar dan Kab. Badung
merupakan kebijakan tentang kependudukan dan menekankan
biaya yang amat mencekik masyarakat kecil baik kepada
warga Bali sendiri dan luar Kota Denpasar dan Kabupaten
Badung sangat memberatkan. Menata kependudukan itu penting
tetapi tidak dengan biaya yang mahal. Mereka kan juga
manusia warga negara yang dimanfaatkan tenaganya untuk
pembangunan, mereka adalah pekerja yang selama ini
diperlukan, apakah warga kota mampu melakukan pekerjaan
jalan, buruh bangunan, dsb?
Kita juga manusia yang memiliki hak hidup dan
dilindungi oleh pemerintah sebagai warga negara. Kita juga
berhak mendapatkan pendidikan dan pekerjaan sampai ke luar
negeri. Bagaimana jika sebaliknya?
Sedangkan di awal tahun baru 2003 ini pemerintah
menaikkan tarip BBM, listrik dan telepon. Ini jelas-jelas
untuk masyarakat Bali akan mati terjepit. Barang-barang
akan naik, bagaimana rakyat bisa hidup. Seolah-olah rakyat
bagaikan ampas tahu tidak ada pembelaan dari wakil-wakil
rakyat yang dipilih.
Saran saya, semua kebijakan di atas tidak diputuskan
dengan tergesa-gesa. Hendaknya bisa di evaluasi,
pertimbangkan dengan rakyat bagaimanapun rakyatlah tulang
punggung pembangunan. Mengenai kependudukan di Bali
khususnya Denpasar dan Badung, ajaklah masyarakat Bali
untuk menuangkan kebijakan, mereka adalah memiliki
tanggung jawab yang sama. Dan mintalah pendapat dari orang
yang lebih tahu apa akibatnya jika diberlakukan kebijakan
ini.
Menurut pengamatan saya jika semua kebijakan di atas
dipaksakan akan terjadi gejolak yang besar bahkan tatanan
ekonomi Indonesia dan Bali khususnya akan bertambah parah.
I Wayan Wedra
Dsn. Belanban,Desa Petiga, Tabanan
|