Diperlukan
Pertanggungjawaban Publik Pemerintah
---------------------------
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa akhir tahun 2002 sudah
kita lalui dan kita masuki tahun yang baru. Banyak kritik
disampaikan kepada pemerintahan Megawati dan Hamzah Haz
ini terutama berkaitan dengan usaha penegakan Hak Asasi
Manusia (HAM). Penegakan HAM ini adalah komitmen kita
untuk memasuki gerbang reformasi namun hingga sekarang,
usaha-usaha untuk memperoleh keadilan, untuk menegakkan
HAM, untuk mengetahui siapa yang bersalah di masa yang
lalu sampai sekarang belum memperoleh kejelasan. Berkaitan
dengan topik ini kami menghadirkan seorang narasumber yang
sangat penting terutama di tahun 1996. Dia dituduh
menyembunyikan Ketua Umum PRD, dia dituduh sebagai orang
yang ingin menggulingkan pemerintahan Soeharto. Dia juga
mungkin dianggap terlalu banyak membantu kalangan lemah,
orang miskin, anak-anak telantar dan juga korban HAM. Dia
adalah pemuka agama Katolik seorang Romo, Romo Sandyawan
namanya. Bagi saya Romo ini adalah teman yang sangat baik,
yang sudah banyak membantu dan terus-menerus berada di
depan bersama kalangan pejuang-pejuang demokrasi tanpa
takut. Pada diskusi kita kali ini kita akan mengupas
tuntas bagaimana prestasi pemerintahan Megawati dalam
usaha menegakkan HAM dan apa harapan di tahun 2003.
Perspektif Baru kali ini dipandu Faisol Riza.
Kelihatannya Anda tidak sesering dulu tampil di publik
dan kelihatannya Anda memiliki kegiatan-kegiatan lain yang
sekarang tidak hanya tim relawan atau juga Institut
Relawan Jakarta. Kalau boleh tahu, apa kegiatan
akhir-akhir ini?
Saya sudah tiga tahun terakhir ini mendampingi warga
perkampungan kumuh di lingkungan miskin urban di wilayah
Bukit Duri pinggir sungai Ciliwung, juga di pinggir kereta
api Dipo di Manggarai. Kami melakukan gerakan-gerakan
swadaya masyarakat yang membangun lingkungan hidup, lalu
juga pendidikan anak-anak dan remaja. Saya senang sekali
bekerja sama dengan mereka. Tentu saya tidak berhenti
dengan kegiatan-kegiatan ini karena juga baru delapan
bulan. Tahun lalu saya belajar di Berkeley, di Human Right
Center University of California Barkeley. Membuat
investigated report tentang teror bom di Indonesia tahun
1998-2001. Hanya ternyata teror bom itu tidak berhenti
juga, tidak hanya di lingkungan Aceh, Papua, Maluku dan
Poso tapi di luar lingkungan itu teror bom sudah begitu
besar dan terus menerus.
Tampaknya alasan-alasan yang sebenarnya bukan ringan
itulah yang mungkin membuat Anda tidak lebih
berkonsentrasi tampil di publik tapi lebih ke
kegiatan-kegiatan yang sifatnya ke dalam, pembangunan
gerakan. Apakah dengan demikian juga ini lebih mendekati
latar belakang anda sebagai pemuka agama, sebagai seorang
romo yang kelihatannya memang di kalangan masyarakat
dikenal dekat sebagai bagian masyarakat pinggiran,
masyarakat bawah atau seperti itu?
