|
Konser 20 Milyar F4 di Ibu Kota
Keluarga Presiden,
Menteri dan Artis Borong Tiket
Inilah tontonan ironi di awal tahun. Di tengah
keterkejutan rakyat dihimpit krisis dan merangkaknya biaya
hidup, Ibu Kota akan menjadi tuan rumah konser terbesar
dan termahal di awal tahun 2003. Gambaran ironi lainnya,
di satu sisi promotor dan panitia tengah mempersiapkan
pesta hiburan mahal itu, di jalanan aksi-aksi massa yang
memprotes kebijakan kenaikan harga BBM dan tarif listrik
serta telepon diumumkan terus berlangsung.
MAHALNYA
konser bisa dilihat dari biaya Rp 20 milyar serta harga
tiketnya hingga Rp 2 juta. Pengamananya pun melibatkan
ratusan tenaga pengaman. Barangkali terkesan ironis di
tengah rintihan dan kegeraman masyarakat Indonesia
memprotes ''hadiah tahun baru'' pemerintah RI bagi
rakyatnya yakni kenaikan harga BBM, listrik dan telepon,
dijadwalkan empat cowok keren F4 (Flower 4) berpentas di
Ibu Kota. Grup asal Taiwan yang terdiri atas Jerry Yen,
Vic Zhou, Vanness Wu dan Ken Zhu akan datang ke Jakarta
pada 9 Januari 2003 dan tampil di Pekan Raya Jakarta (PRJ)
pada 10 dan 11 Januari 2003.
Tak tanggung-tanggung, mereka akan dikawal sekitar 100
orang kru dari Taiwan dan minta diinapkan di hotel
berbintang lima (Hotel Borobudur) yang ada helipad-nya.
Selain wartawan yang akan meliput konser kolosal ini (sekitar
400 orang, termasuk dari AS, Singapura, Australia,
Hongkong, Taiwan dan Indonesia), antusiasme masyarakat
Indonesia untuk menonton konser ini termasuk luar biasa.
Disebut-sebut keluarga Presiden, yaitu anak-anak dan
cucu-cucunya, Wakil Presiden, para menteri, konglomerat
dan kalangan artis jauh-jauh hari sudah memesan tiket
seharga Rp 2 juta untuk kelas VVIP. ''Saya enggak bisa
menyebutkan siapa saja dari kalangan Istana yang memesan
tiket VVIP yang sudah sold out. Yang jelas, keluarga
Menhub Pak Agum Gumelar memesan banyak,'' ujar Co-promotor
F4, Renny Djajoesman.
Menurut Renny, ia baru saja mengadakan rapat dengan
pihak Polri menangani pengamanan konser ini yang dipimpin
langsung Kapolda Metro Jaya. ''Minggu lalu, kami dari
panitia sudah sowan dan mohon restu kepada Kepala BIN Pak
Hendropriyono. Pak Hendro mendukung penuh upaya kami,
karena bisa memberikan kontribusi kongkret untuk
memperbaiki citra Indonesia pascabom Bali,'' tutur janda
dramawan Putu Widjaja ini.
Dikemukakan, dalam konser nanti, Polri akan menurunkan
dua helikopter, anjing pelacak, kuda dan detektor bom. Di
sekeliling PRJ akan ada empat mobil panser, dan dua
kendaraan lapis baja. Ditambah sekitar 400 orang pesilat
dari Merpati Putih yang akan menjaga keamanan. Khusus
kedatangan F4 di bandara Soekarno-Hatta, mereka akan
dikawal dan dijaga ketat oleh sekitar 20 orang dari TNI
dan 8 bodyguard. ''Untuk mengantisipasi kemungkinan adanya
penonton yang pingsan atau terhimpit, kami menyediakan 350
tenaga medis yang diambil dari sekolah perawat ditambah
dokter dari kepolisian, RS Husada, RS Mitra Kemayoran dan
RS Koja. Kami juga siapkan 25 unit mobil ambulans dan 25
toilet. Lebih jauh, Renny Djajoesman mengatakan, khusus
konser F4 menggunakan tiga level pengamanan. Ring pertama
harus netral dan tak boleh dimasuki oleh siapa pun. Khusus
di ring ini ditutup dengan 60 barikade dan 60 kontainer
yang dioles oli, sehingga penonton yang coba-coba mendekat
akan jatuh terpeleset. Ring kedua untuk penonton masuk, di
sini bebas makan-minum. Makanan/minuman tidak boleh
mamakai botol, harus dari plastik. Ring tiga untuk pintu
masuk menuju arena konser. Ada tiga pintu yaitu pintu 1,
pintu 6 dan pintu 7. Di pintu ini, ditaruh komputer. ''Jadi,
nama penonton yang nonton sudah terdata pada komputer.
Sistem ini baru kita lakukan di Indonesia dan ini
benar-benar profesional. Penonton yang pegang tiket dan
namanya ada di komputer bisa langsung masuk. Tetapi, kalau
namanya tidak terdata, kami akan tanyakan KTP-nya. Kalau
tak bawa KTP, kami akan ajak keluar. Kalau Anda beli tiket,
dan enggak bisa datang, lalu tiket dipakai teman Anda,
fotokopi KTP Anda diberikan ke teman Anda, itu juga bisa
masuk. Yang jelas, harus ada KTP atau fotokopi KTP,'' urai
Renny.
Kenapa njlimet dan ruwet benar? ''Memang, ini
permintaan dari sononya, dari manajemen F4. Jadi, maklum
saja, pengamanan di sini sangat ketat. Mereka minta bukan
nilainya, tetapi jaminan keamanan di negara kita. Ini kan
demi kepentingan kita juga, kan banyak artis asing
membatalkan shownya ke sini gara-gara ledakan bom Bali.
Nah, kalau konser F4 sukses, tertib dan aman, bisa deh
artis-artis lain datang ke sini, please,'' Renny tersenyum.
Tanpa Sponsor
Konser F4 kali ini tanpa sponsor, kata promotor Jeddy
Suherman. Semula, televisi swasta Indosiar sudah setuju
akan bekerja sama dengan AJ Promo. Namun, mendekati ''hari
H'', Indosiar mundur, berarti tidak jadi menayangkan live
konser F4 di Indonesia. ''Hak siar yang mereka tawarkan
terlalu tinggi. Kami enggak sanggup,'' kata Kepala Humas
Indosiar Gufron Sakaril.
Akan tetapi, diperoleh kabar terbaru, manajemen F4
tidak mengizinkan stasiun televisi di Indonesia
menayangkan langsung konsernya. ''Hanya SCTV akan
menayangkan liputan sekitar persiapan konser F4, sebelum
mereka manggung,'' kata Jeddy yang menolak menjawab ihwal
keuntungan dari pemasukan penjualan tiket yang
diperkirakan masuk Rp 31 milyar ke kantong panitia. Tetapi
hitung-hitungan di atas kertas, kalau promotor
mengeluarkan total biaya Rp 20 milyar, berarti meraup
untung sekitar Rp 11 milyar. Angka yang luar biasa di
tengah rakyat yang merintih dihimpit biaya hidup
sehari-hari. (pik)
|