Pola Pikir Seseorang
WALAUPUN rambut yang tumbuh di atas
kepala kita sama hitamnya, namun pola pikir seseorang
tidaklah sama. Selain karena adanya bentuk-bentuk pikiran
dalam diri setiap orang, pola ini juga dipengaruhi oleh
pengalaman hidup dan berbagai kondisi yang pernah ada. Ada
kalanya, sulit untuk mengubah pola pikir ini, dari
berpikir buruk menjadi berpikir positif.
Banyak karyawan yang tidak senang dengan hari Senin.
Oleh karena itu muncul ungkapan, 'I hate Monday'. Hari
Senin berarti kembali ke tempat duduk dan mengerjakan
tugas rutin yang membosankan. Waktu terasa sangat panjang.
Sebaliknya, mereka merasa senang kalau hari Jumat tiba.
Muncullah ungkapan, "Thank God, Its Friday".
Hari Jumat tiba, artinya akan ada dua hari tanpa kerja
rutin, santai, lepas dari beban yang ada.
Para karyawan lebih senang melihat tanggal berwarna
merah. Makin banyak merah, makin banyak libur. Kalau ada
hari libur nasional yang jatuh pada hari Minggu, rasanya
rugi besar. Sebaliknya, pengusaha berharap (kalau bisa)
tidak ada hari libur. Hari libur berarti rugi besar.
Karyawan tidak bekerja tapi gaji bulanannya tetap dibayar
penuh. Libur berarti berkurangnya hasil penjualan, tidak
ada pemasukan.
Umat mempunyai pola pikir tersendiri terhadap bhikkhu.
Ada umat yang berharap agar dana makanan yang diberikan
disantap oleh para bhikkhu. Dengan demikian mereka merasa
telah melakukan perbuatan baik. Bukankah di zaman Buddha
Gotama terdapat sejumlah umat yang memberikan dana makanan
dan mendapatkan pahala yang sangat besar. Yang lainnya
berpikir bahwa berdana di masa Kathina merupakan yang
paling baik. Mereka hilir mudik, dari satu vihara ke
vihara lain untuk mengikuti acara Kathina. Setelah itu,
mereka menguap entah kemana. Tidak pernah terlihat lagi ke
vihara. Atau mungkin mereka sibuk dengan tokonya, omzet
pendapatan, target penjualan, dan kesibukan lainnya.
Ada pula yang menunjukkan cintanya kepada bhikkhu yang
sakit dan mendapat perawatan di rumah sakit. Mereka datang
berbondong-bondong, memenuhi ruangan rumah sakit. Mereka
tidak mau mengerti, dengan berbagai alasan, mereka
berusaha untuk masuk ruang ICU tempat perawatan
berlangsung. Mereka mengaku sayang dengan para bhikkhu
namun tidak memberikan kesempatan bagi bhikkhu untuk
istirahat sehingga bisa cepat sembuh.
Tentu masih banyak pola pikir lainnya yang berkembang
dalam diri setiap orang. Untuk membenarkan pola pikir ini,
mereka menyiapkan argumentasi yang kelihatannya
membenarkan. Namun di balik semuanya, apakah kita tidak
sedang menumbuhkan pikiran negatif dalam diri sendiri?
Tanpa rasa benci dan gembirapun, Senin dan Jumat akan
tiba dengan sendirinya. Oleh karena itu, mengapa kita
tidak pernah berpikir pada saat bangun pagi. Hari ini
adalah hari yang indah. Kita masih bisa bernafas,
melakukan pekerjaan, tugas dan kewajiban, dan memiliki
kesempatan untuk berbuat baik lagi.
Mengapa kita tidak berusaha berbuat baik setiap saat.
Seratus rupiah bagi seorang pengemis di jalanan tentu
sangat berarti, yang berarti kita juga telah melakukan
perbuatan baik. Berbuat baik dan lupakan, demikian pesan
yang sering disampaikan. Lakukan saja dengan perasaan
senang, tetap bergembira sebelum melakukan, ketika
melakukan, dan setelah melakukan. Jangan pernah menyesal
kalau makanan anda tidak di santap sampai habis oleh
anggota sangha.
Apakah kita benar-benar sayang kepada bhikkhu yang
sakit atau sebaliknya kita ingin memperbesar ego dengan
menunjukkan kehadiran kita agar bhikkhu maupun umat lain
melihat siapa diri kita. Seorang umat yang berpikir
sedikit bijak berkata bahwa mereka sesungguhnya melakukan
itu demi ego, bukan demi kesehatan bhikkhu yang sedang
dalam perawatan.
Mengapa kita tidak memperbaiki pola pikir ini agar
berpikir lebih positif? Banyak pihak yang tidak berusaha
melakukan. Bahkan pemerintah sendiri mengunakan asumsi
yang tidak masuk akal sehingga kita semua mendapat hadiah
tahun baru berupa naiknya bahan bakar, listrik, dan
telepon. Bukankah sudah banyak orang kaya, demikian
asumsinya walaupun dalam kenyataan banyak orang kaya yang
sudah mulai tiarap, apalagi rakyat kecil.
Cobalah untuk berpikir yang baik. Berusaha untuk tidak
menumbuhkan pikiran buruk, sekecil apapun. Kadang-kadang,
pikiran buruk muncul dengan halus. Kita berbuat baik atau
untuk memenuhi ego kita agar menjadi orang terkenal?
Entahlah. Yang jelas, kita perlu berusaha dan terus
berusaha di tengah berbagai kesukaran yang ada.
|