Harus diakui sejak 27 Juli 1996 sampai 1998 kasus
tragedi Mei, memang pemunculan saya di publik itu dapat
dikatakan terpaksa. Saya ini kan sebetulnya secara pribadi
bukan orang yang enak tampil di publik. Saya lebih senang
bekerja tanpa publikasi besar begitu, karena mungkin untuk
orang lain hanya perlu energi 50 persen namun untuk saya
tampil di publik itu sangat membutuhkan energi. Dan memang
harus diakui, saya merasa inilah lingkungan hidup saya
yang membuat saya merasa menjadi diri sendiri juga merasa
enak kalau bekerja di lapangan bersama warga masyarakat,
itu memiliki arti yang lebih dalam. Karena yang saya
maksud dengan warga masyarakat ini lebih kepada kaum
korban, terutama korban kekerasan politik karena saya juga
tetap hadir di dalam tragedi-tragedi besar di negeri ini
dan berusaha untuk tidak tampil juga. Terutama yang
terakhir, tragedi bom di Bali. Sehari sesudah ledakan,
saya sudah di sana dengan seorang relawan dari Jakarta dan
menggalang gerakan relawan kemanusiaan di Jaringan Relawan
Kemanusiaan Bali. Dengan jumlah sekitar 136 anggota, kami
bekerja di RSU Sanglah, mendampingi keluarga korban yang
meninggal, yang hilang, yang sedang mencari, juga termasuk
mengurus di ruang mayat seperti membungkusi mayat bersama
dengan tim forensik. Kerja seperti menaruh es dan mendata,
dan kami membantu juga di hotline service.
Ya, mudah-mudahan bukan karena sesuatu yang lain,
maksud saya bukan karena misalnya karena tekanan, atau
karena ya mungkin publisitas menjadi tekanan tersendiri.
Kita mungkin bisa kembali pada korban seperti yang Anda
katakan, apa yang Anda rasakan betul dari korban ketika
mereka mengalami tragedi demi tragedi? Anda sebagai
seorang saksi dari tragedi besar itu, apa yang anda
rasakan?
Sejak awal kami mencoba hadir dan menemani proses
perjuangan masyarakat terutama masyarakat korban, yang
berusaha survive dengan caranya sendiri, terutama dengan
menggalang solidaritas di kalangan sesama korban. Memang
ada keyakinan bahwa dengan percaya pada sikap swadaya
solidaritas dan kesadaran kritis dari masyarakat korban
yang mencoba menata hidupnya dengan sistem kekerabatan
yang dibangun lewat gerakan basis di dalam masyarakat,
lalu dengan sistem jaringan antar daerah, itu akan
menjanjikan untuk perubahan di masa mendatang terutama
tuntutan keadilan dan hak-hak asasi manusia. Tetapi
melihat cara-cara yang digunakan dalam penghancuran sistem
kekerabatan hidup mereka, terutama wilayah-wilayah publik
yang diporak-porandakan oleh sistem kekerasan politik
negara di negeri ini, termasuk juga sistem peradilan HAM
yang betul-betul kacau-balau. Itu harus diakui bahwa
pesimisme di kalangan masyarakat korban itu semakin
menjadi-jadi. Dan terasa sukar sekali membangun jaringan
solidaritas di antara mereka karena persoalan yang sangat
elementer misalnya persoalan hidup ekonomi dan sosial
mereka, dan basis-basis pertahanan untuk survive yang ikut
dihancurkan juga. Jadi kami merasa dikepung dengan
berbagai macam krisis. Itu bukan hanya dari satu sisi yang
langsung berupa kekerasan secara fisik saja, tetapi juga
dari tekanan kesulitan mencari nafkah, lapangan kerja,
lalu juga kesulitan-kesulitan yang sangat manusiawi mereka
alami, sehingga sampai terakhir kemarin dalam pertemuan
keluarga korban dari Tragedi Mei 1998. Saat bertemu dengan
kelompok-kelompok keluarga korban yang lain misalnya dari
Trisakti, Semanggi, korban teror bom, dan yang lainnya,
sampai ada yang mengatakan, "Ya lebih baik kami
meminta ganti rugi berupa uang saja daripada harus
menunggu begini lama, sementara kondisi sistem peradilan
sama sekali tidak menjanjikan. Kami maulah terima uang."
Ini membuat trauma pemimpin-pemimpin informal dan di
kalangan keluarga korban sangat terpukul dengan pernyataan
itu. Tetapi menurut saya, ini sebuah potret nyata dari
gempuran yang sangat efektif.
Anda tadi mengatakan tentang pengepungan terhadap
keluarga korban, aktivis HAM, dan lain sebagainya. Mungkin
dalam bidang ekonomi dan juga tentu saja bidang politik.
Dari keadaan yang demikian, kira-kira sebenarnya di balik
pengepungan ini siapa yang paling bertanggung jawab?
