kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Paing, 6 Januari 2003

 Nusantara


Konser 20 Milyar F4 di Ibu Kota

Keluarga Presiden, 
Menteri dan Artis Borong Tiket

Inilah tontonan ironi di awal tahun. Di tengah keterkejutan rakyat dihimpit krisis dan merangkaknya biaya hidup, Ibu Kota akan menjadi tuan rumah konser terbesar dan termahal di awal tahun 2003. Gambaran ironi lainnya, di satu sisi promotor dan panitia tengah mempersiapkan pesta hiburan mahal itu, di jalanan aksi-aksi massa yang memprotes kebijakan kenaikan harga BBM dan tarif listrik serta telepon diumumkan terus berlangsung.

MAHALNYA konser bisa dilihat dari biaya Rp 20 milyar serta harga tiketnya hingga Rp 2 juta. Pengamananya pun melibatkan ratusan tenaga pengaman. Barangkali terkesan ironis di tengah rintihan dan kegeraman masyarakat Indonesia memprotes ''hadiah tahun baru'' pemerintah RI bagi rakyatnya yakni kenaikan harga BBM, listrik dan telepon, dijadwalkan empat cowok keren F4 (Flower 4) berpentas di Ibu Kota. Grup asal Taiwan yang terdiri atas Jerry Yen, Vic Zhou, Vanness Wu dan Ken Zhu akan datang ke Jakarta pada 9 Januari 2003 dan tampil di Pekan Raya Jakarta (PRJ) pada 10 dan 11 Januari 2003.

Tak tanggung-tanggung, mereka akan dikawal sekitar 100 orang kru dari Taiwan dan minta diinapkan di hotel berbintang lima (Hotel Borobudur) yang ada helipad-nya. Selain wartawan yang akan meliput konser kolosal ini (sekitar 400 orang, termasuk dari AS, Singapura, Australia, Hongkong, Taiwan dan Indonesia), antusiasme masyarakat Indonesia untuk menonton konser ini termasuk luar biasa. Disebut-sebut keluarga Presiden, yaitu anak-anak dan cucu-cucunya, Wakil Presiden, para menteri, konglomerat dan kalangan artis jauh-jauh hari sudah memesan tiket seharga Rp 2 juta untuk kelas VVIP. ''Saya enggak bisa menyebutkan siapa saja dari kalangan Istana yang memesan tiket VVIP yang sudah sold out. Yang jelas, keluarga Menhub Pak Agum Gumelar memesan banyak,'' ujar Co-promotor F4, Renny Djajoesman.

Menurut Renny, ia baru saja mengadakan rapat dengan pihak Polri menangani pengamanan konser ini yang dipimpin langsung Kapolda Metro Jaya. ''Minggu lalu, kami dari panitia sudah sowan dan mohon restu kepada Kepala BIN Pak Hendropriyono. Pak Hendro mendukung penuh upaya kami, karena bisa memberikan kontribusi kongkret untuk memperbaiki citra Indonesia pascabom Bali,'' tutur janda dramawan Putu Widjaja ini.

Dikemukakan, dalam konser nanti, Polri akan menurunkan dua helikopter, anjing pelacak, kuda dan detektor bom. Di sekeliling PRJ akan ada empat mobil panser, dan dua kendaraan lapis baja. Ditambah sekitar 400 orang pesilat dari Merpati Putih yang akan menjaga keamanan. Khusus kedatangan F4 di bandara Soekarno-Hatta, mereka akan dikawal dan dijaga ketat oleh sekitar 20 orang dari TNI dan 8 bodyguard. ''Untuk mengantisipasi kemungkinan adanya penonton yang pingsan atau terhimpit, kami menyediakan 350 tenaga medis yang diambil dari sekolah perawat ditambah dokter dari kepolisian, RS Husada, RS Mitra Kemayoran dan RS Koja. Kami juga siapkan 25 unit mobil ambulans dan 25 toilet. Lebih jauh, Renny Djajoesman mengatakan, khusus konser F4 menggunakan tiga level pengamanan. Ring pertama harus netral dan tak boleh dimasuki oleh siapa pun. Khusus di ring ini ditutup dengan 60 barikade dan 60 kontainer yang dioles oli, sehingga penonton yang coba-coba mendekat akan jatuh terpeleset. Ring kedua untuk penonton masuk, di sini bebas makan-minum. Makanan/minuman tidak boleh mamakai botol, harus dari plastik. Ring tiga untuk pintu masuk menuju arena konser. Ada tiga pintu yaitu pintu 1, pintu 6 dan pintu 7. Di pintu ini, ditaruh komputer. ''Jadi, nama penonton yang nonton sudah terdata pada komputer. Sistem ini baru kita lakukan di Indonesia dan ini benar-benar profesional. Penonton yang pegang tiket dan namanya ada di komputer bisa langsung masuk. Tetapi, kalau namanya tidak terdata, kami akan tanyakan KTP-nya. Kalau tak bawa KTP, kami akan ajak keluar. Kalau Anda beli tiket, dan enggak bisa datang, lalu tiket dipakai teman Anda, fotokopi KTP Anda diberikan ke teman Anda, itu juga bisa masuk. Yang jelas, harus ada KTP atau fotokopi KTP,'' urai Renny.

Kenapa njlimet dan ruwet benar? ''Memang, ini permintaan dari sononya, dari manajemen F4. Jadi, maklum saja, pengamanan di sini sangat ketat. Mereka minta bukan nilainya, tetapi jaminan keamanan di negara kita. Ini kan demi kepentingan kita juga, kan banyak artis asing membatalkan shownya ke sini gara-gara ledakan bom Bali. Nah, kalau konser F4 sukses, tertib dan aman, bisa deh artis-artis lain datang ke sini, please,'' Renny tersenyum.

Tanpa Sponsor

Konser F4 kali ini tanpa sponsor, kata promotor Jeddy Suherman. Semula, televisi swasta Indosiar sudah setuju akan bekerja sama dengan AJ Promo. Namun, mendekati ''hari H'', Indosiar mundur, berarti tidak jadi menayangkan live konser F4 di Indonesia. ''Hak siar yang mereka tawarkan terlalu tinggi. Kami enggak sanggup,'' kata Kepala Humas Indosiar Gufron Sakaril.

Akan tetapi, diperoleh kabar terbaru, manajemen F4 tidak mengizinkan stasiun televisi di Indonesia menayangkan langsung konsernya. ''Hanya SCTV akan menayangkan liputan sekitar persiapan konser F4, sebelum mereka manggung,'' kata Jeddy yang menolak menjawab ihwal keuntungan dari pemasukan penjualan tiket yang diperkirakan masuk Rp 31 milyar ke kantong panitia. Tetapi hitung-hitungan di atas kertas, kalau promotor mengeluarkan total biaya Rp 20 milyar, berarti meraup untung sekitar Rp 11 milyar. Angka yang luar biasa di tengah rakyat yang merintih dihimpit biaya hidup sehari-hari. (pik)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)