kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Paing, 6 Januari 2003

 Budaya


Pola Pikir Seseorang

WALAUPUN rambut yang tumbuh di atas kepala kita sama hitamnya, namun pola pikir seseorang tidaklah sama. Selain karena adanya bentuk-bentuk pikiran dalam diri setiap orang, pola ini juga dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan berbagai kondisi yang pernah ada. Ada kalanya, sulit untuk mengubah pola pikir ini, dari berpikir buruk menjadi berpikir positif.

Banyak karyawan yang tidak senang dengan hari Senin. Oleh karena itu muncul ungkapan, 'I hate Monday'. Hari Senin berarti kembali ke tempat duduk dan mengerjakan tugas rutin yang membosankan. Waktu terasa sangat panjang. Sebaliknya, mereka merasa senang kalau hari Jumat tiba. Muncullah ungkapan, "Thank God, Its Friday". Hari Jumat tiba, artinya akan ada dua hari tanpa kerja rutin, santai, lepas dari beban yang ada.

Para karyawan lebih senang melihat tanggal berwarna merah. Makin banyak merah, makin banyak libur. Kalau ada hari libur nasional yang jatuh pada hari Minggu, rasanya rugi besar. Sebaliknya, pengusaha berharap (kalau bisa) tidak ada hari libur. Hari libur berarti rugi besar. Karyawan tidak bekerja tapi gaji bulanannya tetap dibayar penuh. Libur berarti berkurangnya hasil penjualan, tidak ada pemasukan.

Umat mempunyai pola pikir tersendiri terhadap bhikkhu. Ada umat yang berharap agar dana makanan yang diberikan disantap oleh para bhikkhu. Dengan demikian mereka merasa telah melakukan perbuatan baik. Bukankah di zaman Buddha Gotama terdapat sejumlah umat yang memberikan dana makanan dan mendapatkan pahala yang sangat besar. Yang lainnya berpikir bahwa berdana di masa Kathina merupakan yang paling baik. Mereka hilir mudik, dari satu vihara ke vihara lain untuk mengikuti acara Kathina. Setelah itu, mereka menguap entah kemana. Tidak pernah terlihat lagi ke vihara. Atau mungkin mereka sibuk dengan tokonya, omzet pendapatan, target penjualan, dan kesibukan lainnya.

Ada pula yang menunjukkan cintanya kepada bhikkhu yang sakit dan mendapat perawatan di rumah sakit. Mereka datang berbondong-bondong, memenuhi ruangan rumah sakit. Mereka tidak mau mengerti, dengan berbagai alasan, mereka berusaha untuk masuk ruang ICU tempat perawatan berlangsung. Mereka mengaku sayang dengan para bhikkhu namun tidak memberikan kesempatan bagi bhikkhu untuk istirahat sehingga bisa cepat sembuh.

Tentu masih banyak pola pikir lainnya yang berkembang dalam diri setiap orang. Untuk membenarkan pola pikir ini, mereka menyiapkan argumentasi yang kelihatannya membenarkan. Namun di balik semuanya, apakah kita tidak sedang menumbuhkan pikiran negatif dalam diri sendiri?

Tanpa rasa benci dan gembirapun, Senin dan Jumat akan tiba dengan sendirinya. Oleh karena itu, mengapa kita tidak pernah berpikir pada saat bangun pagi. Hari ini adalah hari yang indah. Kita masih bisa bernafas, melakukan pekerjaan, tugas dan kewajiban, dan memiliki kesempatan untuk berbuat baik lagi.

Mengapa kita tidak berusaha berbuat baik setiap saat. Seratus rupiah bagi seorang pengemis di jalanan tentu sangat berarti, yang berarti kita juga telah melakukan perbuatan baik. Berbuat baik dan lupakan, demikian pesan yang sering disampaikan. Lakukan saja dengan perasaan senang, tetap bergembira sebelum melakukan, ketika melakukan, dan setelah melakukan. Jangan pernah menyesal kalau makanan anda tidak di santap sampai habis oleh anggota sangha.

Apakah kita benar-benar sayang kepada bhikkhu yang sakit atau sebaliknya kita ingin memperbesar ego dengan menunjukkan kehadiran kita agar bhikkhu maupun umat lain melihat siapa diri kita. Seorang umat yang berpikir sedikit bijak berkata bahwa mereka sesungguhnya melakukan itu demi ego, bukan demi kesehatan bhikkhu yang sedang dalam perawatan.

Mengapa kita tidak memperbaiki pola pikir ini agar berpikir lebih positif? Banyak pihak yang tidak berusaha melakukan. Bahkan pemerintah sendiri mengunakan asumsi yang tidak masuk akal sehingga kita semua mendapat hadiah tahun baru berupa naiknya bahan bakar, listrik, dan telepon. Bukankah sudah banyak orang kaya, demikian asumsinya walaupun dalam kenyataan banyak orang kaya yang sudah mulai tiarap, apalagi rakyat kecil.

Cobalah untuk berpikir yang baik. Berusaha untuk tidak menumbuhkan pikiran buruk, sekecil apapun. Kadang-kadang, pikiran buruk muncul dengan halus. Kita berbuat baik atau untuk memenuhi ego kita agar menjadi orang terkenal? Entahlah. Yang jelas, kita perlu berusaha dan terus berusaha di tengah berbagai kesukaran yang ada.

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)