Memang bagi masyarakat sederhana sangat mudah untuk
melihat negara dalam artian presiden, MPR, DPR karena
peran-peran itu yang paling tampak terutama personifikasi
pribadi-pribadi itu. Tetapi saya mengamati bahkan dalam
kekerasan-kekerasan politik yang terjadi seperti di Aceh,
Papua, juga rangkaian teror bom yang terus berlanjut ini.
Bahwa ini juga merupakan bahasa dari sistem bisnis atau
sistem ekonomi. Dari logika internal ekonomi global yang
begitu menentukan dalam sistem kenegaraan dan ini begitu
besar pengaruhnya misalnya saja yang mendanai
operasi-operasi militer. Kita juga tahu bahwa begitu
berkuasanya uang dalam menentukan agenda-agenda negara
misalnya pembahasan soal Aceh. Sampai aktivis-aktivis
Human Rights Defender itu sepertinya harus keluar dari
Aceh secara paksa. Dibuat kasus apapun juga untuk sedapat
mungkin tidak berada di Aceh. Teman-teman di Aceh sadar
akan kenyataan itu, tetapi kalau lihat betapa susahnya
ketika misalnya saja Saudara Munir tidak setuju kalau
teman-teman Human Rights Defender semua keluar lari dari
Aceh hanya karena diperkarakan secara kriminal oleh polisi
dan militer di Aceh waktu itu. Tapi kenyataannya tidak
semudah itu karena mereka mengalami tekanan secara fisik,
bukan hanya secara psikis. Sehingga mereka sampai lari ke
Jakarta. Cara yang seperti ini saya kira tidak mungkin
dilakukan tanpa dana yang besar jika melihat tindakan
mereka yang berkesinambungan dan jangka panjang. Saya juga
tidak percaya waktu pertama kali diumumkan, karena saya
juga melihat ekskalasi dari kekerasan bom dan betapa luas
radius ledakan bom di Bali serta dampaknya yang
meluluhlantakkan kondisi Legian Kuta yang begitu luar
biasa. Itu hanya dibiayai dengan satu kali rampokan toko
emas di Jawa Barat. Saya kira pernyataan dari polisi yang
seperti itu, hanyalah untuk menutup atau memotong jaringan
penyandang dana dari kekerasan politik ini. Juga tiadanya
anggota-anggota militer yang masuk di dalam jaringan
penyidikan untuk kasus teror bom ini. Karena kalau benar
dinyatakan oleh Kapolri Da'i Bachtiar bahwa ternyata ada
kaitan sejak bom Natal sampai bom Bali, berarti juga harus
konsisten karena setiap kali ada investigasi penyidikan
dari polisi untuk kasus teror bom itu, selalu dijumpai d
isitu anggota-anggota militer atau Kopassus yang terlibat,
termasuk juga penggunaan bahan-bahan peledak militer used
yang begitu jelas sekali dan gamblang bukti-buktinya.
Seperti tersangka Iwan yang tertangkap untuk kasus BEJ,
kemudian melarikan diri membawa granat dan AKA 47. Hasan
yang ditangkap di Aceh itu entah bagaimana sekarang sudah
berkali-kali lari, lalu ditangkap lagi. Tidak ada
investigasi lanjutan. Jadi selalu investigasinya itu
tergantung pada pesanan politik pada saat tertentu. Kalau
dulu yamg menjadi kambing hitam itu GAM, semua pelaku itu
menjadi GAM. Begitu sekarang disebut Islam Jama'ah, semua
Islam Jama'ah, nanti berhubungan sama Al Qaeda. Bersih
nama militer dan polisi di dalam kasus ini, juga para
penyandang dananya. Penyandang dana ada di luar sana, di
luar negeri. Masuk akal memang, tetapi banyak fakta yang
di-delete untuk ini.
Sepertinya Anda ingin mengatakan bahwa pemerintah dalam
hal ini tidak memiliki kemampuan untuk menangani kasus per
kasus. Dan juga ada bagian dari tubuh pemerintah sendiri
yang ikut serta dalam proses penghancuran atau kekerasan
bom yang terjadi selama ini. Dengan analisa atau fakta
yang Anda temukan demikian, bagaimana Anda bisa melihat
jalan keluar yang harusnya ditempuh baik itu oleh
pemerintah maupun oleh masyarakat atau kelompok-kelompok
civil society?
Saya tidak mengatakan bahwa pemerintah tidak mampu atau
tidak memiliki kemampuan, tapi pemerintah tidak memiliki
kemauan politik untuk menyelesaikan persoalan-persoalan
ini. Selalu setengah-setengah, dan itupun tidak menyentuh
substansi persoalannya yang selalu dikembangkan. Bagi saya
yang paling penting adalah pertanggungjawaban publik dari
pihak pemerintah. Itu juga untuk menjawab persoalan KKN
yang sangat menggelisahkan dan begitu merusak kehidupan di
negeri ini. Tetapi khusus untuk proses investigasi
pelanggaran HAM di Indonesia, atau dampak dari
tragedi-tragedi kekerasan politik, adalah
pertanggungjawaban publik dan warga masyarakat itu diajak
berbicara dan cukup dipercaya untuk ikut terlibat di dalam
menginvestigasi persoalan ini. Saya mengerti secara formal
masyarakat diminta untuk ikut menginvestigasi, tetapi
keterbukaan itu bisa saja, ada saja mekanisme di mana
polisi tidak terlalu cepat membuat kesimpulan sebelum ada
pembuktian. Karena model-model membuat pernyataan sebelum
ada pembuktian ini model seperti Amerika pasca WTC 11
September itu. Amerika begitu sering membuat statemen,
tuduhan, atau penangkapan tanpa ada pembuktian. Dan pola
ini saya rasakan sekali karena 11 September itu saya ada
di Amerika. Jadi saya tahu bagaimana mekanismenya, juga
ketika ada perang di Afghanistan. Saya melihat bagaimana
dampaknya, dan bagaimana informasi itu banyak dikorupsi.
Artinya, disembunyikan untuk warga Amerika sendiri tentang
situasi di Afghanistan. Bagaimana bom-bom dari Amerika itu
mengenai warga sipil termasuk juga palang merah.
Berita-berita itu saya peroleh justru dari Eropa maupun
Rusia. Agar bisa memperoleh cara-cara Amerika dalam
menjalankan misi perangnya di Afghanistan itu tidak
langsung dari pers atau radio Amerika. Saya mengatakan
bahwa di Indonesia sekarang ini memakai pola seperti itu.
Maka cara pemecahannya adalah dengan pertanggungjawaban
publik dan mencoba menegakkan hukum yang benar dan
semaksimal mungkin betapa pun bobroknya kehidupan hukum di
Indonesia. Mencoba hukum yang paling elementer itu tetap
ditegakkan, karena kalau kita tidak tahu rambu-rambu dan
tidak bisa mendisiplinkannya, ibarat lampu merah, maka
kita akan bertabrakan terus di jalan.
Dengan kalimat yang singkat, mungkin Anda bisa katakan
apakah pemerintahan sekarang ini memiliki prestasi yang
cukup bagus dalam penyelesaian persoalan HAM di Indonesia?
Indikator saya yaitu masyarakat sederhana dengan
kehidupan menengah ke bawah yang ternyata makin buruk dan
porakporanda sistem kehidupan sosial, ekonomi dan
budayanya. Tetangga sebelah saya di Bukit Duri ini, dalam
dua tahun terakhir makin buruk kehidupannya. Tidak bisa
menyekolahkan anaknya, lalu kalau sakit kemampuan untuk
membeli obat-obatan generik hanya 20% dan mereka menjadi
tergantung dari dana-dana dan proyek-proyek yang
dijanjikan pemerintah yang ternyata juga kacau-balau di
dalam implementasinya. Dan juga banyak sekali sistem tata
ruang dan tata kota di Jakarta ini yang kacau-balau dengan
perilaku Gubernur Sutiyoso itu. Jadi menurut saya,
Gubernur Sutiyoso yang didukung kuat oleh Presiden dan
suaminya ini, perilakunya sangat tidak kondusif untuk
survival system warga masyarakat dalam membela
kehidupannya. Sehingga tidak ada pertanggungjawaban kepada
masyarakat tentang keputusan atau perwakilan yang
diembannya, tugas yang diembannya sebagai wakil dari
masyarakat yang harus berjuang dalam birokrasi negara.
Untuk proyeksi ke depan atau 2003, mungkin Anda bisa
melihat celah yang bisa membuat kita agak gembira hati
atau punya harapan, bahwa keadilan bagi masyarakat masih
akan ada. Bisa Anda gambarkan?
Saya selalu akan merasa optimis tiap kali melihat di
kanan kiri saya, di sini banyak anak-anak dan remaja
berjumlah sekitar 200-an dari lima RT di Bukit Duri, baik
di pinggir sungai atau perkampungan kumuh yang ternyata
menunjukkan harapan bahwa mereka belajar dengan sikap
mandiri. Mereka anak-anak muda yang menyatakan
solidaritasnya, mereka merasa payah kalau hanya meminta,
dan mereka mulai menggalang solidaritasnya membantu
lingkungan lain. Terutama waktu banjir kemarin sangat
dibuktikan dengan membentuk tim SAR, bahkan waktu itu
sempat kami bersama-sama dengan tim dokter membentuk tim
kesehatan dan logistik, membantu warga di Madura yang
menjadi korban dampak kekerasan di Sampit-Kalimantan tahun
lalu dengan berangkat ke Madura. Sikap seperti ini juga
terwujud melalui bagaimana sekarang mereka membangun
bersama-sama recovery project untuk 42 rumah yang hancur
pada banjir yang lalu. Mereka membangun bersama-sama tanpa
bantuan pemerintah sepeser pun. Bahkan pemerintah minta
jatah prosentase dari kelurahan. Ini memalukan sebetulnya.
Mestinya mereka yang memfasilitasi dan saya tahu ada dana
besar sekali yang tersedia. Dari segi ini, betul-betul
saya optimis. Juga kalau kita lihat, betapa pun payahnya,
selalu saja ada sikap solidaritas yang besar dan dengan
mudah terkumpul. Misalnya waktu tragedi bom di Bali. Dalam
waktu tiga jam, saya bisa mengumpulkan sampai 136 warga di
Bali, terutama anak-anak muda dan mahasiswa yang mau
bekerja luar biasa berhari-hari tidak tidur, mengurusi
mayat-mayat yang hancur, dan mencoba untuk mencari
informasi, mewawancarai orang untuk menggalang solidaritas
supaya kohesi di dalam kehidupan kelompok-kelompok
masyarakat itu semakin kuat. Karena memang dampak dari
kekerasan politik selalu adalah kecurigaan dan
kesalahpahaman yang akan membawa pada ledakan-ledakan
akibat potensi-potensi konflik yang diledakkan.
Dengan harapan yang demikian, tentu masih ada tantangan.
Mungkin Anda bisa gambarkan sedikit, bahwa adakah
tantangan yang Anda alami di sekitar masyarakat ini
sebagai pemuka agama yang mungkin tidak diikuti oleh
mayoritas masyarakat di kampung sini? Atau adakah ancaman
pribadi seperti pengalaman Anda pada tahun 1996?
Ancaman-ancaman yang kami terima dulu seperti kami
pernah dikirimi granat, pernah mobil kami ditabrak oleh
tentara di daerah Puncak, dan macam-macamlah teror yang
lewat telepon atau jalan di sini dengan mengirim preman
dan sebagainya. Waktu itu ada kelompok-kelompok di dalam
militer dan polisi yang menaruh simpati serta mencoba
melindungi. Jadi mereka sendiri saling berseteru. Makin
lama saya melihat komunikasi atau ikatan sementara ini
tidak terlalu kuat. Saya semakin yakin dan merasa aman
justru tinggal dengan warga begini meskipun sepanjang gang
di Bukit Duri ini, yang disebut warga itu yang kebanyakan
telanjang dada dengan tato di tubuhnya. Tapi saya
merasakan ada kebaikan hati dan solidaritas yang tinggi di
kalangan mereka. Saya merasa menjadi bagian dari mereka.
Tapi memang ada kenyataan semacam ini bahwa di kalangan
para penjahat, solidaritas seringkali lebih tinggi
ketimbang di kalangan orang-orang yang merasa baik,
termasuk juga misalnya perseteruan-perseturuan di kalangan
LSM. Kadang-kadang saya merasakan ketulusan di antara
mereka karena sama-sama sedang dihimpit atau terjepit.
|